Takdir Cinta Rianti

Takdir Cinta Rianti
7. Ketukan Palu Sidang


__ADS_3

KETUKAN PALU PENGADILAN


Tepat tiga bulan yang lalu aku meninggalkan rumah, meninggalkan segala kenangan manis bersama mas Galih. Aku pergi tanpa jejak sama sekali. Dan mas Galih, jangan ditanya lagi, dia tak pernah bertanya kabarku dan anak-anak sama sekali. Ia bahkan tak pernah mencari keberadaanku kami. Ia telah terhipnotis dengan kecantikan Amira, istri barunya.


Sementara waktu, aku menumpang hidup di rumahnya Mbak Brenda. Segala kebutuhan hidupku dan anak-anak ditanggung olehnya. Aku pernah menolak dan ingin segera mencari kontrakan, namun Mbak Brenda tak mengindahkan perkataanku.


[Untuk apa hartaku yang telah menggunung ini Rianti, aku tak punya anak, semua adik-adikku sudah memiliki kehidupannya sendiri-sendiri, semua keinginan hidupku sudah terpenuhi. Ijinkan aku membantumu Rianti. Terlebih Fatih yang masih duduk di bangku SD, apa kau tega melihat ia putus sekolah?] Ucap Mbak Brenda kala itu.


"Biarkan aku membantu sampai anakmu lahir Rianti, setelah itu kau boleh mengambil keputusan yang menurutmu baik."


Aku hanya terdiam seribu bahasa mendengar perkataan Mbak Brenda kala itu, mau tak mau untuk sementara waktu aku harus menumpang hidup di rumahnya Mbak Brenda.


Tak ada sama sekali uang yang kubawa dari rumah. Beruntung ada sedikit tabungan Fatih yang tersimpan di sekolahnya. Yah, Fatih setiap harinya tak bawa jajan ke sekolah, ia hanya membawa bekal dan uang tabungan sebesar dua puluh ribu.


Ini bukan karena aku pelit atau apa, hanya saja di sekolah Fatih memang berlaku aturan seperti itu. Fatih mulai menabung dari sejak TK, kalau diperkirakan mungkin tabungannya sudah puluhan juta. Semoga tabungan itu cukup untuk membayar uang SPP Fatih setiap bulannya.


Sementara untuk makan kami ditanggung sepenuhnya oleh Mbak Brenda. Abi-nya anak-anak tak pernah mengirim nafkah untuk ketiga putranya. Bahkan tak pernah sekalipun ia membalas semua chat yang kukirimkan padanya perihal uang nafkah untuk anak-anak.


Chat terakhir darinya, hanya mengatakan kalau ia akan mengurus segala urusan perceraian kita setelah anak dalam kandunganku lahir.


Fyyuuh,


Perih sekali rasanya. Tak enak hati kalau harus terus menumpang hidup pada Mbak Brenda, walaupun ia melakukannya dengan ikhlas.


Setiap hari aku selalu stalking story WA milik mas Galih. Banyak foto-foto dan video kebersamaannya dengan Amira berseliweran di situ, tampaknya ia memanjakan istri barunya dengan harta yang sebagian adalah hak-ku. Ia begitu royal, selalu membelikan barang-barang mewah yang bermerk kepada Amira.


Ada luka yang pedih di hati ini. Namun kuanggap mas Galih adalah bagian dari sedekahku untuk Amira. Bukankah jika kita bersedekah dengan sebaik-baiknya sedekah maka akan dibalas sepuluh kali lipat baiknya dari apa yang kita sedekahkan? Aku percaya Allah itu maha adil. Segala ujian sudah Ia ukur terlebih dahulu sebelum Ia jatuhkan kepada hamba pilihanNya.


💔💔💔


"Ri, Rianti?" Panggil Mbak Brenda dari luar kamar.


"Yah mbak?" Jawabku sambil membuka pintu kamar.


"Siap-siap yah, hari ini kita jalan-jalan, sekalian belanja buat kebutuhan dede bayi," ucap Mbak Brenda sambil menunduk gemes kearah perutku.


"Tapi Mbak, aku...."


"Ahh, sudahlah Rianti, Mbak tau apa yang hendak kau katakan, masalah biaya lagi kan? Rianti, aku ini kakakmu, jadi tugasku adalah membantumu," tukas Mbak Brenda.


"Ayo cepat dek siap-siap, jangan lupa panggil ponakan Mbak yang lucu-lucu itu," sambungnya sambil berlenggang pergi ke kamarnya.


Allah memang maha adil, tak Ia biarkan aku menanggung beban kesedihan sendiri.

__ADS_1


Tak berlama-lama aku pun langsung bersiap-siap bersama anak-anak. Setelah dirasa siap semua, aku dan anak-anak segera keluar untuk menemui Mbak Brenda yang sedang menunggu kami di halaman rumah.


"Om afiiiiss." Teriak putra keduaku dengan langkah berlari menuju ke lelaki bertubuh tinggi yang sedang berbicara dengan Mbak Brenda dan disusul oleh kedua anakku Fatih dan Syafiq.


Tampak lelaki itu begitu bahagia menyambut ketiga anakku dalam pelukannya.


Dokter Hafizh, lelaki tampan yang berperangai lembut. Ia seorang duda tanpa anak. Entah kenapa ia duda, aku tak pernah bertanya lebih jauh soal itu padanya.


Semenjak aku memutuskan tinggal di rumah Mbak Brenda, ia dan anak-anak menjadi sangat akrab. Ia begitu terlihat menyayangi anak-anak. Segala keinginan anak-anak ia penuhi, dari keinginan main kuda-kudaan sampai main perang-perangan ia lakukan tanpa beban. Itulah sebabnya kenapa anak-anak begitu menyukainya.


Karena kedekatan ini, ia menjadi lebih sering berkunjung ke rumah Mbak Brenda. Aku biarkan anak-anak bersamanya, mungkin anak-anak rindu sosok Abi dalam hidup mereka.


"Dokter, kapan datang?" Tanyaku pada dokter Hafizh.


"Baru beberapa menit yang lalu Ri," jawabnya sambil melempar senyum padaku.


"Oh yah Ri, kalau di luar klinik nggak usahlah dipanggil dokter, panggil mas Hafizh atau Hafizh saja yah," lanjutnya.


"Baiklah dok.. eh mas Hafizh," ucapku dengan sedikit canggung.


💔💔💔


Hari berganti hari, minggu berganti Minggu dan bulan berganti bulan. Kedua anak kembarku sudah berusia empat bulan sekarang. Mereka terlahir sehat dengan BB normal melalui proses SC. Syaqila Azzahra dan Syahzeena Arkarna, nama yang kuberikan untuk kedua bidadari hatiku. Mereka kembar tak identik, namun sama-sama cantik dan menawan.


Seminggu setelah kelahiran mereka, sang Abi bukannya bertanya keadaan kedua putrinya, tapi malah mengirimkan sebuah amplop cokelat berisi surat gugatan perceraian dari Pengadilan Agama. Ia bahkan tak tau jenis kelamin anaknya, pun perihal kembar ia tak tau. Aku tak pernah bilang karena ia tidak pernah bertanya. Bagiku tidak ada gunanya juga, toh ia takkan pernah luluh.


💔💔💔


Tok... Tok... Tok


Palu sidang sudah diketuk, pertanda berakhirnya hubungan antara aku dan mas Galih. Kini aku benar-benar telah berstatus janda. Rasa sedih seketika menyeruak di dalam kalbu.


Bahteraku benar-benar telah tenggelam, sang kapten memilih melompat dan pindah ke dalam bahtera baru tanpa menengok kearahku lagi. Kini aku terombang-ambing dalam lautan asa tanpa pegangan, berusaha berenang dengan sisa tenaga yang ada.


Tak mampu kutahan bulir bening yang sedari tadi menggenang di pelupuk mata, Ia jatuh tanpa harus menunggu komando. Sementara, di ujung sana nampak mas Galih tertawa lepas bersama kawannya, ia terlihat begitu bahagia meskipun saat ini ia tak didampingi oleh istri barunya.


Hidup harus terus berjalan. Bahagia tidaknya diriku tergantung pada diriku sendiri. Aku harus kuat, demi kelangsungan hidup kelima buah hatiku.


💔💔💔


Proses sidang telah selesai. Kulangkahkan kaki menuju tempat parkir mobil bersama Mbak Brenda dan mas Hafizh. Sesampainya di tempat parkir, kulihat mas Galih sedang berpelukan mesra dengan Amira yang baru saja keluar dari dalam mobil. Pemandangan ini membuat hati semakin pedih, kulirik Mbak Brenda yang nampak menahan amarah dengan tangan terkepal dan di sampingnya mas Hafizh menggenggam kuat tangan kakaknya itu.


"Miaaaa," teriak Mbak Brenda dengan lantang.

__ADS_1


Aku melihat kearah yang sama dengan Mbak Brenda, di sana seorang perempuan yang tengah dipeluk mesra oleh suaminya ternganga dengan mata melihat tepat kearah kami. Perempuan itu Amira.


Mbak Brenda melangkahkan kaki menuju sepasang insan yang tengah berbahagia itu. Aku dan mas Hafizh serentak mengikuti kemana perginya Mbak Brenda.


Ada guratan takut di wajah Amira. Entahlah aku tak mengerti dengan semua ini, aku hanya terus mengikuti Mbak Brenda. Sementara mas Hafizh tengah berusaha membujuk kakaknya itu untuk segera pulang saja, tapi Mbak Brenda tak mendengarkan perkataan mas Hafizh.


Dengan langkah cepat Mbak Brenda menghampiri Amira. Semakin dekat dan semakin dekat. Hingga....


Plaaaak....


Satu tamparan mendarat sempurna di pipi halus Amira. Aku terkaget begitu juga mas Galih. Sedang Amira hanya menangis kecil di samping mas Galih.


"Dasar perempuan ****** kau yah, kau tinggalkan suamimu demi suami orang lain," ucap Mbak Brenda dengan wajah yang memerah dan tangan yang siap menerjang Amira.


Melihat hal itu aku hanya bisa menutup mulutku yang sedikit menganga, sedang mas Hafizh memilih untuk menunduk saja.


"Setelah adikku mengorbankan segalanya untukmu, bahkan ia rela mengikuti keyakinanmu. Namun apa yang kau balas padanya, hanya sebuah luka yang sengaja kau hujamkan dalam hatinya." Mbak Brenda melanjutkan bicaranya dengan tangan yang hampir terayun kearah Amira. Beruntung mas Hafizh langsung menangkap tangan Mbak Brenda.


[Apa ini? Adik? Adik yang mana? Setauku, adik Mbak Brenda hanya ada dua orang, mas Hafizh dan dek Kirana. Apakah yang di maksud Mbak Brenda adalah....] Aku berbisik dalam hati yang penuh tanda tanya sembari melayangkan pandangan pada mas Hafizh yang sedari tadi diam membisu.


"Dasar perempuan matre, pelakor, perempuan murahan kau Amira," teriak Mbak Brenda dengan nada yang semakin meninggi.


Aku tak mampu mengucap kata. Hanya mampu berbicara dalam batin.


"Cukup, cukup. Sekali lagi kau sakiti istriku, aku takkan segan-segan melaporkanmu ke polisi." Kali ini mas Galih membuka suaranya dengan nada tak kalah tinggi dari Mbak Brenda.


"Kau pikir aku takut hah? Asal kau tahu Galih istrimu ini perempuan matre yang hanya mengejar harta laki-laki kaya dan bodoh sepertimu," ucap Mbak Brenda dengan pandangan tajam kearah mas Galih.


"Haaalaaah, kau pikir aku percaya. Amira adalah istri baik, adikmu saja yang tak mampu membahagiakan dia, sehingga dia lebih memilih kabur ke pelukan lelaki lain," cecar mas Galih.


"Kau tunggu saja Galih, kita lihat saja nanti seberapa setianya dia mendampingimu jika kelak kau jatuh miskin!" Kali ini Mbak Brenda menunjuk mas Galih.


Belum juga Mbak Brenda melanjutkan kata-kata, tangan halusnya segera ditarik paksa oleh mas Hafizh untuk segera pergi dari tempat itu. Aku mengikuti langkah keduanya dari belakang dengan sedikit melempar pandangan kepada mas Galih yang sedang menenangkan Amira ke dalam pelukannya.


Luka itu masih terasa pedih melihat adegan ini, namun air mata telah mengering untuk mengekspresikan kesedihannya. Aku tak boleh lemah lagi di hadapan mas Galih. Hanya akan semakin membuatnya sombong jika ia lihat aku tak bisa move on darinya.


Aku memiliki anak-anak, harta terbesarku yang takkan pernah habis di makan zaman, sementara mas Galih apa yang ia punya, berjuta-juta bahkan bermiliar-miliar harta yang kelak kita tak tau nasibnya bagaimana, entah itu raib di makan rayap, atau Allah ambil lagi kenikmatan dunia itu darinya. Aku tak tahu, yang kutahu hanya berdoa semoga hak-ku dalam hartanya takkan diambil paksa oleh Allah SWT.


Sedikit berlari aku menyusul kedua kakak beradik yang telah berada di depan mobil yang kami tumpangi. Tanpa banyak bertanya aku langsung mengambil posisi duduk di belakang mas Hafizh yang berada di depan kemudi. Di sampingnya ada Mbak Brenda yang hanya diam membisu dengan nafas yang masih memburu seperti sedang menahan amarah.


Perjalanan kali ini hening, tak ada canda tawa yang biasa kami lakukan, tak ada obrolan-obrolan yang biasa kami lontarkan, yang ada hanya suara deru mobil yang melintas dan sesekali bunyi klakson yang memecah keheningan.


Aku menyenderkan kepala pada kaca mobil yang tertutup sempurna, melayangkan lamunan ke masa depan, seolah menyusun strategi untuk masa depanku dan anak-anak. Tetesan gerimis perlahan membasahi kaca jendela mobil kami yang membuat suasana menjadi semakin dingin.

__ADS_1


Aku pandangi sebuah spion yang berada di dalam mobil, di sana terlihat wajah mas Hafizh yang terlihat sedih. Seketika pikiranku mulai bertanya-tanya lagi.


[Ada hubungan apa antara mas Hafizh dan Amira? Apa Amira adalah mantan istrinya? Namun kenapa mereka berpisah] hatiku semakin tak karuan hingga tak sadar ada sepasang mata yang membalas pandanganku dari kaca spion yang sama.


__ADS_2