Takdir Cinta Rianti

Takdir Cinta Rianti
22. Hari Pernikahan


__ADS_3

Assalamualaikum warahmatullahi... 🙏🙏🙏


Hai Readers, terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca tulisanku. Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar, dan juga Vote yah, supaya Author semakin semangat untuk terus melanjutkan tulisan ini. 🤗😍😘


💞💞💞


Hari penantian pun tiba. Hari dimana aku akan menjadi seorang istri dari laki-laki yang sama-sama pernah merasakan kekecewaan seperti yang aku alami dua tahun silam. Sama-sama disakiti dan dicampakkan. Lucunya pasangan yang menyakiti aku dan mas Hafizh kini telah menjadi sepasang suami istri yang mungkin telah berbahagia.


Takdir memang seperti sedang mempermainkan kita. Apa boleh buat, ibarat permainan wayang, kita hanya berperan sebagai wayangnya yang siap diperlakukan bagaimana pun dengan kondisi apapun oleh pemilik skenarionya.


Namun percayalah, pernikahan ini bukanlah ajang untuk pembalasan dendam. Sakinah Mawadah Warahma, itulah tujuan dari penyatuan hati-hati yang pernah sama-sama patah ini.


***


Keramaian mulai tercipta dalam rumahku. Lalu lalang orang memperamai rumah ini, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang menyiapkan berbagai macam hidangan catering yang kini sudah teratur rapi di atas meja, dan ada pula yang sibuk memperbaiki beberapa tatanan dekorasi yang sedikit berantakan. Kemudian yang lainnya adalah tetangga yang menjadi tamu dalam mengiringi perjalananku menuju tempat pengikatan janji sakral nanti.


Sementara di kamar, aku sudah mengenakan pakaian pengantin yang khusus aku desain longgar jika terpasang pada tubuh. Panjang menjuntai namun tak sampai menyapu lantai.


Perpaduan antara kain silk dan brukat yang membuat penampilanku terlihat anggun dan elegan. Berkali-kali aku memandangi tubuhku sendiri, janda dengan anak lima tapi masih saja ada yang berminat untuk memperistriku.


Keputusan menikah lagi adalah keputusan terbaik bagiku, jika mengingat sosok janda menjadi momok menakutkan bagi sebagian tetangga yang bersuami di lingkunganku, termasuk Bu Mila yang paling mawas diri untuk hal demikian.


Takut suami mereka akan tergoda dan berpaling dari mereka. Pun keputusan ini juga menyelamatkan diriku dari fitnah-fitnah keji mulut-mulut para tukang gosip yang tidak punya kerjaan selain mengurusi kehidupan orang lain.


Beruntungnya masih ada seseorang yang mau menerimaku meski sudah berstatus janda apalagi di tambah dengan bawaannya, yaitu lima orang anak. Ini bukan hal yang salah menurutku, karena setiap lelaki memiliki batas penilaian mereka masing-masing untuk pasangan hidupnya kelak.


Dan tentu saja yang paling rela menerima seorang janda adalah lelaki yang juga sama berstatus duda. Meski realitanya banyak juga para perjaka yang lebih memilih menikahi janda ketimbang gadis perawan. Entah apa alasan mereka, sekali lagi para lelaki memiliki penilaian tertentu untuk pasangan hidupnya.


***


Kuas makeup mendarat sempurna pada wajahku. Coretan demi coretan tak terelakkan. Dengan lihainya tangan mbak Nisa, seorang perias pengantin yang cukup terkenal di lingkungan ini melakukan aksinya di atas wajahku.


Aku hanya pasrah dengan muka yang kaku dan tidak bisa untuk sekedar memandang kearah lain, hanya fokus menatap wajah mbak Nisa yang berada tepat di depan wajahku.


"Selamat yah mbak Rianti atas pernikahannya," ucap mbak Nisa disela-sela kesibukannya.


"Alhamdulillah, terima kasih Mbak," jawabku dengan suara sedikit ditahan, agar tidak mengacaukan hasil karya dari mbak Nisa.


Ia tersenyum dan kembali melukis wajahku dengan beberapa alat tempur makeup yang sudah ia siapkan di sampingnya.


Tok.. tok.. tok


Ketukan pintu di bagian kamarku menghentikan aktivitas mbak Nisa. Membuatku bisa sedikit mengangkat kepalaku lurus untuk sekedar menghilangkan rasa sakit di bagian tengkuk.


"Siapa?" Aku menyahut untuk mengetahui siapakah gerangan yang berada di balik pintu kamarku.


"Ini neng, ada temanmu yang ingin bertemu," balas suara di luar pintu, yang kutahu itu adalah mbok Darmi.


"Suruh masuk saja Mbok, tidak dikunci juga," jawabku dengan mulai mengambil posisi menyenderkan kepala pada sandaran kursi dan mengangkat wajah menghadap ke atas tepat berpandangan dengan mbak Nisa.


Cekrek...


Gagang pintu terdengar di remas, perlahan pintu terbuka dan menampakkan sosok tamu yang ingin bertemu. Aku memandang dengan ekor mataku, karena kini kepalaku tidak bisa lagi digerakkan, sebab mbak Nisa sudah memulai lagi membuat seni lukis di wajahku.


"Susan, ayo masuk," sahutku kecil.


Susan berjalan pelan menuju ke dekat tempat aku sedang di poles. Ia kemudian menarik bangku kecil yang biasa aku duduki saat hendak merias wajah di depan cermin, untuk duduk sedikit mendekat padaku.


"Ri, Sungguh teganya dirimu Ri, merebut dokter Hafizh ku. Aku sakit hati." Canda Susan dengan gelak tawa khas-nya.

__ADS_1


"Maaf San, mau gimana lagi dong, dokternya lebih milih aku sih," ujarku dengan tawa yang tertahan.


"Biarlah, asal kamu bahagia akupun bahagia." Kembali ia melempar canda, membuat mbak Nisa ikut tertawa melihat tingkahnya.


Susan masih terus menghibur aku dan mbak Nisa dengan beberapa candaannya. Terkadang ia memuji kecantikanku kemudian memuji mbak Nisa sebagai senimannya.


"Sudah selesai," kata mbak Nisa sembari menghentikan aktivitasnya, walau sedikit-sedikit ia menyentuh bagian wajahku untuk memperbaiki jika ada yang kurang sempurna menurut penglihatannya.


Aku meluruskan kepala sejajar dengan cermin yang ada di depanku. Sangat sempurna hasil seni lukis mbak Nisa. Kini tinggallah memasang hijab agar kesempurnaan semakin bertambah.


"San, tolong ambilkan jilbabku yah." Sedikit aku meminta pertolongannya. Sebab jilbab itu tidak jauh dari ia berada kini.


"Okeh." Dengan riang Susan mengambilnya untukku.


Setelah itu ia memberikan jilbab pashmina berwarna putih gading itu pada mbak Nisa, untuk dipasangkan di atas kepalaku.


Mbak Nisa dengan cekatan memakaikan jilbab syar'i itu di kepalaku. Beberapa hiasan bros elegan ia pasang untuk menambah kecantikan riasan jilbab yang kini telah melilit sempurna menutupi rambutku.


Sempurna sudah, aku telah siap. Tinggal menunggu kode rahasia dari mbok Darmi untuk keluar dan menuju tempat ijab kabul.


"San, kamu kapan nyusul?" Dengan tersenyum jahil aku melempar kata itu pada Susan.


"Menunggu pacarku melamar Ri. Nggak mungkin aku yang lamar duluan kan," jawabnya membalas senyum jahilku.


"Emang kamu punya pacar? Kok kamu nggak pernah cerita ke aku sih?"


Aku dan Susan terlalu dekat untuk mengetahui hal-hal pribadi masing-masing. Bahkan tentang kenapa aku menjadi janda pun ia tau, karena aku sudah menceritakan semua padanya. Susan juga dengan lugasnya memberitahu padaku perihal kehidupan pribadinya. Sering ia curhat kepadaku ketika sedang terkena masalah serius. Tapi untuk yang satu ini aku sedikit terkejut, karena memang belum pernah sekalipun ia berbicara hal itu padaku.


"Aku baru jadian Ri," jawabnya malu-malu dan sedikit berbisik.


"Sejak kapan?"


"Kok baru cerita sekarang San?"


"Etdaaah, bagaimana aku mau cerita, kalau si Eneng sudah sibuk mempersiapkan pernikahan," celetuk Susan berhasil membuatku tergelak tawa.


"Ups sorry."


Kami pun tertawa bersama. Selanjutnya obrolan kami masih terus berlangsung perihal hubungan percintaan Susan dan pacar barunya.


💞💞💞


Saat ini aku sedang digiring mbok Darmi menuju mobil. Tatapan kagum dan berbagai pujian menghujani perjalananku memasuki mobil. Di sampingku anak-anak terlihat mempesona dengan pakaian yang khusus kami desain sama untuk keluarga. Termasuk mbok Darmi dan mbak Ani serta Susan juga yang sudah kuanggap saudara, memakai baju yang sama dengan anak-anak.


Para tamu pun terlihat kompak memakai baju berwarna putih gading dengan berbagai macam model yang mereka minati. Aku sengaja menuliskan dress code pada undangan pernikahanku, sebab menurutku warna putih merupakan simbol dari kesucian. Dan aku ingin pernikahan ini merupakan awal dari kesucian cinta antara aku dan mas Hafizh, selalu bersih tanpa noda sampai ajal memisahkan kita.


***


Mobil berhenti tepat di depan pintu utama masjid Agung, para tamu yang mengiringiku sudah turun lebih dulu untuk menungguiku tepat di depan pintu masuk. Anak-anak juga sudah teratur rapi di samping mobil yang saat ini kutumpangi.


Susan mulai membukakan pintu untukku. Dengan perlahan aku menuruni mobil, sambil berpegangan pada tangan Susan yang sengaja ia julurkan padaku. Rasa gugup seketika menyeruak. Walaupun ini bukan lagi yang pertama untukku, tapi rasa gugup ini tak bisa aku bendung, karena ia datang dengan sendirinya.


Pelan aku berjalan menuju tempat shalat wanita untuk menunggu selama ijab Kabul berlangsung, menggenggam erat bucket bunga yang diberikan mbak Nisa sebagai hiasan tanganku. Rasa gugup masih menyelimuti, tapi segera aku tutupi dengan senyum merekah untuk para tamu yang menyambutku.


Melewati beberapa tamu laki-laki yang sudah duduk di dekat tempat mas Hafizh mengucap janji sucinya. Disana juga sudah terlihat sahabatku Dafa dengan senyum manis yang ia lemparkan padaku. Kemudian aku memalingkan pandangan, tak jauh dari Dafa seorang lelaki berjas putih sedang duduk menunduk, enggan untuk memandang langsung padaku. Hanya dengan ekor matanya ia mengikuti langkahku. Dialah mas Hafizh sang calon imam yang akan berdiri di depanku nanti ketika aku hendak menunaikan shalat wajib. Di samping mas Hafizh itu ada mbak Brenda dan Kirana yang mempercepat kepulangan mereka demi untuk menyaksikan pernikahan kami.


Aku duduk tepat di samping mbok Darmi dan mbak Ani. Kedua tangan hangat itu aku genggam, mbok Darmi mengelus pangkal tanganku sementara mbak Ani membalas genggaman tanganku sambil menggendong Zee dan Qilla di sampingnya digendong oleh anaknya.


***

__ADS_1


"Aku terima nikah dan kawinnya Rianti Nandita dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai," ucap mas Hafizh lantang yang membuat seisi masjid ikut berdzikir mengucap syukur.


Air mata seketika menetes dari kedua netraku. Rasa haru campur bahagia menyelimuti perasaanku. Janji suci itu terucap juga. Dalam diam aku berdoa khusyuk berharap Allah jadikan pernikahan ini adalah yang terakhir buatku dan juga berharap hubungan ini akan terus bersambung hingga ke JannahNya. Aamiin!


Doa Alfatihah dilantunkan syahdu oleh penghulu. Diamini oleh semua tamu yang merasakan kesyahduannya. Beberapa bahkan ada yang sampai meneteskan air mata karena terlanjur bahagia. Termasuk mbak Ani dan mbok Darmi sebagai orang yang mengikuti jalan hidupku yang teramat perih jika diingat.


"Selamat yah Neng, semoga kalian bahagia," ucap mbok Darmi sembari memelukku erat.


"Terima kasih Mbok, karena selalu mengisi hariku dengan kebahagiaan, menjadi pelipur lara dalam masa-masa tersulitku." Aku mengeratkan pelukanku padanya dengan air mata kebahagiaan yang tak bisa kubendung lagi.


Ia kemudian melepas pelan pelukannya. Dan menghapus air mataku dengan tissue kering yang tidak jauh dari tempat duduknya. Mencium keningku lama dan mengelus pipiku.


Mbok Darmi sudah seperti ibu bagiku. Perhatiannya selalu mengisi hariku saat aku masih tinggal di rumah mbak Brenda dulu. Teringat saat pernikahan mas Galih, ia menjadi tempat pertama aku menumpah air mata, dan dengan lembutnya ia memeluk sembari memberi kekuatan padaku.


Ia kembali duduk di sampingku. Menggenggam lembut tanganku yang nantinya akan ia serahkan pada mas Hafizh.


Pak penghulu mulai berdiri diikuti mas Hafizh dan beberapa kerabat dekatnya. Berjalan perlahan kearahku. Akupun ikut berdiri dibantu oleh mbok Darmi, untuk menyambut kedatangan imamku yang menatap bahagia kearahku.


"Silahkan dek Hafizh, pasangkan cincinnya pada dek Rianti," ucap pak penghulu.


Dengan sigap mbak Brenda memberikan cincin pernikahan pada mas Hafizh. Sejurus kemudian mas Hafizh meraih tanganku dan memasangkan cincin itu pada jari manisku. Ini kali pertama aku bersentuhan langsung secara sadar dengan mas Hafizh. Sebelumnya pernah, namun itu terpaksa karena mas Hafizh harus menolongku yang pada saat itu jatuh tak sadarkan diri.


"Sekarang cium tangan suamimu dek Rianti." Pak penghulu memberikan aba-aba lagi pada kami. Meskipun kami sudah tau akan hal itu, tapi kami tetap menghormati pak penghulu sebagai pimpinan ijab kabul hari ini.


Aku mencium takzim tangan lelaki yang kini telah berstatus sebagai suamiku. Tangan yang satunya lagi membelai mesra kepalaku pertanda ia memberikan ridhanya kepadaku. Kemudian mas Hafizh mencium hangat keningku dengan khusyuknya, aku tau ia sedang melantunkan doa yang diajarkan Rasulullah ketika mencium kening istri.


Sesaat kemudian kami saling pandang dan tersenyum bersama.


"Udah saling pandangnya, nanti dilanjutkan sebentar malam saja," sahut mbak Brenda dan menggeser posisi mas Hafizh yang berhasil membuat mas Hafizh mengulas senyum.


"Selamat yah untuk kalian berdua, mbak ikut bahagia." Ia memelukku dan selanjutnya mencium keningku, hal biasa yang selalu ia lakukan padaku.


💞💞💞


Para tamu undangan sudah berlalu pulang ke rumah mereka masing-masing. Tersisa kami sekeluarga yang saat ini sudah duduk berkumpul di ruang keluarga. Membahas tentang rencana malam ini untuk sama-sama menginap di hotel sebagai hadiah untuk pernikahan aku dan mas Hafizh.


Saat ini aku duduk di samping mbak Brenda sedang mas Hafizh sibuk memangku Syamil dan Syafiq yang kini mulai membahas hal lucu.


"Jadi sekarang aku harus panggil apa sama om Afis," celoteh Syamil yang sudah berusia empat tahun.


"Panggil Abi lah bang, kan om Afis sudah jadi Abi kita," jawab Syafiq yang terpaut satu tahun lebih muda dari Syamil.


"Iya juga yah, Abi Afis," celetuk Syamil yang membuat kami semua tertawa karena tingkahnya.


"Tidak usah pake nama lagi adek, cukup Abi saja," sambung Fatih bijaksana.


"Hehe, iya abang." Syamil menggaruk kepalanya karena merasa malu.


"Abi. Aku sayang Abi," kata Syamil dan Syafiq serentak dan memeluk mas Hafizh suamiku.


"Yey, berarti sebentar malam aku sudah bisa bobo bareng om Afis dong, eh Abi." Syamil menutup mulutnya karena salah berucap.


Sementara semua orang dewasa saling pandang setelah mendengar penuturan Syamil. Entah bagaimana caranya menjelaskan pada anak kecil yang tidak tahu menahu soal malam pengantin bagi sepasang suami istri yang baru menikah.


"Malam ini Syamil, Syafiq, adek kembar dan abang Fatih bobo dulu sama Tante Blenda yah. Tante Blenda rindu nih, emang Syamil dan Syafiq tidak rindu sama tante Blenda?" Sahut mbak Brenda memecah keheningan yang sempat tercipta.


"Hehe, oke deh. Ye ye bobo bareng tante Blenda." Aksi jingkrak jingkrak mereka pun keluar juga. Membuat suasana kembali hangat dan penuh kebahagiaan.


Sekilas pandanganku dan mas Hafizh bertemu. Ia tersenyum padaku dengan senyuman penuh isyarat. Aku hanya tertunduk malu dan sama tersenyum, setelah mengerti akan isyarat tersebut.

__ADS_1


Bersambung 😁 😁


__ADS_2