Takdir Cinta Rianti

Takdir Cinta Rianti
23. Bukan Malam Pertama


__ADS_3

Seluruh keluarga besar kami sudah menyiapkan diri untuk menuju hotel tempat kami menginap malam ini. Tidak ada lagi barang bawaan yang kami siapkan, karena seluruh keperluan kami sudah tersedia rapi di hotel. Hanya diri masing-masing orang saja yang harus disiapkan.


Aku sudah berganti pakaian dengan gamis berwarna merah maroon dan jilbab syar'i dengan panjang yang sampai menutup perutku. Sementara mas Hafizh memilih memakai baju kokoh dengan warna senada denganku.


Selama ini aku tidak melihat betapa tampannya mas Hafizh, yah mungkin karena saat itu ia belum menjadi yang halal untukku jadi aku tidak terlalu memperhatikannya. Tapi hari ini, aku benar-benar terpesona dibuatnya, ia begitu tampan hingga tanpa sadar pandanganku terus tertuju padanya.


"Kamu kenapa?" Suara lembutnya menyadarkan aku dari memandangnya.


"Tidak apa-apa Mas," jawabku sembari menggigit kecil bibirku, malu karena ketahuan memandang wajahnya penuh keseriusan.


"Hehe, kamu tadi mandang aku, kenapa?"


"Heeh, nggak apa-apa Mas." Dengan cepat aku ingin melangkah jauh darinya, namun langkahku kalah cepat dari tangannya yang kini merangkul mesra pinggangku. Hingga membuatku terjatuh dalam pelukannya.


Ia menatap lekat wajahku. Menyunggingkan senyum manis untukku. Seketika jantungku berdebar kencang, rona merah di pipi tak mampu ku sembunyikan lagi.


"Bolehkan aku menciummu?" Senyum manisnya merekah tepat di hadapanku. Membuatku semakin terpesona dibuatnya.


"Hmmm." Aku menganggukkan kepala tanda menyetujui permintaannya.


Perlahan wajah tampan itu mendekat dan semakin mendekat. Sehingga aku bisa merasakan hembusan nafas wanginya.


Satu kecupan mesra mendarat sempurna pada keningku.


"Aku mencintaimu sayang," bisiknya lembut. Kemudian memelukku erat sembari mengelus kepalaku. Aku pun membalas pelukannya dengan mengeratkan kedua tanganku pada pinggangnya.


Meski hal ini bukan sesuatu yang baru untukku. Tapi tetap saja aku tak mampu meredam rasa malu dalam diriku. Bahkan apa yang dilakukan mas Hafizh lebih membuatku berdebar dibanding dulu bersama mantan suamiku.


Cukup lama kami berpelukan. Menyatukan hati kami yang cukup lama kosong tanpa cinta. Tenggelam dalam perasaan bahagia masing-masing. Dan menikmati kebersamaan sebagai pasangan yang sudah halal.


Mas Hafizh kemudian melonggarkan pelukannya padaku. Kembali ia mengecup keningku cukup lama.


"Ayo kita ke bawah, takutnya mbak Brenda dan lainnya terlalu lama menunggu."


Aku hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Dan mengikuti langkah kaki lelaki yang saat ini menggenggam erat tanganku


"Cie, ada yang pegangan tangan nih," goda Kirana adik mas Hafizh.


"Iya dong dek, kan sudah halal. Kamu kapan digandeng pasangan halalmu nih?" Balas mas Hafizh menggoda adik perempuannya itu. Namun tetap menggenggam erat tanganku.


"Haha, nantilah kak. Aku mau menyelesaikan studi magisterku dulu. Setelah itu, bolehlah aku cari pasangan hidup." Kirana mendekati mas Hafizh, kemudian merangkul lengannya.


"Tapi alangkah baiknya kamu menikah dulu dek, sambil melanjutkan studimu. Supaya ada yang jaga kamu disana." Mas Hafizh mengelus puncak kepala Kirana.


Terlihat jelas ia begitu menyayangi adik perempuannya. Membuatku semakin mengagumi lelaki yang telah berstatus sebagai suamiku ini.


"Hey udah ngobrolnya. Yuk berangkat, anak-anak sudah dari tadi menunggu di mobil tau," sahut mbak Brenda mendekati tempat aku, mas Hafizh dan juga Kirana berdiri.


"Hehe, siap Mbak," ucapku sambil melepaskan tanganku dari genggaman mas Hafizh dan beralih merangkul tangan mbak Brenda.


"Eh itu apa-apaan, main lepas-lepas ajah," sahut mas Hafizh merajuk, seperti anak kecil yang merajuk dari ibunya.


"Ih kakak, sabar dong, nanti sebentar malam kakak puas-puasin megang kakak ipar," celoteh Kirana berhasil membuat kami tertawa riang.


"Eh kamu anak kecil tau apa tentang sebentar malam," jawab mas Hafizh sambil mengacak-acak jilbab yang menutupi kepala Kirana.


"Hehe, iya juga yah kak."


Kami semua serentak tertawa melihat kepolosan Kirana. Gadis cantik yang saat ini sedang melanjutkan studi magisternya di bidang kedokteran di Universitas yang ada di negeri bunga sakura, Jepang.


***


Saat ini kami sudah duduk di dalam mobil yang melaju kencang menuju hotel tempat kami menginap. Mas Hafizh sesekali terdengar mendengus kesal, karena ulah Kirana. Dan aku hanya bisa tersenyum nakal melihat tingkahnya.


"Dek, kok duduknya harus di tengah-tengah sih. Kan di bangku depan kosong dek," cercah mas Hafizh pada Kirana yang sengaja mengerjainya dengan duduk di antara aku dan mas Hafizh.


"Ih kakak, aku juga pengen tau ngerasain duduk di samping kakak ipar. Aku mau lebih dekat dengan kakak ipar tau kak," jawab Kirana bahagia, karena berhasil membuat kakaknya kesal.


"Yah tapi jangan duduk di tengah juga dong dek, di samping sana kan boleh. Ayo tukaran tempat dengan kakak iparmu."


Mas Hafizh memberikan isyarat kepada pak Ujang, sopir pribadi mbak Brenda yang ada di depannya untuk berhenti sejenak.


Pak Ujang pun menuruti perintah mas Hafizh. Dengan memberhentikan mobil yang ia kendarai.

__ADS_1


"Iya iya, aku pindah." Kirana mulai setengah berdiri untuk bertukar tempat denganku. Aku sekali lagi hanya bisa tersenyum melihat tingkah suamiku yang terasa aneh bagiku.


Selama ini aku tidak pernah melihat tingkah kekanak-kanakan dari mas Hafizh. Ia selalu saja bersikap formal, dan terkesan cuek dengan seluruh karyawan perempuan yang bekerja di kliniknya, termasuk diriku.


"Gitu kan bagus." Ia menyunggingkan senyum kemenangan pada Kirana. Kemudian kembali menggenggam tanganku.


"Huh, Pamer!" Ucap Kirana kesal.


Mas Hafizh hanya tertawa lepas melihat ekspresi kesal Kirana. Ia kemudian melepas genggamannya dan mengangkat tangannya untuk menggapai kepala Kirana, seraya mengacak-acak kembali hijab yang dikenakan Kirana.


***


Akhirnya kami sampai juga di hotel yang sudah di booking oleh mbak Brenda. Hotel mewah yang dulu pernah menjadi tempat berlangsungnya acara reuni Akbar sekolahku.


Kugendong Zee untuk melepas rindu setelah seharian tidak berada di pelukanku. Dan Qilla juga diambil alih oleh mas Hafizh. Kami jalan beriringan, mbak Brenda memapah Syamil dan Syafiq yang sudah ia anggap anaknya sendiri. Sementara Fatih, berjalan di samping mas Hafizh sambil berpegangan pada baju Abi sambungnya itu.


Dengan perasaan bahagia kami melangkah masuk. Sungguh ini seperti acara liburan keluarga yang sejak dulu selalu aku idam-idamkan. Meskipun acaranya hanya menginap saja, tidak ada acara jalan-jalan lainnya.


Untuk saat ini aku dan mas Hafizh belum berencana untuk melakukan perjalanan bulan madu, sebab mas Hafizh masih sibuk dengan urusan kerjanya. Bulan ini ada beberapa ibu hamil yang sudah membuat jadwal dengan mas Hafizh untuk melahirkan secara Seksio Sesarea atau operasi Caesar.


Kemungkinan rencana bulan madu akan kami adakan setelah kelulusan Fatih dari Sekolah Dasar. Juga nenunggu mbak Brenda menyelesaikan pekerjaannya.


***


Setelah selesai makan malam bersama keluarga, kami semua kembali ke kamar hotel masing-masing. Sebelumnya aku mengantarkan anak-anak menuju kamar bersama mbak Brenda dan yang lainnya. Mbak Brenda hanya memesan dua kamar, yang satunya kamarku dan mas Hafizh, dan satunya lagi kamar mbak Brenda bersama anak-anak beserta Kirana mbok Darmi dan mbak Ani.


Aku susui dan kutidurkan terlebih dahulu anak kembarku sebelum berlalu pergi ke kamarku. Tak lupa aku menyetok ASI untuk minum mereka di tengah malam.


Kemudian kembali ke kamarku bersama mas Hafizh, yang sudah didekor sedemikian indah. Diranjangnya terdapat dua pasang angsa yang saling berciuman sehingga terlihat jelas seperti berbentuk cinta. Serta beberapa taburan bunga mawar merah yang menghiasi ranjang yang nantinya menjadi tempat aku dan mas Hafizh menghabiskan malam.


Aku masuk dan melangkah pelan menuju tempat duduk di depan meja rias. Sesekali aku mengedarkan pandanganku pada kamar mandi. Disana mas Hafizh sedang bersemayam untuk menyegarkan dirinya.


Sesaat kemudian mas Hafizh keluar hanya dengan berbalut handuk pada bagian pinggang, sedang dada bidangnya terpampang begitu jelas dihadapanku. Refleks, aku pun mengalihkan pandanganku ke tempat lain.


"Hehe, sayang, kau kenapa?" Ucapnya dan melangkah mendekatiku.


"Tidak sayang, hehe. Aku mau mandi dulu," jawabku sembari melangkah menuju kamar mandi, namun tak lupa untuk mengambil piyamaku yang berada di koper.


Kemudian bersiap melangkah melewatinya. Namun, tiba-tiba tanganku ditarik mas Hafizh Hingga posisiku menempel pada tubuhnya untuk kedua kalinya, dengan kedua tangan mas Hafizh yang kini sudah melingkari pinggangku.


"Sehabis mandi kita shalat Sunnah dulu yah sayang, setelah itu...." Mas Hafizh menghentikan kata-katanya sembari menelusuri setiap inci wajahku dengan jemarinya.


"Iya Mas, tapi lepasin dulu dong," ucapku sedikit menggeliat dari pelukannya.


Mas Hafizh perlahan melonggarkan pelukannya hingga aku benar-benar terlepas. Kemudian berlalu pergi ke kamar mandi.


Curahan air dari Shower mengguyur seluruh tubuhku. Membersihkan setiap inci tubuhku dari kotoran setelah seharian bermandikan keringat. Malam ini merupakan malam panjang untukku setelah sekian lama menjanda, sama halnya dengan mas Hafizh. Senyum terkembang begitu saja, mengingat hal yang akan terjadi malam ini.


Setelah selesai mandi, masih dalam kamar mandi aku mengeringkan tubuhku dengan jubah mandi yang sudah di siapkan pihak hotel. Menuju tempat keran air yang sedikit terpisah dari tempat mandi dan kloset, untuk menyucikan diri dengan berwudhu.


Ruangan kamar mandi ini didesain cukup besar. Ruang mandi disekat tersendiri dengan dinding kaca transparan, begitupun tempat buang hajatnya. Sedang di luarnya ada wastafel serta keran khusus untuk berwudhu, jadi cukup bersih untuk jadi tempat bersuci.


Kemudian aku mengganti pakaian dengan piyama berbahan satin berwarna merah muda, tak lupa jilbab juga kupakai.


***


Shalat Sunnah sudah kami tunaikan. Masih berbalut mukena aku duduk di pinggiran tempat tidur. Mas Hafizh juga masih dengan pakaian koko dan sarung yang melingkar pada pinggangnya.


Ia duduk tepat di sampingku, dan mengelus lembut kepalaku dan sejurus kemudian mencium keningku sambil melafalkan doa sebelum melakukan ibadah ranjang. Dengan khusyuknya ia berdoa, mengharapkan kebaikan akan ibadah kami malam ini.


"Bismillahirrahmanirrahim." Dengan menyebut namaNya, ia mulai melepas pelan mukena yang menutupi rambut panjangku. Aku hanya diam dengan jantung yang tak henti-hentinya berdegup. Bahkan semakin bertambah saat mukena terlepas dariku.


"Boleh?" Ucap mas Hafizh meminta ijinku.


Aku mengangguk lalu tersenyum. Setelah itu mas Hafizh kembali mengecup keningku dengan sangat lama. Kemudian turun mengecup pipiku. Kami cukup lama saling melepas rindu, sebelum suara dering ponsel mas Hafizh terdengar.


Mas Hafizh sedikit menghentikan aktivitasnya. Kemudian melirik kearah ponselnya.


Miranda, gadis itu menelpon suamiku. Entah ada apa lagi dengannya. Mas Hafizh memandangku lama, seperti hendak meminta ijinku untuk mengangkatnya. Dengan tatapan aku memberi kode bahwa mas Hafizh boleh mengangkatnya.


Mas Hafizh kemudian menerima panggilan Miranda dan menekan tombol speaker pada ponselnya. Membuatku bisa mendengar jelas setiap kata yang perempuan itu lontarkan.


📞📞📞

__ADS_1


[Jo, aku mohon datanglah padaku, sudah lama aku menunggumu] suara Miranda terdengar serak, seperti seorang yang baru saja menangis.


[Tinggalkan Rianti, dan datanglah padaku, menikahlah denganku sayang] perkataan Miranda membuatku sedikit kesal, ada apa dengannya sehingga berani sekali berkata seperti itu.


[Maaf Miranda, saya tidak bisa] balas lelakiku.


[Kalau kau tidak datang padaku, ma-maka lebih baik aku mati saja, huhu] teriak Miranda dengan tangis yang pecah.


[Aku mencintaimu Jonathan, sejak dulu aku mencintaimu]


[Tapi saya tidak memiliki rasa seperti itu padamu Mir, saya menganggapmu hanya sebagai sahabat tidak lebih]


[Kenapa Jo? Apa kurangku sehingga kau tidak bisa untuk mencintaiku]


[Kau tidak memiliki kekurangan Mir, hanya saja rasa saya hanya sebatas sahabat untukmu] ucap mas Hafizh sambil menggenggam tanganku.


[Dan harus aku kabari padamu, bahwa saat ini aku sedang bersama Rianti, istriku]


Aku masih terus mendengarkan perbincangan mereka via telepon.


[Apa? Istri? Arrrrrghhhhh] erang Miranda.


Panggilan tiba-tiba terputus begitu saja. Entah apa yang terjadi pada Miranda saat ini. Membuat hatiku sedikit gusar, takut jika dia melakukan tindakan bodoh yang dapat membuat dia merugi.


"Maaf sayang." Mas Hafizh memohon maaf padaku. Dan kembali mendaratkan bibir manisnya pada pipiku.


"Ada apa dengan kalian Mas? Kenapa Miranda seperti terobsesi sekali padamu?" Aku menatap lekat wajah suamiku. Mencari sesuatu yang mungkin dapat menjawab pertanyaannyanku.


"Percayalah padaku sayang. Tidak ada apa-apa antara kami." Ia setengah berbisik di telingaku. Sesaat kemudian mulai menciumi bagian leherku. Menelusuri setiap sudutnya dengan penuh semangat.


Aku hanya bisa pasrah dengan perlakuan mas Hafizh meski hati ini gundah gulana memikirkan hubungan mas Hafizh dengan Miranda.


Ia mulai menidurkan tubuhku tanpa melepaskan ciumannya yang kini telah berpindah tempat pada bibirku. Dengan lembut ia memagutnya. Sejenak aku melupakan tentang kejadian Miranda dan mulai menikmati setiap sentuhan lembut dari lelakiku.


Menikmati ibadah ranjang yang nanti bisa berbuah pahala untuk kedua pasangan yang sedang menunaikannya.


Mas Hafizh memposisikan diri tidur di sampingku. Menghentikan aktivitasnya dan kembali mengecup keningku.


"Sayang, aku mencintaimu." Kembali ia mengungkapkan cintanya padaku. Aku semakin meleleh dibuatnya.


"Aku juga mencintaimu sayang," aku balas perkataannya dengan menariknya kembali dalam pelukanku.


Cukup lama kami saling memadu kasih, saling berbalas kecupan namun belum sampai pada surga dunia yang sesungguhnya, saat tiba-tiba ponsel mas Hafizh berdering kembali. Kali ini bukan nama Miranda yang tertera pada layar panggilan, tapi nomor yang tidak tersimpan pada kontak ponsel mas Hafizh.


Ia tidak menghiraukannya dan kembali melanjutkan aksinya. Namun, lagi-lagi ponselnya berbunyi membuatnya terpaksa untuk mengangkatnya.


"Halo...." Mas Hafizh terdiam dengan wajah cukup serius, membuat aku semakin penasaran siapa yang saat ini sedang berbicara padanya.


"Ta-tapi aku tidak bisa Tante...." Jawab mas Hafizh pada suara diseberang sana.


Ia masih fokus mendengarkan setiap kata yang dilemparkan seseorang yang sedang berbicara dengannya melalui telepon. Sedikit aku bisa mendengar bahwa yang menelpon sedang tampak gusar dan panik.


Sorot mata mas Hafizh pun terlihat gamang. Entah apa yang dibicarakan oleh orang misterius itu hingga berhasil membuat mas Hafizh begitu resah.


Berkali-kali ia melempar pandang padaku, seperti sedang menunjukkan bahwa aku adalah orang yang membuatnya semakin bingung dengan keputusan yang harus ia ambil saat ini.


"Ba-baiklah Tante, saya akan kesana sekarang," jawab mas Hafizh sembari menutup teleponnya.


"Sayang ada apa?" Aku mencoba bertanya pada lelaki yang saat ini telah memeluk tubuhku.


"Maafkan aku sayang, aku harus pergi. Miranda sedang melakukan percobaan bunuh diri. Dan ia akan menghentikan aksinya kalau aku pergi menemuinya."


Kata-kata mas Hafizh berhasil membungkam mulutku. Entah bagaimana lagi aku harus bersikap, antara membiarkannya atau tetap egois untuk mempertahankannya untuk tetap berada disini bersamaku.


Namun, kekhawatiranku cukup besar untuk mengalahkan rasa egois yang telah siap untuk meledak.


"Tadi tante Mariah, ibunya Miranda. Ia mengatakan bahwa saat ini Miranda sedang mengurung dirinya di kamar setelah sebelumnya mengambil pisau dari dapur rumahnya."


Aku semakin khawatir akan keadaan Miranda. Sadar bahwa ini bukanlah waktu yang tepat untuk bersikap egois, akhirnya aku mengijinkan mas Hafizh untuk pergi menemui Miranda.


"Pergilah Mas. Selesaikan urusanmu dengannya. Aku mengijinkanmu. Namun ingatlah selalu, bahwa aku sangat percaya padamu." Kupandang wajah imamku ini dengan penuh pengharapan bahwa ia tidak akan pernah menyakitiku.


"Iya, sayang. Percayalah padaku." Ia memelukku dan menciumku sebelum beranjak pergi meninggalkanku.

__ADS_1


Kini hanya tangis yang menemani tidurku malam ini. Sang kekasih hati pergi dan meninggalkanku saat malam panjang itu baru akan di mulai. Sakit, tentu saja sakit. Namun apa boleh buat, ada nyawa yang harus diselamatkan oleh lelakiku.


Bersambung 😁😁


__ADS_2