Takdir Cinta Rianti

Takdir Cinta Rianti
30. Liburan ke London?


__ADS_3

Pagi ini rumah mewahku ramai dengan tamu-tamu yang kuundang untuk sekedar melakukan doa bersama. Selain para kerabat dekat, aku juga turut mengundang anak yatim-piatu dari panti asuhan Ar-Rayyan. p


Panti asuhan yang terletak tidak terlalu jauh dari klinik mas Hafizh.


Sebab salah satu keutamaan menyantuni anak yatim adalah dapat berada di samping Rasulullah di surgaNya. Hal yang paling di impikan semua ummatnya, termasuk aku dan mas Hafizh.


Terlihat rona bahagia dari para anak yatim-piatu yang kini sudah duduk bersila di lantai yang sudah kualasi karpet. Syamil, Syafiq, dan Fatih juga ikut nimbrung duduk di antara mereka. Mengajak mereka mengobrol dan sedikit berbagi apa yang mereka punya.


"Dimulai saja doa-nya pak Ustadz," sahut mas Hafizh, yang sudah duduk tepat di sampingku.


"Baik pak," balas pak Ustadz seraya memulai doa syukuran atas rumah baru kami ini.


Semua tamu nampak khusyuk mendengarkan setiap lantunan doa yang dibacakan pak Ustadz. Tak terkecuali anak-anak yang terlihat menundukkan kepala mereka, mengikuti anak-anak yatim yang juga sama khusyuk mengamini setiap doa yang dilantunkan merdu oleh Ustadz Syakir.


"Sayang, aku bantu mbok Nana ya di dapur?" Bisikku pada mas Hafizh yang juga ikut khusyuk mendengarkan Ustadz Syakir membaca doa.


"Iya sayang."


Setelah mendapat ijinnya, aku segera beranjak dari tempat dudukku dan menuju dapur, dimana para asisten rumah tanggaku bekerja. Lebih tepatnya hanya menyiapkan saja segala bentuk kue dan makanan berat untuk para tamu. Sebab semuanya sudah kupesan, tugas mereka tinggal mengaturnya dan menghidangkannya.


"Ehh, Nyonya!" Sapa mbok Nana dengan sopan dan menundukkan kepala. Yang lainnya juga ikut menundukkan kepala.


Setelah memutuskan untuk pindah ke rumah mewah ini. Mas Hafizh, tanpa sepengetahuanku sudah memesan beberapa asisten rumah tangga dari agent-nya, untuk membantuku dalam mengurusi segala pekerjaan yang bersangkutan dengan urusan dapur dan sumur. Bahkan ia memintaku untuk tidak ikut andil lagi dalam urusan sumur dan dapur, ia menyuruhku untuk fokus mengurusi urusan kasur saja.


Mas Hafizh juga menambah Baby Sitter untuk membantu aku dan mbak Ani dalam mengurusi Baby Qilla dan Baby Zee.


"Sudah sampai mana kerjaannya Mbok?" Tanyaku sambil mendekati mbok Nana.


"Tinggal menyajikannya Nyonya."


"Baik. Terima kasih yah Mbok dan yang lainnya." Aku tersenyum pada mereka semua.


Mbok Nana adalah kepala ART di rumah ini, jadi dialah orang pertama yang akan kutemui untuk memberikan perintah pada yang lainnya.


"Sayang, semua sudah siap?" Mas Hafizh muncul tiba-tiba di depan pintu masuk ke dapur. Ia berjalan sedikit cepat menghampiriku yang sedang sibuk menghitung dus yang berisikan kue. Menengok dari arah belakangku dengan kedua tangannya menyentuh pundakku.


"Sudah siap sayang."


"Doa-nya sudah selesai, tinggal menunggu cemilannya."


Tanpa di perintah, mbok Nana dan beberapa asisten rumah tangga yang lain segera mengangkat dus-dus yang berisi kue menuju depan untuk dibagikan pada tamu undangan.


Dengan telaten mbok Nana dan anak buahnya membagikan satu persatu dus kue tersebut pada anak-anak panti.


"Ustadz, ayo makan dulu cemilannya," sahut mas Hafizh pada Ustadz Syakir.


"Iya pak Dokter."


***


Acara syukuran sudah selesai. Anak-anak panti juga sudah diantar pulang oleh supir taksi yang sengaja dibooking oleh mas Hafizh. Tinggallah kami sekeluarga yang saat ini memilih kumpul keluarga di ruang belakang rumah, menemani anak-anak yang saat ini tengah asyik berenang di kolam renang mini khusus mereka.


"Mbak, Minggu ini ada acara nggak?" Tanya mas Hafizh disela-sela kebersamaan kami.

__ADS_1


"Hmm, minggu ini aku Free. Emang kenapa Jo?" Tanya mbak Brenda kembali.


"Baguslah. Lusa, aku mau ajak kalian liburan ke London," tutur mas Hafizh.


Mendengar penuturan mas Hafizh yang secara tiba-tiba membuatku sedikit terkejut. Pasalnya kami belum sama sekali membahas tentang acara liburan keluarga secara musyawarah.


"Kebetulan, rekan bisnis aku akan melangsungkan pernikahannya disana. Aku sama Rianti diundang. Undangannya sudah sepaket sama tiket pesawat untuk kami berdua," sambung mas Hafizh lagi.


"Jadi sekalian saja, aku ajak kalian untuk liburan kesana. Bagaimana?"


"Aku mau ikut Abi," celoteh Syamil dari arah kolam renang.


"Hehe, iya sayang. Nggak mungkin Abi ninggalin Syamil." Mas Hafizh tersenyum pada anak sambungnya itu.


Mas Hafizh kembali menatap mbak Brenda yang sepertinya sedang menimbang-nimbang atas ide mas Hafizh.


"Bagaimana Mbak?" Tanyanya kembali.


"Hmm. Baiklah. Aku setuju!" Mbak Brenda tersenyum padaku dan mas Hafizh.


"Tapi, apakah tidak terlalu cepat Mas? Kan kami juga harus mempersiapkan segala sesuatunya," Timpalku.


"Tenang sayang. Untuk masalah tiket, pasport dan sebagainya. Nanti akan diurus sama sekretarisnya mbak Brenda. Kamu dan yang lainnya tinggal menyiapkan pakaian dan keperluanmu selama disana." Ia melingkarkan tangannya pada pinggangku.


"Iya Rianti, kamu tenang saja. Sekretarisku yang akan mengurusnya," tutur mbak Brenda.


"Baiklah Mas, Mbak. Aku ikut saja rencana kalian."


"Sekalian kita honeymoon sayang," bisik mas Hafizh lembut. Aku tersenyum saat mendengar bisikannya.


"Awww." Ia memekik kesakitan. Namun kemudian memelukku bahkan menciumku di depan Mbak Brenda.


"Hey, jangan mesra-mesraan di depanku dong. Aku masih polos tau," sahut mbak Brenda bercanda.


"Hahaha. Polos apa'an, yang ada jablai kali Mbak," ejek mas Hafizh kepada kakak kandungnya itu.


Kami semua hanya bisa tertawa mendengar ejekan mas Hafizh pada Mbak Brenda. Bahkan kekonyolan mereka terus berlangsung hingga tak sadar gerimis mulai turun dengan lembutnya.


"Udah ah. Mbak dan Mbok Darmi pulang dulu. Besok baru kita nginap disini," pamit mbak Brenda menghentikan senda gurau yang berlangsung cukup lama.


"Baik Mbak." Aku dan mas Hafizh kompak menjawabnya.


Kemudian kami mengantarkan mbak Brenda dan mbok Darmi sampai di teras rumah.


***


Malam semakin larut bersamaan dengan hujan yang semakin bertambah deras. Dinginnya terasa menembus kulit, bahkan mas Hafizh harus menyibakkan badcover sampai menutupi hampir seluruh tubuh anak-anak.


Sebelum tidur, aku dan mas Hafizh sama-sama menidurkan anak-anak terlebih dahulu. Kebetulan kamar mereka berada di samping kamar utama kami. Dengan desain pintu yang terhubung langsung dengan kamar kami. Sehingga aku bisa dengan mudahnya mengecek keadaan mereka jika terbangun di tengah malam.


Kamar anak-anak sangat luas dan besar. Setiap mereka memiliki ranjangnya sendiri. Si kembar pun sudah memiliki ranjang kecil yang di desain khusus, supaya mereka tidak terjatuh dari tempat tidur. Sementara mbak Ani dan Baby Sitter yang satunya lagi tidur di kamar khusus tamu.


Biarlah mereka beristirahat dengan nyenyak dulu, setelah seharian mereka harus mengurusi kedua anak kembarku. Kini berganti aku dan mas Hafizh yang harus siap siaga jika mendengar tangisan si kembar di tengah malam.

__ADS_1


Setelah mereka semua terlelap. Aku dan mas Hafizh segera berlalu menuju tempat tidur kami. Menjatuhkan tubuh di atas ranjang yang terasa sangat empuk dan menarik selimut sampai leher.


"Sayang, malam ini cuacanya cukup mendukung ya," ucap mas Hafizh disela-sela proses menuju alam mimpi. Tubuhnya bahkan sudah menempel pada tubuhku.


"Mendukung untuk apa Mas," tanyaku berpura-pura. Padahal aku sangat paham apa yang dimaksudkan lelakiku ini.


"Untuk ibadah sayang. Masa kamu nggak ngerti sih." Tangannya mulai beraksi, membelai hampir seluruh tubuhku.


"Hmm. Capek ahh, mau bobo," ejekku dengan gerakan membelakanginya.


"Emang kamu bisa nolak aku? Dosa loh sayang."


"Hehehe." Tawaku cukup menjadi isyarat bahwa aku tidak bisa menolak untuk melayaninya.


Tanpa menunggu lama, mas Hafizh langsung menjatuhkanku dalam pergumulannya. Menghadiahiku dengan ciuman bertubi-tubi di setiap jenjang tubuhku. Dengan ganasnya ia melahap habis setiap inci bagian leherku.


"Mas, emang siapa rekanmu yang akan menikah di London?" Tanyaku disela-sela percintaan kami.


"Namanya Raymond Weil sayang," jawab mas Hafizh singkat, karena terlalu sibuk bermain di area bawah leherku.


Raymond Weil? Sejenak aku berpikir dan mengingat tentang seseorang yang baru disebutkan mas Hafizh. Rasanya nama itu tidak asing lagi di telingaku. Tapi siapa ya? Ahh otakku seperti tidak berfungsi dengan baik, sebab sudah mulai terlena dengan sentuhan gairah mas Hafizh.


"Apakah maksudmu Raymond Weil, CEO muda pemilik perusahaan MANGO? Perusahaan berlevel multinasional itu?" Seketika aku mengangkat kepala mas Hafizh yang sudah menempel lama di dadaku.


"Iya sayang," ucap mas Hafizh sekenanya. Ia kembali menundukkan kepalanya.


"Wah, pasti pernikahannya akan sangat mewah ya sayang?"


"Mengingat ini pernikahan pertamanya, ya kan sayang?"


"Hmmm."


"Kok hmmm saja Mas? Sejak kapan kamu belajar menjawabku seperti itu."


Tanpa menjawab mas Hafizh langsung bangun dari posisinya. Naik ke atas tubuhku, dan membekap kedua tanganku di atas kepalaku.


"Mas, apa yang kau lakukan?"


"Kamu terlalu banyak bicara sayang." Seringai muncul dari kedua pipinya. Sejurus kemudian ia membungkam mulutku dengan ciumannya.


Malam ini kembali kami menikmati pergumulan halal kami. Ditemani dengan bunyi melodi dari rintik-rintik hujan yang berjatuhan ramai di atas genteng rumah kami.


Bersambung 😁 😁


Hay Hay readers dan authors yang setia meninggalkan jejak di ceritaku. Jangan lupa mampir juga yah di Novel Author yang lainnya. Eh btw, Bang Raymond Weil dalam ceritaku itu diambil dari novel Kak Eka Pradita ya 😁 nih aku kasih beberapa rekomendasi novel yang seru abis.


CEO Tampan Itu Jodohku- Eka Pradita



Kontrak Pernikahan- Samudra Lee


__ADS_1


Akibat Sandiwara- Mamika



__ADS_2