
Dengan alasan yang dibuat oleh Ellen, akhirnya mereka berdua pun dibolehkan untuk keluar dari istana.
Saat Ellen, dan Zeir hendak pergi dari gerbang istana, tiba-tiba sebuah kereta kuda berhenti, tepat di depan mereka.
Kemudian seorang pria bersurai hitam, dengan netra mata berwarna hitam, dan memiliki rahang yang tegas, namun saat ia keluar dari kereta, beberapa helai rambutnya, berubah menjadi merah saat terkena sinar matahari.
Ia pun melangkah turun dari kereta, kemudian mendekati Ellen, dan Zeir, ia mengenakan baju berwarna biru, dengan jubah berwarna hitam.
"Siapa dia?,"
Bisik Ellen pada Zeir.
"Pangeran ke empat,"
Jawab Zeir, menatap dingin pada laki-laki itu.
Zeir, dan Pangeran ke empat hanya memiliki selisih umur dua bulan, dan jika kalian masih mengingatnya, dia lah orang yang membuat Zeir berlutut di tengah badai salju, di luar aula.
"Pangeran ke empat, Agala memberi salam pada pangeran ke tiga, dan Putri Ellen Marinson?, Seperti apa harusnya saya memanggil anda?,"
Ia mengucapkannya dengan senyum, Namun senyumnya terlihat sangat
menyebalkan di mata Ellen.
"Cukup panggil saya Nona Marinson,"
Acuh Ellen, ia lalu menyilangkan tangan di depan dadanya, sebuah gesture tubuh yang memberi tanda, bahwa ia menutup diri, dan tidak ingin banyak bicara pada Agala.
"Ah baiklah Nona Marinson, apakah perasaan anda sudah lebih baik?, karena terakhir kali, saya, dan Selir vele ingin menemui Nona, pelayan anda menghalangi kami masuk ke kediaman anda,"
Ucapnya masih tetap mempertahankan senyum manisnya, Selir Vele adalah ibu dari Pangeran ke empat, dan pangeran ke tujuh.
"Tadinya memang sudah baik-baik saja, tapi entah kenapa perasaan saya tiba-tiba menjadi buruk,"
Sindir Ellen, menatap sinis pada Agala, sembari menebarkan senyum palsunya.
"Haha, Nona ternyata bisa bercanda juga,"
Menatap Ellen, dengan pandangan penuh arti.
"Jadi hendak pergi kemana kalian berdua?,"
Tanyanya, mengalihkan tatapannya pada Zeir, sedangkan yang di tatap, malah sibuk menatap orang di sampingnya.
"Memangnya saya perlu memberitahu anda?,"
Ellen membalasnya dengan pertanyaan.
"Nona memang tidak perlu memberitahu saya, tapi takutnya perjalanan anda jauh, bagaimana jika anda naik kereta dengan saya?,"
Tawarnya.
Dikalangan anak muda klan serigala, siapa yang tidak tahu Pangeran ke empat, Agala, dia sangat terkenal dengan ketampanannya, dan suka menebar pesona, terutama pada gadis-gadis cantik, dan kali ini sepertinya ia tertarik pada Ellen, yang memang sangat cantik, ditambah lagi kecantikan khas klan manusia miliknya, berbeda dengan kecantikan para klan manusia serigala.
"Tidak, Terimakasih atas tawarannya, Saya hanya ingin pergi berdua saja dengan suami saya,"
Ellen dengan sengaja menekan kalimat suami, di akhir ucapannya.
"kalau begitu saya permisi yaa pangeran ke empat, ayo suamiku,"
Ucap Ellen, sembari merangkul tangan Zeir, dengan senyum palsu diwajahnya.
Sedangkan Zeir sedari tadi hanya diam saja, ia malas menanggapi dua orang yang terus beradu mulut.
"Tunggu Nona Marinson, setidaknya pergilah menggunakan kereta saya, diluaran sana banyak sekali para manusia serigala, yang sedang kehilangan kendali, takutnya suami anda yang, ah saya tak akan menyebutkannya, saya yakin Nona paham apa maksud saya,"
__ADS_1
ucapnya tersenyum miring.
Akhir-akhir ini memang banyak sekali manusia serigala, yang kehilangan kendali, dan menggila di ibu kota, mereka menyerang siapapun yang mereka lihat, kasus ini masih diselidiki, dan belum diketahui apa penyebabnya.
Ellen menatap sinis pada Agala, beberapa kalimat terakhir yang diucapkan oleh Agala, membuat Ellen merasa jengkel.
Cih!, Seandainya saja dia tahu, wujud Pangeran Zeir, yang sebenarnya, batin Ellen.
"Bukankah, anda sudah tahu, kalau emosi saya akhir-akhir ini sedang tidak stabil, jangan sampai saya, ah tidak perlu saya lanjutkan, anda pasti paham kan?,"
Ucap Ellen, memberikan senyum miring pada Agala.
"Baiklah kalau begitu, saya tidak akan mengganggu lagi, selamat jalan, semoga hari kalian menyenangkan,"
Ucapnya sembari tertawa, lalu pergi begitu saja.
"Menarik sekali,"
Gumam Agala, yang hanya bisa didengar olehnya sendiri.
Sementara itu Ellen, dan Zeir masih diam ditempat, Ellen saat ini sedang sibuk merogoh kantong tersembunyi yang ada lengan bajunya.
"Pakai ini,"
Ucap Ellen, memberikan sebuah cincin perak, dengan permata merah di tengahnya, pada Zeir.
"Cincin?, Untukku?,"
Tanyanya, dengan raut wajah bingung.
"Heh!, aku tidak memberikannya padamu, hanya sekedar meminjamkan saja, cincin itu bisa merubah penampilan, cepat pakai!,"
Ucap Ellen, kemudian ia pun memakai cincin yang satunya lagi, seketika rambut hitamnya berubah menjadi coklat, dan iris matanya pun berubah menjadi hitam.
"Kenapa tidak kau gunakan saja, untuk keluar dari istana sendirian?,"
"Cincin itu hanya merubah warna rambut, dan iris matamu, tidak merubah wajah, mereka yang ada di istana sudah mengenal wajahku, tapi orang-orang di luar istana mungkin saja, hanya mengenal warna iris mata, dan rambut ku saja, dan aku tidak ingin menarik perhatian, sudah jangan banyak tanya lagi, cepat pakai,"
Ucap Ellen, ia lalu memakaikan cincin itu ke jari manis Zeir, kemudian
"Setelah itu apa?, Kita akan kemana?,"
Lagi-lagi Zeir bertanya, membuat Ellen memutar bola matanya malas.
"Ke pasar, kau tahu jalannya kan?, Cepat tunjukan,"
Zeir pun mengangguk kan kepalanya.
Mereka berdua akhirnya pergi ke sebuah pasar, yang letaknya ada ditengah ibu kota.
Penyamaran mereka berhasil, tidak ada satupun orang di pasar yang menyadari keberadaan mereka.
"Woahh!,"
Gumam Ellen, menatap kagum pada lentera-lentera merah, yang tergantung di sepanjang jalan pasar.
"Lihat itu, ayo ke sana,"
Ellen sangat bersemangat saat melihat sebuah toko yang menjual berbagai manisan, Ia pun menarik tangan Zeir ke toko itu.
"Berapa harga manisan ini?,"
Tanya Ellen, pada sang penjual manisan.
"2 koin perak saja Nona, belilah, saya jamin rasanya enak,"
__ADS_1
Rayunya pada Ellen.
Ellen mengambil beberapa tusuk manisan buah-buahan itu, lalu meminta Zeir untuk membantu membawanya, Zeir pun hanya menerimanya dengan pasrah.
Ellen terus menyeret Zeir ke sana, dan kemari, mengajaknya mencicipi berbagai makanan, dan minuman di pasar, bahkan semua toko, mungkin sudah di datangi oleh Ellen.
"Kapan kau akan selesai?, Hari sudah mau gelap, kita harus pulang,"
Ucap Zeir, setelah sekian lama bungkam, akhirnya ia mengeluh juga.
Mereka saat ini, sedang berada di sebuah toko yang menjual berbagai aneka topeng.
"Setelah ini, aku janji kita akan pulang,"
Bujuk Ellen.
"Dua jam yang lalu juga kau berjanji
Seperti itu,"
Sinis Zeir, tanganya sudah pegal, membawa semua barang yang dibeli Ellen.
"Untuk apa terburu-buru pulang tuan,
Malam ini adalah malam festival, sangat disayangkan, jika dilewatkan begitu saja"
Ucap sang penjual topeng.
"Festival?, Festival apa?,"
Tanya Ellen dengan semangat yang menggebu-gebu.
"Nona tidak tahu?, Malam ini adalah malam pertama, Festival supermoon, acaranya akan diadakan selama tujuh hari berturut-turut, sebelum supermoon datang, lalu pada malam puncak supermoon nanti, para anak muda akan berkumpul, untuk mencari pasangan yang ditakdirkan,"
Jelasnya panjang lebar.
"Mencari pasangan yang ditakdirkan,"
Gumam Ellen, dengan raut wajah bingung.
"Benar Nona, pasangan yang ditakdirkan oleh dewi bulan, Karena setiap orang memiliki pasangan yang sudah ditakdirkan oleh dewi bulan,"
Jelasnya.
"Terimakasih telah memberitahu saya, saya ingin membeli dua topeng ini,"
Ucap Ellen, sembari memberikan uangnya.
Setelah membeli topeng mereka berdua keluar dari toko itu, Ellen lalu berjalan dengan cepat mendahului Zeir, membuatnya harus mengejar langkah Ellen.
"Berhenti,"
Ucap Zeir, ia berhasil menangkap tangan Ellen.
Ellen membalikan tubuhnya, menghadap ke arah Zeir, raut wajah Eleln saat ini, membuat Zeir sulit untuk menebak, apa yang tengah dipikirkan oleh Ellen.
"Ada apa Pangeran Zeir?, Kita harus segera pulang, lihatlah mataharinya sudah terbenam, bukankah sejak tadi kau selalu mengeluh ingin pulang,"
Ellen menyilangkan tangannya di depan dada, sembari menatap sinis pada Zeir.
"Nanti saja, lihatlah Festival nya sudah dimulai, aku tahu kau ingin melihatnya,"
Ucapnya, ia tidak mengerti, apa yang membuat raut wajah Ellen tiba-tiba menjadi kesal.
Ellen memutar bola mata malas, ia pun mengalihkan pandangannya pada lentera-lentera merah, yang mulai menyala satu persatu.
__ADS_1
Mereka berdua tengah berdiri di atas jembatan, yang berada tepat di tengah-tengah pasar, sayangnya air sungai jernih, yang membelah dua posisi pasar itu, kini masih membeku, namun sudah dipastikan dalam tujuh hari ke depan, air sungai itu akan kembali mencair, karena mulai esok hari, musim dingin di dunia klan manusia serigala, akan segera berakhir, dan digantikan dengan musim semi.