Takdir Cinta Pasangan Dunia Halu

Takdir Cinta Pasangan Dunia Halu
Chapter 11. Kepiluan Raskal


__ADS_3

Lalu Ana pun menjawab dengan sebuah pertanyaan, “Ras, jika suatu saat nanti aku pergi, apakah kamu akan kehilangan aku?"


Mendengar pertanyaan Ana yang kacau menurut Raskal, akhirnya Raskal pun bertanya balik, “An, kamu itu kenapa, sih? Kenapa tiba-tiba menanyakan masalah kehilangan atau tidak? Memangnya kamu mau pergi ke mana, An?”


“Sudah lha, Ras. Jawab saja. Kamu akan merasa kehilangan, tidak?” tanya Ana lagi dengan agak sedikit memaksa Raskal untuk menjawab.


Melihat cara Ana seperti itu, akhirnya Raskal pun mengalah dan menjawabnya, “Ya jelas aku akan sangat kehilangan kamu, An. Memangnya kamu mau pergi ke mana, An?"


“Aku tidak akan pergi ke mana-mana, Ras. Tapi mungkin aku akan menghilang.” Ucap Ana sambil memandang lurus jauh ke depan.


Mendengar ucapan Ana yang semakin kacau, membuat Raskal jadi berkata, “An, kamu ini sebenarnya kenapa, sih? Apakah ada yang ingin kamu ceritakan?”


Ana pun terdiam. Dia masih memandang jauh lurus ke depan seolah tidak menghiraukan keberadaan Raskal.


Mendapatkan respon dari Ana yang seperti itu, Raskal pun benar-benar merasa kalau memang sedang terjadi sesuatu pada diri Ana.


“An, aku mohon sama kamu. Kamu kenapa? Cerita padaku kalau kamu memang sedang ada masalah.” Ucap Raskal sambil memegang ke dua lengan Ana sambil mengarahkannya ke hadapannya.


Ana pun melihat wajah Raskal dan tiba-tiba saja ada setetes air mata yang jatuh dari pelipis matanya.


“An, ada apa? Kamu cerita ke aku, ya.” Ucap Raskal.


“An?” ucap Raskal sekali lagi.


Setelah terdiam seribu bahasa, Ana akhirnya memberikan surat hasil pemeriksaan dirinya kepada Raskal.


“Apa ini, An?” tanya Raskal bingung.


“Baca saja sendiri.” Ucap Ana.


Mendengar ucapan Ana, Raskal pun akhirnya membuka dan membaca surat tersebut. Betapa terkejutnya Raskal mendapati kenyataan yang harus dihadapi.


Setelah mengetahui perihal penyakit Ana, akhirnya Raskal paham tentang apa yang di maksud oleh Ana pergi itu.


“Ya Allah, An. Kenapa seperti ini? Apa tidak ada cara untuk menyembuhkanmu?” tanya Raskal.


“Aku tidak tahu, Ras. Hanya saja yang aku tahu, harga dari pengobatan yang harus di lakukan tidaklah sedikit. Aku mana ada uang sebanyak itu.” Ucap Ana.


Raskal pun terdiam dan kemudian berkata, “Pakailah uang tabunganku dulu. Yang penting sekarang itu kesehatan kamu. Jangan memikirkan apa-apa juga jangan merasa tidak enak. Di terima ya, An.” Ucap Raskal.


Ana pun menggeleng sambil berkata, “Tidak usah, Ras. Terima kasih. Aku sudah pasrah. Mungkin ini sudah jalannya aku harus seperti ini.”

__ADS_1


Mendengar jawaban Ana, akhirnya Raskal pun berkata, “Kamu jangan pasrah seperti ini. Apa salahnya kalau kita ikhtiar terlebih dahulu. Perkara bagaimana hasilnya, itu hanya Allah yang bisa putuskan.” Ucap Raskal.


“Tapi, Ras...” ucapan Ana di potong oleh Raskal.


“Tidak ada tapi-tapian. Aku ikhlas, An. Aku serius. Tolong terima niat baikku ini ya, An.” Pinta Raskal dengan sangat memohon pada Ana.


Ana pun terdiam. Dia sangat mengerti tentang niat baik Raskal itu. Tapi Ana juga sadar kalau semua itu tidak ada gunanya.


“An.” Ucap Raskal sekali lagi membuat Ana menjadi tersadar.


“Ya, Ras. Ada apa?” tanya Ana.


“Kok ada apa, sih?! Aku tadi bilang tolong terima niat baikku ini. Aku mohon.” Ucap Raskal sekali lagi.


“Baiklah, Ras. Tapi kamu jangan menyesal jika ternyata semua ini sia-sia.” Ucap Ana.


“Iya, An. Aku tahu. Aku ikhlas kok.” Ucap Raskal.


“Ya sudah kalau begitu. Aku ucapkan terima kasih padamu, Ras.” Ucap Ana.


“Iya, An. Sama-sama. O ya, An. Kapan kamu mulai pengobatannya?” tanya Raskal.


“Oh, begitu. Besok aku temani kamu ya, An.” Ucap Raskal dan Ana pun mengangguk.


Mereka pun terdiam sejenak. Lalu tak selang berapa lama, Raskal kembali bertanya, “O ya, An. Maaf. Kalau boleh tahu, apakah ibumu tahu tentang masalah ini?”


“Ibuku belum tahu, Ras. Aku juga tidak ada niat untuk bilang.” Ucap Ana.


“Kenapa?” tanya Raskal.


“Ras, aku tidak mau membuat ibuku sedih dan terlalu banyak pikiran. Aku kasihan padanya, Ras.” Sahut Ana.


“Tapi, An. Ibumu akan sangat sedih jika sampai terjadi sesuatu pada dirimu.” Ucap Raskal dan Ana pun terdiam.


“An, kalau menurut pendapatku sih aku sarankan kamu untuk cerita di awal-awal seperti ini. Supaya nanti, jika sesuatu hal terjadi padamu, ibumu bisa lebih tegar menghadapinya.” Ucap Raskal dan Ana pun masih terdiam.


“An. Aku paham jika kamu tidak ingin membuat ibumu sedih. Tapi kamu pernah berpikir, tidak kalau ibumu tidak tahu soal ini sampai detik-detik terakhir? Itu akan sangat lebih menyedihkan buat ibumu, An. Jadi lebih baik pikirkan lha lagi.” Ucap Raskal lagi.


Ana pun masih terdiam dan tidak bergeming sedikit pun.


“An, maafkan aku jika aku terlalu mengguruimu dan menambah beban pikiranmu. Tapi hal ini aku lakukan demi kebaikanmu.” Lagi-lagi Raskal berkata.

__ADS_1


Tak selang berapa lama, Ana pun akhirnya menyahut, “Iya, Ras. Kalau begitu aku akan cari waktu yang tepat untuk mengatakannya pada ibu.”


“Syukurlah, An. Bagus kalau begitu.” Ucap Raskal.


“Ya sudah, Ras. Aku balik duluan ya. Mau istirahat.” Ucap Ana berpamitan pada Raskal.


“Iya, An. Kamu banyak-banyak lha istirahat. Jangan terlalu banyak pikiran dan juga jangan terlalu kelelahan. Kalau kamu ada apa-apa dan perlu bantuanku, kamu hubungi aku saja, ya.” Ucap Raskal dan Ana pun mengangguk.


“Terima kasih, Ras.” Ucap Ana.


“Sama-sama, An.” Sahut Raskal sambil tersenyum dan kemudian Ana pun pergi.


Di saat Ana sudah tak terlihat, tanpa sadar Raskal pun menangis jika mengingat kembali semua yang di katakan Ana pada dirinya. Dia pun membayangkan jika Ana benar-benar pergi, pastinya dia akan merasa bahwa hidupnya sudah tidak berwarna lagi.


“An, kenapa takdir ini begitu pahit?!” ucap Raskal sambil menangis pilu tanpa suara di taman itu.


***


Di saat yang bersamaan, Ana pun telah sampai di rumahnya. Saat itu dia melihat ibunya sudah semakin menua dan dia, sebagai anaknya, tidak dapat menemaninya di saat usia senjanya.


Ana duduk termangu memandangi ibunya yang sedang masak di dapur.


“Bu, maafkan aku jika suatu saat nanti aku tidak dapat bersama dengan ibu lagi. Tapi aku akan selalu menyayangi ibu sampai akhir, bu.” Gumamnya dalam hati.


Saat sedang memasak, tiba-tiba ibunya pun sadar kalau Ana sedang duduk memperhatikannya.


“An, kamu sejak kapan ada di sini? Kok masuk tidak mengucapkan salam?” tegur ibu dan Ana pun hanya menyengir lalu berkata, “Assalamu’alaikum..”


“Wa’alaikumsalam. Ish kamu ini, An. O ya, tumben kamu jam segini sudah pulang?” tanya ibu heran.


“Iya, bu. Lagi ijin ingin pulang lebih awal saja.” Sahut Ana.


“Oh begitu. Ya sudah. Ini masakan ibu sudah matang. Kamu makan dulu, ya. Setelah itu baru istirahat.” Ucap ibu dan Ana pun mengangguk.


Dalam hati Ana, dia bergumam, “Ibu... aku tidak tega memberitahu ibu soal penyakitku ini.”


Di saat yang bersamaan, ibu berkata, “An, kok melamun. Ayo makan.”


“Oh iya iya, bu.” Ucap Ana yang langsung mengambil makanan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2