Takdir Cinta Rianti

Takdir Cinta Rianti
26. Bertemu Miranda


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Sebentar lagi waktunya untuk sarapan pagi, sesuai perjanjianku bersama mbak Brenda tadi. Beberapa menit yang lalu juga mbak Brenda sudah mengirimkan kabar bahwa ia dan rombongan sudah bersiap-siap menuju restoran yang berada tidak jauh dari hotel kami menginap. Sementara aku, harus merasakan lagi guyuran air dingin yang mengalir deras dari Shower yang berada dalam kamar mandi.


Entah sudah berapa kali aku bolak-balik untuk mandi besar, yang pasti jika kuhitung, mungkin sudah lebih dari dua kali.


Setiap pasangan yang sudah pernah merasakan menjadi pengantin baru pasti memaklumi hal itu. Sebab bukan hal tabu lagi jika dalam masa seperti ini, mandi merupakan kegiatan favorit yang akan paling sering dilakukan setelah kegiatan-kegiatan yang membawa pada kenikmatan surga dunia.


Saat ini aku sedang memakai jilbab Pink yang aku padukan dengan gamis berbahan wolfis berwarna Navy. Sementara mas Hafizh sedang menunaikan shalat Sunnah Dhuha sebelum memutuskan untuk turun menemui mbak Brenda.


[Mbak, kami sedikit terlambat yah. Mas Hafizh masih menunaikan shalat Sunnah terlebih dahulu] pesanku pada mbak Brenda. Setidaknya mereka tidak menunggu kami tanpa kepastian.


[Baiklah dek. Kami duluan yah] jawab mbak Brenda.


[Baik Mbak]


Setelah mengirim pesan pada mbak Brenda. Aku pun duduk di sofa dekat mas Hafizh menunaikan shalat.


Tanpa bertanya terlebih dahulu, aku mengambil handphone mas Hafizh dan mulai membukanya. Setelah sebelumnya aku dan mas Hafizh sudah saling sepakat untuk saling terbuka, termasuk keleluasaan untuk mengecek ponsel satu sama lainnya.


Melihat-lihat beberapa foto kami yang diambil setelah kami sampai di hotel tadi. Bahkan salah satu foto terbaik menurut kami, sudah dijadikan foto wallpaper di ponselnya oleh mas Hafizh. Pun dengan nomor kontakku sudah bermutasi menjadi "My Lolevy Wife" setelah sebelumnya hanya bertuliskan nama lengkapku saja.


Sama halnya dengan mas Hafizh, aku pun sama, mulai mengganti semua tentang mas Hafizh di dalam ponselku.


Sebuah pesan tiba-tiba masuk pada salah satu aplikasi chat milik mas Hafizh. Tanpa menunggu persetujuan segera aku membukanya. Lagi lagi Miranda mengirim pesan pada suamiku.


[Sayang, kapan kau akan menemuiku lagi? Aku menunggumu sayang] pesan Miranda berhasil membungkamku. Entah apa maksud perempuan ini. Seketika pikiran buruk mulai bermunculan dalam benakku.


[Sayang, jangan lupakan janjimu] kembali Miranda mengirimkan pesan pada mas Hafizh.


Pesan keduanya, seperti membenarkan pikiran buruk yang sempat singgah di kepalaku.


Apa mungkin mas Hafizh berjanji untuk menikahinya? Batinku semakin khawatir. Takut jika apa yang aku pikirkan memang benar adanya.


Mas Hafizh sudah selesai menunaikan ibadahnya. Aku menghampirinya dan duduk tepat di depannya. Kemudian mencium punggung tangannya dengan takzim. Ia juga membalasnya dengan membelai mesra kepalaku dan setelahnya mencium keningku.


"Mas. Apa kau menjanjikan sesuatu kepada Miranda?" Tanyaku To The Point.


Mas Hafizh terbatuk kecil. Seperti kaget atas pertanyaan yang kulontarkan padanya.


"Jawab dengan jujur Mas. Aku janji tidak akan marah padamu!"


"Aku hanya mengikuti keinginan tante Mariah sayang. Percayalah, janji itu hanya kepura-puraan saja," ucap mas Hafizh meyakinkanku.


"Ceritakan kronologinya Mas. Agar aku semakin yakin dengan janjimu padaku." Aku berusaha untuk bersikap selembut mungkin pada mas Hafizh. Biar bagaimanapun ia adalah imamku, jadi tidak elok jika aku mengeraskan suara atau bahkan sampai berteriak padanya.


***


(PoV Hafizh)


Flashback.....


"Tidaaaak Miranda," teriakku panik saat dengan cepatnya Miranda menyayat pergelangan tangannya dengan pisau kecil yang ada dalam genggamannya.


"Aku mati saja Jo. Tidak ada harapan lagi untukku supaya bisa bersamamu."


"Pergi dan tinggalkan aku. Biarkan aku mati saja." Miranda masih mengancam kami dengan pisau yang ia sodorkan kepadaku dan tante Mariah.


"Sayang, please, kamu harus segera dilarikan ke Rumah Sakit. Kalau tidak, kau akan kehabisan darah, sayang." Tante Mariah tak kalah histeris. Bahkan perempuan paruh baya itupun terlihat beberapa kali hampir terjatuh karena melihat darah segar yang terus mengalir dari tangan Miranda.


"Mira. Tolonglah, setidaknya lihatlah mamamu." Aku coba membujuk Miranda.


"Pergi kalian. Pergi!" Miranda mulai melemparkan satu persatu barang-barang kearah kami dengan pergelangan tangannya yang terus mengeluarkan darah segar.


Bahkan wajahnya saat ini mulai terlihat pucat karena mulai kehabisan darah.


Aku berusaha untuk berlari kearah Miranda. Namun dengan cepat Miranda kembali mengarahkan dan menempelkan pisau itu pada bagian lehernya.


"Jangan berani Jo. Aku akan benar-benar mengakhiri hidupku. Pergi kau Jonathan." Miranda kembali histeris dengan pisau sudah menempel pada bagian lehernya. Bahkan darah mulai menetes sedikit dari leher Miranda.


"Mama mohon nak. Jangan begini!" Tante Mariah akhirnya jatuh lemas di lantai.

__ADS_1


Dengan cepat aku berlari kearah Tante Mariah dan berusaha untuk memapahnya menuju tempat duduk yang tak jauh darinya.


"Miranda hanya mau Jonathan mama."


"Nikahin aku Jo. Hanya nikahin aku, walau kau tidak mencintaiku." Kembali Miranda berteriak.


"Sudah kukatakan aku tidak akan pernah mengkhianati istriku!" Jawabku lantang padanya.


Tiba-tiba Tante Mariah menarik pelan tanganku. Aku kemudian menunduk untuk mensejajarkan diri dengan tante Mariah. Sejujurnya aku sangat lemah jika berurusan dengan masalah hati seorang ibu.


"Tante mohon Jo. Setidaknya jawablah meskipun hanya berpura-pura saja," bisik tante Mariah.


"Aku tidak bisa Tante!"


"Hanya membujuknya saja Jo. Hanya sampai Miranda berhasil di bawa ke Rumah Sakit," pinta tante Mariah dengan isakkan tangis.


"Baiklah tante. Tapi ingat tante, ini hanya pura-pura. Hanya untuk menyelamatkan Miranda."


Tante Mariah pun mengangguk setuju.


Aku kembali mendekati Miranda yang kini sudah terduduk di lantai dekat lemari pakaiannya. Ia masih menangis sesenggukan dengan darah yang masih terus mengalir.


Pelan-pelan aku mendekatinya. Namun dengan cepat ia kembali mengancamku.


"Sudah aku bilang jangan mendekat Jo. Aku akan mati dengan cara ini. Pergi kalian." Jeritnya dengan tangan bersiap-siap menggorok lehernya.


"Baiklah. Aku akan menikahimu!" Pekikku yang berhasil menghentikan aksi Miranda.


"Benarkah Jo? Kau tidak sedang membohongiku kan?" Tanya Miranda dengan lembut. Bahkan kini pisau itu sudah tidak menempel pada lehernya. I


Ia tersenyum dan berjalan gontai menujuku. Tak berdiam diri saja, segera aku berlari kearah Miranda dan merampas pisau dari tangannya serta membuangnya jauh-jauh. Sesaat kemudian Miranda pingsan tak sadarkan diri karena terlalu banyak kehilangan darah.


Aku segera membopong tubuhnya menuju mobil dibantu oleh tante Mariah. Selanjutnya aku lajukan mobilku menuju Rumah Sakit.


***


(PoV Rianti)


"Kamu tidak sedang membohongiku kan?" Aku pandang lekat kedua netra mas Hafizh.


"Sumpah demi Allah, aku berkata jujur padamu sayang." Mas Hafizh mengubah posisinya dengan berlutut tepat di depanku. Menggenggam lembut jemari tanganku.


Lagi-lagi aku tidak menemukan kebohongan pada sikapnya. Serta hatiku kembali meyakini bahwa ia sedang berkata jujur.


"Baik Mas, aku percaya. Sekarang bawa aku bertemu Miranda."


"Kita selesaikan semuanya hari ini. Aku tidak ingin terusik lagi dengan hal yang berhubungan antara masalahmu dan Miranda."


"Aku mau semua masalah yang terjadi antara kamu dan Miranda berakhir hari ini juga. Karena kedepannya, aku ingin hidup berbahagia tanpa ada yang harus menggaggu hatiku."


"Baik sayang. Aku akan selesaikan semuanya di depanmu," jawab mas Hafizh dengan lantang. Dan dengan cepat berdiri untuk segera menuju Rumah Sakit menemui Miranda dan ibunya.


Aku pun berdiri untuk sama-sama melangkah mengikuti mas Hafizh menemui Miranda. Sejenak aku mengambil ponselku untuk memberikan kabar pada mbak Brenda.


[Mbak. Maaf, aku dan mas Hafizh tiba-tiba harus pergi ke Rumah Sakit, untuk menjenguk seseorang] pesanku pada mbak Brenda.


[Titip anak-anak yah Mbak. Nanti ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan Mbak] Lanjutku.


[Baiklah dek. Hati-hati di jalan]


Mas Hafizh membantuku untuk membuka pintu mobilnya, tanpa menunggu lama aku pun masuk dan duduk di sebelah mas Hafizh.


Dengan mantap mas Hafizh memacu mobilnya menuju Rumah Sakit dimana Miranda dirawat.


Selama dalam perjalanan, tidak habis-habisnya mas Hafizh meyakinkanku bahwa ia hanya berpura-pura. Ia juga terus menggenggam erat tanganku. Seperti takut bahwa aku tidak mempercayainya.


***


Kini kami sudah berada di depan gerbang masuk utama Rumah Sakit, setelah menempuh waktu hampir setengah jam.

__ADS_1


Mas Hafizh pelan memasuki area rumah sakit yang tampak sangat ramai dengan beberapa pengunjung yang memarkirka. kendaraannya. Kemudian ia memarkirkan kendaraannya di tempat yang khusus untuk kendaraan beroda empat.


Kami pun turun secara bersamaan. Mas Hafizh mendekatiku dan kembali menggandeng tanganku. Aku tidak menolaknya sebab aku percaya bahwa mas Hafizh berkata jujur padaku.


Secara beriringan kami melangkah menuju ruangan dimana Miranda berada. Sesekali aku mengedarkan pandanganku untuk melihat keadaan sekitar rumah sakit.


Lima menit kiranya waktu yang kami pakai untuk bisa sampai di kamar tempat Miranda dirawat.


Masih dengan menggenggam tanganku mas Hafizh membuka pelan pintu ruangan VVIP tersebut. Mas Hafizh mendongakkan kepalanya untuk memastikan kembali apakah kamar tersebut benar kamar Miranda.


"Akhirnya kamu datang juga sayang." Terdengar suara perempuan menyambut kedatangan mas Hafizh. Aku tau itu adalah suara Miranda.


Mas Hafizh tidak menjawab Miranda, ia kemudian masuk dengan ikut menarikku. Seketika wajah Miranda berubah ketus ketika melihat kedatanganku juga.


Sejenak ia melirik pada kedua tanganku dan mas Hafizh yang saling bertaut. Kemudian kembali memandangku dengan wajah tidak sukanya.


" Ngapain kau bawa dia kesini Jo?" Tanya Miranda kesal pada lelakiku. Sementara di sampingnya, seorang wanita paruh baya yang kutebak sebagai mamanya terus mengingatkan Miranda untuk tidak terlalu banyak bergerak dulu.


"Dia istriku. Jadi dia berhak untuk ikut kemanapun aku pergi!" Jawab mas Hafizh dengan memposisikan tangannya melingkar pada pinggangku.


Terlihat jelas wajah Miranda memerah menahan amarah.


"Bagaimana keadaanmu dokter Mira?" Aku beranikan diri untuk bertanya pada Miranda, meski aku tau bahwa wanita itu sangat membenciku.


"Apa kau buta? Kau tidak bisa lihat kondisiku sekarang? Ciiihhhh."


Aku hanya tersenyum mendapat perlakuan seperti itu dari Miranda.


"Jo. Kapan kita akan menikah? Kau sudah berjanji padaku untuk menikahiku." Miranda merengek manja pada suamiku.


"Maaf Mira, aku tidak akan pernah menikahimu. Sebab apa yang aku ucapkan waktu itu hanya sebuah kepura-puraan yang aku lakukan untuk menyelamatkanmu," jelas mas Hafizh.


"Tidak mungkin Jo. Aku tau kau sedang bercanda." Miranda tertawa kecil dengan tubuh mulai menuruni tempat tidur.


"Sayang, jangan banyak gerak dulu." Mama Miranda berusaha untuk menahannya. Tapi percuma saja, Miranda tidak mengindahkan perkataan Mamanya dan terus berjalan kearah kami. Sementara mamanya hanya bisa mengikutinya dengan memegangi botol berisi cairan infus.


"Katakan Jo. Kau hanya bercanda kan? Kau tak mungkin membohongiku kan?" Tanya Miranda keras.


Aku dan mas Hafizh hanya saling pandang.


"Aku tidak berbohong Mira. Aku hanya berpura-pura mengatakan akan menikahimu. Sebab mendapat desakan dari Tante Mariah." Sambung mas Hafizh.


Miranda sejenak memandang mamanya kemudian kembali memandang kami.


"Baiklah sayang. Nikahin aku meski hanya sebatas pura-pura, setidaknya aku bisa memilikimu meskipun dengan cara itu." Miranda mulai mendekati mas Hafizh, menggapai tangan suamiku, menggenggamnya.


"Tidak akan pernah Mira. Aku datang kesini untuk memastikan sesuatu pada Rianti bahwa aku tidak akan pernah mengkhianatinya."


Mas Hafizh segera menepis tangan Miranda. Ia kemudian berpindah posisi menjauhi Miranda, namun tetap menggandengku.


Mendapat perlakuan seperti itu, Miranda terlihat tidak terima. Ia kembali meradang namun kali ini ia melihatku dengan gerakan siap menyerangku.


"Semua ini gara-gara kamu perempuan ******. Aku benci kamu!" Miranda mengangkat kedua tangannya untuk menggapaiku, menarik jilbabku dan memukul-mukul tubuhku.


Sebisa mungkin aku menangkis setiap serangan Miranda. Juga mas Hafizh dengan cepatnya menahan tangan Miranda. Tapi seperti sedang kerasukan Miranda terus mengamuk.


"Arrrrrghhhhh, akan kubunuh kamu perempuan murahan."


"Tutup mulutmu Mira."


Plaaaaak....


Mas Hafizh membungkam mulut Miranda dengan sebuah tamparan yang mendarat sempurna pada kedua pipi mulusnya.


"Jangan berani lagi mengata-ngatai istiku, atau kau akan tau sisi kejam dari diriku," gertak mas Hafizh.


"Dan jangan lagi mengusik ketenangan rumah tanggaku dan Rianti. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menikahimu. Ingat itu!"


Mas Hafizh langsung menarikku pergi dari kamar Miranda, diiringi dengan teriakan histeris dari dalam kamarnya.

__ADS_1


Bersambung 😁 😁


__ADS_2