Takdir Cinta Rianti

Takdir Cinta Rianti
21. Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Mobilku melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota yang mulai sedikit sepi dari hiruk pikuk kendaraan lalu lalang dan juga muda-mudi yang menghabiskan masa muda mereka dengan nongkrong bersama teman-temannya. Sungguh sesuatu hal yang paling kurindukan saat ini, bercerita dan bercanda sepuasnya dengan sahabat terdekat.


Aku menyetel murotal Al-Qur'an dari Muzammil Hasbalah untuk menemani perjalananku seorang diri ini. Lebih tepatnya sendiri di dalam mobilku saja. Sebab di belakang mobilku ada mas Hafizh yang mengiringi perjalananku pulang ke rumah setelah menunaikan kewajibanku di tempat kerja.


Ia dengan suka cita menawarkan diri untuk mengantarkanku pulang tadi. Awalnya aku menolak, tapi karena ia terus memaksa jadi aku iyakan saja.


Tangis Miranda masih terputar jelas dalam ingatanku plus ungkapan cintanya pada mas Hafizh masih tersimpan jelas di pusat pemikiranku. Gadis itu mencintai mas Hafizh, seseorang yang beberapa hari lagi akan menjadi suamiku.


***


Flashback....


"Ada apa ini Mas?" Sahutku pada mas Hafizh. Menatap lekat kedua mata elangnya dengan penuh keseriusan.


Aku langkahkan kaki sedikit mendekat pada mas Hafizh. Pintu juga sedikit aku tutup, agar pembicaraan kami tidak terdengar oleh orang di luar sana.


"Aku bisa jelasin Ri," ucapnya membalas tatapanku.


"Miranda mengatakan bahwa ia mencintaiku Ri, sejujurnya aku pun kaget atas pernyataannya," sambungnya lagi.


"Tidak mungkin ia berani berkata seperti itu kalau tidak ada penyebabnya."


"Katakan sejujurnya padaku, apa yang terjadi antara kalian," ujarku tidak percaya.


Aku sangat yakin, perempuan tidak mungkin dengan mudahnya mengatakan cinta pada laki-laki jika tidak di rayu lebih dulu atau memiliki hubungan spesial dengan lelaki tersebut. Kecuali perempuan itu tidak lagi memiliki rasa malu.


"Aku berani sumpah Ri, aku tidak pernah punya hubungan spesial dengan Miranda," sahut mas Hafizh meyakinkanku.


"Aku baru bertemu dengannya tujuh hari yang lalu. Selama ini kami tidak pernah berhubungan intens. Kecuali setelah bertemu, kami sering chatting hanya untuk masalah kerja dan bertanya kabar, lebih dari itu mungkin tidak ada Ri."


"Benarkah? Tapi kenapa ia bisa mengatakan ia mencintaimu?"

__ADS_1


"Apakah anda pernah memberikan harapan untuk sebuah hubungan padanya Dokter?"


Karena kesal aku tidak lagi memanggil sebutan mas untuknya. Aku mulai berbicara formal dengannya. Entah apa yang ia sembunyikan, aku sangat yakin di antara mereka pasti ada sesuatu.


"Sumpah demi Tuhan, aku nggak pernah memberi harapan apapun padanya Ri," jawab mas Hafizh serius.


"Miranda tadi datang menemuiku. Mengobrol dengan obrolan seperti biasa. Tentang masalah pekerjaan."


"Ia kemudian bertanya kepadaku, kapan aku akan menikah lagi."


"Dengan semangat aku menjawab bahwa akan menikah beberapa hari lagi."


Aku masih terus mengamati mimik wajah mas Hafizh, sembari terus mendengarkan setiap penjelasannya. Mencari sebuah kebenaran pada wajah tampannya. Dan aku tidak menemukan sedikitpun kebohongan atas setiap kata yang ia nyatakan.


Dengan mantap setiap kata itu mengalir deras dari mulutnya. Tidak ad ritme bicara yang dibuat-buat ataupun tersendat-sendat. Ia berbicara dengan intonasi wajah serius. Itu artinya ia sedang tidak berbohong.


"Ia kemudian bertanya lagi, dengan siapa aku hendak menikah?" Sambung mas Hafizh.


"Dan kujawab denganmu Ri. Aku begitu bersemangat mengatakan padanya bahwa aku akan menikah denganmu. Tapi nyatanya Miranda mulai menampakkan wajah ketidaksukaannya padaku."


Wajah tampan itu kini memasang wajah memelas padaku. Memohon untuk aku percaya akan semua kata-katanya. Anehnya batinku pun mengatakan bahwa lelaki di depanku ini berkata jujur.


"Dan apakah Anda juga mencintainya dokter?"


"Tidak ada cinta untuk perempuan yang belum halal untukku Ri."


"Lantas jika seperti itu, maka apa tujuanmu menikahiku jika bukan karena cinta dokter?" Sedikit kecewa mendapatkan jawaban dari mas Hafizh seperti itu.


Jika ia tidak memiliki rasa cinta untukku maka untuk apa ia melamarku dan akan menikahiku.


"Aku mengagumimu, dan ingin membangun cinta itu bersamamu dalam ikatan yang diridhai Allah."

__ADS_1


"Aku ingin mencintaimu dalam ikatan halal." Pandangannya mengisyaratkan bahwa ia benar-benar serius ingin membangun perasaan suci itu bersamaku.


Sama halnya denganku yang belum sepenuhnya memiliki rasa padanya, hanya rasa kagum akan pribadinya yang membuatku juga mantap untuk menerima dan hidup berumah tangga dengannya. Jadi tidak ada yang salah dengan pernyataannya barusan.


"Apakah dokter tidak mengagumi dokter Miranda?" Pertanyaan ini yang berputar-putar di otakku. Siapa yang bisa menolak untuk mengagumi dokter cantik dan berprestasi itu. Bahkan akupun yang memiliki gender yang sama dengannya juga mengagumi kecantikannya dan kepandaiannya.


"Aku menyayangi Miranda sebagai sahabatku, perasaan ini sama seperti perasaanku pada Mbak Brenda dan Kirana. Sayang tapi bukan cinta."


" Seperti ketidakmungkinan aku menikahi mbak Brenda dan Kirana, begitu juga halnya yang kurasakan pada Miranda," lanjutnya.


"Baiklah aku percaya, tolong jangan mengecewakanku lagi."


"Aku janji." Tatap mas Hafizh penuh keyakinan.


***


Mentari mulai menampakkan cahaya indahnya. Di atas, awan putih menghiasi langit biru dengan keanekaragaman burung-burung yang beterbangan rapi membentuk variasi. Udara pagi ini terasa sangat segar, bahkan embunpun masih enggan untuk beranjak dari dedaunan hijau yang bertengger pada dahan-dahan pepohonan depan rumahku.


Hari ini rumahku ramai dengan beberapa tetangga yang membantuku dalam persiapan ijab kabul besok. Beberapa yang lainnya pergi ke masjid agung untuk gladi resik ijab kabul pada esok pagi.


Di rumah hanya akan dibuat acara kecil-kecilan, seperti menjamu para tamu undangan setelah ijab kabul di masjid agung dekat rumahku.


Tamu undangan hanya terdiri dari beberapa sahabat dekat, keluarga, dan juga tetangga dekat.


Di kamar aku duduk menghadap cermin, tidak percaya jika aku akan menjadi pengantin untuk kedua kalinya. Baju pengantin muslimah dengan warna putih gading bertengger rapi di samping lemari pakaianku. Sekilas terbayang tentang papa dan mama, pernikahan kali ini tidak ada restu ataupun wali nikah dari papa. Sungguh sedih rasanya.


"Papa, putri kecilmu rindu." Dengan tersedu aku mulai bergumam.


"Apakah kalian akan bahagia jika melihatku menikah untuk kedua kalinya?" Masih dengan tangis yang tak bisa dibendung.


Aku yakin, orang tua manapun tidak ada yang menginginkan anaknya menikah sampai dua kali. Setiap orang tua berharap anaknya akan bahagia dengan satu lelaki saja untuk seumur hidup. Tapi kenyataannya hal itu tidak berlaku untuk kehidupanku. Dikhianati dan dicampakkan oleh lelaki yang dititipkan amanah oleh papa.

__ADS_1


Namun, bukanlah aib jika menjadi janda dan dinikahi oleh lelaki lain. Aku yakin semua sudah menjadi garis takdir yang mau tidak mau harus aku jalani. Percaya takdir Tuhan selalu berbuah manis di syukuri dengan baik.


Bersambung 😁😁


__ADS_2