
Malam semakin larut, bulan di langit nampak hampir penuh, sinarnya menjadi penerangan bagi Zeir, yang masih berkutat dengan kertas-kertas penuh gambarnya.
"Cukup indah?,"
Gumam Zeir, ia memikirkan perkataan Ellen sebelumnya.
Zeir mengambil selembar kertas terakhirnya, lalu mulai membuat jimat lagi, kali ini ia menggambar nya dengan fokus, sembari memikirkan beberapa kejadian yang baru-baru ini, ia alami.
Setelahnya, Zeir pun melemparkan kertas itu ke arah langit, seketika jimat itu pun lenyap, seiring dengan kunang-kunang, yang mulai muncul di sekelilingnya.
Sementara itu, Ellen yang sudah setengah perjalanan, menuju kastil pun berhenti, karena seekor kunang-kunang, dengan cahaya hijaunya, yang terang itu tiba-tiba muncul dihadapannya.
Ellen pun membalikan tubuhnya, mengalihkan pandangannya, ke arah danau, yang saat ini penuh dengan kunang-kunang.
"Dia berhasil ternyata,"
Gumam Ellen, sembari tersenyum manis.
Ellen pun memilih untuk diam sejenak, menikmati pemandangan malam itu.
Dari kejauhan Ellen bisa melihat dengan jelas, wajah tampan Zeir, yang diterangi cahaya bulan, dan juga kunang-kunang, di sekelilingnya.
Zeir yang merasa sedang diperhatikan pun, tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah jalan menuju kastil, namun tidak ada satupun orang di jalan itu.
Tentu saja Zeir tidak melihat siapapun, karena Ellen langsung menunduk, saat Zeir membalik tubuhnya.
"Kenapa aku bersembunyi?,"
Gumam Ellen pelan, ia malah bertanya pada dirinya sendiri.
Ellen pun kembali berdiri, setelah menyadari aksi konyolnya.
"Ehem, kakiku digigit serangga, kalau kau sudah selesai, pulanglah,"
Teriak Ellen, di kalimat terakhir nya, Ia mengucapkan Kalimat itu dengan satu tarikan nafas, juga dengan nada suara yang cepat.
Setelahnya, Ellen pun berlari menuju kastil, dan kali ini, ia benar-benar pergi.
Sedangkan Zeir hanya menatap dingin, pada punggung Ellen yang perlahan menjauh.
Kemudian beberapa hari pun berlalu, sejak hari dimana Ellen mengajari Zeir sihir, sampai hari ini, mereka berdua jarang bertemu lagi.
Alasannya karena Zeir yang tidak kelihatan di siang hari, dan akan pulang ke kastil, di atas jam 12 malam.
Ellen saat ini tengah berdiri di balkon kamarnya, raut wajahnya nampak gelisah, saat menatap bulan purnama di atas sana.
Ia mengenakan gaun tidur berwarna putih, surainya dibiarkan tergerai, saat angin berhembus lembut, gaun dan rambutnya ikut terbawa arus.
Saat ini jam menunjukkan pukul 11 malam, entah apa yang membuat Ellen masih betah berdiri di atas sana.
Lalu suara pintu yang terbuka, mengalihkan pandangannya, ternyata hanya Cesi, ia membawakan secangkir teh untuk Ellen.
"Tuan putri, minumlah,"
Ujar Cesi, sembari memberikan secangkir teh, di nampannya.
"Lebih baik tuan putri berisitirahat, angin malam tidak baik untuk kesehatan tuan putri,"
Ucapnya lagi, dengan raut wajah khawatir.
"Sebentar lagi, aku ingin melihat seperti apa pemandangan supermoon, yang sangat dinanti-nantikan itu,"
Jawab Ellen, sembari meminum tehnya, lalu menatap ke arah langit.
__ADS_1
Benar, malam ini adalah malam supermoon, dimana satu jam lagi, para klan manusia serigala, akan berubah wujud menjadi serigala, dan mencari pasangan mereka.
"Zeir?,"
Gumam Ellen, saat tak sengaja melihat Zeir dibawah sana.
Zeir menatap ke kiri ke kanan, seperti orang yang tengah waspada akan sesuatu, ia mengenakan jubah berwarna hitam, dan wajahnya tertutup oleh tudung jubah itu.
"Tuan putri, Biasanya Pangeran ke tiga, pulang ke kastil, di atas jam 12 malam, Tapi, kenapa sekarang, baru pergi keluar?,"
Ucap Cesi, yang kini juga menatap ke arah Zeir.
Akhir-akhir ini Zeir memang bertingkah aneh, apa jangan-jangan dia merencanakan sesuatu?, batin Ellen.
"Cesi, ambil jubahku sekarang,"
Perintah Ellen, ia pun bergegas, keluar dari kamarnya, dan berencana untuk mengikuti Zeir Secara diam-diam.
Dengan cepat Cesi pun mengambilkan jubah berwarna hitam, untuk Ellen, ia lalu memakaikan jubah itu ke tubuh Ellen, sembari mengikuti setiap langkah Ellen, yang menuruni tangga.
"Biar aku pergi sendiri, kau tunggulah di kastil,"
Pinta Ellen, kemudian ia keluar dari kediamannya, dan berlari secepat mungkin, menyusul langkah Zeir.
Meninggalkan Cesi yang menatap khawatir punggungnya.
Untungnya, Zeir belum keluar dari istana, ia baru sampai di gerbang istana, dan hendak pergi keluar, Ellen pun mengikuti nya diam-diam dari arah belakang.
Dari tempatnya bersembunyi, Ellen bisa melihat dengan jelas, bahwa Zeir tengah mengeluarkan kertas jimat, lalu melemparkannya ke atas langit.
Seketika suara ledakan pun terdengar, membuat penjaga gerbang mengira, ada penyusup yang ingin memasuki istana, kemudian mereka meninggalkan gerbang.
Zeir mengambil kesempatan itu, dan keluar dari gerbang istana.
Gumam Ellen, dengan pelan, ia pun kembali mengikuti Zeir dari belakang.
Ellen terus mengikuti Zeir hingga sampai ke pasar, tempat Festival supermoon berlangsung.
Saat ini Keadaan di pasar sangat ramai, karena para klan manusia serigala, yang ingin mencari pasangan, tengah berkumpul, dan bersiap-siap, untuk pergi bersama-sama ke atas bukit, sebelum jam 12 malam tepat.
"Kenapa dia kesini?, apa dia, juga ingin mencari pasangan?,"
Gumam Ellen pelan.
"Cih!, Apa peduliku,"
Ucap Ellen, setelah menyadari apa yang ia ucapkan sebelumnya.
Zeir kemudian menaiki sebuah kapal, yang berada di sungai, di tengah pasar itu.
Ellen mengerutkan keningnya heran, bukannya mengikuti kerumunan manusia serigala, yang tengah berbaris, untuk mencari pasangan ke atas bukit, Zeir malah menaiki sebuah kapal.
Tanpa pikir panjang Ellen pun ikut naik ke atas kapal, ia menarik tudung jubahnya, agar wajahnya tidak kelihatan, akan tetapi baru beberapa langkah, masuk ke dalam kapal, ia sudah kehilangan jejak Zeir, ditambah lagi tiba-tiba saja sesuatu tak terduga terjadi.
"Akh,!"
Ringis Ellen, karena tiba-tiba saja ada orang yang menyekat lehernya.
Seorang pria bertubuh besar dengan sengaja, mengapit lehernya dari belakang.
"Saya sudah mendapatkannya tuan, ayo kita jalankan kapalnya sekarang,"
Teriak pria bertubuh besar itu, sembari tertawa dengan gembira.
__ADS_1
Gawat, aku dijebak, batin Ellen,
Sembari memeriksa pedang, yang biasanya ia ikatkan di pinggangnya,Akan tetapi pedang itu tidak ada, ia melupakannya, akibat pergi terburu-buru, untuk mengikuti Zeir.
Saat Ellen mengadahkan kepalanya ke atas, matanya tak sengaja, bersitatap dengan iris biru milik Zeir.
"Kau?!,"
Teriak Ellen, dengan raut wajah penuh kekesalan.
Zeir ternyata ada di lantai atas kapal itu, sembari duduk manis, dengan beberapa orang yang berdiri di sampingnya, tampak seperti seorang tuan, dari sekelompok orang-orang di atas kapal itu.
Ia kemudian berdiri, membuka tudung jubahnya, dan menatap tajam pada Ellen, sembari berucap,
"Jangan sampai melukainya, kurung dia di penjara bawah,"
Perintah Zeir, memberikan senyum miring.
"Ahh, jadi kau sengaja membuatku, mengikuti mu kemari, apa sebenarnya yang ingin kau lakukan?,"
Ucapnya, Ellen menduga bahwa Zeir pasti berencana untuk kabur dari istana.
Ellen bisa memahami kenapa Zeir, ingin kabur dari istana, pasti karena tidak tahan lagi, dengan penindasan-penindasan yang ia alami, tapi kenapa Zeir harus menjebaknya seperti ini?,"
"Tentu saja membawamu pergi , tugasmu mengajariku sihir belum selesai, jadi kau masih berguna,"
Jawab Zeir, dengan entengnya.
"Membawaku?,"
Ucap Ellen, sembari tertawa remeh.
Ia kemudian melepaskan diri, dengan begitu mudahnya, Meskipun tanpa pedangnya, Ellen masih menguasai ilmu bela diri.
"tangkap dia, jangan sampai lepas,"
Perintah Zeir, pada sekelompok anak buahnya, yang ada di kapal itu.
Ellen pun mulai bertarung, namun tanpa pedangnya, Ellen cukup kewalahan menghadapi mereka.
Tidak, kapal ini semakin jauh dari pelabuhan, batin Ellen.
Ia kemudian, dengan sengaja menarik pertarungan itu, hingga ke ujung kapal.
"Berhenti,!"
Ucap Zeir, saat menyadari Ellen yang akan terjatuh dari kapal, jika mundur satu langkah saja.
Sekelompok manusia serigala itu, akhirnya berhenti menyerang Ellen.
"Jangan keras kepala Ellen, menyerahlah, lihat, pelabuhan kapal sudah tidak terlihat lagi, kau tidak bisa melarikan diri,"
Ucap Zeir, masih dengan raut wajah dinginnya, dan menatap tajam pada Ellen.
"Kau benar, pelabuhannya, memang sudah tidak terlihat, tapi aku tidak ingin jadi tahanan orang seperti mu,"
Ucap Ellen, kemudian dengan nekatnya melompat ke dalam sungai.
Aksi tiba-tiba nya membuat orang-orang di atas kapal terkejut.
"Cari dia, bawa kembali ke hadapanku, dalam keadaan hidup ataupun mati,"
Perintah Zeir, dengan raut wajah, yang belum pernah terlihat sebelumnya.
__ADS_1