
Suara dentuman petir yang menggelegar, menghancurkan alam disekitarnya, dan besarnya kobaran api, melahap banyak mahluk hidup tak bersalah.
Semua bencana itu, disebabkan oleh perang, yang tak berkesudahan, antara para dewa, dan iblis.
Saat ini sang Dewa Perang, tengah bertarung hebat, dengan dewa Iblis, tubuh sucinya terluka parah, sementara sang Dewa Iblis sama sekali tidak terluka.
"Leiys, kau tidak akan bisa menyentuhku!,"
Ucap sang Dewa Iblis, sembari tersenyum miring.
Kemudian,menghunuskan pedang sihirnya, yang berapi-api, ke arah Dewa Perang, lalu menusukan pedang itu, tepat di jantung Leiys.
Dengan tubuhnya, yang terluka parah, Sang Dewa Perang tentu saja, tidak mampu lagi untuk menahan serangan dari Dewa Iblis.
"Agh!,"
Rintihnya kesakitan, kemudian mengeluarkan, cairan berwarna merah pekat, dari mulutnya.
"Ini semua belum selesai, jangan merasa kau sudah menang!,"
Ucapnya, menatap tajam pada Dewa Iblis.
Setelah mengucapkan kalimat itu, tubuhnya dipenuhi oleh cahaya berwarna putih, Kemudian secara tiba-tiba, dia mendekap tubuh Dewa Iblis, ia berencana untuk melakukan sebuah sihir pengorbanan jiwa, dimana ia akan meledakan tubuhnya, dengan begitu, Dewa Iblis pasti akan ikut binasa bersamanya.
"Semuanya memang belum selesai, tapi riwayat hidup mu lah yang akan selesai malam ini,"
Bisik Dewa Iblis, ia sudah tahu apa yang ingin dilakukan oleh Leiys.
Lalu dengan liciknya, Dewa Iblis yang mengetahui rencana Leiys, segera membalikan keadaan, dengan cara menusukan pedangnya kembali ke tubuh Leiys, dari belakang.
Lagi-lagi Pedang itu menembus hingga ke jantungnya, membuat Leiys kembali memuntahkan cairan berwarna merah yang pekat.
Kemudian Dewa Iblis pun menyingkirkan tubuh Leiys, dari dirinya, sembari tersenyum licik.
Cahaya putih ditubuh Leiys, yang tadinya terang, perlahan-lahan mulai meredup hingga menghilang sepenuhnya.
Dewa Iblis mencabut kasar pedangnya dari tubuh Leiys, sehingga membuat darah di jantung Leiys mengalir keluar dengan deras.
lalu Dewa Iblis memberikan serangan akhirnya pada Leiys, menggunakan sihir hitamnya, hingga membuat, tubuh Leiys yang tadinya melayang, di atas awan, menjadi terhempas ke bawah.
Setelah melakukan hal itu, Dewa Iblis tidak lagi memperdulikan kemana jatuhnya tubuh Leiys, ia sangat yakin bahwa Leiys tidak akan bertahan hidup, setelah menerima serangannya.
Sementara itu di alam Klan Bunga, Xiya tengah bersantai di bawah pohon kesukaannya, sembari menatap langit malam yang terbentang luas, dengan bintang-bintangnya.
Tak lama kemudian, ia melihat sebuah bintang jatuh ke arah selatan, Xiya yang penasaran pun, memutuskan untuk mengikuti arah jatuhnya bintang itu.
Bintang itu mengarah ke wilayah kolam langit milik Klan Bunga, kolam itu adalah kolam suci milik Klan Bunga, yang tidak akan pernah tercemar oleh noda sihir apapun, kolam itu juga bisa, mengabulkan keinginan seseorang, yang ingin terlahir kembali.
Xiya mengerutkan keningnya, saat melihat sebuah mahluk yang tergeletak lemah, di pinggir kolam langit, bukannya mendapatkan sebuah bintang, ia malah melihat sosok serigala kecil berwarna putih.
Perlahan Xiya melangkah, mendekati serigala kecil itu, ia lalu memberanikan untuk menyentuhnya.
__ADS_1
"Dia terluka,"
Gumam Xiya, kemudian mengangkat tubuh serigala itu, membawanya ke pohon, tempatnya bersantai tadi.
Dari energi kesadaran spiritual, Serigala kecil, yang sangat sedikit, Xiya bisa mengetahui bahwa ia pasti terluka parah, sehingga membuatnya kembali ke wujud asli.
Setelah sampai dibawah pohon, Xiya meletakan tubuh Serigala itu ke bawah, dengan hati-hati.
Lalu, ia kembali memeriksa kondisi tubuh serigala itu dengan menggunakan sihirnya, untuk memastikan bagian tubuh yang terluka.
"Gawat, jantungnya terluka parah!, "
Ucap Xiya, dengan raut wajah khawatir.
Menurut perkiraan Xiya, dengan keadaan jantungnya yang terluka parah, Serigala kecil itu tidak akan bertahan lama lagi.
Xiya hanya bisa memikirkan satu cara untuk Menyelamatkannya, yaitu dengan cara mengorbankan setengah jantung bunganya.
Jantung klan Bunga adalah hal yang sangat berharga, karena jantung mereka, dapat memberikan kehidupan, pada mahluk yang sedang di ambang kematian.
namun ia masih merasa ragu, dan bimbang, karena cara itu, akan membuatnya terikat, dengan mahluk yang memiliki setengah jantungnya.
Akan tetapi Xiya merasa tidak sanggup melihat Serigala itu mati di depan matanya, sedangkan dia hanya diam, tidak melakukan apapun, padahal dia bisa menyelamatkannya.
Tanpa pikir panjang lagi, Xiya langsung mulai melakukan teknik sihirnya, saat melihat energi milik Serigala itu mulai tercerai berai.
Bunga-bunga di taman itu, mulai berterbangan mengelilingi tubuh Xiya, lalu sihir berwarna merah mulai membelah jantungnya perlahan-lahan.
Kini giliran tubuhnya lagi, yang tersayat, karena harus mengeluarkan setengah jantung miliknya.
Ia memuntahkan cairan pekat berwarna merah, dari mulutnya, saat jantung berbentuk setengah bunga teratai itu, keluar perlahan dari tubuhnya.
"Aghh!,"
Teriak Xiya, kemudian mengarahkan jantungnya, pada tubuh Serigala kecil itu.
Sama seperti Xiya, tubuh Serigala itu juga perlahan tersayat kecil, kemudian jantung milik Xiya, mengambil alih posisi jantungnya.
Setelah berhasil melakukannya, Xiya pun tersenyum, ini adalah senyum pertamanya di sepanjang ia hidup.
"Aku berhasil,"
Gumam Xiya, dengan deru nafasnya yang terengah-engah.
Xiya mengangkat tubuh Serigala itu, dan membawanya ke dalam pelukannya, kemudian melangkahkan kakinya dengan tertatih-tatih, berjalan pulang ke kediamannya.
Setelah sampai di kediaman pribadinya, seorang pelayan miliknya, menatapnya dengan tatapan terkejut, bagaimana tidak, ia kembali dalam keadaan darah kering yang sudah mengotori gaunnya, ditambah lagi, ia membawa seekor Serigala putih di pelukannya.
"Penguasa muda, apa yang terjadi pada anda ?!,"
Tanya pelayan itu.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, jangan katakan hal ini pada ayahku,"
Pinta Xiya, ia tidak ingin membuat ayahnya khawatir.
"Baik penguasa muda, mari saya bantu,"
Ucapnya dengan patuh, lalu membantu memapah Xiya, berjalan masuk ke dalam kediaman.
Beberapa hari kemudian, keadaan Xiya telah pulih sepenuhnya, dari luka yang ia dapatkan saat membelah jantungnya.
Namun Serigala putih itu masih belum sadar hingga saat ini, ia tetap tertidur pulas dengan wujud serigala kecilnya.
Selama Xiya sudah mengumpulkan banyak tanaman ajaib, yang bisa memulihkan luka, dan energi sihir, namun tetap saja, Serigala itu tak kunjung sadar.
Bahkan saat ini ia tengah mengumpulkan air embun di pagi hari, untuk diberikan pada Serigala itu, jika ia nanti terbangun, itu semua karena air embun di pagi hari, yang ada di klan bunga, sangat bermanfaat bagi jantung klan Bunga.
Setelah selesai mengumpulkannya, Xiya pun kembali pulang ke kediamannya.
"Aya,"
Teriak Xiya, memanggil pelayannya.
"Aya, cepatlah bantu aku membuat obat,"
Lagi-lagi ia memanggil pelayannya.
Kemudian dari kejauhan pelayan nya pun berlari menuju ke arah Xiya, saat mendengar namanya di panggil.
"Penguasa muda!, Anda tidak perlu lagi membuat obat-obatan seperti ini lagi kedepannya, Saya menemukan sebuah cara yang cepat, agar Serigala kecil itu mendapatkan kesadarannya kembali!,"
Ucapnya dengan suara yang menggebu-gebu.
"Benarkah?, Cara seperti apa?,"
Tanya Xiya.
"Sebelumnya maafkan saya penguasa muda, karena saya pergi ke klan manusia serigala tanpa Seizin anda, namun di sana saya mendapatkan petunjuk, katanya, manusia serigala yang kembali ke bentuk awal, akan cepat mendapatkan kesadarannya jika sering terkena cahaya bulan, apalagi malam ini adalah bulan purnama,"
Jelas Pelayan Xiya, dengan berbagai raut wajahnya, di beberapa kalimat pertama, ia menunjukkan raut wajah penyesalan, namun di beberapa kalimat terakhir ia menunjukan raut wajah yang sangat bersemangat.
"Terimakasih telah memberitahu ku hal ini Aya, tapi lain kali kau tidak boleh pergi sembarangan, apalagi sampai ketahuan oleh ayah,"
Ucap Xiya, ayahnya adalah pemimpin klan Bunga, meskipun ayahnya sangat baik dan kelihatan lembut, namun ia sangat tegas terhadap peraturan di klan bunga.
Setelah mendengarkan petunjuk itu, di malam harinya, Xiya mencoba memutuskan untuk membawa Serigala kecil itu keluar dari kediamannya.
Seperti biasa, Xiya pasti akan pergi ke taman klan Bunga, membawa Serigala di pelukannya, menuju ke arah sebuah pohon, tempat ia biasa meneduh, dan bersantai.
Ia meletakan tubuh Serigala itu di bawah dengan hati-hati, Xiya memilih tempat yang cocok agar cahaya Bulan mengenai Serigala itu.
Kemudian Xiya pun kembali ke bawah pohon, karena ia tidak tega meninggalkan Serigala itu sendirian di luar, dia akhirnya memilih untuk menunggunya, sembari duduk, dan bersandar, di bawah pohon.
__ADS_1