Takdir Cinta Rianti

Takdir Cinta Rianti
27. Kedatangan mas Galih 2


__ADS_3

Setelah kejadian beberapa waktu lalu di rumah sakit. Miranda sudah tidak pernah lagi menghubungi mas Hafizh, begitu juga dengan tante Mariah ibunya.


Entah bagaimana keadaannya sekarang, sudah pulih ataukah masih dalam perawatan. Aku ataupun mas Hafizh tidak peduli lagi. Yang terpenting sekarang aku sudah benar-benar yakin bahwa mas Hafizh tidak pernah mengkhianati kepercayaanku.


Mas Hafizh juga sudah menceritakan segalanya tentang hubungan persahabatan mereka. Dimana mereka pertama kali bertemu, sampai mereka berpisah sebab Miranda harus melanjutkan studinya ke kota Paris, sudah ia ceritakan padaku.


Kesimpulannya, bahwa antara mereka memang tidak pernah terjalin hubungan spesial. Hanya sebatas sahabat yang saling menguatkan satu sama lain.


Kini tidak ada lagi kekhawatiran dalam hatiku. Miranda, gadis itu telah menyerah setelah mendapat tamparan serta ancaman dari suamiku. Begitu pikirku!


***


"Ummi, liat mushaf kecil milik Fatih ndak?" Sedikit berteriak, Fatih bertanya padaku.


"Ummi nggak liat nak. Coba diingat dulu, Fatih naruhnya dimana tadi," jawabku dengan tangan yang sibuk mengepak beberapa buku bacaan di dalam dus yang cukup besar.


Hari ini rencananya aku dan anak-anak akan pindah ke rumah mas Hafizh. Setelah tiga hari yang lalu kami menghabiskan malam di hotel besar berbintang lima.


"Fatih lupa ummi," ucapnya sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Emang selesai subuh tadi, Fatih nggak pake tilawah yah? Sampe lupa gitu."


"Ada ummi, tapi Fatih lupa taruhnya dimana setelah itu."


"Coba lihat di mushola sayang, siapa tau tadi Fatih taruhnya disitu."


"Baik ummi." Fatih segera beranjak pergi menuju musholla kecil yang dibangun dalam rumahku. Musholla yang disekat dengan dinding triplek berjenis multipleks yang anti air.


Sementara aku, masih terus melanjutkan mengepak buku-buku yang berada di rak yang khusus aku jadikan tempat menata buku bacaan.


"Ketemu." Terdengar suara Fatih dari bilik kecil bercat hijau muda kombinasi putih tersebut.


"Alhamdulillah, mushafnya sudah ketemu ummi."


"Yaudah, sekarang satukan dengan barang-barang Fatih yang lainnya, supaya nanti diangkut sekalian sama abang yang disewa Abi."


"Baik ummi." Fatih segera menyatukan muhsaf kecilnya bersama barang-barangnya yang lain.


"Selesai ummi. Sekarang Fatih mau ke rumah tante Brenda ya ummi, mau nyusul adik-adik," cercah Fatih semangat.


"Iyah sayang."


Fatih segera pergi menuju rumah mbak Brenda. Disana anak-anak sudah berkumpul, setelah tadi diantar oleh mas Hafizh.


Kini tinggallah aku sendiri di rumah yang cukup besar ini. Rumah yang cukup banyak kenangan manis serta kenangan pahitnya. Tapi sudahlah, tak perlu diingat lagi, semua sudah tidak berarti. Saat ini fokusku hanya untuk rumah tanggaku yang baru kubangun beberapa hari yang lalu.


Terus berusaha untuk mempertahankannya dan selalu menjadi istri terbaik buat mas Hafizh. Hal yang membuat mas Galih berpaling dariku dulu, sebisa mungkin aku usahakan untuk tidak aku ulangi.


Pergi ke salon, menjaga pola makan, hal itu menjadi sesuatu yang penting bagiku saat ini. Sebab kegiatan itu akan selalu membuatku selalu tampil menarik di depan mas Hafizh, suamiku.


***


Kini kegiatanku memilah beberapa pakaian yang akan aku bawa dan aku tinggalkan. Melipatnya kemudian memasukkan satu persatu ke dalam koper besarku.


"Assalamualaikum, sayang, kamu dimana?" Terdengar suara mas Hafizh dari luar. Sepertinya ia sudah kembali dari rumahnya mbak Brenda.

__ADS_1


"Aku di kamar sayang," kubalas menyahut padanya.


Setelahnya mas Hafizh menyusulku ke kamar. Ia berjalan cepat kearahku dan memelukku dari belakang.


"Ada yang bisa aku bantu sayang?" Ucapnya lirih sambil terus menciumi tengkukku yang tidak tertutup hijab.


"Hmmm, tolong aku melipat dan memasukkan baju yang kupilih ke dalam koper yah sayang," jawabku tanpa mengelak dari perlakuannya.


"Baiklah sayang. Tapi, sebelum itu, bolehkan kita......" Bicara mas Hafizh dengan tangan yang mulai tidak bisa dikondisikan. Ia mulai menjalari bagian depan tubuhku.


"Apa sih Mas. Nanti kalo ketahuan anak-anak gimana coba."


"Kan anak-anak lagi di rumahnya mbak Brenda sayang." Ia mulai membalikkan tubuhku menghadapnya. Dan mulai menciumi pipiku.


Aku menggeliat pelan karena rasa geli yang terasa. Namun, mas Hafizh tidak berhenti serta terus meneruskan aksinya. Bahkan tangannya mulai membuka resleting depan gamis yang kupakai.


"Mas," ucapku dengan menahan tangan nakal milik mas Hafizh.


"Apa sayang." Ia menghentikan sejenak kegiatannya dan menatapku penuh arti.


"Lima menit saja sayang." Ia tersenyum kecil dan mengangkat kedua tanganku melingkar pada lehernya. Aku hanya menuruti dan membiarkan ia melampiaskan hasratnya padaku.


Dengan penuh kehangatan ia menciumku. Saat ini posisi tubuhku sudah bersandar pada lemari pakaian. Desahan nafas mas Hafizh sudah terdengar tidak beraturan. Pelukannya semakin erat membuatku terlena karena perlakuannya.


Semakin dalam ciuman kami hingga kini kami sudah berada di atas ranjang, saling membalas pelukan dan ciuman.


Ting... Ting... Ting


Bunyi bel rumah tidak serta merta menghentikan kegiatan ibadah kami. Bahkan mas Hafizh semakin ganas dengan mulai memindahkan tangannya dari dadaku menuju bagian bawah tubuhku.


Ting.... Ting.... Ting


"Siapa sih, ganggu saja," ujarnya kemudian.


"Aku buka pintu dulu ya Mas."


"Tidak usah sayang. Aku masih pengen." Ia meneggelamkan kepalanya pada dadaku yang sudah terbuka akibat ulahnya.


"Sayang, siapa tahu itu orang penting. Sebentar saja Mas," sahutku memohon sambil membelai mesra kepalanya.


"Janji sebentar saja ya." Mas Hafizh mulai melonggarkan pelukannya dan membiarkanku turun dari ranjang.


"Terima kasih sayang."


Aku bangkit dan mulai merapikan pakaianku setelah tadi dibongkar oleh mas Hafizh. Tak lupa aku pakai hijab untuk menutupi rambutku, takutnya tamu yang ada di depan adalah seorang laki-laki.


Sementara mas Hafizh masih tidur tengkurap di atas ranjang. Ada raut wajah kecewa darinya, tapi setelah aku menciumnya sebelum pergi, raut wajah kecewa itu kembali terlihat ceria.


Kemudian aku berlalu dari hadapannya. Berjalan sedikit cepat menuju pintu depan. Membuka pintu utama rumahku.


Namun betapa kagetnya aku, saat melihat siapa yang datang. Dia mas Galih, mantan suamiku. Meski saat ini ia membelakangiku, tapi aku sangat hafal ciri-ciri tubuhnya.


Ia kemudian berbalik menghadapku, memasang wajah manis dan mulai mendekatiku. Entah urusan apalagi yang membawanya untuk menemuiku.


"Mau apalagi kamu kesini Mas?" Tanyaku sinis.

__ADS_1


"Aku mau ketemu anak-anak Ri. Aku merindukan mereka."


"Anak-anak lagi keluar."


"Kemana? Tolong jangan sembunyikan mereka Ri."


"Aku tidak menyembunyikan mereka Mas. Mereka lagi keluar sama mbak Brenda." Aku menegaskan pernyataan ku padanya.


"Baiklah. Aku percaya padamu."


"Baiklah," cercaku sambil menutup kembali pintu rumah.


"Tunggu dulu Ri. Aku ingin bicara sesuatu padamu." Mas Galih menahan pintu yang akan kututup.


"Apa lagi yang mau dibicarakan?"


"Aku mau kita rujuk kembali Ri. Baru aku sadari bahwa aku sangat mencintaimu." Ia kini memohon padaku, tangannya hampir saja menggapai tanganku. Namun dengan cepat aku menepisnya.


"Sudah terlam....." Belum sempat aku melontarkan kata padanya. Mas Galih kini sudah berlutut di depanku.


"Aku mohon Ri. Beri aku kesempatan kedua. Aku janji tidak akan mengecewakanmu lagi." Ia memohon padaku.


"Hidup berbahagialah dengan pilihanmu Mas. Tidak usah lagi menggangguku. Semuanya sudah terlambat. Aku sudah....."


Kata-kataku kembali terhenti saat mendengar panggilan dari mas Hafizh yang semakin lama semakin dekat.


"Sayang, siapa? Kok nggak diajak masuk." Mas Hafizh berjalan menuju kepadaku. Kemudian memelukku mesra dan menciumku.


Ia bahkan belum sadar bahwa saat ini ada seseorang yang sedang menyaksikan adegannya yang mulai menciumi bagian pipiku.


Terlihat tangan mas Galih terkepal. Wajahnya menyiratkan ketidaksukaan atas perlakuan mas Hafizh padaku.


"Hey, apa yang kau lakukan pada Rianti hah? Apa kalian sedang berzina?" Teriak mas Galih murka.


Mas Hafizh menoleh kearah mas Galih. Dan Tertawa terbahak-bahak tanpa melepaskan pelukannya dariku.


"Lepaskan pelukanmu dari Rianti!"


Mas Hafizh kembali menertawakan mas Galih yang masih belum sadar bahwa kami sudah menikah.


"Siapa kamu, sampai berani melarangku menciumi istriku sendiri, hah?" Sahut mas Hafizh.


"Apa, istrimu?" Tanya mas Galih kaget dengan wajah yang sudah memerah.


"Iya istriku," jawab mas Hafizh lantang.


Mas Galih terdiam karena jawaban telak dari mas Hafizh. Saat ini ia hanya mampu menatap perlakuan mas Hafizh padaku, yang terus menjalarkan bibir manisnya pada wajahku. Bahkan dengan beraninya mas Hafizh ******* bibirku di depan mantan suamiku itu.


"Ayo sayang, kita lanjutkan ibadah kita yang tertunda tadi," ucapnya sembari mengangkat tubuhku dan tidak mempedulikan keberadaan mas Galih. Akupun sama, tidak mempedulikan mas Galih. Serta mengikuti permainan suamiku.


Ia menggendongku dan membawaku ke dalam rumah. Namun tak lupa ia menutup pintunya terlebih dahulu. Sekilas aku masih bisa melihat tatapan tajam dari mas Galih.


"Arrrrrghhhhh." Mas Galih mengerang dan menonjok keras pintu rumah.


Aku dan mas Hafizh hanya tertawa bersama mendengar itu. Dan kembali menikmati ibadah yang kini kami lakukan di ruang tamu.

__ADS_1


"Sayang, pelan-pelan."


Bersambung 😁 😁


__ADS_2