Takdir Cinta Pasangan Dunia Halu

Takdir Cinta Pasangan Dunia Halu
Chapter 7. Semakin dekat


__ADS_3

Keesokan harinya, Arief bangun pagi dengan penuh semangat. Hal ini membuat ibunya Arief pun heran dibuatnya.


“Bu, Ibu kenapa?” tanya Ayah yang memperhatikan gerak-gerik istrinya itu.


“Itu, Yah. Ibu heran dengan Arief. Tidak biasanya dia bangun pagi-pagi seperti ini tanpa harus ibu bangunkan.” Ucap ibu.


“Ayah kira ada apa?! Biarkan saja, bu. Mungkin memang dia sedang ingin bangun pagi. Lagipula, bu. Ibu ini eneh deh.” Ucap Ayah.


“Aneh kenapa, Yah?” tanya ibu bingung.


“Ya aneh. Anak susah dibangunkan, ibu bingung. Anak bangun sendiri tanpa harus di bangunkan, ibu juga bingung.” Celetuk Ayah.


“Ya maaf, Yah. Soalnya dia tidak biasanya seperti itu.” Ucap ibu dan ayah pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


***


Saat di kantor, Arief pun lagi-lagi harus dihadapkan pada kenyataan bahwa di atas meja kerjanya masih ada pekerjaan yang belum dia selesaikan.


Namun, itu tidak mengurangi rasa bahagianya pagi itu.


“Hai, Rief. Tumben tidak kusut? Baru dapat undian berhadiah, ya?” tanya Faisal yang tiba-tiba masuk.


Arief pun tidak menyahut. Dia masih tetap fokus pada pekerjaannya.


Merasa lagi-lagi tidak dihiraukan, Faisal pun pergi dan Arief pun masih tetap fokus.


Saat jam istirahat, Arief melihat ke arah ponselnya. Dia sangat berharap jika Ana mau menghubunginya.


Namun... saat jam kerja sudah hampir masuk, Ana pun tak kunjung menghubungi Arief. Membuat suasana hati Arief berubah seketika.


Arief pun akhirnya fokus kembali pada pekerjaannya dan dia pun ingin segera menyelesaikan sisanya yang tinggal sedikit lagi.


***


Saat jam pulang hampir tiba, Faisal lagi-lagi masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan berkata, “Hai, Rief. Bagaimana pekerjaanmu? Sudah beres kah?”


“Hmm.” Sahut Arief singkat.


“Syukurlah kalau sudah beres. Nah, bagaimana kalau pulang kerja ini kita mampir main dulu.” Ucap Faisal.


“Tidak, ah. Aku sedang tidak mood. Aku mau langsung pulang saja.” Ucap Faisal.


“Tidak mood? Kok bisa? Bukannya tadi pagi sepertinya kamu sedang bahagia.” Ucap Faisal bingung.


Arief pun terdiam. Dia sendiri juga bingung kenapa dia seperti itu.


“Hai, Rief. Kok kamu diam. Ada apa?” tanya Faisal.


Arief pun akhirnya menjawab, “Sal, semalam orang yang salah kirim pesan, menghubungiku. Dan dia pun memberitahukan namanya padaku.


“Siapa namanya, Rief?” tanya Faisal kepo.


“Ana.” Sahut Arief singkat.


“Ana?! Nama yang bagus. Terus...kalian ngobrol apa saja?” tanya Faisal yang lagi-lagi kepo.


“Kami tidak mengobrol apa-apa, Sal. Karena semalam itu sudah terlalu larut. Tapi, sebelum chat kami akhiri, aku berpesan padanya jika memang ingin teman mengobrol, aku selalu siap kapan saja dia butuh teman ngobrol.” Ucap Arief.


Mendengar hal itu, Faisal pun akhirnya menggoda Arief, “Cie.. cie.. rasanya ada yang sedang jatuh cinta.”


“Terus... sekarang kenapa kamu terlihat badmood begitu?” tanya Faisal.


Arief pun terdiam dan tak berapa lama kemudian dia pun menjawab, “Hari ini dia belum menghubungiku.”


“Wkwkkwkwk...” seketika tawa Faisal pun pecah.


“Kok kamu ketawa, Sal?” tanya Arief kesal.


“Soalnya kamu tuh lucu sih, Rief. Ternyata sepertinya kamu benar-benar sedang jatuh cinta rupanya. Kenapa tidak kamu saja duluan yang menghubunginya?” ucap Faisal.


Arief pun terdiam. Dia berkata dalam hati, “Apa iya aku jatuh cinta?”

__ADS_1


“Hai, Rief. Kamu dengar tidak ucapanku tadi?” tanya Faisal yang melihat Arief terdiam.


“Eh.. oh iya, ya. Kenapa aku tidak kepikiran?!” ucap Arief.


“Ish.. kamu ini, Rief. Ya sudah, coba sekarang kamu hubungi dia duluan.” Ucap Faisal.


“Tidak, ah. Nanti malam saja. Percuma rasanya jika aku menghubunginya sekarang. Dia mungkin juga sedang OTW pulang kerja dan sekarang sedang ada di jalan.” Ucap Arief.


“Oh.” Sahut Faisal singkat.


“Ya sudahlah.. kalau begitu kita pulang saja.” Ucap Faisal lagi.


“Sudah.. kamu duluan saja. Aku masih harus merapikan semua yang berserakan di atas meja kerjaku ini.” Ucap Arief sambil melihat ke arah meja kerja.


“Ya sudah kalau begitu. Aku balik duluan, ya.” Ucap Faisal dan Arief pun mengangguk.


***


Saat malam harinya, saat Arief sedang asyik mendengarkan music.. tiba-tiba saja...


‘Drrt... drrt...’ ponsel Arief pun berbunyi.


Arief dengan segera melihat layar ponselnya. Tiba-tiba saja raut wajahnya berubah. Dia sangat senang sekali setelah mengetahui ternyata Ana menghubunginya.


[Ana]


“Assalamu’alaikum.”


[Arief]


“Wa’alaikumsalam.”


[Ana]


“Kak, kakak sibuk? Aku ganggu, tidak?”


[Arief]


[Ana]


“Oh begitu. Btw... bagaimana pekerjaannya hari ini, kak? Apakah lancar?”


[Arief]


“Alhamdulillah, lancar. Hanya sedikit sempat pusing juga, sih.”


[Ana]


“Pusing kenapa, kak?”


[Arief]


“Biasa... laporan akhir bulan.”


[Ana]


“Berarti kita sama dong. Aku juga sedang mengerjakan laporan akhir bulan.”


[Arief]


“Sudah selesai?”


[Ana]


“Alhamdulillah sudah, kak. Kalau kakak sendiri sudah selesai laporannya?”


[Arief]


“Alhamdulillah sudah juga.”


[Ana]

__ADS_1


“Syukurlah kalau begitu. O ya, kak. Maaf. Rasanya kita sudahi dulu chatnya. Soalnya temanku meneleponku.”


[Arief]


“Oh gitu. Ya sudah tidak apa-apa. Besok bisa kita lanjut lagi.”


[Ana]


“Iya, kak. Maaf ya.”


[Arief]


“Iya. Tidak apa-apa.”


Setelah itu chat pun di akhiri.


Di saat yang bersamaan..


“Assalamu’alaikum, Ras.” Ucap Ana saat mengangkat telepon.


“Wa’alaikumsalam.” Sahut Raskal.


“Gimana, Ras? Semua lancar?” tanya Ana.


“Alhamdulillah, An. Semua lancar. Mungkin besok akan langsung di lakukan persiapan.” Sahut Raskal.


“Syukurlah, Ras. Lalu sekarang bagaimana keadaan kamu?” tanya Ana.


“Alhamdulillah baik, An.” Sahut Raskal.


“Syukurlah. Sudah dapat kenalan cewe cantik, belum?” goda Ana.


“Ish kamu ini, An. Senang sekali menggoda aku.” Ucap Raskal.


“Siapa yang sedang menggoda sih, Ras?! Aku tuh tanya serius.” Ucap Ana.


“Tau ah. O ya, sudah makan malam, belum?” tanya Raskal balik menggoda Ana.


“Tidak pernah makan jam segini.” Sahut Ana.


Sebagai catatan, saat itu jam menunjukkan pukul 22:30 waktu setempat.


“Pantas saja kamu itu kurus, An.” Celetuk Raskal.


“Awas kamu ya, Ras.” Sahut Ana kesal.


“Awas kenapa, An? Kamu mau cium aku?” ucap Raskal yang lagi-lagi menggoda Ana.


“Dih.. ogah.” Sahut Ana.


“Wkwkkwk..” Raskal pun tertawa terbahak-bahak.


“Ish. Kamu ini ya, Ras. Senangnya buat aku kesal saja.” Protes Ana.


“Wkwkkwk... sudah.. sudah.. ini sudah malam. Lebih baik kamu cepat tidur. Besok kamu juga harus kerja, kan?” ucap Raskal.


“Iya. Ya sudah kalau begitu. Aku tidur duluan, ya. Kamu jangan begadang.” Ucap Ana.


“Siap, bu.” Sahut Raskal.


“Ish kamu ini. Ya sudah. Assalamu’alaikum.” Ucap Ana.


“Wa’alaikumsalam.” Sahut Raskal dan mereka pun mengakhiri percakapan.


***


Ke esokan harinya hingga beberapa hari ke depan, Raskal pun sibuk melakukan beberapa persiapan acara.


Sedangkan Ana dan Arief pun semakin dekat dan merasa nyaman antara satu dengan yang lainnya.


Hingga suatu saat, Raskal pun kembali pulang dari tugas luar kotanya. Membuat Ana pun menjadi gembira.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2