Takdir Cinta Rianti

Takdir Cinta Rianti
15. Pesan untuk mas Hafizh


__ADS_3

"Aku akan mencintaimu seumur hidupku." Ini adalah salah satu kata-kata tergombal yang aku sadari kini. Nyatanya seumur hidup yang mas Galih maksudkan adalah seumur hidup untuk dia membohongiku.


Rasa kecewa yang teramat besar ini menyisakan trauma pada kepercayaanku. Membuat hatiku selalu diliputi rasa curiga jika nanti dan nanti aku menerima mas Hafizh, aku takut dia akan berulah seperti mas Galih.


Sungguh terlalu kejam dunia percintaan yang kualami. Berharap kisah cintaku kan berakhir seperti kisah cinta Rasulullah Saw bersama ibunda Siti Khadijah Radhiallahu Anha yang tetap saling setia satu sama lain sampai ajal menjemput Ibunda Siti Khadijah. Bahkan sampai Siti Khadijah wafat, Rasulullah masih tetap setia mencintainya. Hingga turunlah wahyu kepada Rasulullah untuk menikahi Siti Aisyah Radhiyallahu Anha.


💞💞💞


Setelah cukup lama kami menghabiskan waktu bersama di ruang keluarga. Aku antarkan anak-anak ke kamar untuk ditidurkan. Kamar ini merupakan kamar utama yang kutempati bersama dengan mas Galih dulu, yang sudah kusulap menjadi kamar bersama aku dan anak-anak. Ruangan kamar utama ini cukup besar untuk menampung beberapa tempat tidur untuk anak-anak.


Ranjang yang dulu kupakai bersama mas Galih, sudah aku jual ke tukang loak barang-barang bekas. Selain karena banyak menjadi saksi biksu peraduan antara aku dan mas Galih, juga karena aku jijik sebab ranjang itu juga pernah dipakai oleh mas Galih dan Amira pada saat malam pengantin mereka.


***


Anak-anak sudah tertidur dengan pulasnya. Perasaan rindu mereka sudah terbayarkan setelah tadi lama bercerita dengan mas Hafizh lewat video call.


Terlebih Fatih, ia yang paling lama berbicara dengan mas Hafizh. Segala kegiatan yang ia lakukan hari ini ia ceritakan kepada lelaki yang dipanggilnya dengan sebutan Om itu. Semburat kebahagiaan terpancar jelas dari wajahnya, tawa lepas menyeringai dari mulutnya. Aku tidak pernah melihat Fatih sebahagia ini.


Setelah mas Galih menikah, Fatih menjadi anak yang pendiam. Ia tidak seceria dulu. Kadang kudapati ia menangis saat sedang menunaikan shalat. Aku juga sering mendapatkan laporan dari ibu gurunya, kalau Fatih tidak lagi aktif di kelasnya. Ia lebih sering banyak melamun dan menyendiri.


Aku mengerti perasaannya bahwa ia kehilangan sosok ayah dalam hidupnya. Fatih adalah anak yang pertama mendapatkan kasih sayang mas Galih. Jadi tidak heran bahwa dia merasakan duka yang teramat dalam saat mas Galih lebih memilih perempuan lain dibandingkan kami, istri dan anak-anaknya.


"Yang sabar yah nak," ucapku lirih dan mencium kening Fatih yang baru saja terlelap.


Rupanya Fatih belum sepenuhnya tertidur. Ia membuka matanya dan beranjak bangun dari tidurnya.


"Ummi belum tidur?" Tanya Fatih sambil mengucek matanya.


"Belum nak. Ummi nggak bisa tidur."


"Pasti mikirin abi lagi. Fatih benci abi," sahutnya.


"Biar bagaimanapun dia abi-mu nak. Kau tidak bisa membencinya karena dia orang tuamu." Aku mencium tangannya dengan lembut.

__ADS_1


"Tapi Abi ninggalin kita mi." Ada raut kemarahan di wajah Fatih. Maklum ia anak tertua, dan yang paling mengerti atas kesalahan yang mas Galih perbuat.


"Biarlah Abi saja yang jahat nak. Kamu jangan ikut-ikutan jahat yah."


"Iyah ummi," jawabnya.


"Sini peluk ummi."


Fatih pun kemudian memelukku. Beruntung sekali aku memiliki anak seperti Fatih. Yang selalu menopangku saat diri ini hendak terjatuh.


Sejenak aku berpikir. Apakah aku harus meminta pendapat Fatih juga soal jawaban yang harus kujawab pada mas Hafizh? Yah mungkin itu harus aku lakukan, mengingat Fatih juga ikut andil dalam kehidupanku. Apa yang menjadi keputusanku hari ini, kelak juga akan berimbas kepada Fatih dan adik-adiknya.


Pelan aku melepaskan pelukannya. Kupegangi kedua pipi gembulnya. Menatap tajam pada kedua netranya.


"Fatih setuju tidak kalau ummi menikah lagi?"


Fatih diam saja. Sepertinya ia pun bingung dengan jawaban yang harus ia berikan.


"Nanti siapa yang main dengan Fatih dan adik-adik kalau ummi nikah lagi."


"Ummi pasti akan sibuk dengan ayah baru dan tidak akan sayang lagi sama Fatih dan adik-adik."


Jawaban Fatih sungguh tidak terduga. Rupanya Fatih pun trauma atas kesalahan yang dibuat oleh abi-nya. Mentalnya ikut rapuh, aku takut hal ini akan membuat psikisnya terganggu. Sungguh aku akan sangat menyesal jika di kemudian hari, trauma ini akan mengganggu kejiwaan Fatih anakku.


Tidak terasa air mataku jatuh begitu saja. Malang nian nasib anakku, harus ikut berpikir keras atas apa yang seharusnya bukan menjadi urusannya.


Aku masih terus memeluknya. Memohon maaf karena membuat ia berada pada posisi ini.


"Maafkan ummi yah nak." Pelukanku semakin erat. Betapa perihnya batinku mendapati kenyataan bahwa anakku sedang menahan beban psikis seorang diri.


"Ini bukan salah ummi. Ini salahnya Abi." Dengan polosnya ia memberikan pernyataan.


"Baiklah nak, ummi tidak akan menikah lagi. Kita akan terus bersama-sama tanpa ada orang lain lagi dalam hidup kita." Tangisku semakin tidak terkendali.

__ADS_1


"Tapi Fatih juga sedih, ibu-ibu kompleks sering gosipin ummi yang buruk-buruk," ketusnya.


"Jangan dengerin mereka nak. Yang penting ummi tidak seperti yang mereka bicarakan." Aku terus memeluknya, berharap pelukan ini dapat memberi kekuatan untuknya.


"Emang ummi mau nikah sama siapa?" Fatih bangkit dari pelukanku kemudian menatapku.


Entah apa yang harus aku katakan. Haruskah aku bilang bahwa mas Hafizh yang melamarku? Seketika rasa malu menyelimuti diriku.


"Jawab ummi." Fatih menggoyang-goyangkan tanganku dengan manja.


"Om Hafizh melamar ummi."


"Om Hafizh? Aku mau kalau Om Hafizh yang jadi ayahku." Rona wajahnya berubah bahagia. Aku hanya bisa menggelengkan kepala atas tingkahnya kini. Tiba-tiba ia menjadi sangat cerewet dengan menceritakan semua hal yang ia lakukan bersama mas Hafizh. Tak lupa segala pujian ia tujukan pada mas Hafizh. Sedekat itukah Fatih dan mas Hafizh?


"Ummi sudah jawab Iyakan pada Om Hafizh?" Tanyanya penasaran.


"Sudah sudah tidur, besok sekolah, nanti kalo kesiangan bangunannya, kamu bisa telat ke sekolah." Aku tidak menjawa pertanyaan Fatih serta langsung menyuruhnya untuk tidur. Beruntung Fatih tidak memaksakan jiwa ke serba ingin tahuannya dan menuruti perintahku. Ia hempaskan tubuhnya ke pembaringan dan mengucapkan selamat tidur untukku.


***


Setelah menidurkan Fatih aku pun keluar kamar untuk bertemu Mbak Ani, namun ternyata begitu lama aku berbincang dengan Fatih hingga Mbak Ani yang menungguku sudah tertidur pulas di kamarnya.


Kuputuskan untuk menunaikan shalat Sunnah sebelum memilih merehatkan jiwa ke pembaringan.


Memohon keyakinan hati atas keputusan yang telah mantap kuambil. Semoga keputusan ini menjadi keputusan terbaik untuk kelanjutan hidupku dan anak-anak.


***


Sholat Sunnah sudah kutunaikan. Sebelum memutuskan untuk berkelana ke dunia mimpi, aku sempatkan untuk mengirim sebuah pesan pada mas Hafizh.


[IYA]


Bersambung 😁

__ADS_1


__ADS_2