Takdir Cinta Rianti

Takdir Cinta Rianti
37. Penyesalan Galih


__ADS_3

PoV Author


Bunyi klakson terdengar saling bersahutan di sekitar jalanan ibukota Jakarta. Para sopir merasa geram dengan ulah salah satu pengendara mobil mewah bermerk Mercedes Benz C-Class berwarna kuning kecoklatan. Pasalnya mobil itu melaju cukup kencang, menyalip dengan brutal setiap pengendara yang hendak berbelok.


Ada beberapa yang memilih berhenti dan turun dari mobil untuk sekedar mencaci maki pemilik mobil tersebut. Namun dengan cueknya pemilik mobil mewah itu tetap memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Orang itu adalah Galih, mantan suami Rianti. Ia terlihat sangat kesal, sebab mendapatkan kenyataan bahwa Rianti telah menjadi milik lelaki lain. Sialnya lelaki itu adalah mantan suami dari Amira. Perempuan yang dulu menjadi racun dalam rumah tangga Rianti serta menjadi istri sahnya saat ini.


Sesekali ia mendengus kasar. Wajahnya merah padam, menyiratkan bahwa ia sedang menahan amarah yang teramat besar. Tangannya mencengkram kemudi mobil dengan kerasnya.


"Arrrrrghhhhh," teriaknya sambil memukul-mukul setir mobil di depannya.


"Bodoh, bodoh, bodoh." Ia menghardik dirinya sendiri. Menyesali diri atas kebodohannya karena meninggalkan Rianti dulu, hanya demi sesosok perempuan yang hanya enak dipandang mata, namun tak lihai dalam mengurusi segala kebutuhan suaminya.


Mobil yang dikendarainya tiba-tiba oleng tanpa bisa dikendalikan. Beruntung saat ini ia sudah berada di jalanan yang agak sedikit sepi. Sehingga cukup aman untuk mobilnya yang semakin tidak normal pergerakannya. Hanya sesekali terlihat beberapa kendaraan beroda dua yang melewati jalan itu.


Galih memutuskan untuk menepikan mobilnya. Biar bagaimanapun ia tidak mau mati konyol dengan mobil kesayangannya.


"Ada apa lagi ini, arrgh," tuturnya dengan sangat geram.


Galih hendak melangkah keluar namun tiba-tiba sebuah sepeda motor melaju dengan kencangnya, melewati pintu mobil yang akan dibukanya. Dengan cepat, ia terpaksa menarik kembali pintu mobilnya, sampai kepalanya terbentur kemudi.


"Dasar bang**t."


Setelah pengendara itu berlalu Galih dengan cepat keluar mobil, melayangkan berbagai macam cacian pada pengendara sepeda motor tersebut. Sesekali ia mengumpat kesal.


Kekesalannya semakin bertambah tat kalah pandangannya tertuju pada ban mobil yang terlihat bocor.


"Sial!" Umpatnya penuh emosi. Ditendangnya ban mobil tersebut dengan sekuat tenaga.


"Benar-benar hari yang sial!" Ia menjambak rambutnya frustasi.


Galih mengambil ponselnya di dalam mobil dan sejurus kemudian ia menghubungi seseorang untuk mengurusi mobilnya yang bocor.


Sambil menunggu orang terpercayanya datang. Galih merebahkan diri pada tempat duduk mobil. Sejenak mengingat semua yang ia alami di rumah Rianti tadi


***


Flashback...


Matahari semakin meninggi, seiring dengan hawa panas yang terasa mulai membakar kulit. Beruntung saat ini Galih berada pada mobil mewahnya, sehingga tak cukup merasai bagaimana terik ini mampu membuat kulit merah padam jika terkena terpaan sinarnya.


Beberapa kali ia tersenyum simpul. Menatap penuh cinta pada salah satu foto yang berada di galeri handphone-nya. Foto seorang perempuan yang tengah duduk manis sambil berpose kalem di depan kamera jadul.


Perempuan itu ialah Rianti. Istri yang ia campakkan beberapa tahun silam. Sungguh tak ada kata yang mampu menjelaskan bagaimana rasa menyesalnya Galih saat ini.


"Sayang. Aku masih sangat mencintaimu. Dan akan aku pastikan, kau akan menjadi milikku lagi." Senyum lebar terpampang pada wajahnya.


Galih masih belum menyerah setelah sebelumnya mendapat penolakan dari Rianti. Bahkan sama sekali tak gentar saat Rianti mengatakan bahwa ia akan segera menikah.


Bagi Galih, itu hanyalah alasan Rianti semata, sebab rasa kecewa yang teramat besar padanya. Galih sangat yakin bahwa Rianti pun masih sama mencintainya.


Hari ini rencananya, Galih akan berkunjung lagi ke rumah Rianti. Sekali lagi ia begitu percaya diri bahwa Rianti kali ini pasti akan menerimanya.


Memang sudah watak Galih seperti itu. Selalu merasa dirinya akan terus memenangkan setiap misi yang akan ia lakukan.


Galih memacu sedang kendaraan roda empatnya. Menyetel audio mobil untuk sekedar mendengarkan beberapa lagu kenangan saat dirinya masih bersama Rianti dulu.


Janji suci, lagu romantis yang dibawakan oleh penyanyi terkenal Yovie and Nuno. Lagu ini menjadi favorit keduanya, sebab dulu Galih menyatakan cintanya pertama kali pada Rianti dengan menyanyikan lagu itu. Meski suaranya tak semerdu penyanyi aslinya. Namun Galih tetap bersyukur, karena saat itu Rianti menerima cintanya.


Senyum tipis-tipis mengembang dari kedua pipinya. Kenangan masa lalu bersama Rianti cukup membuatnya rindu. Tingkah manja Rianti, perhatiannya, kelembutannya, menjadi hal yang paling dirindukan Galih.


Jarak tempuh ke rumah Rianti semakin dekat. Galih merasa tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Rianti. Perempuan yang membuatnya tidak dapat hidup layak seperti biasanya. Sebab terkenang terus akan perlakuannya dulu. Galih diserang kerinduan teramat besar terhadap Rianti.


Mobilnya semakin memelan saat memasuki pekarangan rumah Rianti. Memperhatikan setiap sudut rumah yang terlihat cukup berantakan. Keningnya sedikit mengerut, sedikit tanda tanya muncul dalam benaknya. Karena sepengetahuannya, Rianti bukanlah tipe wanita yang senang jika melihat pekarangan rumah tidak terawat dan kotor. Bahkan saat hamil pun dia selalu rajin menyapu pekarangan rumah.


Namun segera Galih tepis semua pertanyaannya. Itu bukanlah hal yang penting lagi. Karena saat ini ia ingin mengajak rujuk Rianti untuk yang kedua kalinya.


Dengan gagahnya ia menuruni mobil. Berjalan pelan dengan terus memperhatikan keadaan sekitar. Rumah ini terlihat sepi, suara tawa anak-anak pun tidak terdengar indera pendengaran Galih.

__ADS_1


Sebuah bel kecil di samping pintu ditekannya berulang-ulang, namun sampai tiga kali tak ada sahutan sang empunya rumah. Galih beralih mengetuk pintu dengan cukup keras tapi tetap ramah.


"Sebentar." Terdengar suara teriakan lembut dari dalam rumah.


Seketika rona bahagia muncul dari raut wajah Galih. Suara itu masih sama, selalu lembut ketika menyapa. Galih seperti bernostalgia kembali dengan masa-masa dimana dia masih menjadi kepala keluarga di dalam rumah ini.


Cekrek...


Gagang pintu dibuka dari dalam. Galih masih membelakangi pintu, masih sibuk dengan ingatannya beberapa tahun yang lalu. Hingga dia tersadar bahwa saat ini Rianti sudah berdiri diambang pintu. Menatapnya dengan tatapan biasa saja.


"Mau apalagi kamu kesini Mas?" Tanya Rianti tanpa melihat Galih.


"Aku mau ketemu anak-anak Ri. Aku merindukan mereka." Galih mencoba mengakrabkan diri.


"Anak-anak lagi keluar."


"Kemana? Tolong jangan sembunyikan mereka Ri."


"Aku tidak menyembunyikan mereka Mas. Mereka lagi keluar sama mbak Brenda," jawab Rianti tegas.


"Baiklah. Aku percaya padamu."


"Baiklah," cecar Rianti, seraya mulai menutup kembali pintu rumahnya.


Dengan cepat tangan Galih menghalaunya. "Tunggu dulu Ri. Aku ingin bicara sesuatu padamu."


"Apa lagi yang mau dibicarakan?"


"Aku mau kita rujuk kembali Ri. Baru aku sadari bahwa aku sangat mencintaimu." Galih kini memohon, tangannya hampir saja menggapai tangan Rianti. Namun dengan cepat Rianti menepisnya kasar.


"Sudah terlam....." Galih segera merubah posisinya dengan berlutut dihadapan Rianti. Tanpa mau mendengarkan penjelasan Rianti.


"Aku mohon Ri. Beri aku kesempatan kedua. Aku janji tidak akan mengecewakanmu lagi," pintanya pada Rianti. Kepalanya menunduk, netranya sedikit basah.


"Hidup berbahagialah dengan pilihanmu Mas. Tidak usah lagi menggangguku. Semuanya sudah terlambat. Aku sudah....."


"Sayang!"


Galih semakin penasaran, siapakah lelaki yang berada di dalam rumah mantan istrinya ini. Ditambah suasana yang sepi membuat pikiran buruknya berseliweran dalam kepala.


Derit langkah kaki semakin lama semakin mendekat. Tanpa melihat siapa tamu yang sedang berkunjung, Hafizh segera memeluk mesra Rianti. Menciumi pipi istrinya dengan liar. Ia bahkan belum sadar bahwa saat ini Galih tengah menahan amarahnya yang semakin membuncah saat melihat adegan dewasa itu dengan mata kepalanya sendiri. Kepalan tangannya sebagai penanda bahwa ia benar-benar sedang menahan emosi teramat besar.


"Hey, apa yang kau lakukan pada Rianti hah? Apa kalian sedang berzina?" Teriak Galih murka.


Hafizh menoleh kearah Galih. Tersenyum simpul tanpa melepaskan pelukannya dari Rianti. Bahkan ia semakin mengeratkannya.


"Lepaskan pelukanmu dari Rianti!"


Hafizh tertawa terbahak-bahak. Menertawakan kebodohan Galih yang masih belum sadar bahwa ia dan Rianti sudah sah menjadi sepasang suami istri.


"Siapa kamu, sampai berani melarangku menciumi istriku sendiri, hah?" Sahut Hafizh santai. Kepalanya sudah menyender pada bahu Rianti.


"Apa? istrimu?" Tanya Galih kaget.


"Iya istriku," jawab Hafizh lantang namun tetap berwibawa.


Seketika Galih terdiam karena jawaban telak dari Hafizh. Saat ini ia hanya mampu menatap perlakuan Hafizh yang terus menjalarkan bibir manisnya pada wajah cantik Rianti. Bahkan dengan beraninya mas Hafizh ******* bibir Rianti di depan mantan suaminya itu.


"Ayo sayang, kita lanjutkan ibadah kita yang tertunda tadi," ucapnya sembari mengangkat tubuh Rianti dan tidak mempedulikan keberadaan Galih. Rianti pun sama, tidak mempedulikan Galih yang saat ini sedang berada di ujung tombak penyesalannya.


Di depan Galih, Hafidz menggendong Rianti dan membawanya kembali ke dalam rumah. Mendorong pintu dengan kakinya cukup kuat, hingga pintu tertutup dengan kerasnya.


"Arrrrrghhhhh." Galih mengerang dan menonjok keras pintu rumah. Ia merasa tidak terima jika Rianti berada dalam pelukan laki-laki lain.


Sementara di dalam rumah, kedua insan yang sedang dimabuk birahi, tak mempedulikan suasana panas yang tercipta di luar rumah. Mereka hanya terus larut dalam pergumulan, saling berbalas kata cinta dalam desahan nafas keduanya.


Galih mengerang frustasi. Memukul-mukul mobilnya dengan kedua tangannya. Melirik sejenak, kearah rumah. Sedikit membayangkan apa yang sedang dilakukan Rianti dengan Hafizh di dalam rumah.


***

__ADS_1


"Segera urus mobil sialan ini. Aku mau pulang dulu, sampaikan pada klien yang ingin bekerjasama dengan perusahaan kita, bahwa hari ini rapat di cancel," jelas Galih pada karyawan pria yang bekerja di perusahaannya.


Seorang pria sedikit muda darinya yang ditelepon Galih sewaktu ban mobilnya bocor.


"Tapi Pak...."


"Sudah, kerjakan saja!" Seloroh Galih mengintimidasi.


"Baik Pak!" Jawab karyawan tersebut pasrah.


Galih segera menaiki taksi online yang dipesannya tadi sebelum karyawannya datang. Duduk dengan perasaan masih sedikit emosi. Ia merogoh ponsel pintarnya, mengetik sebuah pesan untuk salah satu mahasiswanya, mengatakan bahwa perkuliahannya ditunda sampai besok.


Galih bukan lagi dosen tetap pada kampus yang memberikan beasiswa padanya. Ia tinggallah dosen lepas yang bisa seenaknya sendiri menentukan jam perkuliahan. Sebab ia memilih untuk fokus pada bisnisnya yang semakin sukses di ibukota Jakarta.


Mobil yang ditumpangi Galih memasuki kawasan rumah-rumah elit. Sebuah kawasan yang banyak ditempati oleh para pengusaha-pengusaha sukses.


Seorang berpakaian satpam mendekati mobilnya. Memberi hormat saat Galih membukakan kaca jendela mobil.


"Selamat siang pak Galih," sapa sang satpam sopan.


Galih menggubrisnya dengan sedikit senyum. Saat ini hatinya sedang buruk, jadi tak punya waktu untuk sekedar saling menyapa.


Sebuah kartu abu-abu diberikannya pada satpam. Dengan lihai pak satpam memindai barcode yang terdapat di kartu.


Palang pintu terbuka otomatis, seiring dengan bunyi klik yang berasal dari mesin pemindainya.


Tanpa mengucap kata. Galih menutup jendela mobil. Setelah sebelumnya ia mengambil kartu identitas kepemilikan rumahnya di kawasan ini pada satpam penjaga gerbang.


Supir taksi online kembali memacu mobilnya. Kali ini dengan kecepatan pelan, sebab Galih memberi kode bahwa rumahnya hanya tinggal beberapa meter saja.


Semakin lama semakin pelan hingga supir menginjak rem tepat di depan gerbang rumah besar dan mewah.


"Bunyikan klaksonnya Bang," titah Galih pada abang supir.


Abang supir pun membunyikan klakson beberapa kali. Sampai pintu gerbang dibuka oleh seorang wanita paruh baya yang merupakan pembantu rumah tangga di rumahnya Galih.


Galih segera beranjak turun dari mobil. Memberikan bayaran pada abang supir dengan cash. Kemudian berlalu masuk ke dalam rumahnya.


Rasa kesal masih menyelimuti hatinya. Terlebih saat ia masuk ke dalam rumah. Mendapati Amira hanya fokus bermain dengan handphone baru yang ia beli beberapa hari lalu. Tanpa mempedulikan suaminya yang baru pulang dari bekerja.


Hal inilah yang semakin membuat Galih rindu akan sosok Rianti. Perempuan solehah yang dulu selalu menungguinya pulang dari bekerja hingga larut malam.


"Arrrrghh," erang Galih sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan kasar.


"Ada apa sih Mas? Baru pulang kok sudah marah-marah," ketus Amira kesal melihat tingkah Galih.


"Aku haus! Ambilkan aku minum!" Suruh Galih pada Amira.


"Ambil saja sendiri Mas. Atau kamu suruh mbok Nana saja ah. Aku sibuk!" Amira tidak mengindahkan perintah Galih. Membuat kegeramannya semakin membuncah.


Ditendangnya meja yang berada di depannya dengan keras hingga tergeser cukup jauh dari tempatnya duduk.


"Kamu itu istriku. Sudah kewajibanmu melayaniku. Paham kamu?" Teriak Galih penuh emosi.


"Hey, aku ini istrimu bukan pembantumu. Kewajibanku hanya melayanimu di atas ranjang. Sudah itu saja! Jika kau ingin makan atau yang lainnya, sana minta mbok Nana!" Gertak Amira cukup keras.


Galih semakin naik pitam. Amarahnya benar-benar tak bisa ditahan lagi. Seketika badan kekarnya maju mendekati Amira yang juga membusungkan dada menantangnya.


Tangan kokohnya tersangkat. Siap menerjang pipi halus milik istrinya sendiri. Namun terhenti, saat kewarasannya kembali. Begitu pengecutnya dia kalau sampai memukul seorang perempuan.


"Apa? Kau mau menamparku? Silahkan tampar," tantang Amira dengan berani.


Galih mendengus kasar sambil menurunkan kembali tangannya.


"Aku menyesal menikah sama kamu!" Ucapnya menunjuk kearah Amira.


Galih membuang nafasnya kasar. Kemudian berjalan menuju kamarnya. Menjatuhkan diri dalam kasur empuknya.


"Huuft. Aku benar-benar menyesal Rianti!"

__ADS_1


Bersambung 😁😁


__ADS_2