Takdir Cinta Rianti

Takdir Cinta Rianti
9. Kedekatan Hafizh dan anak-anak


__ADS_3

Mentari menyapa pagiku, di langit awan terlihat putih cerah bersinar terang. Burung-burung mulai beterbangan sambil berkicau riang, membentuk variasi indah yang enak dipandang mata. Seakan pagi ini kebahagiaan sedang berpihak padaku.


Dengan gerakan sedikit cepat aku mulai berduel bersama alat-alat masak di dapurku yang cukup besar. Menyiapkan sarapan untuk anak-anak yang masih terlelap dalam balutan bedcover tebal. Terkecuali sang kakak yang memang membiasakan dirinya untuk tak tidur setelah subuh, katanya tidur setelah subuh itu tidak sehat.


Sudah empat bulan kami kembali ke rumah yang penuh kenangan bersama mas Galih. Tentu saja hanya kami berenam, sementara mas Galih dan Amira, aku tidak tau pindah kemana. Yang jelas dua bulan yang lalu mas Galih meng-upload foto Amira yang sedang berdiri cantik di depan sebuah rumah mewah. Mungkin mereka telah memberi rumah baru dan tentu saja lebih mewah dibandingkan rumah ini. Namun siapa peduli, toh perasaanku pada mas Galih semakin lama semakin menguap, pergi jauh keangkasa masa lalu yang kelam.


Setelah putusan sidang memutuskan aku dan mas Galih sah bercerai, pengacaraku meminta hak atas rumah dan mobil menjadi atas namaku. Tentu saja hal ini membuat mas Galih keberatan, namun tetap saja hakim memutuskan bahwa rumah dan mobil menjadi milikku dan anak-anak.


💔💔💔


Hari ini hari libur, seperti biasanya aku dan anak-anak menghabiskan waktu libur bersama dengan bercanda ria di ruang bermain. Si kembar kududukan di storrel bayi di samping pengasuhnya dan abang-abangnya yang sesekali iseng mencubit pipi chubby milik mereka berdua.


Lama kami bermain. Sesekali Fatih berkisah untuk adik-adiknya. Kisah tentang sang Nabi agung dan sahabat-sahabatnya. Kisah ini yang selalu kuceritakan pada Fatih dulu dan ia mulai membacanya kembali saat ia sudah menginjak sekolah dasar kelas tiga.


Pip.


Pip.


Terdengar suara klakson mobil dari arah depan rumahku. Sambil berlari kecil Fatih menuju pintu utama, untuk sekedar melihat siapa gerangan yang membunyikan klakson.


Cekrek.


Terdengar gagang pintu dibuka Fatih. Sepertinya orang yang membunyikan klakson benar adalah tamu kita.


Aku pun berdiri diikuti anak-anak dan Mbak Ani, pengasuh si kembar yang mendorong stroller Zeze (Syahzeena), sementara Syaqila aku lebih memilih untuk menggendongnya.


"Om Hafizh kok baru kelihatan sih? Fatih kangen tau." Terdengar suara Fatih sedang berbicara manja dengan tamu yang ternyata adalah mas Hafizh.


"Maaf Abang, om baru pulang dari Bandung. Ada sedikit pekerjaan yang harus om selesaikan." Kali ini mas Hafizh menimpali dengan suara yang lembut dan penuh kasih sayang.


Anak-anak memang begitu dekat dengan mas Hafizh. Setelah aku memutuskan untuk pulang ke rumah, hampir setiap hari libur mas Hafizh selalu datang menjenguk anak-anak. Dan anak-anak pun selalu senang jika dikunjungi mas Hafizh. Malah kadang-kadang mereka sendiri menelpon mas Hafizh untuk datang menjenguk.


Hal ini membuat aku tak enak juga sebenarnya, karena takut jika mas Hafizh terbebani dengan perlakuan anak-anak yang begitu manja padanya. Tapi mas Hafizh hanya membalas pernyataanku dengan perhatian yang lebih lagi untuk mereka.


"Kapan pulang mas?" Sahutku pada lelaki yang berjalan bergandengan tangan dengan Fatih sementara di tangan sebelahnya terlihat membawa koper besar yang entah apa isinya, yang jelas tak mungkin mas Hafizh ikut pindah ke rumahku. Hehe....

__ADS_1


Lelaki bertubuh tinggi, bermata bulat sedang khas laki-laki indo itu kini menatap kearahku sambil melempar senyum.


"Alhamdulillah, baru sampai jam 06.00 pagi tadi Ri."


"Berarti dari bandara langsung ke sini yah mas?" Jawabku padanya.


"Iyah Ri. Habisnya aku kangen anak-anak sih!"


Jawaban mas Hafizh seperti seorang ayah yang sedang rindu berat kepada anak-anaknya. Namun sebagai seorang janda aku sadar diri, tak mungkin mas Hafizh memikirkan lebih dari sekedar seorang om untuk anak-anak. Mungkin ia begini karena ia tak punya anak, jadi ia melampiaskan kasih sayangnya kepada anak-anakku.


"Ya udah masuk dulu, nanti aku bikin teh hangat untuk mas Hafizh," cercahku dan dibalas anggukan oleh mas Hafizh.


Aku pun beranjak masuk ke dalam rumah. Namun, belum juga tubuh ini mencapai pintu, mas Hafizh memanggilku untuk sekedar mengambil si kecil Syaqilla dari pelukanku.


Ada rasa sungkan menyelimuti batinku. Begitupun dengan mas Hafizh, namun ia tetap melanjutkan adegannya mengambil Syaqilla dari pelukanku.


Berdebar, tentu saja hati ini berdebar. Entah perasaan apa yang sedang bersemayam di dalam dada, namun yang jelas bukan rasa cinta melainkan rasa tak enak karena jarak yang terlalu dekat dengan lelaki yang bukan mahram.


Segera aku percepat memberikan Syaqilla pada mas Hafizh, agar adegan ini segera berhenti. Adegan layaknya seorang istri yang tengah memberikan buah hatinya pada suaminya.


[Astagfirullah, apa tadi itu? Oh ya ampun, harusnya tadi Syaqilla kuberikan pada Mbak Ani dulu] gumamku dalam hati yang masih berdebar kencang.


Masih dengan perasaan tak menentu, aku berjalan pelan menuju ruang tamu dengan nampan berisi segelas Teh panas dan setoples kecil biskuit untuk cemilan. Malu, rasa itu masih melekat di dada, namun kututupi rasa itu dengan menyibukkan diri, memindahkan yang di atas nampan ke meja di depan mas Hafizh yang sibuk bermain dengan anak-anak.


Kulihat ada tawa lepas dari bibir kecil anak-anak. Tawa yang tak pernah ku nikmati sewaktu bersama mas Galih. Betapa bahagianya aku melihat moment ini, mereka tertawa terbahak-bahak, bahkan tak sungkan bermanja ria dalam pelukan pria yang tak ada hubungan darah dengan mereka.


Sungguh bercerai adalah keputusan yang tepat kuambil. Kalau aku terus bertahan dengan mas Galih, maka aku yakin, tawa ini, kebahagiaan ini tak akan bisa kunikmati.


"Di minum dulu Teh-nya mas," sahutku pada mas Hafizh.


Tanpa berlama-lama, mas Hafizh langsung menyeruput Teh yang kubuat. Sementara anak-anak, sibuk membongkar koper yang ternyata berisi banyak mainan.


"Wow, ada mainan banaaak tekaali," celoteh Syamil dengan ekspresi wajah bahagia.


"Iya, inaan nyaaak ali, ye ye ye." Syafiq berkata sambil berlompat-lompat.

__ADS_1


"Alhamdulillah, terima kasih om Hafizh," cecar Fatih, sembari berhambur ke pelukan mas Hafizh.


Kulihat Fatih sedikit terharu dengan perlakuan mas Hafizh. Aku sangat tau perasaannya. Rasa rindu ke Abinya tak dapat ia tutupi dariku. Dulu mas Galih selalu memperlakukan Fatih seperti ini, memanjakan ia dengan mainan yang mas Galih bawa pulang dari bekerja.


Cinta manusia memang tak ada jaminannya. Tetap bersemayam di satu tempat ataukah berpindah ke tempat lain. Semua adalah rahasia sang kuasa, kita manusia bisa apa. Pasrah terhadap ketentuannya adalah jalan terbaik. Sungguh, rencana Allah selalu berakhir bahagia, meski harus merasakan pahitnya perjalanan dulu.


"Oh yah Rianti, sekalian aku mau menawarkan pekerjaan untukmu, di bagian penjaga apotik di klinikku."


"Sinta, karyawanku dua hari lalu minta Resain, karena ikut suaminya ke Bandung, jadi aku harap kau mau!" Kata mas Hafizh.


"Tapi mas, bagaimana dengan Zeezee dan Syaqilla, mereka masih butuh aku untuk.... Mas tau kan?" Jawabku.


"Itu gampang Ri, kau bisa bawa mereka ke rumahku yang berada di samping klinik, kalau sudah waktunya menyusui, kau bisa ijin ke rumah untuk menyusui mereka," Jawab mas Hafizh.


"Baiklah mas, aku terima!" Jawabku dengan raut wajah sedikit ceria, karena sebentar lagi aku bisa berpenghasilan sendiri.


Selama ini, mbak Ani, masih dibayar oleh Mbak Brenda. Nafkah yang dijanjikan mas Galih di depan hakim sidang, di kirim tak sesuai dengan nominal yang di sepakati. Sehingga tak cukup untuk sampai membayar pengasuh si kembar. Aku lebih memilih untuk tidak mempersoalkannya lagi, karena ku tau akhirnya akan tetap sama.


Setelah puas bermain bersama anak-anak, mas Hafizh pamit untuk pulang.


💔💔💔


Rok hitam, blouse putih selutut, dan jilbab segiempat syar'i menutup sempurna di tubuhku. Hari ini, hari pertama aku bekerja di klinik mas Hafizh. Ini adalah pengalaman bekerja pertama untukku, karena setelah menikah dengan mas Galih aku tak pernah bekerja, aku fokus menjadi istri dan ibu untuk anak-anak.


Bangku kuliah sempat kucicipi. Sebelum menikah, aku meminta untuk di kuliahkan oleh bapak, permintaan itu langsung disetujui. Setelah menikah, aku melanjutkan studi ke Universitas yang sama dengan mas Galih. Tapi beda jurusan, mas Galih Fakultas Teknik dan aku Fakultas Kesehatan Masyarakat.


Dua bulan menikah, akhirnya aku positif hamil. Alhamdulillah, kehamilanku tak mengganggu aktivitas perkuliahanku. Semua kujalani seperti biasa.


Satu tahun kuliah, akhirnya aku memilih berhenti. Bukan tanpa alasan, karena abdiku pada suami sehingga aku memutuskan untuk berhenti dan mengikuti mas Galih melanjutkan studi magister-nya ke Surabaya. Dengan memboyong Fatih, aku dan mas Galih berangkat ke Surabaya.


Susah senang kami lalui bersama. Hidup di kontrakan yang tak cukup besar, dengan gaji mas Galih yang pas-pasan sebagai karyawan di Universitas Swasta di Jakarta.


💔💔💔


Aku mulai, berjibaku dengan beberapa macam obat. Ada yang membantuku mengenali nama-nama obat. Ada yang memberikan pengarahan atas apa yang harus aku lakukan. Semua terasa mudah bagiku. Aku mengambil shift pagi untuk menjaga apotik, agar malamnya bisa menyempatkan waktu bersama anak-anak.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2