Takdir Yang Tak Terelakkan

Takdir Yang Tak Terelakkan
Konsekuensi


__ADS_3

"Agh!,"


Rintih seorang wanita cantik yang terjatuh dari tempat tidurnya.


"Gawat!, Apa aku meninggalkan Serigala itu sendirian di taman!?,"


Ucapnya, setelah sadar bahwa ia saat ini tengah berada di kamarnya, dan bukan di taman, tempatnya meninggalkan Serigala itu.


Xiya pun bergegas bangun dari tidurnya, kemudian berlari keluar dari kamar.


Akan tetapi saat ia keluar dari kediaman nya, ia malah terkejut saat melihat Ayahnya bersama dengan beberapa pasukan, tengah menunggunya di luar pintu masuk.


Xiya pun memelankan langkah kakinya, sembari terus bertanya-tanya dalam hati, karena tak biasanya, raut ayahnya seserius itu, ditambah lagi ayahnya yang membawa prajurit ke kediamannya.


"Ayah ada apa datang sepagi ini?,"


Tanya Xiya, dengan perasaan gugupnya.


"Xiya ayah menerima laporan bahwa kau melakukan hal tidak pantas semalam, dengan digendong oleh laki-laki tak dikenal,"


Ucap ayah Xiya.


Xiya yang mendengar pernyataan ayahnya, membuat nya merasa sangat terkejut, ia tidak ingat, pernah bertemu seorang laki-laki semalam, jadi bagaimana mungkin hal itu terjadi.


"Ayah, aku sama sekali tidak melakukan hal yang dituduhkan itu,"


Sangkal Xiya.


Ia sangat takut sekarang, karena di dalam aturan klan Bunga, mereka tidak boleh membawa sembarang orang ke wilayahnya, ditambah lagi ia dituduh melakukan hal tak pantas.


Ayah Xiya yang menyadari keanehan ditubuh putrinya pun, langsung memeriksa kondisi tubuh Xiya, menggunakan sihirnya.


"Xiya!, Kau benar-benar sudah kelewatan!,"


Ucap ayahnya, menatap kecewa pada Xiya.


"Sekarang bawa Xiya ke Aula hukuman!,"


Titahnya, pada prajurit yang ia bawa.


Kemudian prajurit itu pun langsung memegang lengan Xiya di kedua sisinya, membawa nya pergi menuju ke aula hukuman.


"Tidak!, Ayah dengarkan penjelasan ku,"


Ucap Xiya, sembari memberontak.


Sedangkan ayahnya, terus berjalan ke depan tanpa mendengar ucapan Xiya, ia terlanjur kecewa dengan sikap sembarangan Xiya, yang sudah menghilangkan setengah jantungnya.


Lalu berakhir lah, Xiya di aula hukuman, dengan kedua tangannya yang terikat oleh rantai, di kedua sisi tubuhnya, di sekelilingnya juga terdapat banyak tiang-tiang besar, yang dimana setiap tiangnya, mengeluarkan Sambaran petir.


Sedangkan ayahnya Xiya, bersama beberapa orang terhormat lainnya dari klan bunga, tengah duduk di sisi lain aula.

__ADS_1


"Xiya kau telah melanggar aturan dengan membawa sembarang orang masuk ke wilayah Klan, maka akan dihukum lima sambaran petir, kemudian ditambah lagi dengan hukuman karena membagi setengah jantung, tanpa seizin ketua klan, kau dihukumi dua ratus Sambaran petir,"


Ucap salah seorang hakim dari klan Bunga.


Xiya hanya menundukkan kepalanya dengan pasrah, menerima semua konsekuensi dari perbuatannya.


Hukuman nya pun dimulai, baru satu sambaran petir saja, sudah membuat Xiya memuntahkan darahnya.


Gaun putihnya yang semula berwarna putih bersih, kini mulai berwarna merah, saat sambaran petir yang ke lima kalinya mengenai tubuhnya.


Namun pada sambaran petir yang ke tujuh, seseorang tiba-tiba datang, dan menahan seluruh Sambaran petir itu untuk Xiya.


Dengan kekuatan sihirnya yang sangat kuat, ia malah membuat tiang-tiang di aula itu hancur berkeping-keping.


Aksinya tersebut membuatnya mendapatkan perhatian, dari seluruh orang klan Bunga yang menyaksikan hukuman itu.


Sementara itu ayah Xiya, dan juga para bawahannya, yang menyadari siapa orang tersebut, langsung turun ke aula, dan berlutut memberikan hormat.


"Kami memberi hormat pada Dewa Perang yang agung,"


Ucap mereka bersamaan, membuat orang-orang dari klan Bunga pun langsung berlutut memberi hormat.


Sedangkan Xiya, yang sudah dalam posisi berlutut, karena lemas pun hanya diam, menatap punggung Sang Dewa perang, yang sudah melindunginya.


"Maafkan atas kelancangan saya yang tiba-tiba hadir, dan mengejutkan kalian semua,"


Ucapnya, dengan nada suara yang terdengar tenang.


"Kami tidak berani menerima permintaan maaf dari yang mulia,"


"Saya ingin meluruskan kesalah pahaman yang terjadi disini, orang yang membawa putri anda semalam adalah saya,"


Setelah mengucapkan itu Dewa perang pun berlutut di hadapan Ayah Xiya.


"maafkan saya, karena semua kesalahpahaman ini terjadi karena saya, dan tentang jantung putri anda, saya lah orang yang menerimanya, jadi seharusnya orang yang di hukum adalah saya,"


Ucapnya, Dewa perang memang memiliki status yang sangat tinggi, akan tetapi ia memiliki sifat yang rendah hati, bahkan tidak segan utnuk berlutut meminta maaf, jika ia berbuat suatu kesalahan.


"Kami tidak berani menerima permintaan maaf yang mulia,"


Ucap mereka semua sembari mengubah posisi menjadi bersujud, karena melihat Dewa Perang yang agung itu berlutut.


"Yang mulia, kami tidak pantas  memberi hukuman pada anda, hanya sebagian jantung, tentu saja kami bersedia mempersembahkannya pada yang mulia Dewa Perang yang agung,"


Ucap Ayah Xiya, ia tidak akan mempermasalahkan hal ini, jika tahu Xiya memberikan setengah jantungnya, untuk Dewa Perang.


"Terimakasih atas pengertiannya, putri anda telah menyelamatkan saya, dengan memberikan setengah jantungnya, karena saat itu saya terluka akibat peperangan dengan Dewa iblis, jasa putri anda begitu besar, apakah ada yang bisa saya lakukan sebagai balas budi,"


Ucap Sang Dewa Perang, ia pun mengubah posisi berlutut nya menjadi berdiri, agar orang-orang Klan Bunga bisa mengangkat kepala mereka.


Sementara itu, Xiya masih terdiam di belakang tubuh Dewa Perang, menatap punggung tegapnya, sembari  memikirkan hal apa saja yang sudah ia lakukan pada Dewa perang, saat dia masih berwujud Serigala, Xiya takut pernah membuat suatu kesalahan.

__ADS_1


"Yang mulia anda adalah seorang pahlawan di seluruh alam ini, bagaimana mungkin kami meminta balas budi, hanya karena setengah jantung,"


Balas ayah Xiya, saat mendengar ucapan panjang lebar dari Dewa Perang.


Dewa Perang mengerutkan dahinya, saat merasakan sedikit nyeri pada jantungnya, ia pun menoleh ke belakang, menatap Xiya, yang sedari tadi terus memegang dadanya dengan raut wajah kesakitan.


"Kita akan membahas hal ini nanti, saya pasti akan bertanggungjawab atas semua hal yang sudah terjadi karena saya,"


Ucap Sang Dewa Perang, ia pun menundukkan tubuhnya mendekati Xiya, kemudian dia memutus rantai pada tangan Xiya, dengan sihirnya, lalu mengangkat tubuh lemah Xiya, di pelukannya.


Xiya pun tersentak karena terkejut, saat tubuhnya tiba-tiba melayang, lalu ia terdiam, karena terpaku oleh paras rupawan sang dewa perang, yang memiliki hidung mancung, dengan surai putih, dan netra mata berwarna biru.


Iris violetnya pun bersitatap dengan iris biru milik dewa perang, karena merasa canggung, Xiya pun mengalihkan tatapannya.


Setelah itu ia pun segera membawa Xiya pergi dari Aula itu, dengan sihirnya.


Mereka tiba di kediaman milik Xiya, ia pun masuk ke dalam ruangan tempat beristirahat Xiya, seolah-olah telah hafal dengan posisi ruangannya.


Ia lalu meletakan tubuh Xiya perlahan di atas tempat tidur.


Kemudian membuat sebuah gerakan sihir di tangannya, dan mengarahkannya ke tubuh Xiya, ia mencoba untuk menyembuhkan luka-luka di tubuh Xiya.


Sedangkan Xiya hanya terdiam, menatap lurus pada Dewa Perang.


"Yang mulia, maafkan saya jika selama ini saya pernah bersikap tidak sopan pada anda,"


Ucap Xiya, menatap segan pada Dewa perang.


"Jangan khawatir, beristirahat lah dengan tenang,"


Ucapnya, dengan raut wajah yang nampak tenang.


Xiya pun hanya menganggukkan kepalanya, dan menutup matanya, erat-erat agar ia bisa kembali tertidur, untuk memulihkan tenaganya.


Setelah Xiya tertidur, Dewa perang pun pergi, dan kembali menemui ayah Xiya, untuk menyelesaikan urusan yang sempat tertunda.


Sementara itu ayah Xiya, dan kakak laki-laki Xiya, yaitu Heley tengah berdebat di sebuah ruangan.


"Ayah, meskipun dia adalah Dewa Perang, tapi Xiya adalah seorang putri yang berharga bagi klan kita, dia adalah adik perempuan ku, memberikan setengah jantung itu artinya Xiya akan terikat seumur hidupnya, bahkan sampai ia mati, dan bereinkarnasi pun, mereka akan tetap terikat, "


Ucap Heley, dengan raut wajah marahnya.


"Ayah juga tahu Heley,"


Balas sang ayah.


"Ayah, tidak masalah jika Xiya memberikan jantungnya pada seorang perempuan, tapi dia memberikannya pada seorang laki-laki, bukankah ayah tahu, setelah ini tidak akan ada seorang pun yang ingin hidup bersama Xiya, jika tahu bahwa Xiya terikat dengan Laki-laki lain,"


Ucap Heley, dengan raut wajah sedihnya, ia sangat menyayangi Xiya.


"Meskipun begitu Heley, kita tidak mungkin meminta pertanggungjawaban dari Seorang Dewa Perang yang agung,"

__ADS_1


Jawab sang ayah, sembari menghela nafasnya.


Tanpa mereka sadari Seseorang di balik pintu, mendengar semua percakapan mereka.


__ADS_2