Takdir Cinta Rianti

Takdir Cinta Rianti
14. Bisik-bisik tetangga


__ADS_3

Menikah itu bukan perkara mudah. Sejatinya menikah bukan hanya tentang hubungan di atas ranjang saja tapi tentang perjalanan hidupmu dengan orang yang sama setiap harinya. Bukankah kita akan merasa bosan jika bermain dengan satu permainan saja?


Sementara rasa bosan, hal ini yang sering menjadi alasan suami atau istri saling meninggalkan. Meski bukan secara lisan diucapkan keduanya, tapi semua akan terbaca dari keputusan mereka untuk saling mengakhiri hubungan.


Jika bukan karena bosan, lantas alasan apa yang mendorong pasangan kita untuk berselingkuh? Mungkin itu pula yang dirasakan Mas Galih untukku.


Aku tidak bisa menampik, bahwa secara biologis aku merindukan sentuhan kasih sayang seorang laki-laki yang halal. Namun secara Psikis aku menolak untuk masuk lagi ke dalam pusaran kehidupan yang membuatku merasakan kekecewaan teramat besar.


💞💞💞


Mentari semakin naik di bagian timur, terpaan sinarnya semakin cerah menyinari bumi tempat para hamba bernaung. Awan putih berjejer rapi di langit, menambah keindahan suasana pagi ini.


Aku dan anak-anak bergegas pulang ke rumah. Selain karena cuaca yang semakin panas, juga karena cacing-cacing di perut mulai berdemo meminta haknya.


Di depanku Fatih, Syamil, dan Syafiq berjalan bergandengan tangan sambil mendendangkan lagu anak-anak bernuansa islami. Rona kebahagiaan terpancar jelas dari wajah tampan mereka. Aku hanya bisa tersenyum kecil melihat kebahagiaan ketiga putraku itu.


Sepertinya mereka baik-baik saja tanpa peran seorang ayah dalam hidup mereka.


"Abang, Om afis kok nggak main-main lagi ke lumah yah. Amil lindu."


Celoteh Syamil membuatku terhenti sejenak, namun tak lama kemudian aku melangkah lagi untuk melanjutkan perjalanan pulang kami. Fatih, Syamil, dan Syafiq masih terus berjalan sambil bercerita tentang kegiatan mereka kalau sedang bersama Mas Hafizh.


Ternyata aku salah, diam-diam ketiga putraku merindukan sosok ayah yang mereka rasakan dari mas Hafizh. Tentu hal ini menjadi pertimbangan besar untuk jawaban yang harus kuberikan pada Mas Hafizh. Bahwa aku mungkin harus bisa membuka hati kembali, setidaknya ini demi kebahagiaan anak-anakku.


"Kamu harus mulai berpikir untuk mencari pendamping hidup Ri. Kasihan anak-anak, sepertinya mereka butuh peran ayah dalam hidup mereka." Mbak Ani memberikan pendapatnya.


Aku merasa perkataan Mbak Ani ada benarnya juga. Kehidupan itu harus seimbang, jika sendal saja akan seimbang kalau ada pasangannya. Maka kehidupan manusia pun seharusnya lebih dari itu.


Anak-anak butuh ayah dan ibu. Jika ibu menjadi tempat mereka berkasih sayang, maka sosok ayah mampu menjadi pelindung dan penenang untuk mereka.


Jika saja dulu Mas Galih tidak berpikir untuk menikah lagi, atau mungkin bisa sedikit menekan sikap egoisnya dalam hal pandangan matanya. Mungkin hidupku tidak akan serumit ini.


Tapi apalah daya, takdir manusia siapa yang tau kan berakhir bagaimana. Menerima dan bersyukur menjadi jalan satu-satunya untuk menikmati roda kehidupan yang terus berputar ini.


"Sepertinya Hafizh cocok jadi ayah untuk mereka Ri. Apalagi Hafizh juga seorang duda. Jadi kalian bisa sama-sama saling mengisi kekosongan satu sama lain." Mbak Ani memberi pendapat lagi.


Mbak Ani ini usianya tidak jauh beda dari Mbak Brenda. Selisih enam tahun dari Mbak Brenda. Beliau juga seorang janda sepertiku, tapi bedanya aku janda ditinggal kawin, sementara beliau janda ditinggal mati.

__ADS_1


Mbak Ani memiliki satu orang anak laki-laki yang kini sedang mengenyam bangku pendidikan di salah satu Universitas Negeri di kota Bandung. Suaminya meninggal pada saat anaknya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Sejak saat itu Mbak Ani bekerja keras untuk menghidupi anak semata wayangnya itu.


Aku pernah bertanya padanya, perihal menikah untuk kedua kalinya. Namun ia berdalih, bahwasanya ia teramat mencintai suaminya, dan ingin melanjutkan hubungan mereka kelak di akhirat nanti, ia berharap menjadi istri dari suaminya lagi di surganya Allah SWT.


Yah aku pernah mendengar tentang hal itu dari ceramah beberapa ustadz-ustadz kondang, dan dulu aku bersama Mas Galih pernah membuat janji yang sama seperti Mbak Ani dan suaminya. Namun nahas bagiku, bukannya hidup bahagia malah diceraikan dan dibuang begitu saja.


"Chemistry antara Hafizh dan anak-anak sangat kuat Ri. Hafizh mampu memberikan kehangatan seorang ayah kepada anak-anak, yang tidak mereka dapatkan langsung dari ayah kandungnya." Tambah Mbak Ani.


"Pikirkan lagi baik-baik Ri. Ini demi Psikologis anak-anakmu. Mereka masih terlalu kecil untuk memahami tentang kehidupan orang dewasa."


"Yah mau gimana lagi Mbak, namanya juga orang pernah kecewa, jadi susah juga kalau harus membuka hati lagi," jawabku sekenanya.


Aku belum bercerita banyak tentang pinangan mendadak Mas Hafizh kepada Mbak Ani. Rencananya nanti malam kalau anak-anak sudah tidur, aku akan menceritakan semuanya kepada Mbak Ani, sekalian juga meminta pendapatnya tentang keputusan yang harus aku ambil.


"Mana baiknya untukmu Ri. Mbak hanya berharap kamu dan anak-anak bahagia. Lupakan segala kenangan burukmu dengan Galih. Mungkin itu salah satu cara Allah menjauhkanmu dari orang yang tidak tepat untukmu."


Dalam hal spiritual keagamaan, Mbak Ani termasuk orang yang taat kepada penciptanya. Ia selalu memberikan nasehat yang membuat hatiku merasa tenang saat mendengarkannya. Ia merupakan orang bijak yang aku butuhkan saat ini.


"Lihat saja nanti Mbak. Semoga ada petunjuk yang Allah berikan nanti."


Kami pun tertawa kecil bersama. Menertawakan kehidupan kami yang sama-sama menjanda. Tidak ada lagi pembahasan soal pernikahan. Yang ada hanya pembahasan para emak-emak tentang kehebohan anak-anaknya.


"Sayuurr, sayuuur, sayuuur." Teriakan pak Mamat si tukang sayur yang biasa menjajakan dagangannya di kompleks perumahan kami, menghentikan perbincangan aku dan Mbak Ani.


Kebetulan juga saat ini posisi kami sudah berada tepat di depan rumah. Anak-anak sudah masuk duluan, disusul Mbak Ani dan baby Zee. Sementara aku dan Baby Qilla masih berbelanja lauk-pauk untuk makan kami hari ini.


Tanpa harus dipanggil, pak Mamat sudah berhenti tepat di depanku. Ia sudah hafal tentang kebiasaanku berbelanja sayur padanya.


"Pak Mat, sawi dua ikat, terong sekilo, wortel setengah kilo, kentang sekilo, sama tahu dan tempe."


"Baik Neng."


Dengan sigap pak Mamat membungkus semua sayur yang aku pesan tadi. Seiring dengan itu, ibu-ibu kompleks juga sudah mulai berkumpul untuk berbelanja sayur pada pak Mamat.


Ada yang berbasa-basi dengan menanyakan kabarku dan anak-anak. Ada yang bertanya perihal pekerjaanku. Dan ada pula yang bertanya tentang kapan aku akan menikah.


"Eh neng Rianti, siapa tuh cowok ganteng yang sering datang nengokin anak-anak?" Tanya ibu Mila penasaran.

__ADS_1


"Calon suaminya yah?"


Ibu Mila ini memang terkenal dengan sebutan Mak kepo di kompleks. Karena kebiasaannya yang serba ingin tau tentang kehidupan orang lain. Ia juga terkenal tukang gosip, karena mulutnya yang cerewet itu suka ngegosip dimana-mana.


"Itu adiknya Mbak Brenda Bu," balasku santai.


"Oh, lagi deket yah neng?"


"Nikahlah neng, nggak baik menjanda terus nanti bisa jadi fitnah loh neng," sahutnya sambil tertawa kecil.


Aku tidak menanggapi ocehan Bu Mila. Beginilah nasib jika menjadi janda, ada-ada saja cerita miring yang sering terdengar telinga. Tapi biarlah orang berbicara, toh aku tidak menggoda suami-suami mereka.


"Ini neng belanjaannya." Pak Mamat memberikan sebungkus besar tas kresek berisi berbagai macam sayur yang aku pesan tadi.


Aku kemudian membayarnya setelah menanyakan total harganya pada pak Mamat. Dan pamit kepada semua ibu-ibu yang sedang berbelanja.


💞💞💞


Setelah menunaikan shalat Maghrib, aku dan anak-anak serta Mbak Ani berkumpul di ruang keluarga untuk menemani anak-anak bermain. Tak lupa cemilan pisang goreng tabur keju dan cokelat ikut serta dalam perkumpulan kami. Sementara si kembar aku sediakan puding instant yang dibuat khusus bayi.


Canda tawa menghiasi kebersamaan kami. Mbak Ani sengaja aku minta untuk menginap di rumah sementara waktu selama anaknya di luar daerah. Kasihan juga kalau ia harus tidur sendiri di rumahnya yang terletak beberapa meter dari kompleks rumahku.


Drrrrt...


Drrrrt...


Ponselku berdering, tanda sebuah pesan masuk.


[Aku ingin video call sama anak-anak, boleh?] Sebuah pesan dari mas Hafizh.


[Boleh] jawabku singkat dan memberikan handphoneku pada Fatih.


Tidak lama kemudian mas Hafizh menelpon melalui video call. Anak-anak terlihat sangat senang karena bisa bertatap wajah dengan orang yang sedari tadi mereka bicarakan.


Apakah aku harus menerima mas Hafizh?


Bersambung 😁

__ADS_1


__ADS_2