Takdir Cinta Rianti

Takdir Cinta Rianti
16. Pesan balasan dari mas Hafizh


__ADS_3

***Assalamualaikum warahmatullahi readers, maaf atas keterlambatan update nya. Author masih sibuk ngurusin bayi 17 bulan yang lagi aktif-aktifnya 😁


Happy Reading 🥰


Jangan lupa tinggalin jempol yah 🤗***


------------------------------------------------------------------------


[IYA]


Pesan singkat tapi penuh makna yang berarti bagiku dan mas Hafizh. Kata ini akan membawaku menuju dunia baru yang entah bagaimana kisahnya kan berjalan. Apakah akan sama saja seperti kisah cintaku bersama mantan suamiku ataukah berakhir dengan hubungan yang penuh kebahagiaan. Sekali lagi aku hanya bisa menebak tanpa mampu menemukan jawaban yang tepat.


💞💞💞


Was-was aku menunggu jawaban pesan dari mas Hafizh. Akankah ia telah berubah rasa atau masih tetap sama menanti jawaban IYA dari diriku.


Centang dua belum berubah biru. Itu artinya mas Hafizh belum membaca pesanku. Mungkin ia sudah tertidur karena kelelahan. Aku putuskan untuk tidur saja karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas.


Namun saat hendak mematikan data seluler, sebuah pesan masuk dalam aplikasi chattingku. Tanpa berlama-lama aku pun membukanya. Ternyata pesan balasan dari mas Hafizh.


[Alhamdulillah Ya Allah. Terima kasih calon istri] isi pesan dari mas Hafizh.


Aku hanya bisa mengulum senyum. Ada rasa geli namun bahagia membaca pesannya. Mengingat kita bukan lagi anak ABG yang baru pertama kali merasakan debaran-debaran asmara. Namun ini terasa mengasyikkan juga, rasanya seperti sedang bernostalgia dengan masa remaja.


[Apa'an sih, lebay] balasku meledeknya.


[Biarin. Emang bener calon istri. Kamu bisa apa? Hayo] Kali ini ia bubuhi sebuah emot menjulurkan lidah. Rupanya ia balik meledekku.


[Ihhh ingat umur, dah tua pak, nggak cocok tau] aku bubuhi banyak emot tertawa terpingkal-pingkal.


[Biarin, biarin, yang penting aku happy]


[Idih memaksakan diri kayak bocah padahal udah aki-aki]


Seketika aku tertawa sendiri dengan tingkah kami yang tak ubahnya seperti anak remaja yang sedang falling in love. Lucu sekaligus menyenangkan saat tau kalau mas Hafizh juga bisa bertingkah seperti anak-anak. Jika mengingat sikapnya yang hampir tidak pernah bercanda dengan lawan jenisnya.


[Aki-aki juga bisa jatuh cinta kali calon istri] sebuah emot love mengiringi pesannya.


[Udah ahh, tidur sana, nggak baik berdua-duaan, belum jadi mahram]


[Eh berdua-duaan gimana, kan ada operator]


[Nggak lucu pak dokter]

__ADS_1


[Aku tidak sedang melucu sa..... Eh nggak jadi, belum halal] pesannya yang membuat aku tersenyum malu-malu.


[Ya udah, segera di halalin] balasku menantang.


[Secepatnya. Tunggu aku]


[Ditunggu. Aku tidur duluan]


[Siap buk] jawabnya menutup percakapan lebay kami malam ini.


Rasa bahagia sedikit mewarnai diriku saat ini. Biarlah ini terasa lebay yang penting mampu membuat perasaan ini keluar dari zona nestapa yang berlarut-larut.


Sebelum menuju kamar, aku melakukan ritual malamku sebelum tidur yaitu berwudhu dahulu. Suatu kebiasaan Rasulullah yang banyak sekali manfaatnya, selain karena Sunnah, berwudhu sebelum tidur juga dapat memicu pengampunan dari Allah SWT.


"Barang siapa tidur di malam hari dalam keadaan suci (berwudhu) maka Malaikat akan tetap mengikuti, lalu ketika ia bangun niscaya Malaikat itu akan berucap, "Ya Allah ampunilah hamba mu si fulan, karena ia tidur di malam hari dalam keadaan selalu suci" (Hr. Ibnu Hibban & Ibu Umar r.a).


Kemudian aku pun merebahkan diri disamping anak-anak.


💞💞💞


Setelah mengantarkan Fatih ke sekolahnya, aku lajukan mobil ke tempat kerja. Hari ini si kembar, Syamil dan Syafiq kutinggalkan bersama Mbak Ani di rumah juga ditemani Mbok Darmi yang main ke rumah setelah menunaikan tugasnya di rumah Mbak Brenda. Tak lupa aku menyetok ASI untuk si kembar yang sudah kukemas rapi di wadah yang dibuat khusus untuk menampung ASI.


Lagu nasyid islami mengiringi perjalanan seorang diriku. Sekilas mengingat kembali percakapanku dengan mas Hafizh semalam.


(Ternyata mas Hafizh bisa bercanda juga yah, kupikir orangnya kaku) Gumamku.


***


Kini mobilku sudah berada tepat di tempat parkir klinik mas Hafizh. Segera aku turun dan menuju tempat absen. Disana sudah ada Susan yang sedang menungguku.


Setelah selesai mengisi absen kehadiran, aku dan Susan berjalan bersama-sama menuju ruang apotik.


"Ri, kamu tau nggak, klinik kita ketambahan dokter baru loh," sahut Susan di tengah-tengah perjalanan kita.


"Belum San. Emang siapa?" Tanyaku santai.


"Aku juga nggak tau namanya Ri, hanya saja dia seorang perempuan. Kira-kira seumuran kita deh."


"Hmm, baguslah San kalau ketambahan dokter. Mengingat pasien Klinik ini terus bertambah," cercahku kepadanya.


"Iyah sih. Tapi aku sedih Ri." Susan memasang muka cemberut dengan bibir monyong ke depan. Tak lupa aksi favoritnya yang sering memainkan ujung jilbabnya ia lakukan.


"Kok sedih sih San, harusnya kan bersyukur, supaya tidak terjadi lagi antrian panjang seperti waktu itu, kasian San yang ngantri ini para ibu hamil loh."

__ADS_1


Aku ingat dulu saat awal-awal aku bekerja di klinik ini. Waktu itu dokternya baru mas Hafizh saja, di karenakan klinik masih tergolong klinik baru.


Mas Hafizh membuka praktek dari pukul 17.00 sampai 21.00. Saat itu tak disangka antrian ibu hamil yang ingin periksa kandungan membludak hingga sampai nomor antrian yang ke lima puluh. Banyak yang mengeluh karena mas Hafizh terlalu lama dalam memeriksa pasien, ada yang tetap santai menunggu sambil memainkan gawainya, dan ada juga ibu hamil yang ngidam muntah-muntah terus sampai harus berbaring di bangku ruang tunggu pasien.


Aku tidak bisa bayangkan jika menjadi ibu hamil itu. Jika ingat bagaimana susahnya ngidam seperti itu. Dulu waktu ngidam Fatih aku juga merasakan ngidam berat, muntah terus sampai terakhir muntah darah, makanan selalu di paksakan masuk, lemas, serasa tidak ingin melanjutkan kehamilan, dan rasa-rasa lain yang hanya bisa dirasakan oleh ibu hamil.


Itulah kenapa surga berada di bawah telapak kaki ibu. Karena perjuangannya dari awal mengandung, melahirkan sampai merawat anaknya bukanlah pekerjaan yang mudah. Ia harus banyak menguras tenaga, mempertaruhkan nyawanya, hingga berduel dengan emosinya sendiri saat sang anak mulai aktif-aktifnya.


"Iyah juga sih Ri. Tapi nanti sainganku semakin berat Ri untuk mendapatkan dokter Hafizh pujaan hatiku."


Seketika aku tertawa mendengar perkataan Susan. Kedatangan dokter perempuan saja ia sudah sedih apalagi kalau nanti ia tau aku dan dokter Hafizh akan menikah. Takutnya ia akan mencekikku sampai mati.


"Apa sih San," aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat gelagat Susan.


Kami masih terus berjalan pelan menuju ruang apotik. Perjalanan kami penuh canda tawa, Susan memang orangnya suka bercanda. Hingga tak sengaja kami berpapasan dengan seorang perempuan cantik dan modis. Rambutnya panjang ikal yang diwarnai sedikit dengan pewarna rambut merah maroon. Ia berjalan menghampiri kami.


"Hay," sapanya padaku dan Susan.


Sesaat aku mengingat-ingat kembali siapa gerangan perempuan cantik di depanku ini. Terdiam sejenak dengan mata masih menatap lekat padanya. Sesaat kemudian, yah aku ingat, dia adalah Miranda, perempuan yang kutemui di ruangannya mas Hafizh. Yang mas Hafizh kenalkan padaku sebagai sahabatnya.


"Eh hay, Mbak Miranda yah?" Tanyaku sambil melempar senyum.


"Yups bener, Rianti kan?" Balik ia bertanya padaku.


Sementara Susan hanya plonga-plongo menyaksikan perbincangan kami. Ia sedikit mendekat padaku.


"Ri, ini dokter baru yang kuceritakan padamu tadi," bisik Susan.


"Iyah saya Rianti."


"Jadi Mbak Miranda dokter baru yang dibicarakan temanku ini?" Aku melempar pandang kearah Susan yang hanya bisa cengar-cengir tidak jelas


"Iyah. Dua hari lalu aku melamar di klinik ini. Dan baru masuk masuk hari ini," jawab Miranda.


Jadi kedatangannya waktu itu untuk melamar pekerjaan.


Aku dan Miranda melanjutkan perbincangan kami, Sementara Susan sudah ijin untuk pergi duluan, karena merasa tersisihkan.


Setelah lama berbasa-basi. Miranda pun akhirnya pamit ke ruang kerjanya. Dan lanjut berjalan untuk menyusul Susan.


Drrrrt


Drrrrt

__ADS_1


Handphoneku bergetar, sebuah pesan masuk dari seseorang yang berubah sikapnya semalam. Ya siapa lagi kalau bukan si calon suami. Segera kubuka pesannya takut dia berlebay diri lagi. Rupanya ia mengirim sebuah foto tiket elektronik hasil capture dari salah satu aplikasi online yang khusus menjual tiket pesawat. Disitu tertera dengan jelas tanggal penerbangannya, dua hari lagi ia akan kembali.


Bersambung 😁😁


__ADS_2