Takdir Yang Tak Terelakkan

Takdir Yang Tak Terelakkan
awal sebuah kehancuran


__ADS_3

Hari sudah gelap, sudah saatnya untuk mahluk hidup beristirahat, namun lain halnya dengan Dewi Bulan, dan pasukannya, yang tengah dalam perjalan menuju ke wilayah klan Bunga.


Karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dari alam langit, maka mudah bagi mereka untuk segera sampai di wilayah klan Bunga.


Mereka saat ini telah sampai di sebuah taman luas, tempat dimana, Dewi Bulan akhirnya menemukan keberadaan Dewa Perang.


Ia berjalan mendekati sebuah pohon Bunga, yang menjadi saksi kemesraan Dewi Bunga, dan Dewa Perang.


"Tangkap, dan bawa, seluruh klan bunga, tanpa terkecuali!,"


Ucapnya, memberi titah, pada pasukan langit, yang berada di balik punggungnya.


"Baik yang mulia,"


Teriak mereka bersamaan, kemudian pergi menjalankan tugasnya.


Dewi Bulan pun tersenyum licik, sembari menatap pohon didepannya.


"Baiklah, mari kita mulai dari pohon ini!,"


Gumamnya, masih dengan raut wajah liciknya.


Ia pun mengeluarkan pedang, menggunakan sihirnya, lalu mengayunkan pedangnya sekali tebas,  membuat pohon itu pun tumbang, dan terbelah menjadi beberapa bagian, tak puas dengan itu, ia pun membakar pohon itu, yang lagi-lagi dengan menggunakan sihirnya.


Di tempat lain, tepatnya di kediaman utama klan bunga saat ini, terjadi kericuhan, karena banyak dari klan bunga yang melawan, dan memberontak untuk ikut, namun usahanya sia-sia, karena pasukan langit lebih kuat dari mereka.


"Tidak!, tolong aku ibuuu!,"


Ucap salah satu anak kecil, yang tertangkap oleh pasukan langit.


"Kumohon lepaskan anakku!, Apa salah kami?, Kenapa kalian melakukan hal ini pada kami!, Bukankah yang mulia putri kami adalah pahlawan yang menyelamatkan Dewa Perang, tapi kenapa kalian melakukan ini pada kami?,"


Ucap seorang ibu, sembari menangis, dan memegang kaki, salah satu pasukan langit, yang menangkap anaknya.


"Pahlawan katanya, klan rendahan seperti kalian, yang mengharapkan balas budi seorang  Dewa Perang yang agung, tidak pantas mendapatkan gelar pahlawan,"


Balasnya, lalu dengan kejamnya, menendang wanita tua itu, hingga pingsan.


Kericuhan, dan kehebohan itu, tentu saja membuat sang pemimpin klan terbangun dari tidurnya, dan segera berlari keluar dari kediaman.


Betapa terkejutnya ia saat melihat banyaknya pasukan langit yang menyerang wilayahnya.


Tanpa membuang waktu lama, ia pun segera menyadari situasi yang terjadi, dan membantu klannya melawan pasukan langit.


Pemimpin klan Bunga, yang merupakan ayah dari Xiya pun, langsung mengeluarkan pedangnya, dan bertarung dengan pasukan langit.


"Semuanya!, Kita telah diserang!, Bunyikan bel peringatan sekarang!,"


Titahnya, sembari terus bertarung dengan pasukan langit.


Bel peringatan, adalah sebuah bel di atas menara milik klan bunga, dan bel itu berfungsi untuk memberikan peringatan, sekaligus perintah pada seluruh anggota klan agar ikut dalam perang.


Ia terpaksa membunyikan bel itu, dan meminta seluruh anggota klannya untuk ikut dalam perang, karena mereka kalah jumlah.


Bel itu pun berbunyi dengan kencang, hingga ke seluruh wilayah klan, bahkan anggota klan bunga yang tidak berada di wilayahnya pun bisa mendengar suara bel itu.


"Agh!,"

__ADS_1


Teriak sang pemimpin klan, karena bahunya terkena tebasan pedang lawan.


Ia melawan beberapa anggota prajurit sekaligus, membuatnya sedikit kewalahan.


"Hei!, Ingat jangan membunuhnya, kita hanya diperintahkan untuk menangkap dan membawa mereka,"


Ucap pemimpin dari prajurit langit, yang juga ikut melawan pemimpin klan.


"Baiklah, cepat kita selesaikan, yang mulia akan marah nanti, jika kita terlalu lama bermain-main,"


Setelah mengucapkan kalimat itu, mereka pun mengeluarkan sebuah rantai perak, lalu melemparkannya ke arah pemimpin klan bunga.


Hal itu membuat pemimpin klan, kesulitan untuk bergerak lagi, ditambah para prajurit itu menarik rantainya secara bersamaan.


"Pemimpin kalian telah tertangkap, jadi berhentilah melawan!,"


Teriak pemimpin prajurit langit itu.


Mereka semua pun menjatuhkan senjata, dan mengangkat tangan, mereka takut jika para prajurit langit itu akan membunuh pemimpinnya, jika mereka masih melawan.


"Bagus!, Sekarang jangan ada yang bergerak, sampai kami selesai mengikat kalian,"


Ucapnya.


Para prajurit langit pun mulai mengikat tangan mereka satu persatu,  setelah itu mereka pun digiring bersamaan, menuju ke tempat Dewi Bulan berada.


Sementara itu, di saat yang bersamaan, Xiya yang tadi telah mendengar bel berbunyi, hingga ke kediamannya pun, bergegas pergi menuju ke kediaman utama.


kediamannya yang cukup jauh dari kediaman utama, membuatnya membutuhkan waktu untuk sampai di sana, dan karena panik, Xiya malah melupakan bahwa ia bisa menggunakan sihir teleportasi.


Akan tetapi setelah tiba di sana, semuanya sudah terlambat, tidak ada satupun orang yang tersisa.


Ucap Xiya, ia sangat terkejut melihat keadaan kacau yang ada di depannya.


"Ayah?, Ibu?,"


Panggil Xiya, yang melangkah masuk ke kamar orang tuanya, namun sama sekali tidak ada satupun orang yang menjawab panggilannya.


"Sudah pasti mereka tidak ada disini, apa yang harus aku lakukan sekarang?,"


Gumam Xiya, sembari berlari keluar ruangan, untungnya Xiya tiba-tiba teringat akan sesuatu.


"Sihir teleportasi, benar!, Aku harus mencobanya,"


Xiya pun mencoba sihirnya, dengan penuh konsentrasi, sembari membayangkan ayahnya.


Tak butuh waktu lama, Xiya pun segera tiba di tempat ayahnya berada, hal selanjutnya yang terjadi, benar-benar membuat Xiya terkejut.


Saat membuka matanya, hal pertama yang Xiya lihat, adalah ayahnya yang terikat dengan rantai, lalu ia pun melihat ke sekelilingnya, dimana semua anggota klannya dikumpulkan, dengan tangan dan kaki yang terikat.


"Ayah!, Ibu!,"


Teriak Xiya, sembari berlari, lalu memeluk keduanya.


Air matanya pun tak tertahankan, saat melihat kondisi kedua orang tuanya, yang terlihat sangat menyedihkan, dengan luka cambuk, dan goresan pedang yang hampir memenuhi sekujur tubuhnya, di tambah lagi tubuh yang terikat dengan rantai.


"Akhirnya datang juga, seorang wanita dari klan rendahan, dengan tidak tahu dirinya mencintai Dewa Perang yang agung,

__ADS_1


akan tetapi sang pujaan hati itu, malah memberikan titah untuk membunuhnya, sungguh cerita yang ironis sekali bukan?,"


Setelah mengucapkan kalimat kejam itu, Dewi Bulan tertawa kecil.


Mendengar ucapan itu membuat Xiya,  tidak bisa menahan dirinya lagi, ia tidak mempermasalahkan Dewi Bulan yang memandang rendah dirinya, tapi ia tidak bisa mentoleransi Dewi Bulan, yang melibatkan keluarganya, dan anggota klannya.


"Tidak!, Yang mulia Dewa tidak mungkin sekejam itu, dia sudah berjanji akan kembali padaku, kenapa kau melakukan ini!?,"


Bantahnya, ia pun melepaskan pelukannya dari ayah, dan ibunya, yang masih tidak sadarkan diri.


Kemudian berbalik, menatap tajam pada Dewi Bulan.


"Berjanji?, kau sungguh bodoh sekali jika percaya pada janji Leiys, dia bahkan pernah berjanji untuk menikahi ku, tapi sampai saat ini kami belum melaksanakannya, yah mungkin setelah perang kami akan melakukannya, jadi jangan harap dia akan kembali padamu!,"


Ucap Dewi Bulan, ia bahkan mengarang cerita, agar bisa merenggangkan hubungan Dewa Perang, dan Xiya.


"Terserah kau mau percaya atau tidak, aku hanya menjalankan tugas, untuk melenyapkan seluruh klan Bunga, atas perintah Dewa Perang,"


Ucap Dewi Bulan, sembari mengelus pedang di tanganya.


"Pedang itu,"


Ucap Xiya, masih menatap Dewi Bulan dengan tajam.


"Ah yang kau pikirkan itu benar, ini adalah pedang yang kalian buat sendiri, siapa sangka, ternyata pedang bulan sabit biru inilah yang akan menjadi akhir untuk kalian,"


Setelah mengucapkan kalimat itu, Dewi Bulan memberikan aba-aba pada prajuritnya untuk menangkap Xiya, dan memegangi tangannya.


"Tidak!, Lepaskan aku,"


Ucap Xiya, sembari memberontak, mencoba melepaskan diri.


"Diam, jangan berisik, lihatlah orang tuamu sedang tertidur,"


Ucapnya, lalu berjalan mendekati Xiya, dan mencengkeram dagunya.


"Xiya, bagaimana jika kubuat orang tuamu tertidur selamanya?,"


Ia mengucapkan kalimat itu, dengan senyum bahagia terpancar di wajahnya.


"Tidak!, Kumohon jangan, kumohon jangan ganggu orang tuaku,"


Air mata Xiya kembali turun dengan deras, saat kata-kata itu keluar dari mulut Dewi Bulan.


Mendengar suara tangisan Xiya yang merdu, membuat Dewi Bulan semakin bersemangat untuk menghancurkan klan Bunga.


Dewi Bulan pun melepaskan wajah Xiya dengan kasar, kemudian berjalan mendekati tubuh ayah Xiya, dengan menyeret pedangnya di tanah, ia sengaja melakukannya, agar Xiya mendengar suara, setiap gesekan pedang itu saat mengenai tanah.


Xiya berteriak sekencang-kencangnya saat menyaksikan Dewi Bulan, yang menusuk pedang itu ke tubuh ayahnya.


"Tidak!, Ayah!,"


Teriaknya, dengan isak tangis yang terdengar sangat pilu.


"Kumohon, ayah, ayah,"


Ucap Xiya, di sela-sela tangis pilunya.

__ADS_1


Betapa hancur hati Xiya, saat melihat derasnya darah yang mengalir dari tubuh ayahnya.


sesak yang ia rasakan didadanya membuat Xiya merasa kesulitan untuk sekedar bernafas, hingga membuatnya tak sadarkan diri.


__ADS_2