Takdir Yang Tak Terelakkan

Takdir Yang Tak Terelakkan
sebuah rahasia


__ADS_3

Cahaya matahari pagi, mulai mengintip dari celah-celah jendela, seorang wanita cantik bersurai hitam, masih terbaring lemah di atas tempat tidurnya.


Perlahan iris violet itu terbuka, dahinya mengerut, sebab sinar matahari yang menyilaukan matanya.


"Tuan putri!, Tuan putri sudah bangun!, Tabib!,"


Teriak Cesi, yang langsung berlari keluar mencari tabib.


Kemudian tak lama, Cesi kembali ke kamar membawa seorang wanita tua bersamanya.


Seorang wanita yang merupakan tabib itupun langsung memeriksa kondisi tubuh Ellen.


"Cesi, air,"


Ucap Ellen, dengan suara serak.


Cesi yang mengerti pun segera mengambilkan air minum, lalu membantu Ellen, untuk mengubah posisi tidurnya menjadi duduk bersandar.


Sementara sang tabib kini tengah memegang pergelangan tangan Ellen, dan memeriksa denyut nadinya.


"Apa ada yang terasa sakit tuan putri?,"


Tanya tabib.


"Tidak,"


Jawab Ellen seadanya.


"Syukurlah, tuan putri sudah tertidur selama tiga hari, kepala, dan kaki tuan putri terluka, tapi tuan putri tidak perlu khawatir lukanya sudah membaik,"


Jelas tabib.


"Terimakasih tabib,"


Ucap Ellen, dengan wajah pucatnya.


"Tidak masalah tuan putri, Kalau begitu saya pamit undur diri,"


Ucapnya, tabib itupun keluar dari ruangan.


"Cesi,"


Panggil Ellen.


"Yaa tuan putri, apa anda lapar?, Cesi akan segera meminta pelayan  membawakan makanan,"


Ucapnya, cesi berniat untuk segera pergi memanggil pelayan, namun pertanyaan dari Ellen, membuat kening sang pelayan pribadi itu berkerut, karena bingung.


"Tunggu sebentar, Cesi ada dimana serigala yang menolongku?,"


Tanya Ellen, dengan raut wajah penasaran.


"Serigala yang menolong, Siapa yang di maksud tuan putri?, Pangeran ke tiga kan tidak bisa berubah wujud,"


Jelas Cesi, masih dengan raut wajah bingungnya.


"Jadi maksudmu, pangeran Zeir yang menyelamatkan ku?,"


Ellen mencoba memastikan dugaannya.


"Iyaa tuan putri, pengeran ke tiga lah yang membawa tuan putri ke kediaman, lalu meminta saya untuk segera mencari tabib pada malam itu, saya sangat terkejut saat melihat tuan putri yang sudah terbaring di atas tempat tidur dengan darah yang sangat banyak, lalu,,,,"


Cesi terus menjelaskan kejadian malam itu, sedangkan pikiran Ellen malah berada di tempat lain.


Apa serigala putih itu dia?,


Tanya Ellen dalam hati.


"Ada dimana dia sekarang?,"


Sela Ellen, di saat Cesi masih menjelaskan kejadian itu dengan panjang lebar.


"Saat ini pangeran ke tiga mungkin sedang berada di kastilnya,"

__ADS_1


Jawaban yang diberikan Cesi, membuat Ellen kembali memasang raut wajah bingung.


"Kenapa dia berada di kastilnya?, Bukankah seharusnya dia tinggal di kastil ini?,"


Ellen sangat yakin, bahwa sebelumnya fero menjelaskan, kalau kastil ini adalah tempat tinggalnya bersama Zeir.


"Saya tidak tahu tuan putri, karena setelah malam itu, pangeran ke tiga langsung pergi, dan belum pernah kembali ke sini lagi,"


Jawab Cesi.


Ellen lebih paham dari siapapun, bahwa pernikahan mereka hanyalah sebuah formalitas saja, agar klan manusia serigala bisa menjadikannya sebagai sandera.


Namun sikap Zeir yang terlihat terang-terangan menghindari nya, membuat Ellen merasa kesal, karena tidak semua orang memahami sistem politik, di luaran sana banyak orang yang menganggap pernikahan mereka benar-benar pernikahan sungguhan, dan menganggap Ellen, dan Zeir merupakan pasangan sungguhan.


Ellen tidak ingin dirinya, dipandang sebagai seorang yang telah di campakkan oleh suami.


"Hah~,"


Hela Ellen.


"Keluarlah, Aku ingin beristirahat,"


Pintanya.


"Tapi sebaiknya tuan putri makanlah terlebih dahulu,"


Setelah Cesi mengucapkan kalimat makan, tak lama kemudian perut Ellen berbunyi.


Mendengar itu, tanpa perlu berkata-kata lagi, Cesi langsung pergi meminta pelayan agar segera membawakan makanan, dan minuman.


"Cesi, dimana letak kastil pangeran Zeir?,"


Tanya Ellen.


"Kastilnya ada di belakang kediaman ini, tepat di atas gunung, jika ingin ke sana tuan putri harus menaiki tangga yang sangat banyak,"


Jelas Cesi, ia curiga majikannya ini pasti ingin melakukan sesuatu.


"Kalau begitu setelah makan, kau temani aku ke sana,"


"Tapi Tuan putri, luka anda belum sembuh,"


Khawatirnya.


" Kau benar Cesi,"


Ucap Ellen, sembari mengangguk kan kepalanya.


" jika tidak bisa menemuinya, maka akan kubuat dia yang menemui ku,"


Gumam Ellen, dengan berbagai rencana yang muncul di pikirannya.


"Cesi, lakukan ini untukku,"


Ia pun mulai menjelaskan rencananya pada Cesi.


"Itu hal yang mudah tuan putri, anggap pekerjaan ini sudah beres,"


Ucap Cesi, lalu membungkuk hormat pada Ellen.


Tak lama setelah Cesi pamit pergi, seorang pelayan datang ke kamar Ellen, membawa nampan yang berisi makanan, dan minuman, ia pun menyantapnya dengan hikmat, Ellen merasa sangat lapar, akibat tidak makan selama tiga hari karena pingsan.


Waktu pun berlalu, hari sudah mulai gelap, selama seharian ini yang bisa Ellen lakukan hanyalah berbaring di tempat tidurnya, namun ia mulai merasa bosan, dan akhirnya memutuskan untuk berdiri dari tempat tidur.


Ellen melangkahkan kakinya menuju balkon kamar, letak ruangan kamar Ellen yang cukup tinggi membuat hembusan angin cukup kuat.


Dari atas sana Ellen bisa mendengar suara serigala dengan sangat jelas, ia memejamkan matanya sejenak sembari bergumam,


"Aku harus terbiasa mendengar nya!,"


"Anda sudah datang, lebih cepat dari yang saya duga,"


Masih dengan mata terpejam nya, kalian ingin tahu bagaimana Ellen tahu, kalau Zeir sudah tiba.

__ADS_1


Tentu saja karena Zeir yang langsung mencekik leher Ellen, begitu ia tiba di balkon kamar.


"Katakan!,"


Ucapnya, dengan suara rendah, dan raut wajah datarnya.


Ellen membuka matanya, iris violet itu langsung disambut oleh iris biru milik Zeir.


"Katakan?, anda ingin saya mengatakan apa?,"


Sembari memberikan senyum miring.


"Jangan bermain-main,"


Ancam Zeir, ia mengangkat dagu Ellen, mengadahkan nya ke atas.


"Ah baiklah-baiklah, singkirkan dulu tangan anda, leher saya lelah jika terus di posisi seperti ini."


Zeir pun menarik kembali tangannya.


"Apa anda marah?, karena saya mengatakan kalau saya tahu rahasia anda?,"


Tanya Ellen, sembari mengelus-elus lehernya.


"Marah?,"


Zeir merasa bingung, ia tidak tahu seperti apa rasanya, perasaan marah pada seseorang, hal yang ia lakukan pada Ellen, semata-mata merupakan hasil dari meniru sikap orang-orang  yang pernah ia lihat.


"Lupakan saja, lagipula Saya tidak peduli tentang perasaan anda,"


Acuh Ellen.


Rencana yang Ellen buat ialah, meminta Cesi untuk mengantarkan sebuah surat yang ia tulis pada Zeir.


"Sudah cukup basa-basi nya, katakan rahasia apa yang anda maksud?,"


Tanyanya, menatap tajam pada Ellen.


"Tentu saja tentang serigala putih yang menolong saya,"


Ucap Ellen, sembari mengangkat- ngangkat alisnya.


"Tidak ada hubungannya dengan saya,"


Cueknya, namun di mata Ellen, Zeir terlihat seperti sedang mencoba menutupi sesuatu.


"Benarkah?, Tapi kenapa ya?, saya merasa serigala putih itu mirip dengan anda?,"


Ia menaruh telunjuknya di kepala, seolah-olah sedang berpikir.


Mendengar pernyataan itu, membuat Ellen mendapatkan tatapan tajam dari Zeir.


"Omong kosong,"


Ujar Zeir.


"Anda pikir saya bodoh?, Pelayan saya mengatakan, bahwa anda lah yang membawa saya pulang ke kastil, Tapi saya ingat betul, Saat itu yang menolong saya adalah serigala putih, dengan mata berwarna biru,"


Ellen menekan suaranya pada kalimat mata berwarna biru.


Pernyataan itu, membuat Ellen mendapatkan tatapan tajam dari  Zeir.


"Jadi hanya karena sebuah kebetulan, anda menyimpulkan bahwa serigala putih yang menolong anda adalah saya?,"


Ucapnya masih menatap tajam pada Ellen.


"Kebetulan macam apa?, yang membuat pangeran Zeir langsung mendatangi saya malam-malam begini, apakah hanya karena sepucuk surat, yang mengatakan bahwa saya tahu sebuah rahasia anda?, Tapi bagaimana jika surat itu palsu?,"


Dalam perang kata seperti ini, Ellen merupakan ahlinya.


"Anda juga tiba-tiba muncul di hadapan saya, apakah letak ruangan yang tinggi ini, juga sebuah kebetulan bagi anda?, Sehingga membuat pangeran ingin melompat dari bawah sana, padahal anda bisa masuk lewat pintu itu,"


Sinis Ellen, sembari menunjuk pintu kamarnya, kemudian tersenyum miring.

__ADS_1


Ocehan panjang dari Ellen membuat Zeir tak berkutik, sedari tadi ia hanya diam mendengarkan Ellen yang terus bicara tanpa henti, sampai-sampai ia bertanya-tanya dalam hati, apakah ia harus hidup bersama manusia berisik ini selamanya?.


__ADS_2