Takdir Cinta Rianti

Takdir Cinta Rianti
20. Tangisan Miranda


__ADS_3

Akhirnya mas Hafizh pamit untuk pulang ke rumahnya. Setelah cukup lama menghabiskan waktu untuk bermain dengan anak-anak.


Sebelumnya kami sudah duduk bersama tentu saja dengan jarak yang cukup jauh. Membahas tentang konsep pernikahan kami nanti akan seperti apa. Pembahasan bukan hanya melibatkan aku dan mas Hafizh tapi juga mbak Brenda dan Kirana adiknya serta mbak Ani yang sudah kuanggap sebagai keluargaku. Meski mbak Brenda dan Kirana hanya bertatap muka melalui video call, sebab mereka berdua belum sempat untuk balik ke ibu kota dalam waktu dekat ini.


Rencana awalnya masih akan menunggu Mbak Brenda dan juga Kirana saat ijab kabul nanti, mengingat aku dan mas Hafizh sudah tidak memiliki ibu dan bapak untuk merestui pernikahan kami.


Namun mas Hafizh tidak ingin hal baik ini tertunda terlalu lama, demi menjaga agar tidak timbul fitnah antara aku dan mas Hafizh.


Akhirnya kami putuskan akan menyegerakan ijab Kabul kami secepatnya.


Konsepnya hanya sederhana. Sebab ini bukan kali pertama aku dan mas Hafizh menikah. Kita sama-sama sudah pernah merasakan bagaimana mewahnya sebuah pernikahan. Jadi untuk pernikahan kali kedua ini, kami putuskan hanya cukup ijab kabul yang dilakukan di masjid Agung dekat rumahku dan hanya mengundang beberapa keluarga, tetangga serta kerabat dekat saja.


Kami sepakat tidak ada lagi acara lamaran. Tapi tetap saja mas Hafizh akan menyiapkan mahar untuk pernikahan kami yang tinggal menghitung hari.


***


Gerimis menemani perjalananku sore ini. Waktu masih menunjukkan pukul 15.30 tepat, tapi suasana sudah seperti menjelang magrib, sebab awan hitam pekat telah menutupi sinar mentari dengan sempurna. Lalu lalang kendaraan arus balik kerja sedikit mengalihkan perhatianku dari pikiran yang sedang berkelana.


Yah, Pikiran ini mulai berkelana lagi dalam dunia fatamorgana. Antara bahagia dan ragu-ragu, begitulah perasaanku saat ini. Bertanya-tanya dalam hati, akankah kisah cintaku kan berakhir bahagia disini ataukah masih akan berkelana lagi tanpa tau arah yang tepat untuk menemukan sosok yang sejati. Ahh, entahlah takdir manusia memang sulit untuk ditebak.


Terlebih dengan kehadiran mas Galih lagi, yang ingin menunjukkan bahwa ia begitu menyesal dan ingin kembali kepadaku dan anak-anak.


Sesungguhnya ada rasa kasihan menghampiriku saat anak-anak tidak menginginkannya. Namun aku bisa apa, hal itu terbentuk dengan sendirinya pada sifat anak-anak, tidak ada campur tanganku untuk memisahkan rasa antara bapak sama anaknya.


Nasi sudah menjadi bubur, pepatah ini mungkin sangat cocok untuk mas Galih. Ia menyesal, tapi penyesalannya sudah terlambat. Perasaanku padanya bahkan sudah tak berbekas lagi di hatiku. Segala kenangan tentangnya pun tidak lagi indah untuk aku ingat-ingat kembali.


Aku penasaran seperti apa hubungan mas Galih dengan Amira sekarang. Bagaimana bisa ia dengan mudahnya berpikiran untuk berpaling dari Amira, setelah dulu ia begitu memuji bahkan memujanya. Bahkan dalam acara reuni pun mereka Mas terlihat begitu mesranya. Lantas apa ini, kenapa mas Galih memohon untuk bisa kembali padaku?


Segala pertanyaan itu menari-nari di pikiranku. Tiba-tiba saja aku ingin menjadi detektif Conan dadakan dalam urusan percintaan mantan suami. Bukan karena aku masih memiliki rasa padanya, hanya saja kadang jiwa emak-emak kepo sering memberontak dalam diriku. Wajarlah emak-emak kalau kepo, yah namanya juga perempuan. Mahluk yang diciptakan Tuhan dengan kekuatan insting terbesar di muka bumi ini.


***


"Rianti," pekik Susan dari kejauhan. Ia berlari cepat menuju kearahku yang saat ini sedang menekan tombol absen.


Dengan nafas tersengal-sengal Susan sampai di depanku.


"Ri......a...ku, ma..u bica..ra denganmu." Susan memegang dadanya dan menarik nafas panjang untuk mengatur ritme bicaranya.


"Nafas dulu dengan baik San baru itu bicara." Aku tersenyum kecil melihat tingkah Susan saat ini, ia seperti atlet yang baru saja mengikuti lomba lari maraton.


"Sudah dari tadi aku memanggilmu Rianti, tapi kamu malah cuek dan berjalan terus," ketusnya.


Oh yah, Susan ini umurnya sama denganku. Tapi bedanya ia masih gadis sedang aku... Ahhh sudahlah, nggak perlu juga di bahas... Hehehe...

__ADS_1


"Maaf San aku nggak dengar, emang kamu mau bicara apa San?" Tanyaku penasaran.


"Tunggu aku absen dulu, takutnya aku lupa kalau sudah berbicara hal penting ini denganmu," katanya sambil mendekati tombol absennya dan sejurus kemudian ia menekan tombol itu.


Setelah ia mengisi absen kehadirannya. Susan kembali menghadap padaku. Pandangannya kesana kemari seperti sedang mengawasi seseorang.


"Hey kamu lagi lihat apa sih San?"


"Aku sedang mengecek apakah dokter Hafizh ada di sekitar sini atau nggak ada Ri," jawabnya masih dengan kegiatannya.


Tiba-tiba aku merasa penasaran dengan sesuatu yang ingin dibicarakan Susan. Terlebih ia harus memantau dulu keberadaan mas Hafizh sebelum ia bicara. Apakah ini ada sangkut pautnya dengan mas Hafizh?


"Kenapa harus mantau dokter Hafizh dulu?"


"Sebab yang ingin aku bicarakan denganmu itu tentang dokter Hafizh Rianti!"


"Okeh aman." Susan kini sudah berbalik arah memandangku dengan serius.


"Ri, kamu udah dengar gosip tentang dokter Hafizh belum?" Sahut Susan serius.


"Gosip apa emang?"


"Aduh Ri, dengar-dengar dokter Hafizh mau menikah, huhu sakitnya hatiku Ri," celoteh Susan dengan adegan yang dibuat dramatis.


"Kamu tau darimana San?" Tanyaku penasaran.


"Itu aku dengar dari beberapa karyawan wanita, katanya dokter Hafizh buat status di story WhatsAppnya," jelas Susan panjang lebar.


"Emang bunyinya gimana?" Salahku tidak pernah memantau storynya mas Hafizh.


"Maharku untukmu," jawab Susan dengan tangan saling bertaut.


"So sweet banget, huhuhu pengen juga di kasih mahar sama dokter Hafizh." Kali ini Susan menautkan kembali kedua tangannya, pandangannya menerawang seperti hendak mengkhayal jika ia yang menjadi pengantin wanitanya.


"Ekhem ekhem." Aku dan Susan sama-sama kaget saat mendengar seseorang batuk kecil, kami dengan kompak menoleh ke asal suara tersebut. Ternyata mas Hafizh sudah berdiri sedikit jauh dari aku dan Susan berada.


Susan dengan cepat menutup mulutnya dan menunduk karena malu. Aku yakin mas Hafizh pasti mendengar perkataan Susan barusan.


"Eh dokter, selamat sore," sahut Susan kikuk. Akupun sama menyapa mas Hafizh segan dengan kepala sedikit di tundukkan.


"Kerja sana, jangan ngegosip mulu," cercah mas Hafizh.


Susan menggigit bibir bawahnya, kemudian sedikit menyenggolkan sikunya padaku. Ia masih terus menuduk karena takut kepada mas Hafizh. Mungkin ia berpikir mas Hafizh sedang memarahinya.

__ADS_1


"Baik dokter," jawabku singkat.


Mas Hafizh mulai melangkah mendekati kami, semakin dekat hingga membuat Susan semakin gugup dibuatnya. Sementara aku sedikit melihat kearahnya. Ia terus berjalan sampai hampir melewati kami. Ia kemudian menoleh kearahku dan mengedipkan sebelah matanya menggodaku, senyum manis terkembang dari kedua pipinya. Beruntung Susan tidak menyadari hal itu. Jika iya, entah adegan dramatis apalagi yang akan ia lakukan.


Mas Hafizh terus berlalu meninggalkan kami. Pandanganku pun terus mengikuti langkah kakinya sampai ia menghilang dari penglihatanku. Senyum malu-malu tersungging begitu saja, rasanya sedikit bahagia mendapat perlakuan seperti tadi.


"Hey, mau sampe kapan kamu hening ciptanya San?" Cercahku menggoda.


Susan kemudian mengangkat kepalanya, setelah itu kesana kemari mencari lagi keberadaan mas Hafizh.


"Syukurlah dokter Hafizh sudah pergi Ri, jantungku rasanya mau copot tadi."


"Eh tunggu, Apa dokter Hafizh mendengar perkataanku tadi? Oh tidak, apa yang harus aku lakukan. Bagaimana ini Ri, aku takut dokter Hafizh marah dan kemudian, kemudian memecatku Rianti," rengek Susan tanpa jeda. Aku yang melihat tingkahnya hanya bisa menggelengkan kepala.


"Hey tenanglah, yakinlah dokter Hafizh pasti hanya bercanda tadi, nggak usah dipikirkan. Ayo ke apotik." Susan pun akhirnya jinak juga setelah segala drama yang ia lakukan. Ia berjalan lesu di sampingku. Dan aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya.


***


Bolak balik aku dan Susan mencari beberapa obat yang sudah tertera di kertas resep milik pasien. Kami lakukan semuanya dengan teliti , jangan sampai kami salah memberikan obat, karena bisa berakibat fatal jika obat yang kami berikan tidak sesuai dengan yang diresepkan dokter.


"Ini obatnya Bu. Aturan minumnya sudah saya tulis di kemasan obatnya yah bu." Sambil memberikan sebungkus tas kresek kecil yang berisi berbagai macam obat.


"Iyah, terima kasih Mbak," jawab salah seorang ibu hamil.


Aku membalasnya dengan tersenyum. Ia kemudian pergi dengan sang suami yang terlihat begitu siaga di sampingnya. Aku berharap sang suami akan selalu seperti itu hingga keriput membabat habis kulit mereka. Setia menemani sampai ajal memisahkan mereka.


Aku kembali menyibukkan diri dengan beberapa macam resep obat yang berada di atas meja. Susan pun terlihat sangat kerepotan dengan pekerjaannya. Sejenak aku melirik arlojiku, sedikit lagi waktu memasuki shalat Maghrib. Dengan cepat aku mengemas rapi beberapa obat, agar aku bisa menunaikan shalat Maghrib di awal waktu tanpa harus kerepotan lagi.


***


Shalat Maghrib sudah kutunaikan. Berjalan pelan aku menuju apotik, seperti biasa aku harus melewati ruang kerja mas Hafizh. Samar-samar aku mendengar perdebatan antara laki-laki dan perempuan. Semakin aku mencari semakin aku mendapati suara tersebut dari arah ruang kerja mas Hafizh. Aku melangkah perlahan mendekati pintu yang sedikit terbuka. Terlihat dokter Miranda sedang menangis tersedu-sedu sambil menunjuk seseorang yang ada di depannya yang tidak lain adalah mas Hafizh. Apa ini, ada apa dengan mereka. Batinku terus berbicara.


"Aku mencintaimu Jonathan, aku mencintaimu." Sedikit jelas aku mendengar ungkapan cinta dokter Miranda. Ia masih terus menangis sambil menggenggam jemari mas Hafizh. Sementara mas Hafizh terlihat biasa saja menanggapinya.


Ada hubungan apa antara mereka? Mungkinkah mereka sedang menjalin hubungan? Pikiranku terus melayang. Rasa cemburu menyeruak begitu saja. Hingga bunyi pintu terbuka menyadarkan aku dari lamunanku.


Dokter Miranda, gadis itu sudah berdiri tepat di depanku dengan tatapan yang tidak bersahabat. Bulir bening masih terus mengalir dari kedua netranya. Membuatku merasa kasihan dibuatnya. Sekilas ia menatap mas Hafizh, kemudian kembali menatapku dengan tatapan bencinya. Sementara mas Hafizh hanya bisa berdiri mematung di tempatnya.


"Dokter, maaf, saya tidak sengaja....." Belum selesai aku mengucapkan rasa bersalahku, Miranda sudah pergi meninggalkanku tanpa kata. Aku hanya bisa menatap kepergiannya dengan seribu tanda tanya yang menggelayut dalam pikiran.


"Mas, ada apa ini?" Memutarkan pandanganku kearah mas Hafizh. Menatap lekat kedua mata elangnya, meminta sebuah jawaban jujur dari pertanyaanku.


Bersambung 😁 😁

__ADS_1


__ADS_2