Takdir Cinta Rianti

Takdir Cinta Rianti
36. Pernikahan Raymond dan Alice 2


__ADS_3

Dekorasi mewah nan megah mencuri perhatian kami. Sejenak aku terpaku sebab terlalu takjub dengan pemandangan di depan mata. Sebuah penampakan indah yang berhasil menghipnotis setiap pasang mata yang masuk ke dalamnya.



Beberapa macam ornamen-ornamen penghias yang terbuat dari kristal tergantung rapi di langit-langit ruangan. Juga terpajang di setiap sudut ruangan gedung pernikahan. Ditambah lampu-lampu warna warni yang memberikan pantulan indah pada ornamen kristal tersebut. Memberikan kesan mewah dan megah pada ruangan yang berukuran sangat besar ini.


"Wah, mewah sekali pernikahannya sayang." Tanpa sadar kata-kata itu keluar begitu saja, dengan mata yang masih melihat sekeliling ruangan.


"Apa kau ingin aku buatkan resepsi lebih mewah dari ini untuk pernikahan kita?" Mas Hafizh menatapku serius. Seakan benar-benar akan melakukan apa yang ia katakan barusan.


"Pernikahan kita sudah terjadi beberapa bulan yang lalu sayang. Tak perlu lagi untuk perayaan mewah seperti ini. Kau sudah membahagiakanku setiap hari pun, sudah menjadi hal istimewa untukku Mas," tuturku menatap hangat kedua mata elang suamiku. Sebuah senyuman tersungging dari pipi manis milik lelakiku ini.


Pandanganku kini beralih pada kedua foto yang terpajang di depan pintu masuk. Mendekati dan dengan seksama memperhatikan keduanya. Yah, Itu adalah foto Raymond dan Alice yang diambil secara terpisah. Keduanya memang terlihat sangat cocok jika dilihat dari ukiran wajah mereka yang hampir dikatakan mirip. Tampan dan cantik, mungkin kata itu bisa mewakili kecocokan mereka.


Mas Hafizh menyusulku dan mensejajarkan dirinya denganku. Sama-sama menatap foto besar yang berada di depan kami.


"Menurutmu, siapa yang paling tampan, aku atau Raymond sayang?" Pertanyaan mas Hafizh cukup menggelitik perut. Bagaimana bisa ia menanyakan hal konyol seperti itu.


"Pertanyaan macam apa itu Mas? Yah, tentulah jawabanku kamu, sayang." Aku melihatnya dengan tertawa kecil.


"Benarkah sayang?" Tanyanya kembali.


"Benar sayang. Jika Raymond terlihat lebih tampan darimu, maka berarti aku tidak bisa menjaga pandanganku."


"Begitupun sebaliknya, jika ada perempuan yang kau anggap lebih cantik dariku. Maka artinya kau pun tak bisa menundukkan pandanganmu Mas," lanjutku.


Mas Hafizh hanya diam menatapku. "Kau wanita hebat sayang," puji mas Hafizh padaku.


"Yuk ahh, kita masuk. Mungkin sebentar lagi pasangan pengantinnya akan memasuki gedung resepsi," ajakku seraya melingkarkan tanganku pada lengannya.


Mas Hafizh menyetujuinya dan mulai melangkah kembali. Mencari tempat duduk yang sudah dilabeli dengan nama masing-masing para tamu undangan.


"Kita kesana sayang," sahut mas Hafizh dengan menunjukkan salah satu meja bundar yang berpapan nama dirinya dan namaku.


Aku mengikuti kemana arah mas Hafizh berjalan. Menuju tempat istimewa yang dikhususkan untuk setiap pasangan suami istri. Tempat duduk yang di dekorasi indah dengan hanya memiliki dua kursi dan satu meja bundar yang terhias cantik dengan taplaknya berwarna peach. Di atasnya juga terdapat peralatan makan dan satu bucket bunga yang tertata rapi pada vas keramiknya.


Kami duduk berdampingan. Meski sebenarnya aturan kursinya saling berhadapan. Namun mas Hafizh memindahkan kursinya sendiri sampai berada dekat denganku. Merentangkan tangannya dibelakang punggungku seperti sedang merangkulku.


***


Para tamu undangan masih terus berdatangan. Menulusuri setiap bentangan karpet merah yang menambah kemewahan pesta resepsi ini. Beberapa di antara mereka juga terlihat memperhatikan bagian dekorasi. Seperti terkesima akan keindahannya.


Master Of Ceremony (MC) sudah terdengar memulai acaranya. Para tamu yang masih berdiri, segera bergerak cepat untuk duduk di tempat mereka masing-masing.


MC mengumumkan kedatangan kedua mempelai yang sedang berbahagia. Secara spontan seluruh tamu berdiri untuk menyambut raja dan ratu sehari itu. Namun betapa terkejutnya kami, saat melihat Raymond datang sendirian tanpa di dampingi Alice sang istri yang baru beberapa menit lalu dinikahinya.


Raymond naik ke altar sendirian, tak berselang lama Alice datang menyusulnya dengan berjalan anggun. Ia nampak begitu menawan. Seketika riuk tepuk tangan dari para tamu menggema kembali menyambut kedatangan wanita cantik yang akan bersanding dengan Raymond di altar itu. Keheranan tadi terlupakan begitu saja. Mungkin itu merupakan konsep dari panitia penyelenggara pernikahan ini.


Alice naik ke altar pernikahan, duduk manis di samping Raymond yang terlihat tetap berwibawa. Keduanya tampak sangat serasi, dengan garis wajah yang hampir sama-sama memiliki kemiripan yang khas.


Keduanya melempar senyum termanis kepada semua tamu yang hadir.

__ADS_1


Seorang artis ternama di London mengambil alih suasana. Ia menyanyikan lagu romantis untuk sepasang pengantin baru yang sedang dimabuk asmara.


Lagi-lagi mas Hafizh mengikuti penyanyi tersebut. Bahkan ia terlihat lebih heboh dari sang penyanyi. Tapi untungnya mas Hafizh hanya bersikap heboh saja di sampingku. Menyanyi tepat di dekat telingaku dengan hembusan nafas wanginya yang terendus indra penciuamanku.


"Sayang, hentikan. Malu sama tamu yang dibelakang kita," ucapku lirih sambil mendorong pelan tubuhnya yang sudah menempel padaku.


Mas Hafizh melirik sebentar kearah belakang untuk memastikan apakah benar mereka memperhatikan tingkahnya. Akan tetapi pandangan para bule tersebut hanya fokus melihat kearah altar, tempat bersandingnya Raymond dan Alice.


"Mereka tidak memperhatikan kita sayang. Tenang saja, disini tidak ada istilah kepo atau mak-mak tukang gosip."


Seketika aku tertawa mendengar pernyataannya. Benar kata mas Hafizh, ini negara Eropa, bukan negaraku yang terlalu banyak berserakan mak-mak yang suka ngurusin hidup orang lain.


Musik telah berhenti, sang penyanyi pun sudah kembali menempati tempat duduknya. MC kembali naik di atas podium, mengumumkan bahwa acara selanjutnya yaitu dansa romantis yang akan dilakukan oleh kedua mempelai.


Raymond segera berdiri, menghadapkan dirinya pada Alice yang nampak malu-malu. Raymond menjulurkan tangannya pada Alice. Alice manatap Raymond lama dan menyambut tangan suaminya. Keduanya berjalan serasi menuju lantai dansa.


Dentuman keyboard piano terdengar merdu, bersamaan dengan nada-nada romantis sebagai pembuka lagu untuk mengiringi gerakan sepasang insan yang sudah saling mengeratkan tubuh.


Alice terlihat ragu, namun setelahnya ia mencoba mengikuti arus gerakan tubuh dari Raymond. Ternyata keduanya sama-sama pandai menari.


Para tamu duduk diam, sambil menikmati pertunjukan dari Raymond dan Alice. Meneguk sedikit demi sedikit minuman tak beralkohol yang dihidangkan pelayan bersama beberapa macam cemilan kue mahal.


Banyak pasang mata memandang takjub pada keduanya. Tak terkecuali aku dan mas Hafizh, yang cukup serius menikmati aluran dansa dari kedua insan yang tak henti-hentinya saling menatap.


"Mereka serasi sekali ya Mas," sahutku, disela-sela keseriusan kami melihat dansa Raymond dan Alice.


Mas Hafizh mendekatiku, saat ini posisiku sedikit membelakangi mas Hafizh sebab lantai dansa tepat berada di samping tempat dudukku. Ia merangkulku dari belakang dan kemudian menciumku dengan gerakan cepat.


"Mas!" Kupicingkan sedikit mata, memberi peringatan padanya.


"Apa sayang?" Mas Hafizh terkekeh geli melihat wajahku yang sudah memerah karena malu.


"Malu tau Mas, disini banyak orang."


"Tenanglah sayang. Kau lihat mereka? Mereka pelukan juga loh, nggak ada tuh yang komplain." Mas Hafizh menunjuk kearah Raymond dan Alice yang saat ini masih sibuk dengan gerakan dansanya.


"Mereka pengantin Mas. Jadi wajar kalau pelukan. Itu mereka sedang dansa juga," selorohku semangat.


"Kita kan suami istri, sayang," cecarnya tak mau kalah.


"Hmm. Udah deh Mas." Aku mengerucutkan bibir.


"Hehe. Iya deh, aku ngalah. Maaf. Habisnya aku iri dengan mereka. Aku juga pengen pelukan sayang."


"Ada-ada saja Mas. Nanti kalau udah di rumah, kau bisa peluk aku sepuasnya." Aku membalikkan lagi tubuhku untuk melihat Raymond dan Alice yang masih berdansa romantis.


"Baiklah. Aku akan bersabar sayang. Nanti kalau sudah di rumah. Habislah kau sayang," bisiknya mengintimidasi. Ia kini tak lagi berbuat jahil padaku. Hanya duduk manis di samping tapi masih terus menggenggam tanganku.


Lambat laun, musik mulai terdengar memelan. Raymond dan Alice juga ikut melambat. Ditutup dengan gerakan Alice yang terjatuh dalam pelukan Raymond. Sejenak keduanya bersitatap. Hingga riuk tepuk tangan para tamu mengejutkan keduanya.


Aku dan mas Hafizh ikut berdiri memberikan tepuk tangan penuh kegembiraan pada mereka.

__ADS_1


MC kembali memandu acara. Setelah berdansa, keduanya akan melakukan potong kue pernikahan. Kue dengan ukuran sangat besar.



Semua orang berkumpul mengelilingi Raymond dan Alice yang sudah berdiri di depan kue pernikahan yang terletak di atas meja bundar. Keduanya kompak memegang pisau panjang dan kemudian memotong kue itu setelah mendapat aba-aba dari MC. Kembali para tamu memberikan tepuk tangan meriah.


"Terima kasih," ucap keduanya kompak.


Setelahnya mereka naik lagi ke altar, duduk manis dan sesekali saling berbisik.


***


Satu persatu tamu undangan mulai naik ke altar tempat kedua mempelai bersanding. Untuk sekedar mengambil foto dan mengucapkan selamat.


Aku dan mas Hafizh berjalan beriringan, tanganku melingkar pada lengannya. Melewati panjangnya bentangan karpet merah yang menambah kemegahan resepsi pernikahan ini. Menuju tempat Raymond dan Alice yang terlihat sedang berbicara dengan beberapa tamu lainnya.


Namun belum sampai kaki kami naik ke atas altar. Terlihat suasana kurang bersahabat tercipta di antara mereka. Entah apa yang sedang terjadi disana, yang jelas aku dan mas Hafizh tidak mau ikut campur apalagi sampai ingin tau urusan mereka. Kami urungkan niat untuk bertemu Raymond dan Alice. Serta berbalik arah untuk sekedar menemui beberapa rekan yang turut mundur setelah melihat kejadian tersebut.


"Mas, tiba-tiba kepalaku sakit. Bisakah kita pulang saja?" Setengah berbisik aku berbicara pada mas Hafizh yang saat ini terlibat pembicaraan serius dengan beberapa orang yang ia kenal.


Mas Hafizh langsung mengalihkan pandangannya yang terlihat khawatir. "Kamu masih bisa jalan sampai mobil sayang?" tuturnya gusar.


"Masih bisa Mas, bolehkan kita pulang sekarang?" pintaku lagi.


"Baiklah sayang. Kamu duduk sebentar, aku akan menemui Elliot, untuk sekedar berpamitan padanya sekaligus menitipkan salam kepada Raymond."


Mas Hafizh membimbingku menuju tempat duduk. Kemudian pergi meninggalkanku untuk menemui Elliot yang saat ini juga berada di atas altar bersama Raymond dan Alice serta beberapa orang lainnya.


Melihat kedatangan mas Hafizh, Elliot langsung mendekatinya. Mereka berbicara cukup serius, kemudian saling berjabat tangan sebagai tanda perpisahan.


Mas Hafizh kembali padaku, menuntunku berjalan hingga memasuki mobil. Entah kenapa tiba-tiba kepalaku sakit dan terasa sedikit pusing.


"Apa kepalamu masih sakit sayang?" mas Hafizh terlihat begitu panik.


"Masih Mas, aku juga merasa sedikit pusing." Kusandarkan kepalaku pada bahu mas Hafizh.


"Istirahatlah dulu, aku akan membawamu ke rumah sakit. Aku takut kamu kenapa-kenapa."


Aku tak mampu lagi menggubris perkataan mas Hafizh. Sebab rasanya aku ingin muntah akibat sakit dan pusing di kepala yang tak kunjung reda.


Mas Hafizh memberikan perintah pada Aland untuk menambah kecepatan laju mobilnya. Sesekali ia mengecek nadi tanganku untuk sekedar memastikan keadaanku.


Keringat dingin mengucur dari pelipisku. Sejalan dengan tubuhku yang mulai lemah dalam pelukan mas Hafizh. Sakit di kepala terus menjadi, hingga kurasakan dunia sedang berputar-putar. Tak mampu lagi aku membuka mataku. Hingga aku pingsan dan tak sadarkan diri.


Bersambung 😁😁


Kira-kira Rianti kenapa yah???


Yang penasaran versi lengkap dari pernikahan Raymond dan Alice, silahkan langsung mampir ke novel "Terpaksa Menikahi CEO Arogan" By Eka Pradita


__ADS_1


__ADS_2