
Dewa perang tengah terdiam di balik pintu, setelah mendengar percakapan antara pemimpin klan bunga, dan anak laki-laki nya, yang membahas bagaimana kehidupan Xiya, selanjutnya yang telah kehilangan setengah jantungnya.
Kemudian dengan membawa rasa bersalah di dalam hatinya, ia pun memberanikan diri, untuk masuk ke dalam ruangan itu.
"Yang mulia,"
Ucap ayah Xiya, saat melihat Kedatangan Dewa Perang.
Lalu ayah Xiya, dan Heley pun segera memberikan salam, dan menunduk hormat padanya.
"Saya tidak sengaja mendengar apa yang kalian khawatirkan, mengenai masa depan Putri Xiya, saya akan bertanggungjawab atas itu, dan untuk membalas budi pada putri anda, saya akan mengembalikan kehormatannya, sekaligus mengangkat derajatnya, sehingga tidak akan ada orang yang berani menolak putri anda,"
Jelas sang Dewa Perang, ia mencoba menenangkan mereka, yang takut bahwa Xiya tidak akan mendapatkan pasangan setelah, terikat dengannya.
"Tapi bagaimana caranya yang mulia?,"
Tanya Heley, ia berucap dengan sopan, meskipun saat ini ia sangat ingin memukul wajah Dewa perang, heley tetap berusaha untuk mengontrol emosinya.
"Saya akan membantu, dan menuntunnya berkultivasi, hingga Putri Xiya mencapai tingkat Dewi di alam langit,"
Ucap Dewa Perang.
Jawaban dari Dewa perang membuat Heley hampir kehilangan kendali atas emosinya.
"Maaf menyela yang mulia, tetapi bukankah lebih baik jika anda menikahi Xiya, dan bertanggungjawab atas hidupnya, karena setelah Xiya terikat dengan anda, maka tidak akan ada satupun laki-laki yang ingin hidup bersamanya,"
Sela Heley, sebelum Dewa Perang melanjutkan kembali ucapannya.
"Saya tidak ingin memaksa seseorang untuk hidup bersama saya, dan kehormatan seorang perempuan tidak seharusnya digantungkan pada seorang lelaki saja, dengan putri Xiya menjadi Dewi tingkat tinggi, di alam langit, semua Klan akan menghormatinya, dan ia bisa bebas, untuk memilih siapapun di dalam hidupnya, inilah sebuah kehormatan, yang bisa saya berikan pada Putri Xiya,dan Klan Bunga, sebagai pertanggungjawaban, dan balas budi,"
Jelas Sang Dewa Perang, ia tidak ingin jika Putri Xiya dihormati, dan dihargai, hanya karena dia adalah pasangan seorang Dewa Perang.
Dewa perang beranggapan bahwa kehormatan sebagai pasangannya, tidaklah cukup untuk membalas jasa Xiya, ia ingin putri Xiya mendapatkan kedudukannya sendiri, sehingga ia akan dinilai, dan dihormati karena perbuatan baiknya, bukan karena dia adalah istri seseorang.
Setelah mendengar penjelasan dari Dewa Perang, akhirnya Ayah Xiya, dan Heley merasa tenang, mereka pun mengucapkan terimakasih atas kehormatan yang diberikan oleh Dewa Perang, mereka tidak menyangka bahwa setelah sekian lama, akhirnya salah satu, dari klan Bunga akan menjadi Dewi di alam langit.
Sementara itu, di sebuah kediaman, seorang perempuan cantik, yang baru sadarkan diri, tidak sengaja memuntahkan air minumnya, saat mendengar apa yang disampaikan pelayanannya.
"Aku tidak salah dengarkan?,"
Tanyanya, memastikan apa yang sudah ia dengar.
__ADS_1
"Benar penguasa muda, anda tidak salah dengar, yang mulia Dewa Perang sendiri yang menyampaikan, bahwa ia akan menjadi guru penguasa muda, sampai menjadi seorang Dewi tingkat tinggi, dan tinggal di alam langit,"
Pelayan itu mengulang kembali ucapanya.
Ini adalah berita bagus menurut sang pelayan, tetapi tidak bagi Xiya, yang suka bermalas-malasan.
"Penguasa muda, saya juga ingin memberitahu sesuatu lagi, Yang Mulia Dewa Perang juga akan tinggal di kediaman kita sementara waktu, karena katanya, jantung yang mulia, masih belum bisa jauh dari anda,"
Jelas sang pelayan sembari tersenyum aneh.
"Sekarang dimana Yang Mulia?, Aku ingin bicara dengannya,"
Ucap Xiya, karena sejujurnya, meskipun ia sangat menyukai pemandangan di alam langit, Xiya sama sekali tidak ingin tinggal di sana, dan pergi dari klan Bunga.
"Yang Mulia Dewa Perang, tinggal di bagian sisi utara kediaman,"
Mendengar Jawaban itu, membuat Xiya langsung bangun dari tempat tidurnya, dan pergi menemui Dewa Perang.
Ia terus melangkahkan kakinya, menghiraukan rasa lelah tubuhnya, akibat menerima hukuman petir, meskipun seluruh lukanya telah disembuhkan oleh Dewa Perang, akan tetapi kondisi tubuhnya, masih belum pulih sepenuhnya.
Lalu semakin dekat Xiya dengan tempat Dewa Perang berada, maka semakin terdengar pula, sebuah alunan suara merdu, dari kecapi yang masuk ke indera pendengarannya.
Kini Xiya melangkahkan kakinya perlahan, masuk ke halaman yang ada di kediaman bagian utara, ia pun terdiam, dan terpaku di tempat saat melihat sang Dewa Perang, yang tengah memainkan kecapinya.
Ia kemudian langsung menghentikan permainan kecapinya, saat melihat Xiya, yang berdiri tak jauh darinya.
Lalu Xiya pun melangkah menghampirinya, membuat Wangi Bunga yang menenangkan itu, semakin terasa dekat.
"Saya memberi hormat pada yang mulia Dewa Perang,"
Ucap Xiya, sembari menunduk hormat.
"Yaa berdirilah, ada apa kau datang kemari?, Latihan kultivasinya akan dimulai besok, hari ini kau bisa beristirahat,"
Ucapnya, menatap lurus pada iris violet Xiya.
"Saya ingin menyampaikan sebuah permintaan yang mulia, saya tidak ingin berkultivasi, dan meninggalkan klan Bunga, jadi anda tidak perlu membalas budi, dengan menjadi guru saya,"
Ucap Xiya, dengan penuh harap.
Dewa perang menghela nafasnya, saat mendengar ucapan Xiya, kemudian ia pun menunjukkan perbincangannya tadi, dengan ayah Xiya, dan juga Heley.
__ADS_1
Melihat hal yang ditunjukkan oleh Dewa Perang lewat sihirnya, membuat Xiya terdiam, ia tidak tahu jika ayahnya, dan Heley, begitu mengkhawatirkan masa depannya, akibat dirinya yang memberikan setengah jantungnya pada Dewa Perang, tanpa pikir panjang.
Lalu dengan raut wajah sedihnya, Xiya memberikan hormat pada Dewa Perang, seperti sebuah penghormatan seorang murid kepada gurunya, dengan cara berlutut.
Ia tidak ingin membebani ayahnya dan juga Heley, atas apa yang telah ia perbuat, karena membagikan setengah jantung, bukanlah perkara sepele di klan Bunga, ia pasti akan menanggung konsekuensinya, dan Xiya tidak ingin membuat ayahnya, dan Heley, mengkhawatirkan dirinya.
"saya memberi hormat pada guru,"
Ucap Xiya, sembari memberikan penghormatan.
Upacara penghormatan sebagai tanda, dimulainya hubungan antara guru dan murid, adalah hal yang memang seharusnya dilakukan, karena merupakan cara untuk menghormati sang Guru.
"Xiya berdirilah, Saya tidak ingin menekan perasaan kamu, untuk memenuhi perasaan hutang budi saya, jika kamu tidak ingin berkultivasi, mungkin pilihan kakak laki-laki mu, bisa jadi pilihan kedua,"
Ucap Dewa Perang, dengan wajah datarnya, ia sama sekali tidak keberatan jika Xiya, memang ingin memilih pilihan itu, dibandingkan belajar berkultivasi bersama dengannya.
"Pilihan kedua, Heley?,"
Setelah menyadari maksud dari Sang Dewa Perang, Xiya menutup mulutnya, dengan kedua tangannya, karena terkejut, bisa-bisanya sang Dewa Perang, membicarakan sebuah pernikahan dengan santainya.
Sedangkan Sang Dewa Perang, yang melihat reaksi Xiya, sedikit memasang senyum di wajahnya.
"Tidak yang mulia, saya akan belajar dengan sungguh-sungguh, agar bisa menjadi seorang Dewi, kalau begitu saya pergi, sampai jumpa di esok hari,"
Ucap Xiya, ia pun segera pergi, dan berlari, lalu karena sedang tidak fokus, membuat Xiya hampir salah jalan.
Sedangkan Sang Dewa Perang, malah tersenyum manis, melihat tingkah Xiya.
Sementara itu di alam langit, sang Dewi Bulan tengah sibuk menjelajahi seisi langit yang begitu luas bersama pasukannya, untuk mencari sang pujaan hati, yang telah menghilang selama lebih dari 7 hari, akibat berperang dengan Klan Iblis.
Lalu salah satu komandan pasukan langit pun, memberikan laporannya pada Dewi Bulan.
"Yang Mulia Dewi, kami sama sekali tidak menemukan jejak yang mulia Dewa Perang, di alam langit, maupun di perbatasan alam iblis,"
Ucapnya.
Hal itu membuat Dewi Bulan, begitu cemas, ia tidak tahu lagi harus mencari Dewa Perang, ke arah mana lagi.
"Yang mulia, bagaimana jika kita mencari Yang Mulia Dewa Perang, di setiap wilayah Klan,"
Sarannya.
__ADS_1
Ia sama sekali tidak memikirkan hal itu, mendengar saran dari Komandan pasukan, membuat Dewi Bulan, kembali tersenyum, dan menemukan kembali harapannya, untuk segera menemukan keberadaan Dewa Perang.