Takdir Cinta Rianti

Takdir Cinta Rianti
35. London Eye (Pernikahan Raymond dan Alice)


__ADS_3

Saat ini aku berdiri menghadap cermin besar seukuran tubuh orang dewasa. Mematut diri di depannya sambil mengenakan dress silver berbahan brokat Prada, jenis brokat termahal dari bahan brokat lainnya.


Mas Hafizh tersenyum dari pantulan cermin tersebut. Menatapku penuh arti, seakan terpesona dengan penampilanku pagi ini. Ia sudah berpakaian rapi dengan Tuxedo berwarna senada denganku, rancangan dari Samuel Wongso. Seorang desainer yang ikut merancang baju pernikahan pasangan artis ternama Baim Wong dan Paula Verhoeven. Duduk dengan santainya sambil terus memperhatikan aku yang sibuk mengganti pakaian.


Pagi ini kami akan menghadiri acara resepsi pernikahan Raymond Weil. Seorang lelaki muda seumuran kami, yang menjabat sebagai CEO sukses dalam mengembangkan perusahaan MANGO. Perusahaan yang termasuk dalam kategori 50 perusahaan tersukses di dunia.


Sebuah perusahaan berlevel multinasional, yang bergerak dalam bidang perancangan, pengembangan dan penjualan barang-barang yang terdiri dari elektronik konsumen, perangkat lunak komputer, dan komputer pribadi.


Mas Hafizh sendiri sudah menjadi pelanggan tetap perusahaannya. Sebab kualitas barang yang diberikan perusahaan MANGO tidak perlu dipertanyakan lagi.


"Mas bisa tolong aku?" Tanpa berbalik aku meminta pertolongannya hanya dengan menatapnya melalui pantulan cermin. Mengisyaratkan untuk menarik resleting bajuku yang tak dapat kujangkau sebab terletak di bagian punggungku.


Mas Hafizh beranjak dari duduknya dan berjalan mendekatiku. Aku terus mengawasinya dari cermin, ia masih terus menatapku takjub. Tatapannya kini beralih pada punggungku yang terpampang jelas. Dengan rambut panjangku yang kusingkap ke depan. Ia melihatnya dengan seksama tanpa berkedip, hingga lupa dengan apa yang kupinta padanya tadi.


"Mas, kenapa diam? Ayo, ditarik resletingnya!" Selorohku menyadarkan mas Hafizh yang masih tak berkedip menatap punggungku.


"Mas!" Ucapku sedikit menggertak. Ia terhentak kaget dan tersenyum malu. Serta mulai menarik resleting gaun mewahku.


"Malah bengong Mas."


"Hehe. Habisnya punggungmu bikin aku terpesona sih," Celetuknya sambil mengusap lembut punggungku. Kemudian ia menciumnya.


Rasa geli menjalari tubuhku. Gara-gara mas Hafizh yang semakin semangat mengecup setiap inci punggungku.


"Hentikan Mas, nanti kita telat loh ke pernikahan Raymond dan Alice." Aku sedikit menggerakkan tubuhku.


"Hehe. Maaf sayang. Aku kebawa suasana!" Ia menarik resleting gaunku hingga pucuknya. Selanjutnya memelukku hangat dari belakang.


"Cepetan ganti pakaiannya sayang. Kalau tidak aku bisa hilang kendali!" Bisiknya penuh intimidasi. Aku terkekeh mendengar bisikannya itu.


"Bagaimana aku bisa cepat, kalau kau memelukku seperti ini," elakku sembari membalikkan badan, menghadapkan wajahku tepat ke wajahnya.


"Lepaskan aku sayang. Masih banyak yang harus aku lakukan, agar di pernikahan nanti, kau hanya akan menatapku saja!" Ucapku sedikit genit, kedua tanganku kulingkarkan pada leher jenjangnya.


Mas Hafizh hanya tersenyum, kedua tangannya sudah melingkar sempurna pada pinggang rampingku. Wajahnya perlahan maju tanpa komando. Menelisik setiap jenjang wajahku dengan penuh semangat. Aksinya ia tutup dengan mencium takzim puncak kepalaku dengan hangat.


"Aku hanya akan memandangmu sayang!" Sahutnya setelah puas dengan aktivitasnya menciumi wajahku. Ia melonggarkan pelukannya dan emberikanku kesempatan untuk melanjutkan kegiatanku yang sempat tertunda.


Mas Hafizh duduk kembali, memainkan sedikit ponselnya. Untuk berkomunikasi dengan orang kepercayaannya di Indonesia. Memastikan bahwa urusan pekerjaan disana baik-baik saja.


Beberapa pekerjaannya di klinik di handle dengan baik oleh dokter Mario. Dokter yang ia rekrut setelah pembangunan kliniknya selesai. Ia menjadi wakil dari mas Hafizh untuk mengurusi kliniknya yang telah direncanakan untuk dijadikan Rumah sakit swasta yang khusus menangani ibu hamil dan anak-anak.


Sementara Miranda, semenjak kejadian itu tak terlihat lagi batang hidungnya. Pun surat pengunduran dirinya tak pernah sampai pada mas Hafizh. Ia menghilang begitu saja. Dan kini sudah digantikan oleh dokter baru yang cukup senior dari mas Hafizh.


Baguslah! Setidaknya tidak ada lagi yang mengganggu hubunganku bersama mas Hafizh.


***


Gaun indahku telah terpasang sempurna. Kini aku beralih pada wajahku. Memolesnya dengan beberapa makeup tipis untuk menambah aura kecantikanku. Agar nanti mas Hafizh tak mengalihkan pandangannya untuk melihat perempuan dengan pesona yang lebih dariku.


Dengan lihainya tanganku melilit kepalaku dengan jilbab pashmina berbahan satin berwarna merah muda. Yang kupadukan dengan beberapa bros silver yang cukup menambah keindahan dan kemewahan hijab yang kupakai.


Sempurna sudah. Semuanya telah selesai. high heels dan tas mewah yang kemarin malam menjadi hadiah ulang tahunku juga sudah tergantung di lengan kananku. Tinggal meminta penilaian mas Hafizh, apakah aku sudah cukup cantik untuk selalu membuatnya terpesona dan menatapku saja selama berada di pesta perkawinan Raymond dan Alice?


"Mas, apa masih ada yang kurang dengan penampilanku?" Tuturku dengan bergaya kalem tepat di depannya.

__ADS_1


Mas Hafizh mengalihkan tatapannya dari layar ponselnya. Melihatku serius, dengan kedua keningnya mengerut. Ia berdiri mendekatiku yang sedikit gugup akan perlakuannya. Mengitariku dan memperhatikan dari atas sampai ke bawah penampilanku pagi ini dengan seksama.


"Adakah yang salah dengan penampilanku Mas?" Jawabku kikuk. Sebab merasa takut jika aku terlalu berlebihan dalam berpakaian, atau kurang mewah dan hanya memalukan diri mas Hafizh di depan rekan-rekan pengusahanya nanti.


"Hmm. Tidak ada sayang!"


"hanya saja kamu terlihat sangat cantik pagi ini. Aku takut lelaki lain akan melirikmu."


"Hehe. Kamu ada-ada saja Mas!" Aku sedikit menonjok lengan kanannya, dan menjatuhkan kepalaku disana. Ia tertawa kemudian meraih jari jemariku untuk dikecupnya dengan mesra.


"Ayo berangkat?" Ajaknya romantis.


Kami sama-sama menuruni anak tangga, dengan senyum yang terkembang dari kedua lekuk pipi kami.


"Wah, ummi cantik sekali pagi ini," imbuh Fatih yang saat ini sudah mematung diri tepat di anak tangga terakhir. Ia memandangku takjub.


"Terima kasih sayang." Aku balas pujiannya dengan ciuman telak di pucuk kepalanya.


"Ummi pergi dulu sama Abi ya Nak. Kamu sama adik-adik baik-baik yah, jangan buat orang rumah repot." Sedikit nasihat aku berikan untuknya, meski kuketahui anak-anak ku bukan tipe anak kecil yang nakal tangan jika berada di rumah orang. Mereka cenderung penurut, namun banyak bertanya.


"Siap Ummi," tuturnya sopan kemudian mencium punggung tanganku dan mas Hafizh sebagai tanda rasa hormatnya pada kami.


Kaki kami kembali melangkah, melewati ruangan keluarga yang saat ini sedang ramai dengan tingkah lucunya bayi kembarku dan kakak-kakaknya yang sibuk bermain mobil remote control yang dibelikan Aland tadi pagi, saat mengantar bibi Caroline membeli bahan-bahan makanan untuk dua hari ke depan.


Berpamitan pada mereka semua dan menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah. Disana Aland sudah duduk manis di depan kemudi, siap mengantar kami ke tempat tujuan.


Mas Hafizh melangkah cepat mendahuluiku. Membuka pintu mobil dengan gaya bak pangeran yang sedang mempersilahkan sang putri untuk masuk ke dalam mobil.


"Silahkan masuk ratuku," ucap mas Hafizh dengan tangan satunya terletak dibelakang punggung dan satunya menempel di dadanya. Tubuhnya agak sedikit membungkuk dengan kaki yang masih saling merapat.


"Terima kasih pangeran," balasku mencoba mengikuti alur permainannya.


Aland hanya tersenyum melihat tingkah kami. Ia memuji kecantikanku dan keromantisan mas Hafizh. Kemudian memacu kendaraan beroda empat ini dengan kecepatan sedang. Sesekali ia bercengkrama dengan mas Hafizh soal tempat-tempat yang dilalui mobil yang kami tumpangi saat ini. Menjelaskan tentang sejarah dan keistimewaannya.


Sedikit aku terpesona dan cukup penasaran dengan salah satu tempat yang dikatakan Aland merupakan tempat wisata paling banyak dikunjungi para turis seperti kami. London Eye, begitulah masyarakat London menyebutnya.



Sebuah objek wisata terlaris yang berada di kota London. Tempat wisata yang berupa roda raksasa yang berputar dengan anggunnya. Atau disebut juga dengan Millenium Wheel.


Sebuah roda pengamatan yang terbesar di dunia. Memiliki tinggi sekitar 135 meter atau setara dengan 443 kaki. Roda ini sudah mulai beroperasi sejak tahun 1999.


London Eye sendiri dirancang oleh Arsitek David Marks dan Julia Barfield, dengan 32 kapsul pengamatan tertutup yang memiliki Air Conditioner (AC) di sisi luar lingkarannya.


London Eye dioperasikan oleh Tussauds Group dan disponsori oleh British Airways yang menggunakan istilah Fly atau Flight untuk menggambarkan perjalanan di London Eye. Namun, seiring berjalannya waktu, London Eye menjadi objek pariwisata yang terkenal, serta menjadi salah satu ikon kota London.


Letaknya di South Bank, tepatnya ditepi sungai Thames, yang menghadap langsung ke istana Westminster dan juga menara jam Big ben yang berada diseberangnya.


Sesuai penjelasan Aland. South bank sendiri merupakan tempat favorit para turis dan orang lokal yang ingin jalan-jalan dan sekedar bersantai di sekitar tepi sungai Thames. Selain itu, banyak sekali yang bisa kita lakukan di sekitar South Bank. Seperti ada Taman hijau untuk duduk-duduk, Teater, Bioskop 3D, Museum, kafe, serta restoran-restoran mewah yang berada disekitarnya.


Aku mendengarkan penjelasan Aland dengan teliti, sambil memandang langsung roda raksasa yang berdiri kokoh di dekat sungai Thames tersebut.


"Mas, bolehkah kita jalan-jalan kesana sebentar malam? Aku penasaran dengan sensasinya saat menaiki kapsul penumpang yang terletak pada setiap bulatannya," tuturku sambil terus menatap London Eye yang terlihat cukup ramai dengan lalu lalang manusia dibawahnya.


"Apapun untukmu sayang. Sekalian kita ajak anak-anak serta yang lainnya." Ia sedikit mendongakkan kepalanya untuk melihatku.

__ADS_1


"Terima kasih Mas."


"Then, I will immediately order the tickets for tonight. How is mister Jonathan? (Kalau begitu, aku akan segera pesankan tiketnya untuk malam ini. Bagaimana tuan Jonathan?)" Sambung Aland yang sedari tadi menjelaskan perihal keindahan dari London Eye.


"How to order it, Aland? (bagaimana cara memesannya, Aland?)" Tanya mas Hafizh penasaran.


"I'll order the tickets online, sir. So that you don't need to queue anymore and also get special prices, aka discounted prices. How is it, sir? (Aku akan memesan tiketnya secara online tuan. Agar tuan tidak perlu mengantri lagi dan juga mendapatkan harga spesial alias potongan harga. Bagaimana tuan?)" Jawab Aland jelas.


"I leave this to you, Aland! (Aku serahkan urusan ini padamu, Aland!)" Mas Hafizh menepuk-nepuk pundak lelaki yang sudah dianggapnya adik itu.


"Okay sir. I'll order it soon! (Baiklah tuan. Aku akan segera memesannya!)" Aland tersenyum pada mas Hafizh.


Hening mengambil alih perjalanan kami. Tidak ada lagi obrolan penting antara kedua lelaki di depanku. Hanya sebuah lagu romantis yang terdengar pelan dari audio mobil.


"Hmmm. By the way, you don't call me sir. Just call me brother. Understand? (Hmm. Omong-omong, kau jangan memanggilku tuan. Cukup panggil aku kakak saja. Paham?)" Sahut mas Hafizh pada Aland yang kembali fokus mengemudi.


"Hehehe. Alright brother Jo! (Hehehe. Baiklah kak Jo!)" Aland menjawabnya kikuk, karena paham betul bahwa orang yang berada disampingnya ini merupakan majikannya.


***


Tak terasa mobil yang kami tumpangi sudah berada di depan pintu gerbang gedung pernikahan yang sangat besar. Gedung dengan desain interiornya yang cukup menyejukkan mata.


Beberapa patung khas Negara Eropa menjadi ornamen penghias halaman gedung tersebut. Juga air mancur hias yang terletak di tengah-tengah halaman yang menambah kesan mewah pada bangunan ini.


Aland menepikan mobil kami tepat di depan pintu masuk utama gedung. Setelah tadi mengantri cukup lama dibelakang mobil mewah yang pemiliknya hendak turun dan memasuki gedung resepsi.


Mas Hafizh lebih dulu turun dari mobil. Ia membantuku untuk membukakan pintu mobil. Kemudian menjulurkan tangannya padaku dengan senyuman termanisnya.


Aku menerima uluran tangannya dengan perasaan bahagia. Melangkahkan sebelah kaki keluar mobil dan mensejajarkan diri disamping mas Hafizh yang terlihat berwibawa.


Rentangan karpet merah menjadi area perjalanan kami. Juga para awak media serta wartawan sudah berada di tempat untuk meliput pernikahan pertama dari Raymond Weil, seorang pengusaha muda yang berhasil mengangkat perusahaan MANGO berada pada puncak kejayaannya.


Beberapa pasangan fenomenal juga tampak memasuki pelataran gedung resepsi. Seperti Arga dan istrinya Erina yang tetap terlihat cantik meski sedang berbadan dua. Juga pasangan sensasional, Krisna dan Kartika yang cukup menggemparkan publik karena hadirnya Isna dalam pernikahan mereka. Beruntungnya Krisna tidak mengajak serta Isna (istri keduanya) itu menghadiri pernikahan Raymond. Jika sampai ia mengajaknya, kurasa awak media dan wartawan akan lebih fokus menyorot kehidupan poligami Krisna, dibandingkan pesta megah Raymond dan Alice yang kini telah sah menjadi istrinya.


Aku melingkarkan tangan pada lengan mas Hafizh. Mengikuti iringan langkah kakinya memasuki gedung resepsi Raymond dan Alice. Senyum lebar terpampang dari wajah kami, seiring dengan kilatan cahaya yang berasal dari beberapa kamera awak media yang berusaha mengabadikan momen pernikahan mewah ini.


Seorang pria muda dengan tinggi yang setara dengan mas Hafizh menunggu kedatangan kami di depan pintu masuk utama gedung, tatapannya ramah dan bersahabat. Pria itu bernama Elliot, orang kepercayaan Raymond Weil atau lebih tepatnya berposisi sebagai tangan kanannya.


"Selamat siang dokter Jonathan. Senang bertemu anda lagi," sapanya sopan dengan badan sedikit dibungkukkan.


"Selamat siang juga tuan Elliot. Aku juga senang bertemu denganmu." Mas Hafizh membalas sapaannya dengan menjabat tangan Elliot. Dan memberikan kado pernikahan untuk pasangan pengantin baru.


"Silahkan masuk Dokter. Sebentar lagi tuan Raymond dan nona Alice akan segera memasuki altar pernikahan." Elliot mempersilahkan aku dan mas Hafizh untuk masuk. Mas Hafizh hanya menganggukkan kepalanya. Dan berjalan kembali untuk memasuki ruangan resepsi.


Bersambung 😁😁


**Hai readers dan authors kece. Mohon maaf kalau terlalu lama update. Aku benar-benar sibuk mengurus si bocil yang nggak ada capek-capeknya bermain seharian. Jadi, nggak ada waktu untuk sekedar berimajinasi. Aku usahain untuk update setiap dua hari sekali.


Oh ya, untuk cerita pernikahan Raymond dan Alice. Kalian bisa langsung kunjungi novelnya yang berjudul "Terpaksa Menikahi CEO Arogan" by Eka Pradita**



Arga dan Erina dalam novel "Menikahlah Denganku" By Nafasal


__ADS_1


Atau kisah Krisna dengan kedua istrinya Kartika dan Isna dalam novel "Istri Kedua Tuan Krisna" By Syala Yaya



__ADS_2