
Satu persatu orang-orang mulai mengantri memberikan kertas resep kepadaku dan Susan. Aku dan Susan dengan telaten menyediakan setiap obat yang tertera disana.
"Rianti," sapa seseorang yang kukenal baik suaranya.
"Yah dokter," jawabku seraya mengedarkan pandangan kearah mas Hafizh.
"Saya ingin bicara sebentar, saya tunggu di ruangan saya," cecarnya dan melenggang pergi ke ruangannya.
Aku hanya mengangguk pelan.
"San, aku ke ruangannya dokter Hafizh dulu yah, nggak apa-apa kan?" Kataku pada Susan yang sedang melihat kearah dokter Hafizh berjalan.
"Dokter Hafizh kok ganteng sekali yah," gumamnya kecil, tapi masih bisa kudengar.
"Kamu suka yah sama dokter Hafizh?" Sahutku menggoda Susan.
"Siapa sih yang tak suka padanya Ri, udah ganteng Soleh lagi, tipe aku banget," celotehnya sambil meremas ujung jilbabnya.
Aku hanya tertawa melihat tingkah Susan seperti itu. Namun ada benarnya juga kata Susan, setiap karyawan perempuan di klinik ini seperti terhipnotis akan ketampanan dan perilaku mas Hafizh. Semua seakan berlomba untuk di jadikannya istri. Terkecuali denganku.
"San, aku ke ruangan dokter Hafizh dulu yah, titip ini dulu." Aku memberikan beberapa kertas resep pada Susan. Wanita itupun memberikan kode sebagai tanda setuju padaku.
Aku berjalan masuk ke ruangannya dokter Hafizh. Mas Hafizh terlihat duduk serius sambil menggerakkan bolpointnya.
"Assalamualaikum dok, boleh saya masuk?"
"Wa'alaikumussalam Rianti, silahkan masuk," jawabnya sambil mempersilahkan aku duduk.
"Ada apa dokter panggil saya?"
"Hmmm, panggil mas kalau hanya berdua."
"Eh Iyah, mas Hafizh," jawabku sembari menautkan kedua jari-jari tanganku.
"Begini Rianti, ada sesuatu yang penting, yang ingin kusampaikan padamu." Ada ekspresi serius dari wajah mas Hafizh.
"Aku, ingin....." Kata mas Hafizh terbata-bata. Keringat mengucur deras dari pelipisnya. Aku bingung melihat tingkah lelaki yang sering membuat jantungku berdetak kencang ini.
"Ingin apa mas?" Tanyaku semakin penasaran.
"Aku ingin kau, men ...."
Cekrek.
__ADS_1
Kata-kata mas Hafizh terpotong saat pintu dibuka oleh seorang perempuan cantik dengan pakaian modis berwarna merah muda.
"Selamat siang dokter Jonathan," cecarnya kemudian mendekati mas Hafizh.
"Miranda? Kapan datangnya?" Kamu tau tempatku dari mana?" Mas Hafizh segera berdiri untuk menyambut tamunya.
"Aku baru sampai kemarin Jo. Aku dapat alamatnya dari Mbak Brenda. Kutanya lewat Whatsapp," ucapnya lirih dengan tersenyum manis.
"Ehhh Iyah, Rianti, kenalkan ini Miranda, sahabatku sewaktu SMA dulu."
Aku berdiri cepat sambil menjulurkan tangan hendak bersalaman. Miranda langsung meraih tanganku dan memperkenalkan namanya.
"Ini siapa Jo?" Tanya Miranda.
"Ini karyawan saya Mir, kebetulan saya panggil kemari karena ada perlu."
"Oh gitu, kira'in calon penggantinya Amira," celetuknya dengan sedikit tertawa menggoda mas Hafizh.
Mas Hafizh terdiam sebentar dan menatapku. Kembali dada ini berdegup kencang. Entah kenapa perasaan aneh akhir-akhir ini menyerangku. Ahhh sudahlah, aku tak ingin terjebak lagi dengan yang namanya laki-laki. Sudah cukup mas Galih yang pernah membuatku kecewa. Jangan sampai terulang lagi.
Merasa tidak enak berada di antara mereka,
aku pun pamit kepada mas Hafizh dan Miranda, walau sebenarnya aku masih penasaran dengan sesuatu yang ingin disampaikan mas Hafizh.
Kakiku langsung melangkah menuju apotik yang tak jauh dari ruangan mas Hafizh.
Ternyata Susan sedikit kerepotan dengan berbagai macam obat yang tertera di kertas resep. Segera saja aku membantunya untuk mencarikan beberapa jenis obat dan membungkusnya menjadi satu.
Dalam pergulatanku dengan berbagai macam jenis obat, tiba-tiba saja gawaiku berbunyi. Tanda sebuah pesan masuk di aplikasi WA-ku. Karena terlalu sibuk, aku urungkan niatku untuk membacanya. Hingga pada akhirnya aku melupakan pesan tersebut.
***
Delapan jam sudah waktuku bekerja. Kini aku bisa pulang karena jam kerjaku sudah selesai.
Berjalan menuju pintu keluar klinik, tanpa sengaja aku berpas-pasan dengan mas Hafizh yang sedikit menunduk ketika bertemu denganku.
Pria itu tidak menyapaku sama sekali. Dia berlalu saja melewatiku. Dalam kegamangan aku sejenak berpikir, teringat sebuah pesan yang belum kubuka tadi.
Segera kurogoh gawaiku dari kantong gamisku, dan membuka sebuah pesan dari kontak yang bertuliskan Dokter Hafizh. Pelan aku membuka pesannya, aku terkesiap dan berbalik arah menatap mas Hafizh yang kini sudah berada di belakangku.
[Aku ingin kau menjadi istriku] pesan singkat dari mas Hafizh.
Aku terpaku membisu, bolak balik mata ini menatap mas Hafizh dan pesan singkatnya. Entah apa yang harus kujawab. Jujur saja, hati ini masih takut menjalin hubungan lagi dengan seorang laki-laki. Takut kapal itu karam lagi.
__ADS_1
"Maksudnya pesan ini apa mas?" Sengaja aku bertanya pada mas Hafizh, padahal pesan itu sudah cukup jelas buatku untuk menjelaskan perihal pernikahan.
"Aku mau melamarmu Rianti. Aku ingin kau menjadi penyempurna agamaku."
Kata-kata mas Hafizh membuat hati ini luluh sementara. Namun, bayangan kelam masa lalu membuat hati yang luluh tadi, menjadi keras seketika.
"Tapi, aku takut mas. Takut tersakiti lagi."
"Aku takkan menyakitimu Rianti. Aku berjanji padamu!" Jawabnya dengan penuh keyakinan.
"Jangan pernah mengucap janji mas. Bahkan mas Galih mengucap janji sakralnya dengan Allah di depan banyak saksi. Namun nyatanya sekarang janji itu ia ingkari."
Diri ini mulai terisak. Bukan karena masih mencintai mas Galih. Tapi karena rasa trauma dikecewakan yang membuat hati ini begitu keras menerima lamaran lelaki baik di depanku.
Mas Hafizh masih terdiam menunduk. Ia tak lagi memandang wajahku. Kini berbalik aku yang memandang wajah sendu yang selalu membantuku dalam masa-masa terpurukku.
"Mohon Rianti, beri aku kesempatan menyembuhkan luka di hatimu. Tak semua laki-laki brengsek seperti Galih, Rianti. Jangan tolak aku Ri, aku sudah...." Kata-katanya terhenti.
"Sudah apa mas?" Tanyaku sedikit menggertak.
"Aku tak ingin mengatakannya sebelum kau sah menjadi yang halal untukku Rianti!" Jawabnya lantang dengan mata menatap nanar kearahku.
Tatapan nanar mas Hafizh membuatku semakin bingung. Aku benar-benar sudah hilang kepercayaan terhadap laki-laki. Aku tau mas Hafizh baik, tapi itu tak menjamin di masa depan nanti ia akan terus bersikap baik.
Mas Galih juga dulu lelaki baik. Tapi pada akhirnya dia pun berubah. Aku tak mampu bertahan jika suatu hari nanti mas Hafizh akan seperti mas Galih. Aku tak kuat menahan kecewa.
"Maafkan Rianti mas. Rianti masih belum siap. Rianti takut kecewa lagi," jawabku dengan isakan tangis yang tertahan.
Perlahan aku mulai berjalan mundur. Meninggalkan mas Hafizh yang kini terlihat menyedihkan. Ada rasa sakit di hati saat diri ini tak mampu menerima pinangannya. Tapi trauma masa lalu terlalu besar untuk menutupi rasa ini kepadanya.
Aku pun berbalik arah membelakangi mas Hafizh. Dengan langkah berat mencoba berjalan menjauh darinya.
"Jika kau masih ragu, maka Sholat istikharah jawabannya. Minta petunjukNya, aku tau kau pun memiliki rasa yang sama denganku. Aku akan menunggu sampai batas waktu yang tak menentu Rianti." Kata-katanya membuat langkah ini terhenti.
Sejenak aku terpaku, mencerna kata demi kata yang ia lontarkan. Badan ini mulai gemetar, tak mampu menahan rasa, hanya menangis itulah obat penawar asa.
"Aku takkan memaksakan kehendak hatiku. Tapi satu kali ini saja Ri, mohon sebut namaku pada Rabbmu saat sujud terakhir shalat malammu. Tanyakan padaNya, apakah aku ini baik untukmu atau tidak." Ia masih melanjutkan kata-katanya.
"Aku akan menunggu Rianti!" Lanjutnya.
Aku berbalik arah menatap mas Hafizh kembali. Ia masih pada posisinya. Namun tak berselang lama ia beranjak dan pergi meninggalkanku yang semakin gelisah. Antara hati dan pikiranku saling beradu.
Bersambung 😁
__ADS_1