
Ayam jago milik tetanggaku sudah bernyanyi riang mengawali pagi hari ini. Tanaman masih terlihat segar dengan banyaknya embun yang membahasi setiap daun hijaunya. Juga mentari terlihat masih malu-malu menampakkan bentuknya secara utuh.
Pagi ini aku sibukkan diri untuk menyirami beberapa tanaman hias yang tertanam indah di pot-pot yang baru saja kubeli. Merawat bunga-bunga hias memang sudah menjadi hobiku, karena bisa memperindah halaman rumah.
"Selamat pagi dek Rianti," sapa pak Dayat, tetangga depan rumahku yang terkenal genit.
"Pagi Pak," jawabku dengan senyum tipis. Takut ia akan berulah lagi, segera aku lanjutkan pekerjaanku.
Pak Dayat ini suaminya Bu Mila. Sangat cocok bukan, yang satunya tukang gosip dan yang satunya genit minta ampun.
Terkadang aku jengkel juga jika hampir setiap pagi, kalau aku hendak menyirami tanaman di halaman rumah, pak Dayat selalu ikut nimbrung di depan rumahnya sembari mengajakku mengobrol.
Nggak apa-apa kalau obrolannya wajar, nah ini kadang suka kelewat batas.
"Dek Rianti, rajin amat," tegurnya lagi.
"Hehehe," aku hanya tertawa kecil sambil terus melanjutkan pekerjaanku tanpa melihat kearah lelaki hidung belang di seberang jalan itu.
"Tambah cantik aja dek Rianti ini yah," sahutnya dengan wajah mesumnya.
Geli rasanya mendengar perkataan pak Dayat. Ingin sekali aku panjangkan selang dan menyiraminya dengan air, supaya segera sadar. Barangkali ia sedang bermimpi dan mengigau sekarang.
"Dek Rianti udah punya calon suami belum?"
"Udah punya Pak," jawabku mantap. Berharap jawaban itu mampu menutup mulut centil pak Dayat.
"Oh yah? sayang udah punya, kalau belum sih, bapak mau....."
"Mau apa, Haah?"
Perkataan pak Dayat terhenti saat Bu Mila tiba-tiba berteriak dari belakangnya. Aku yang saat itu tidak memperhatikan pak Dayat, ikut terkejut dengan kedatangan Bu Mila.
"Ehh Mama. Nggak apa-apa kok mah." Wajah pak Dayat mulai khawatir, ia menggaruk pelan pelipisnya.
"Dasar aki-aki, udah punya cucu juga masih aja genit." Bu Mila menjewer telinga pak Dayat, membuat pak Dayat meringis kesakitan. Sekilas Bu Mila menatapku dengan tatapan kurang bersahabat dan kemudian berlalu masuk ke rumahnya bersama pak Dayat.
Tidak aku hiraukan lagi pertengkaran kedua insan tersebut. Aku lanjutkan untuk menyirami setiap tanaman yang tertata rapi di halaman rumahku.
💞💞💞
Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00. Semua pekerjaan sudah selesai, makanan untuk sarapan pun sudah tersedia rapi di atas meja.
Hari ini Fatih libur, karena semua guru-guru di sekolah harus mengikuti kegiatan seminar khusus para guru yang bekerja di jaringan sekolahnya.
Sementara aku, hari ini mengambil shift sore untuk bertukaran dengan Maya, salah satu karyawan yang menjaga apotik pada sore hari. Ia sengaja bertukaran shift denganku, karena sore hari ia harus menghadiri pernikahan kakak laki-lakinya di luar daerah.
Semua personil sudah berkumpul rapi di depan meja makan. Bersiap untuk memberi makan para cacing baik di dalam perut mereka. Canda tawa selalu mengiringi sarapan pagi kami.
"Ayo, ayo makan dulu. Nanti setelah makan baru main lagi," sahutku pada ketiga anakku yang kini sedang bercanda riang.
"Siap ummi!" Serentak ketiga putraku menjawabnya.
Mereka sudah duduk manis kembali di tempat duduknya. Segera saja aku menyendokkan nasi goreng kecap plus telur mata sapi kesukaan mereka. Dengan lahap Fatih, Syamil dan Syafiq menyantapnya.
__ADS_1
Kemudian aku beralih pada si kembar yang sedang duduk pada bangku bayi mereka. Zee dan Qila sudah mulai belajar untuk makan sendiri walaupun masih sangat berantakan. MPASI mereka hari ini yaitu nasi, telur puyuh, wortel, tahu dan sedikit daging ayam yang aku blender halus, agar cepat di telan oleh si kembar. Mengingat mereka baru memiliki dua gigi di bagian atas.
Sesekali aku mengecek gawaiku, untuk sekedar melihat apakah ada pesan dari mas Hafizh. Hari ini ia pulang. Jam keberangkatannya tepat pukul 06.15 dan sekarang sudah pukul 09.00 seharusnya ia sudah sampai sedari tadi, karena perjalanannya hanya memakan waktu satu setengah jam saja.
Namun sampai jam begini mas Hafizh belum juga memberi kabar. Biasanya segala kegiatannya selama di luar daerah selalu ia beritahu padaku melalui sebuah foto. Tapi kenapa saat ini ia tidak memberi kabar?
[Mas lagi dimana?] Dengan berani aku mengirim pesan lebih dulu kepadanya. Khawatir terjadi apa-apa dengannya selama dalam perjalanan.
Pesan belum terkirim. Hanya ada satu centang yang tertera di layar chat. Entah kenapa tiba-tiba perasaanku semakin tidak enak. Takut terjadi apa-apa padanya.
Tidak puas juga, segera kuhubungi nomornya untuk bertanya keberadaannya. Namun ternyata tidak aktif juga. Hatiku semakin risau, pikiran buruk mulai bersarang di kepala.
[Mas baik-baik saja kan] walaupun tidak terkirim, kucoba untuk terus mengiriminya pesan.
Aku masih terus menghubungi nomornya. Berharap tiba-tiba tersambung. Namun nihil sampai setengah jam aku hubungi, nomornya tak jua aktif.
Suara deru mobil tiba-tiba terdengar masuk di dalam halaman rumahku. Setengah berlari aku menuju ke depan untuk melihat siapa gerangan yang datang. Harapanku itu adalah mas Hafizh. Karena memang kebiasaannya jika pulang dari bepergian ke luar daerah, selalu mampir dulu melihat anak-anak sebelum ia pulang ke rumahnya.
Kubuka pelan pintu utama dan keluar dengan penuh pengharapan.
Rona wajahku berubah. Harapan tidak sesuai kenyataan, itu bukan mas Hafizh melainkan seorang lelaki yang ku tampar semalam. Ia mas Galih. Senyum manis seketika pudar begitu melihatnya.
"Ummi, ummi, itu om Hafizh yah." Terdengar suara teriakan anak-anak dari dalam rumah. Beriringan dengan langkah kaki anak kecil berlarian menuju kearahku.
Dalam hitungan detik, anak-anak sudah ada di tempatku berdiri. Juga Mbak Ani dan si kembar. Semuanya terdiam memandangi mas Galih. Fatih sampai mengepalkan tangannya tanda menahan amarah.
"Hai Nak, kalian tidak rindu Abi?" Bahkan dengan santainya ia menyapa anak-anak, seperti tidak pernah melakukan kesalahan.
Mas Galih berjalan santai kearah kami. Fatih mundur dan berlindung di belakang diikuti Syamil dan Syafiq.
Mas Galih tetap santai mendengar teriakkan Fatih.
"Fatih sayang, ini Abi nak, Abi pulang." Ia mulai berjongkok dan mengangkat tangannya. Memberi isyarat agar Fatih mendekat.
Fatih tidak juga mendekat. Ia masih bergeming (diam) di tempatnya. Air mata mulai keluar dari netranya.
"Mau apa lagi kamu Mas?" Cercahku.
"Aku hanya ingin bertemu anak-anak Ri," jawabnya sambil bangkit dari jongkoknya.
Pandangannya kini tertuju pada si kembar yang sedang di peluk Mbak Ani.
"Ini anak kita Ri?" Berjalan pelan mendekati mbak Ani.
Aku sangat tau ia begitu senang melihat Zee dan Qila. Sebab dari dulu ia berharap memiliki anak perempuan.
"Tidak! Mereka hanya anakku!" Jawabku tegas.
"Pergi Mas. Kau tidak berhak lagi atasku dan anak-anak!" Ucapku lirih.
"Kau jangan lupa Ri, sampai kapanpun aku tetap menjadi Bapaknya anak-anak!"
"Bapak macam yang tega meninggalkan anak-anaknya."
__ADS_1
"Seharusnya kau malu Mas, anak-anak bahkan tidak ada yang merindukanmu."
"Aku minta maaf Ri. Tolong berikan aku kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahanku," ucapnya.
Mas Galih mulai memohon. Guratan penyesalan terpampang pada wajahnya.
"Aku menyesal Ri telah meninggalkanmu dan anak-anak."
Aku tidak menggubris setiap perkataannya. Membiarkan ia dengan semua rasanya. Aku tidak peduli, dengan apapun yang akan ia lakukan demi kembali pada kami. Sudah cukup penghianatannya dua tahun yang lalu menjadi bukti bahwa ia bukan laki-laki yang baik untukku dan anak-anak.
Masih teringat jelas semua caci makinya untukku.
[Kau tidak lagi menarik Rianti. Kusam gendut jelek dll] yah aku masih sangat ingat.
"Udahlah Mas. Aku tidak secantik Amira. Bukankah dulu kau bilang aku tidak lagi menarik untukmu?" Seringaiku licik.
"Aku salah Ri. Kamu tetap yang terbaik." Kembali ia memperlihatkan wajah mengibanya.
Belum sempat aku menjawab perkataan mas Galih. Sebuah taksi melaju memasuki pekarangan rumahku. Mas Hafizh, lelaki itu turun dari dalam taksi dengan sebuah tas kresek berisi banyak mainan. Senyum manis ia lemparkan padaku, berhasil membuatku bersikap malu-malu.
"Om Afis," anak-anak berlarian menuju kepadanya. Memeluknya bahkan minta digendong olehnya.
Kembali aku menatap mas Galih. Ia hanya terperangah tak percaya dengan apa yang terjadi di depannya. Tangannya terkepal, wajahnya pias seketika.
"Kau lihat Mas, anak-anak sudah menemukan penggantimu." Kembali aku tersenyum.
"Jadi jangan terlalu percaya diri, Jika aku masih berharap padamu apalagi sampai masih mencintaimu."
"Kamu salah Mas. Mudah saja bagiku untuk melupakan segala sakit yang kau torehkan padaku dulu."
Mas Galih menatapku penuh amarah. Tidak terima dengan apa yang menimpanya hari ini. Sementara mas Hafizh berjalan kearah kami dengan menggendong Syafiq dan memapah Fatih dan Syamil.
"Hai Galih, apa kabarmu?" Mas Hafizh bertanya pada mas Galih.
Mas Galih menatap tajam mas Hafizh dengan tangan terkepal. Kemudian kembali menatapku. Dan segera beranjak pergi ke mobilnya, sejurus kemudian ia tancap gas meninggalkan rumahku.
Syukurlah ia telah pergi. Setidaknya suasana di rumah bisa kembali kondusif seperti sedia kala.
"Abang, ajak adik-adik ke dalam yah, sekalian bawa mainannya. Om Afis mau bicara sebentar dengan ummi. Bolehkan?" Perintah mas Hafizh kepada Fatih.
"Ah siap Om," jawab Fatih dengan tawa bahagia.
Fatih kemudian mengajak adik-adiknya masuk ke rumah. Disusul mbak Ani dan si kembar. Tersisa aku dan mas Hafizh di teras rumah, dengan jarak satu meter tanpa sekat.
"Hei calon istri, apa kabarmu? Kok nggak pernah balas pesanku?" Ucapnya menatapku.
"Masih calon juga, ngapain balas pesan. Bukan muhrim!" Balasku tak kalah centil.
"Hahaha. Tenang, besok kita menikah. Bisa?" Senyum manisnya menghiasi wajahnya.
"Terserah situ. Lebih cepat lebih baik." Jawabku menunduk.
"Ahhh, baiklah!"
__ADS_1
Kami pun saling pandang dan tertawa bersamaan.
Bersambung 😁😁