
Xiya membuka matanya perlahan, ia berharap apa yang ia saksikan sebelumnya, hanyalah mimpi buruk saja.
Namun kenyataan tetaplah kenyataan, air nata Xiya kembali berderai saat melihat jasad Ayahnya, ia tak mampu berbuat apapun, ingin rasanya Xiya berlari dan memeluk ayahnya.
"Oh kau sudah sadar rupanya, di saat seperti ini, kau pasti sangat berharap semuanya adalah mimpi buruk,"
Ucap Dewi Bulan, kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Namun lihatlah kenyataannya Xiya, tak satupun dari kalian yang akan selamat, anggaplah ini sebagai bayaran atas perasaanmu, pada Dewa Perang,"
Lanjut Dewi Bulan.
Xiya kembali berteriak, dan memberontak mencoba melepaskan diri, saat melihat seluruh anggota klannya sudah bersimbah darah.
"Indah kan?, Sebentar lagi nama wilayah klan Bunga, akan di ganti dengan nama lautan darah,"
Setelah mengucapkan kalimat itu, Dewi Bulan melangkahkan kakinya mendekati tubuh ibunya Xiya.
"Tidak, tidak, ibu, kumohon jangan bunuh ibuku,"
Ucapnya, dengan suara serak, karena terlalu banyak berteriak, dan menangis.
Mengabaikan tangisan Xiya, tanpa ampun Dewi Bulan, menusuk pedangnya ke arah perut ibu Xiya, lalu menarik pedangnya, kemudian menusuknya lagi, hingga berulang-ulang kali.
Setiap kali Dewi Bulan menarik pedang itu, maka darah segar akan keluar dengan deras, lalu setiap kali itu juga, Xiya akan berteriak histeris.
Isak tangis Xiya semakin pecah, saat melihat ibunya yang sempat tersadar sebentar, kemudian memberikan senyuman manisnya, di saat-saat terakhir.
"Ibu, ibu, jangan tinggalkan aku,"
Gumam Xiya, di sela-sela isak tangisnya.
"Lepaskan dia,"
Perintah Dewi Bulan pada prajurit yang sedari tadi menahan tangan Xiya.
Saat ia terlepas, Xiya pun langsung berlari kencang menghampiri orang tuanya, yang tergeletak tak berdaya di tanah.
Namun belum sempat menyentuh tubuh orang tuanya, ia sudah terjatuh kesakitan, karena cambukan yang tiba-tiba menghantam tubuhnya.
"Menyakitkan bukan?, Bahkan kau tidak bisa memeluk tubuh orang tuamu, di saat-saat terakhir mereka,"
Ucap Dewi Bulan, lalu kembali mencambuk tubuh Xiya, dengan cambuk petir yang ia pegang.
"Kumohon biarkan aku menghampirinya,"
Pinta Xiya, tubuhnya tergeletak di tanah, dengan tangannya yang terulurĀ ke arah orang tuanya.
Mendengar permohonan Xiya yang berulang kali, membuat hati Dewi Bulan merasa sangat senang, lalu ia pun meraih leher Xiya, dan mencekiknya, kemudian mengangkat tubuh lemah, penuh luka cambukan itu ke atas.
"Lepaskan,"
Ucap Xiya, sembari mencoba melepaskan tangan Dewi Bulan dari lehernya.
Wajah Xiya sudah memerah karena kehabisan oksigen, tinggal sedikit lagi maka nyawanya akan ikut melayang.
Namun secara tiba-tiba sebuah anak panah meluncur ke arah Dewi Bulan, hal itu membuat Dewi Bulan langsung melepaskan cengkeramannya pada leher Xiya.
"Berani-beraninya!, Siapa kau?, Keluarlah!"
Geramnya.
__ADS_1
Seseorang yang mengeluarkan anak panah itu pun akhirnya keluar dari persembunyiannya, dan segera berlari menghampiri Xiya.
"Heley,"
Lirih Xiya, dengan wajah sembabnya.
"Xiya, bertahanlah,"
Ucapnya, kemudian mengeluarkan sihir penyembuh pada luka cambuk di tubuh Xiya.
"Kakak laki-laki wanita rendahan ini, aku hampir melupakannya, bodoh sekali kau muncul di hadapanku, baiklah, kalau begitu aku juga akan menghabisi nyawa mu!,"
Ucap Dewi Bulan, kemudian ia menyerang Heley dengan cambuknya.
Dengan gesit Heley pun mengangkat tubuh Xiya, dan menghindari dari serangan itu.
"Cepat juga, mungkin kau bisa sedikit menghiburku, aku sudah bosan mendengar isak tangis wanita rendahan itu,"
Lagi-lagi Dewi Bulan, melayangkan cambukan nya.
Kali ini Heley melompat agak jauh dari Dewi Bulan, lalu menaruh tubuh Xiya ditempat yang aman.
Setelahnya Heley pun, mengeluarkan pedangnya.
"Kau!, Aku tidak akan mengampuni iblis sepertimu!,"
Ucapnya, kemudian ia melompat ke arah Dewi Bulan, dengan mengacungkan pedangnya.
Melihat Heley yang mulai menyerang, dia pun mengganti senjatanya menjadi sebuah pedang, dan menangkis serangan Heley.
"Kalau begitu akan kubuat kau memohon ampun pada iblis ini!,"
Mereka berdua pun mulai beradu senjata, Perbedaan kekuatan diantara mereka terlihat sangat jelas, namun Heley tetap berusaha keras untuk melawan Dewi Bulan, yang telah membantai keluarganya, dan kini ia harus berjuang untuk menyelamatkan adik perempuan satu-satunya.
Meskipun beberapa kali tersungkur ke tanah, Heley tetap berdiri lagi dan menahan seluruh serangan dari Dewi Bulan.
Ia menyesali kedatangannya yang terlambat, walaupun begitu Heley sudah berusaha semaksimal mungkin, agar segera kembali ke wilayah klan nya, karena jarak antara wilayah Klan air yang ia kunjungi, cukup jauh dari wilayah klan bunga.
"Menyerahlah, dan memohon lah, maka aku akan berbaik hati untuk membiarkanmu melarikan diri,"
Ucap Dewi Bulan, karena berhasil mengalahkan Heley.
Sementara itu, Xiya tengah berjuang untuk menghampiri jasad orang tuanya, dengan cara merangkak perlahan-lahan, namun perhatiannya langsung teralihkan, saat melihat Heley yang sudah tak berdaya, dan hanya bertumpu pada pedangnya.
"Heley pergilah kumohon, aku tidak sanggup kehilangan lagi, kumohon tinggalkan saja aku, kumohon Heley,"
Ucap Xiya, menatap Heley dengan tatapan memohon nya.
Sedangkan Heley malah tersenyum, karena baru kali ini ia mendengar adik perempuannya meminta sesuatu padanya, namun sangat disayangkan ia tidak bisa mengabulkan permohonan Xiya.
"Maafkan aku Xiya, aku tidak pernah jadi kakak laki-laki yang baik untukmu,"
Ucap Heley, luka tebasan pedang di tubuhnya yang cukup dalam, membuat Heley memuntahkan darahnya.
"Itukah pesan terakhirmu, sudah siap mati rupanya, kalau begitu mari kita percepat saja,"
Setelah mengucapkan kalimat itu, Dewi Bulan pun menancapkan pedangnya tepat di jantung Heley, darah segar pun kembali membanjiri wilayah klan bunga.
Xiya memejamkan matanya, ia benar-benar merasa tak sanggup lagi untuk membuka matanya, Bahkan air matanya pun sudah kering.
Hati Xiya benar-benar tercabik-cabik, seolah ada sebuah senjata tajam yang terus menikam dadanya tanpa henti, bahkan sakit ditubuhnya tak sebanding dengan sakit di hatinya.
__ADS_1
Setelah berhasil membunuh Heley, Dewi Bulan kembali mendekati Xiya.
"Sudah cukup main-mainnya, aku akan mengakhiri hidupmu sekarang juga, tapi sebelum itu, aku akan merusak wajah murahan yang sudah menggoda Leiys,"
Kemudian ia pun dengan kejam membakar wajah Xiya, membuat Xiya berteriak kesakitan karena panasnya api yang melahap wajah.
"Hentikan!, Kumohon!,"
Teriak Xiya, ia benar-benar merasa tidak sanggup lagi untuk menahan panasnya api.
"Bersabarlah, aku akan mengakhiri penderitaanmu sesegera mungkin, jadi berterimakasih lah padaku,"
Ucap Dewi Bulan, lalu ia pun menancapkan pedangnya tepat di jantung Xiya, membuat Xiya memuntahkan darah merah yang amat pekat.
"Dengan ini berakhirlah sudah penderitaanmu,"
Kalimat terakhir yang Xiya dengar sebelum ia mengembuskan nafas terakhirnya.
"Buang mayat ini ke jurang iblis, biarkan para siluman kelaparan memakan tubuhnya,"
Titah Dewi Bulan, sembari menendang tubuh Xiya.
"Baik yang mulia, lalu bagaimana dengan yang lainnya?,"
Tanya pemimpin prajurit itu.
"Biarkan saja mereka disini, dan bakar seluruh wilayah klan bunga, jangan menyisakan satu tanaman,"
Perintah terkahir Dewi Bulan, setelah itu ia pun kembali ke alam langit, dan bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Namun kepulangannya yang penuh dengan noda darah, langsung dihentikan oleh Dewa Kebijaksanaan.
"Dewi Bulan, apa yang sudah kau lakukan?!,"
Tadinya, Dewa Kebijaksanaan pikir, bahwa Dewi Bulan hanya akan menggertak saja, namun kondisi Dewi Bulan membuatnya sangat khawatir pada klan bunga saat ini.
"Jangan bicarakan hal ini pada siapapun, atau aku akan bunuh diri,"
Ancamnya pada Dewa Kebijaksanaan, ia memang selalu memanfaatkan perasaan Dewa Kebijaksanaan untuk memerasnya.
"Tapi ini sudah keterlaluan Dewi Bulan, saya tidak akan mentoleransi hal kejam seperti ini!,"
Tegasnya pada Dewi Bulan.
"Memangnya apa yang bisa kau lakukan?!,"
Teriak Dewi Bulan, menatap tajam padanya.
"Jika kau mengatakan hal ini pada Leiys, aku benar-benar akan mengakhiri hidupku, lihat saja,"
Ucapnya dengan nada suara yang benar-benar terdengar sangat takut.
"Anda pikir saya akan takut dengan ancaman anda!, Kesalahan anda benar-benar tidak bisa dimaafkan lagi Dewi Bulan!,"
Ucapnya dengan nada suara yang tenang, ia tak habis pikir kenapa dirinya bisa menyukai Dewi berhati iblis seperti Dewi Bulan.
"Ah kau sudah tidak mencintaiku lagi rupanya, baiklah, apa boleh buat, kalau begitu akan kubuat kau membisu selamanya."
Ucap Dewi Bulan.
Namun ia tidak membunuh Dewa Kebijaksanaan, ia hanya mengambil paksa kekuatan sihirnya, dan juga kultivasinya, sehingga membuat Dewa Kebijaksanaan, harus turun kembali ke dunia manusia tempat asalnya, untuk mengumpulkan kembali kekuatannya.
__ADS_1