Takdir Yang Tak Terelakkan

Takdir Yang Tak Terelakkan
sebuah kesepakatan


__ADS_3

Di malam hari yang dingin ini, bulan nampak bersinar dengan terang, seolah memberikan semangat pada Ellen, yang masih memprovokasi Zeir.


"Terserah saya mau datang dari arah mana pun, tidak ada urusannya dengan anda,"


Jawab Zeir dengan entengnya.


"Hah~ sudahlah, tak ada gunanya banyak bicara, lebih baik langsung membuktikannya sendiri,"


Ucap Ellen, setelah menyadari bahwa Zeir tidak akan terpancing oleh kata-katanya.


Ellen melangkah, mendekati pagar pembatas balkon di kamarnya, lalu duduk di atas sana, membuat Zeir menatap heran.


"Mari kita lihat siapa anda sebenarnya, manusia biasa?, Manusia serigala?, Atau tidak keduanya,"


Lalu memberikan senyum miringnya.


Dengan nekat Ellen melepaskan pegangan tangannya, pada pembatas balkon, sehingga membuat tubuhnya terjun bebas ke bawah.


Ellen memejamkan matanya kuat-kuat, jantungnya berdegup semakin kencang, hembusan angin yang kuat, membuat Ellen merasa ia akan jatuh lebih cepat.


Tak lama kemudian Ellen merasa, tangan seseorang merengkuh tubuh nya, lantas dia pun membuka matanya, iris violetnya bertemu dengan iris biru milik Zeir, yang kini tengah bersinar.


Lalu Zeir membawa tubuh Ellen mendarat ke bawah dengan aman, tanpa terluka sedikitpun.


Mata mereka terus bersitatap, sedangkan Ellen masih dalam posisinya yang berada di rengkuhan  Zeir.


"Katakan sebenarnya apa yang anda inginkan?,"


Tanya Zeir, masih dengan jarak mereka yang sangat dekat, sampai-sampai Ellen bisa merasakan hembusan nafas Zeir di wajahnya.


Menyadari jaraknya yang terlalu dekat, Ellen pun menepis tangan Zeir dari pinggangnya.


"Ehem, "


Gumam Ellen, ia pun menghirup udara dengan rakus, masih terkejut dengan aksi nekatnya sendiri, Ellen merasa heran dengan Zeir yang sama sekali tidak memasang raut wajah terkejut.


" Yang saya inginkan?, cukup sederhana, saya ingin anda tinggal di kastil ini, dengan begitu saya akan menjaga rahasia anda,"


Ia mengucapkan kalimat itu dengan senyum percaya diri, di wajahnya.


"Lagi-lagi bicara tentang rahasia, Nona Marinson biar saya tegaskan pada anda, saya tidak bisa berubah wujud!, dan kenapa saya harus tinggal bersama anda?, Kita bukan pasangan sungguhan jika anda lupa,"


Tegas Zeir, sembari menatap tajam pada Ellen.


"Masih tidak ingin mengaku rupanya,"


Ucap Ellen, ia lalu memegang kedua telinga Zeir yang sudah berubah menjadi telinga serigala.


" Lihat telinga anda tidak bisa berbohong!,"


Ucap Ellen, lagi-lagi jarak mereka terkikis, kini giliran Zeir yang merasakan hembusan nafas dingin Ellen di wajahnya.


"Akh,"


Lirih Ellen karena Zeir yang tiba-tiba mencekik lehernya.


"Saya sudah memberikan kesempatan pada anda, untuk berpura-pura tidak tahu,"

__ADS_1


Ucap Zeir, dengan raut wajah datarnya.


Dia lalu mengangkat tubuh Ellen dengan satu tangan nya, masih dengan posisi mencekik leher Ellen.


Bukannya takut, Ellen malah memberikan senyum miring pada Zeir.


"Jika saya mati, sebuah surat akan segera Sampai pada yang mulia Raja!,"


Mendengar ucapan Ellen, Zeir langsung melepaskan cengkramannya.


"Uhuk-uhuk"


Ellen terbatuk-batuk, ia kembali menghirup udara dengan rakus, sembari mengelus-elus lehernya.


"Dasar licik,"


Maki Pangeran Zeir.


"Kalau tidak licik, bagaimana mungkin saya masih hidup, jika saja anda berhasil membunuh saya tadi, maka Yang Mulia Raja Hedes, akan segera mengetahui rahasia anda,"


Ellen sudah mempersiapkan rencananya dengan sangat matang.


Ellen sudah menyiapkan sebuah rencana, jika Zeir mengancam nyawanya.


ia menulis sebuah surat yang menceritakan kejadian yang di alaminya, saat berada di danau beku, lalu menuliskan, dugaannya terhadap Zeir, bahwa dia bisa berubah wujud, menjadi manusia serigala.


Hal yang Ellen minta Cesi lakukan, pagi tadi ialah, mencarikannya seseorang yang bisa di percaya, untuk melancarkan rencananya.


Jika seandainya Ellen ditemukan tidak bernyawa, maka dia sudah meminta Cesi memberikan surat itu pada Yang Mulia Raja, melalui orang tersebut.


"Baiklah saya tidak akan membunuh anda, tapi untuk tinggal bersama, saya tidak setuju,"


Lagi-lagi Ellen harus menjelaskan maksud nya dengan panjang lebar.


"Pangeran Zeir, anda sama sekali tidak punya hak untuk memilih, saya bisa saja meminta surat itu dikirim saat ini juga,"


Kesal Ellen.


"Apa alasan saya harus tinggal bersama anda?, Jangan katakan bahwa anda menyukai saya?,"


Tebak Pangeran Zeir, membuat raut wajah kesal Ellen, seketika berubah menjadi raut wajah yang menahan tawa.


"Hahaha, Lucu sekali, saya?, Menyukai anda?, Jangan bercanda!, Saya hanya tidak ingin orang-orang mengira, bahwa saya adalah istri yang diacuhkan oleh anda!,"


Mendengar kalimat terakhir dari Ellen membuat Zeir mengerutkan keningnya.


"Kenapa anda peduli sekali, dengan pandangan orang lain terhadap anda?,"


Pertanyaan yang diajukan oleh Zeir, membuat raut wajah Ellen menjadi sendu.


"Saya memang orang yang seperti itu,"


Lirihnya.


"jangan banyak tanya lagi, besok anda harus segera pindah ke kastil ini,"


Pangeran Zeir pun menganggukkan kepalanya pasrah, ia tidak bisa melawan lagi, dan harus mengakui kemenangan Ellen.

__ADS_1


Zeir pun berbalik, dan berniat untuk segera pergi dari hadapan Ellen, namun langkahnya terhenti, karena tanganya yang dicegat oleh Ellen.


"Sangat tidak peka, anda harus membawa saya kembali ke atas sana, saya tidak bisa menaiki tangga dengan kaki terluka seperti ini,"


Pinta Ellen.


Zeir lalu mengangkat tubuh Ellen ala bridal style, lalu melompat ke atas balkon kamar, ia pun melangkah masuk ke dalam ruangannya, dan meletakan Ellen di atas tempat tidur, dengan hati-hati.


"Terimakasih,"


Ucap Ellen, sembari menatap Zeir, dengan wajah memerah.


Setelahnya,Zeir kembali melompat dari atas balkon, dan pergi menghilang.


"Awas saja kalau dia tidak ada di kastil besok pagi!,"


Gumam Ellen, lalu merebahkan diri di tempat tidur.


Keesokan harinya, Ellen mendapatkan kunjungan dari Yang Mulia Ratu Arkne, bersama Pangeran pertama.


Alasan kunjungan mereka tak lain, ialah untuk melihat kondisi Ellen.


Lalu keesokan harinya lagi pangeran ke dua lah yang berkunjung, bersama ibunya yaitu selir Xuan, para pangeran, beserta selir-selir, terus berdatangan hingga lima hari berturut-turut.


"Cesi, berapa banyak lagi pangeran,dan selir di kerajaan ini?,"


Keluh Ellen, ia tengah bersandar pada pembatas balkon kamarnya.


"Ada 10 selir, dan 13 pangeran, tuan putri, saya rasa mereka menaruh perhatian kepada tuan putri pasti memiliki maksud tertentu,"


Tebak Cesi, sembari memberikan buah anggur pada Ellen.


"Kau benar, Seorang putri dari klan manusia, menikah dengan pangeran ke tiga, yang tidak dipedulikan, tapi mendapat perlakuan khusus, oleh Yang Mulia Raja, dengan diberikan sebuah kastil mewah sebagai tempat kediaman,"


Ucap Ellen, kemudian ia terkekeh, seolah mengerti tujuan perlakuan khusus yang ia dapat.


"Status ini memang menarik perhatian, jadi aku tebak, mereka mengunjungi ku pasti hanya ingin mencari perhatian,"


Ellen tersenyum miring, sembari memainkan gelas minuman, yang ada ditangannya, kemudian ia pun meneguknya sampai habis.


"Berarti masih ada 4 selir lagi yang belum datang, bersama putranya?,"


Cesi mengiyakan pertanyaan Ellen.


"hentikan kedatangan mereka, katakan bahwa emosi ku sedang tidak stabil, jadi tidak bisa dikunjungi, jika mereka tetap memaksa ingin masuk, kau boleh melebih-lebihkan alasannya,"


Ucap Ellen, setelah itu, sesuai dugaan Ellen, masih ada lagi Selir yang datang bersama putranya.


Cesi pun pamit undur diri, dia  melakukan tugasnya, sesuai perintah Ellen, untuk menahan para selir yang terus berdatangan.


"Seorang ayah, yang memberikan perhatian kepada anaknya, secara diam-diam, awalnya ku kira, dia sama sekali tidak akan berguna,"


Gumam Ellen, dengan senyum licik di wajahnya, sembari mengambil beberapa buah anggur, di meja yang ada di sampingnya, dan memakan buah itu dengan perasaan penuh kemenangan.


Dia berpikir bahwa mungkin saja Zeir, begitu diperhatikan oleh yang mulia Raja, maka ia bisa sedikit merasa tenang tentang kebutuhan hidupannya, dan jika hal itu benar, maka ia bisa sedikit memanfaatkan situasi menguntungkan ini, di lain waktu.


Ellen menduga, bahwa tujuan Yang Mulia Raja Hedes memberikan kastil padanya, pasti karena ia ingin Zeir bisa tinggal dengan nyaman, di dalam kastil mewah yang diberikannya.

__ADS_1


Setelah merasa puas dengan buah anggurnya, Ellen pun memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamarnya.


__ADS_2