Takdir Yang Tak Terelakkan

Takdir Yang Tak Terelakkan
suami istri?


__ADS_3

Matahari sudah terbit, cahaya nya yang terang, mulai masuk ke celah-celah jendela, sementara itu sepasang suami-istri, masih tertidur dengan lelap.


Kemudian sang istri pun terbangun, karena sinar matahari yang mengenai wajahnya, matanya terbuka perlahan-lahan, menampilkan iris violetnya.


Ellen mengerutkan dahinya, saat melihat sosok pria bersurai Silver, yang tengah terbaring disampingnya.


Setelah beberapa saat, akhirnya ia tersadar, matanya seketika terbuka lebar.


Zeir?, Berani beraninya dia tidur disini!, Batin Ellen.


"Agh!,"


Rintih Zeir, ia terjatuh dari atas tempat tidur, dan tentu saja Ellen lah pelakunya.


Zeir yang telah terbangun dengan tidak etis itu pun, menatap tajam pada Ellen, yang saat ini sedang bersandar di tempat tidur.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?, Siapa suruh kau tidur di kamar ku!,"


Ucap Ellen, sembari tersenyum miring.


Zeir lalu berdiri dari tempatnya tersungkur, masih dengan tatapan tajamnya pada Ellen.


"Kenapa memangnya?,"


Tanya Zeir, dengan suara khas bangun tidurnya.


"Apa yang akan orang pikirkan, saat melihat kau keluar dari sini,"


Menatap kesal pada Zeir.


"Kita sudah menikah, bukannya wajar kalau kita tidur bersama?,"


Ucap Zeir, dengan wajah datarnya.


"Cih!, beberapa hari yang lalu, kau bahkan tidak ingin tinggal di kastil ini,"


Sindir Ellen, memutar bola matanya malas.


"Sudahlah, Lagi pula kita tidak melakukan apapun, kenapa kau berisik sekali,"


Herannya, kemudian ia mengambil minum di atas meja, dan meneguknya hingga habis.


"kenapa?, Melihat wajahmu saja membuat ku kesal, apalagi saat melihat kau yang berbaring di sampingku, dan kita berdua tidak sedekat itu, untuk berbagi tempat tidur, keluar sana!,"


Usir Ellen, kemudian bangun dari tempat tidur, dan mengusir Zeir keluar dari kamarnya.


"Berhenti mendorongku,"


Protes Zeir, karena Ellen yang mendorong tubuhnya dengan kuat, agar ia keluar dari kamar.


Setelah Zeir keluar, Ellen menutup pintu itu dengan keras.


"Ck, Merusak pagi hari ku yang cerah,"


Gumam Ellen, masih dengan raut wajah kesalnya.


"Apa maksudnya dengan mengatakan, lagi pula kita tidak melakukan apapun,"


Ellen mengucapkan kalimat terakhir persis seperti saat Zeir mengucapkannya, bahkan ia meniru suara Zeir saat mengucapkan kalimatnya.


"Cih, memangnya dia pikir aku mengharapkan apa,"


Gumaman terakhir Ellen, sebelum ia pergi membersihkan diri.


Cesi, dan beberapa pelayan wanita saat ini, tengah membantu Ellen memakai gaunnya.


"Tuan putri, anda terlihat sedang memikirkan sesuatu,"


Ujar Cesi, karena melihat Ellen yang terus diam, dari waktu membersihkan diri, sampai saat memakai pakaian.

__ADS_1


"Ah, tidak apa Cesi, aku dengar, enam hari lagi akan ada festival supermoon, apa kau juga pergi, untuk mencari pasangan?,"


Tanya Ellen.


"Tidak tuan putri, seorang pelayan yang masih bertugas, tidak boleh memiliki pasangan terlebih dulu, agar bisa fokus melayani tuannya,"


Jelas Cesi, dengan senyum manis diwajahnya, ia sama sekali tidak keberatan, harus melewatkan acara itu, demi melayani Ellen, yang sangat cantik, dan baik hati.


"Begitu yaa, tapi Cesi, aku sedikit bingung,"


Ujar Ellen, mengerutkan keningnya.


"Bingung kenapa Tuan putri?,"


Tanya Cesi.


"Ehmm, jadi Begini, kalian klan manusia serigala, memiliki jodoh yang sudah ditakdirkan oleh dewi bulan, tapi kenapa yang mulia Raja memiliki banyak Selir?,"


Ellen benar-benar bingung mengenai hal itu, dan yang lebih ia tidak mengerti adalah, kenapa mereka menikahkannya dengan Pangeran Zeir, pangeran Zeir juga merupakan klan manusia serigala, bukankah dia juga memiliki jodoh yang sudah ditakdirkan.


"Ahh itu, karena seorang Raja, jodohnya tidak di atur oleh Dewi Bulan, agar keturunan dari Raja bisa terus ada, seandainya sang Ratu tidak bisa memiliki anak,"


Jelas Cesi.


"Lalu apakah pangeran Zeir juga memiliki jodoh yang sudah ditakdirkan?,"


Akhirnya Cesi mengerti apa yang sebenarnya dikhawatirkan oleh tuannya.


"Tuan putri tenang saja, Seorang manusia serigala, yang tidak bisa berubah wujud, tidak akan mendapatkan pasangan, karena dalam mencari pasangan, kami harus berubah wujud menjadi serigala, jika tidak, maka kami tidak akan bisa menemukan pasangan,"


Ia menjelaskan nya sembari menahan tawa, Cesi pikir mungkin Ellen, khawatir Zeir akan menikahi wanita lain.


Tapi sebenarnya dia bisa berubah wujud, batin Ellen.


"Terimakasih sudah menjelaskannya, tapi jangan memikirkan hal yang aneh-aneh Cesi, aku melihat mu sedari tadi menahan tawa,"


"Ahh maafkan saya tuan putri,"


Ujarnya, sembari membungkuk sopan.


Kemudian di esok harinya, Zeir mendatangi Ellen, memintanya mengajari sihir dari klan manusia, dan sesuai janjinya malam itu, Ellen pun bersedia mengajarkannya, Dan berakhirlah mereka belajar, di depan danau, tempat Ellen pernah tertimpa dahan pohon.


Alasan Ellen memilih tempat ini, tentu saja karena takut Zeir meledakan kastilnya, jika gagal dalam menggunakan sihir nanti.


"hari ini kita akan belajar membuat jimat sihir ilusi,"


Ucap Ellen, sembari mengambil sebuah kuas, di depan mereka berdua saat ini, terdapat sebuah meja, dengan berbagai jenis alat tulis di atasnya.


"Tidak, Aku ingin belajar teknik pedang,"


Dengan wajah datarnya, dan nada suaranya yang selalu terdengar tenang.


"Hah~, dengar ya, semua hal itu ada prosesnya, matahari tidak pernah terbit sebelum waktunya, dan bunga juga tidak pernah mekar sebelum waktunya, jadi bersabarlah, "


Jelas Ellen, ia mencoba menjadi guru yang baik saat ini.


"Apa hubungannya matahari, dan bunga, dengan belajar teknik pedang?"


Tanya Zeir, tanpa beban.


"Kalian para klan serigala, apa tidak pernah belajar pribahasa, maksudku itu, sebelum belajar teknik pedang sihir, hal paling dasar adalah kau harus bisa menguasai sihir terlebih dahulu, dan cara membuat jimat adalah cara tercepat, karena aku malas mengajarimu lama-lama, jadi intinya bersabarlah!,"


Jelas Ellen, dengan terengah-engah akibat gaya bicaranya yang cepat.


"Baiklah, Jadi bagaimana caranya?,"


Tanya Zeir, sembari mengambil sebuah kuas dan juga kertas di atas meja itu.


Ellen lalu mengambil kertas di atas meja, kemudian menggambar sebuah simbol sihir di sana, ia lalu membacakan sebuah mantra, yang mengaktifkan jimat itu.

__ADS_1


"Gambarlan persis seperti ini, lalu ucapkan apa yang ingin kau lihat, atau tunjukan pada orang lain, agar m jimatnya aktif, lalu lemparkan ke atas langit,"


Jelas Ellen, lalu melemparkan kertas itu ke atas, seketika di sekeliling mereka muncul sebuah pohon bunga sakura, dengan bunganya yang berguguran.


Bunga-bunga sakura, yang berguguran itu, terbawa oleh kuatnya arus angin yang berhembus.


"Bagaimana indah bukan?,"


Sombong Ellen, kemudian ia melenyapkan sihir itu, dengan sekali kibasan tanganya.


"Bunga apa itu tadi, aku tidak pernah melihatnya?,"


Tanya Zeir, di dunia klan manusia serigala, ia memang tidak pernah melihat adanya bunga itu.


"Bunga sakura, berasal dari salah satu daerah di klan kami, mungkin memang tidak tumbuh di dunia klan manusia serigala,"


Duga Ellen, sembari mengambil kertas lagi, dan menggambar ulang simbol itu, untuk dijadikan contoh oleh Zeir.


"Nah sekarang, Gambar lah persis seperti ini, sambil membayangkan kenangan indah, yang paling berkesan untukmu,"


Jelas Ellen, memberikan kertas itu pada Zeir.


Zeir pun memulai pelajaran nya, dengan sangat hati-hati, dan fokus menggambar ulang simbol itu, persis seperti yang ada di kertas milik Ellen.


Namun ternyata untuk membuat jimat itu aktif, sangat sulit untuk Zeir, karena ia tidak bisa membayangkan kenangan indah, yang dimaksud Ellen, ia sendiri rasanya, tidak memiliki kenangan berkesan, seperti yang disebutkan Ellen.


Karena Zeir yang terus gagal, Ellen yang bosan pun, akhirnya tertidur, dengan posisi kepalanya yang bersandar, di atas meja.


Dari Siang, hingga malam hari, Zeir masih terus menulis jimat-jimat itu, sampai-sampai di atas meja, penuh dengan kertas yang sudah ia gambar.


Ellen pun terbangun dari tidurnya, akibat lehernya yang sakit, karena terlalu lama berada di posisi yang tidak nyaman.


"Kau belum selesai juga?,"


Ucapnya malas, sembari menopang dagu dengan tangan kirinya.


"Terlalu sulit, aku tidak punya kenangan indah untuk dibayangkan,"


Ucap Zeir, masih mencoba menggambar simbol-simbol itu di kertas.


"Bagaimana mungkin?,"


Gumam Ellen, menatap Zeir dengan pandangan penuh selidik, ia tahu bahwa Zeir, sering mendapatkan perlakukan tidak menyenangkan, tapi bagaimana mungkin, ia tidak memiliki kenangan indah sama sekali, seumur hidup, sehingga membuatnya gagal dalam membuat jimat, yang bahkan Ellen, bisa melakukannya dalam sekali coba saja.


"Menurutmu kenapa aku bisa gagal, jika aku punya hal semacam itu,?"


Tanya Zeir, menatap Ellen dengan tatapan dingin.


Ellen tersenyum miring, sembari mendekatkan wajahnya pada Zeir, kemudian berucap,


"Apa aku tidak cukup indah?,"


Ucap Ellen, menatap lurus pada iris biru milik Zeir.


"Jangan bercanda,"


Balas Zeir, dengan tatapan tajamnya, dan nada suara yang rendah.


"Ah tidak seru, kau bahkan tidak bisa diajak bercanda, pantas saja tidak punya kenangan indah,"


Setelah mengucapkan kalimat itu, Ellen berdiri dari tempat duduknya, kemudian melakukan peregangan akibat pegal, karena seharian berada dalam posisi duduk.


"Aku ingin pulang, dan beristirahat, besok saja kita lanjutkan,"


Saran Ellen, lalu menatap heran pada Zeir, yang sama sekali tidak lelah, malah melanjutkan, menggambar jimatnya, ia bahkan menghiraukan ucapan Ellen.


"Terserahlah,"


Final Ellen, kemudian pergi kembali ke kastil, meninggalkan Zeir sendirian di tepi danau.

__ADS_1


__ADS_2