Takdir Yang Tak Terelakkan

Takdir Yang Tak Terelakkan
Lentera


__ADS_3

"kau tahu?, Di kerajaan ku, mengajak seseorang untuk melihat lentera, sama seperti menyatakan, bahwa kau menyukainya, ,"


Ucap Ellen, menatap lurus ke arah lentera-lentera merah yang menyala.


Ellen, dan Zeir masih berada di festival, mereka memutuskan untuk tinggal sebentar lagi, melihat indahnya lentera dimalam festival.


"Menyukai?, Seperti apa rasanya menyukai seseorang?,"


Tanya Zeir, menatap penasaran pada Ellen.


"Hmm, menyukai seseorang itu berarti, kau selalu ingin melihatnya, merindukannya saat jauh, kau juga ingin melindunginya, dan menjaganya, perasaan-perasaan seperti itu, bisa dikatakan menyukai, jadi siapa yang kau sukai?,"


Jelas Ellen, ia penasaran orang seperti apa yang disukai oleh Zeir.


"Tidak ada,"


Cueknya, dengan raut wajah datar.


"Cih, tidak seru, padahal aku penasaran, orang seperti apa yang disukai Pangeran berwajah suram seperti mu,"


Ejek Ellen, sembari menatap sinis pada Zeir.


"Tapi kau tahu jelas, didunia ini, tidak ada orang yang menyukaiku, semua orang membenciku,"


Ucap Zeir, dengan entengnya, seolah tidak peduli akan hal itu.


"Aku tidak bisa menyangkalnya, tapi jika kau sering tersenyum seperti ini, mungkin akan ada orang yang menyukaimu."


Ia lalu, meletakan kedua telunjuk tanganya, di sudut bibir Zeir, kemudian menariknya, membuat Zeir nampak seolah sedang tersenyum.


Ellen tersenyum manis, membuat kelopak matanya melengkung seperti bulan sabit, sedangkan Zeir terus menatapnya, karena ini adalah pertama kalinya Zeir, melihat seseorang tersenyum begitu tulus padanya.


Tempat mereka berdiri semakin ramai, orang-orang berlalu lalang, sibuk untuk menikmati indahnya malam Festival, kembang api pun ikut memeriahkan suasana.


Setelah sadar dengan apa yang ia lakukan, Ellen menarik kembali tangannya.


"Aku ingin pergi ke suatu tempat sebelum pulang, lebih baik kita pergi sekarang,"


Raut wajah Zeir kembali menjadi datar.


"Baiklah, kemana kita akan pergi?,"


Tanya Ellen, sembari menatap ke sembarang arah, enggan menatap langsung ke arah Zeir.


"Ke atas bukit, aku ingin melihat pemandangan dari sana."


Ellen pun menyetujuinya, meski merasa heran dengan keinginan Zeir, yang tiba-tiba saja ingin melihat pemandangan.


Mereka berdua pun keluar dari pasar itu, berjalan cukup jauh, hingga tiba di jalanan yang sepi, Zeir menghentikan langkahnya.


"Kenapa tiba-tiba berhenti, bukitnya ada di depan sana kan?,"


Tanya Ellen, sembari menunjuk sebuah bukit, tak jauh dari jalan yang tengah mereka lalui.


Zeir tiba-tiba berubah wujud menjadi serigala, membuat Ellen terkejut, dan langsung menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada orang yang melihat mereka.


"Hei kalau kau ketahuan bagaimana, bukankah kau menyembunyikan wujud serigalamu?,"


Ucap Ellen, masih dengan sikap waspada nya.


"Cepat naik, akan melelahkan jika mendaki bukit, dengan wujud manusia,"


Ujar Zeir, dengan wujud serigalanya.


Bulu seputih salju, dan warna mata biru yang menyala terang, ditambah lagi dengan ukuran tubuhnya, yang jauh lebih besar dari serigala pada umumnya, Ellen harus mengakui bahwa wujud serigala Zeir, adalah yang paling menawan, dan paling mempesona, yang pernah ia lihat.

__ADS_1


"Ah baiklah, kalau begitu permisi~,"


Ellen menaiki tubuh Serigala Zeir, dengan perlahan-lahan, ini adalah pertama kalinya ia naik kendaraan yang berwujud Serigala, biasanya ia hanya mengendarai kuda.


Setelah Ellen naik ke punggungnya, Zeir pun melompat, dan berlari dengan cepat mendaki bukit itu, membuat Ellen harus berpegangan erat, sembari menutup matanya takut.


Tak butuh waktu yang lama, mereka berdua pun akhirnya sampai di atas bukit itu, Ellen membuka matanya kembali, lalu turun dengan perlahan dari tubuh Zeir.


"Wahh gilaaa, apa kau tidak bisa pelan sedikit saja,"


Ellen memang sering berkuda dengan kecepatan tinggi, tapi kecepatan Zeir jauh di atas itu.


"Aku ingin muntah rasanya,"


Keluh Ellen, sembari mengelus-elus dadanya.


"Seperti itu saja kau sudah mengeluh,"


Sinis Zeir, lalu kembali ke wujud manusianya.


"Aku manusia biasa jika kau lupa, tidak terbiasa dengan kecepatan kalian, Manusia Serigala,"


Ucap Ellen, membela diri.


Sementara Ellen yang sibuk mengelus-elus dada, sembari mengatur nafasnya, Zeir pergi melangkah mendekati sebuah pohon, yang ada disana.


Tanpa Ellen sadari, ia diam-diam membuka kulit pohon, yang sudah dimodifikasi itu, disana terdapat sebuah pesan rahasia, setelah membaca nya, Zeir pun bergegas menutupnya kembali.


"Ini pemandangan yang kau maksud?, Aku tak melihat apapun dari atas sini,"


Ujar Ellen, yang kini berdiri di tepi bukit itu.


"Itu karena tertutup kabut,"


Memang benar, apa yang diucapkan Zeir, seharusnya dari atas bukit ini, mereka bisa melihat gemerlap nya, pemandangan kerajaan klan manusia serigala.


"Kita turun saja,"


Ajak Zeir, dengan entengnya, padahal Ellen sudah susah payah menahan rasa mual nya demi bisa ikut ke atas bukit.


"Kau ini, kenapa cepat sekali putus asa,"


Sinis Ellen, menatap jengkel pada Zeir.


"Lalu kau ingin bagaimana?,"


Tanya Zeir, dengan nada suara nya yang selalu terdengar tenang.


"Tentu saja melakukan sesuatu, akan ku perlihatkan padamu, seperti apa pemandangan indah yang sebenarnya,


Ucap Ellen, sembari mengeluarkan pedang diikat pinggangnya.


Ellen pun menebas kabut awan, yang menghalangi pandangan mereka, pedangnya terbang ke segala arah, di penjuru bukit itu, mengusir kabut, dengan angin yang berhembus.


"Bagaimana, sangat menakjubkan bukan?,"


Tanya Ellen, dengan penuh rasa percaya diri, kemudian ia menarik kembali pedangnya, dan menyimpannya sebagai ikat pinggang.


Perlahan pemandangan gemerlap, lampu lentera di penjuru kerajaan pun mulai terlihat.


"Tapi ini belum selesai,"


Masih dengan rasa percaya diri yang tinggi, ia mengeluarkan sebuah kertas di dalam lengan gaunnya, lalu melemparkan kertas itu ke udara, seketika banyak kunang-kunang yang muncul, cahayanya menerangi sekeliling mereka.


"Bagaimana kau melakukannya?,"

__ADS_1


Tanya Zeir, menatap heran pada Ellen, ia tidak tahu bahwa klan manusia biasa, ternyata bisa melakukan hal-hal seperti itu.


"Itu tadi namanya jimat, yang memunculkan sebuah ilusi, sesuai dengan apa yang kita banyangkan,


Tentang bagaimana aku bisa melakukannya, tentu saja aku mempelajarinya, dan itu rahasia,"


Jelas Ellen, menatap lurus ke pemandangan didepannya.


Tentang bagaimana Ellen bisa melakukan berbagai macam sihir, jawabannya adalah karena ia pernah berguru dengan seorang dewa di dunia klan manusia, Ellen tidak tahu apa alasan, dewa itu mengajarinya begitu Banyak hal.


"Kau bisa melakukan banyak hal, dengan kemampuan mu, kenapa klan kalian bisa kalah dalam perang?,"


Pertanyaan sensitif itu diluncurkan Zeir dengan mudahnya.


"Memangnya kau pikir, satu orang seperti ku, bisa mengalahkan berapa banyak manusia serigala?,"


Ellen menatap jengkel pada Zeir.


"Entahlah, mungkin cukup untuk mengalahkan setengah pasukan,"


Jawaban Zeir, membuat Ellen menahan tawa.


"Pffftt, aku memang berbakat, tapi penilaian mu terlalu tinggi, lagi pula aku punya janji, untuk menggunakan pedangku hanya sebagai pelindung,"


Meski ia tertawa sekalipun, Matanya tetap berkaca-kaca, saat menjelaskan alasannya, tidak turun ke medan peperangan.


Ellen memiliki belenggu dihatinya, ia menyesal karena tidak bisa turun ke medan perang, seharusnya dengan kemampuan yang dimilikinya, ia bisa cukup membantu pasukan, ayahnya lah yang melarang Ellen untuk pergi ke medan perang, sedangkan janji, ia sudah berjanji pada gurunya untuk menggunakan pedang hanya sebagai pelindung.


"Sudahlah jangan membahasnya lagi, malam semakin larut, lebih baik kita pulang sekarang,"


Pinta Ellen, raut wajah yang penuh percaya diri tadi, entah hilang kemana.


"Baiklah,"


Ucap Zeir, melepaskan jubahnya, kemudian memakaikannya ke tubuh Ellen.


"Terimakasih,"


Sembari mengeratkan jubah ditubuhnya.


Zeir kembali berubah menjadi serigala putih, lalu Ellen pun naik perlahan ke punggungnya.


"Teknik sihirmu, apa boleh kau ajarkan padaku?,"


Kali ini, Zeir membawa Ellen lebih pelan.


"Tentu boleh,"


Jawab Ellen, ia hanya akan mengajarkan cara membuat jimat saja pada Zeir.


Malam sudah menunjukan pukul 12 tepat, angin yang berhembus semakin kencang, membuat Ellen merasa mengantuk, ia menyandarkan tubuhnya di punggung Zeir, kemudian tak lama ia pun tertidur.


Saat tiba dibawah bukit, Zeir kembali berubah wujud menjadi manusia, dengan Ellen dipelukannya, yang tengah tertidur.


Ia pun melangkahkan kakinya kembali ke istana, lalu mengantar Ellen kamarnya, ia meletakan Ellen di atas tempat tidur, dengan hati-hati.


Kemudian berniat untuk kembali ke kamarnya, belum sempat melangkah, bajunya malah dipegang erat oleh Ellen, dengan matanya yang masih terpejam.


"Tidak, ibu, jangan tinggalkan aku,"


Gumam Ellen dalam tidurnya.


Zeir tidak mengerti, apa yang membuat Ellen begitu gelisah dalam tidurnya, ia pun mencoba melepaskan tangan Ellen dari bajunya, namun malah membuat Ellen semakin mengeratkan pegangannya.


Ia pun akhirnya menyerah, dan ikut berbaring di samping Ellen, Zeir yang tidak bisa merasakan emosi, tentu saja sama sekali tidak menghiraukan, apa yang akan terjadi saat esok Ellen terbangun dari tidur, dan melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2