Takdir Yang Tak Terelakkan

Takdir Yang Tak Terelakkan
Alam spritual


__ADS_3

Seorang wanita cantik, yang mengenakan gaun berwarna putih, dan biru, tengah duduk di sebuah kursi, dengan sebuah meja yang dipenuhi banyak buku di hadapannya.


Ia menatap kagum pada sosok laki-laki tampan, yang tengah duduk bersila di hadapannya, sembari memainkan kecapi kesayangannya.


"Apa kau sudah menghafalnya?,"


Tanya sang Dewa Perang, yang tiba-tiba menghentikan permainan kecapinya.


Hari pertama Xiya belajar dengan Dewa Perang, bukannya langsung latihan kultivasi, ia malah di perintahkan untuk menghafal banyak buku, tentang permulaan alam semesta terbentuk.


"Saya sudah hafal semuanya, apakah kita hanya akan belajar seperti ini,"


Kalimat terakhirnya diucapkan sepelan mungkin, agar Dewa Perang tidak mendengarnya.


Namun tentu saja, gumaman kecil Xiya, tetap terdengar olehnya, sang Dewa Perang pun hanya tersenyum tipis.


Kemudian ia berdiri, dan melangkah mendekati Xiya.


"Baiklah karena kau sudah menghafalnya, saya akan mulai mengajarkan sesuatu, perhatian baik-baik, lalu ikuti,"


Ucap Dewa Perang, ia pun berdiri di hadapan Xiya, sembari melakukan gerakan sihir dengan kedua tangannya.


Lalu dalam sekejap Sang Dewa Perang yang tadinya ada di hadapan Xiya, berpindah tempat, menjadi di samping Xiya.


Xiya yang terkejut pun hampir terjatuh, namun dengan sigap Dewa Perang, menahannya, dengan cara menempatkan sebelah tangannya, di belakang punggung Xiya.


"Ini namanya teleportasi, kau sudah memperhatikannya bukan?, jadi mulailah berlatih,"


Ucap Sang Dewa Perang, sembari menatap lurus pada iris violet Xiya, dengan jarak wajahnya yang hanya tersisa beberapa senti saja dari wajah Xiya.


Sedangkan Xiya, hanya menanggapi dengan menganggukkan kepalanya.


Setelah membantu Xiya berdiri dengan seimbang lagi, Sang Dewa Perang pun melepaskan tangannya dari punggung Xiya.


Kemudian Xiya pun mengulang kembali gerakan tangan yang sudah di ajarkan oleh Dewa Perang, dalam percobaan pertama ia gagal melakukannya.


"Saya akan mencoba lagi,"


Ucap Xiya, menatap malu pada Dewa Perang.


Ia pun kembali mencoba gerakannya, namun lagi-lagi Xiya gagal, bahkan tidak ada energi sihir sedikitpun yang terkumpul ditangannya, ia sendiri merasa heran, padahal waktu ia mencoba menyelamatkan, Sang Dewa Perang, dengan kekuatan sihirnya, energi-energi sihir dengan mudah terkumpul di tubuhnya, kenapa sekarang ia malah kesusahan mengumpulkannya.


Lalu begitu juga dengan percobaan-percobaan selanjutnya, Xiya terus gagal melakukannya.


Sang Dewa Perang merasakan ada sesuatu yang terjadi, di dalam alam spritual milik Xiya.


Alam spritual adalah sebuah tempat di dimensi lain, yang dimiliki setiap orang, sebagai tempat untuk menampung kekuatan sihir.


Lalu Sang Dewa Perang meraih tangan Xiya, untuk menghentikan gerakan sihirnya.


"Jangan memaksakan diri, Xiya izinkan saya untuk melihat alam spritualmu,"

__ADS_1


Pintanya pada Xiya, masih dengan tangan kanannya, yang menggenggam tangan Xiya.


Xiya yang terkejut dengan ucapan Dewa Perang pun, menarik tangannya, dari genggaman Dewa Perang.


"Untuk apa?,"


Tanya Xiya, sembari menatap heran pada Dewa Perang.


"Sepertinya kekuatan sihirmu yang tidak stabil, berhubungan dengan alam spritualmu,"


Jelas Sang Dewa Perang.


"Baiklah, yang mulia boleh melakukannya,"


Ucap Xiya, akan tetapi ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya agar Dewa Perang bisa masuk ke alam spritualnya.


"Kalau begitu duduklah,"


Pinta Sang Dewa Perang.


Xiya pun kembali duduk, diikuti oleh sang Dewa Perang, yang ikut duduk dihadapannya.


Kini mereka berdua pun duduk bersila, di bawah pohon tempat Xiya sering bersantai, dengan posisi berhadapan.


"Pejamkan mata, dan letakan tanganmu seperti ini Xiya,"


Ucapnya, sembari memberikan contohnya, ia meletakan tanganya, di atas kaki yang bersila, dengan jari telunjuk, dan ibu jari yang disatukan.


Lalu Dewa Perang mulai mendekatkan tubuhnya perlahan pada Xiya, wajahnya pun perlahan-lahan mendekati wajah Xiya, ia menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian meniupkannya ke wajah Xiya.


Xiya memejamkan matanya erat-erat, saat hembusan hangat nafas Dewa Perang mengenai wajahnya, jantungnya berpacu cepat, ia merasa sangat gugup dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Kemudian Sang Dewa Perang, meraih wajah Xiya, dengan tangan kanannya, lalu mendekatkan wajahnya lagi, sehingga mengikis sisa jarak yang ada, setelah itu ia menyatukan keningnya dengan kening Xiya.


Tak lama setelah itu, sebuah cahaya terang muncul di sela-sela kening mereka berdua.


Sang Dewa Perang berhasil masuk ke alam spritualnya, begitu juga dengan Xiya, yang malah masuk ke alam spritual milik Dewa Perang.


Di alam spritual milik Dewa Perang, yang ternyata sangat luas, dan terasa tenang, sesuai dengan kapasitas kekuatan miliknya, Xiya melihat sesosok Serigala berbulu putih, yang memiliki tubuh sangat besar, tengah tertidur dengan nyenyak.


Dengan rasa penasarannya, Xiya mencoba mendekatinya, dengan tubuhnya yang mengambang di udara, Xiya perlahan-lahan mulai mendekat.


Meskipun sudah sangat dekat, Xiya tetap tidak memiliki keberanian untuk mengganggu tidur nyenyak serigala itu, ia hanya terdiam di hadapannya, sembari menatap dengan kagum.


Sementara itu Sang Dewa Perang yang berada di alam spritual Xiya, merasakan hal sebaliknya, karena seperti dugaannya terjadi sebuah kekacauan di alam spritual Xiya.


Di sana ia bisa melihat sebuah bunga teratai, yang hanya tinggal separuh, tengah mengeluarkan banyak aura sihir berwarna merah, yang membuat seisi alam spritual menjadi kacau.


Kemudian dengan kekuatan miliknya, Dewa Perang mencoba untuk menenangkan aura bunga itu, karena jika terus dibiarkan, maka akan membahayakan bagi kekuatan Xiya.


Tangan Dewa Perang mulai melakukan gerakan sihir, sehingga energi sihir berwarna biru mulai terkumpul di tangan, dan sekitarnya.

__ADS_1


Setelah itu, ia mengarahkan kekuatan yang ia genggam, ke arah separuh bunga teratai itu, ia terus mengarahkan kekuatannya, hingga bunga itu tidak lagi mengeluarkan aura sihir, dan alam spritual Xiya menjadi tenang.


Kemudian ia pun kembali ke kesadarannya, begitu pula dengan Xiya, mereka terbangun dengan posisi yang masih saling berdekatan, dimana kening keduanya masih menyatu.


Saat membuka matanya, iris mata Xiya langsung di sambut oleh tatapan lembut milik Dewa Perang, yang masih mempertahankan posisinya, dengan tangannya yang juga masih berada di wajah Xiya.


Lalu karena sadar akan jaraknya, Dewa Perang pun segera membuat jarak diantara mereka.


Setelah itu terjadilah keheningan diantara mereka, karena merasa canggung Xiya pun mencoba untuk memecah keheningan itu.


Ia lantas berdiri dari duduknya, kemudian merenggangkan kedua tangannya, sembari menatap ke sembarang arah.


"Wahh, entah kenapa saya merasa lebih segar dari sebelumnya, yang mulia pasti melakukan sesuatu yang hebat, terimakasih atas bantuannya,"


Ucap Xiya, sembari tersenyum manis, namun masih enggan menatap ke arah Dewa Perang.


Sedangkan Sang Dewa Perang hanya menatap lurus ke depan, untuk tetap menjaga wibawanya, meskipun saat ini ia sendiri juga merasa sedikit gugup, dan canggung.


"Sudah cukup hari ini, kau boleh pergi, dan jangan lupa untuk tetap berlatih, karena besok saya akan melihat perkembangan latihannya,"


Ucap Sang Dewa Perang.


"Baiklah yang mulia, kalau begitu saya pamit undur diri,"


Setelah mengucapkan itu, Xiya pun segera pergi dari hadapan Dewa Perang.


Setelah Xiya pergi, Dewa Perang pun juga meninggalkan tempat itu, dan kembali ke kediaman.


Malam hari pun tiba, Xiya yang sedang bersantai di kamarnya, teringat akan sesuatu saat melihat sebuah tempat minum, yang terbuat dari keramik khusus, diletakkan begitu saja di meja kamarnya.


"Oh aku hampir lupa, aku akan mengantarkannya sekarang juga,"


Ucap Xiya, sembari mengambil tempat minum itu.


Ia menuju ke kediaman Dewa Perang, tempat minum ditangannya ialah air embun yang pernah ia kumpulkan untuk Dewa Perang, agar kondisi jantungnya, mudah untuk beradaptasi di tubuh Dewa Perang.


Kini ia sudah berada di depan pintu masuk ruangan Dewa Perang, Xiya pun mengetuk pintu terlebih dahulu, namun tak ada jawaban.


"Apa yang mulia tidak ada di dalam ya?,"


Gumam Xiya, ia pun akhirnya memutuskan untuk mencoba menggunakan sihir teleportasi yang tadi dipelajari.


Meskipun belum pernah berhasil menggunakannya, Xiya tetap penasaran, dan ingin mencobanya.


Ia pun melakukan gerakan tangannya, sembari merapalkan mantra.


"Tunjukan jalan bertemu yang mulia Dewa,"


Ucap Xiya, penuh keyakinan, sembari membayangkan rupa Dewa Perang.


Xiya memang berhasil melakukannya, namun apa yang terjadi selanjutnya, akan membuatnya menyesali keberhasilannya.

__ADS_1


__ADS_2