Takdir Yang Tak Terelakkan

Takdir Yang Tak Terelakkan
kemajuan


__ADS_3

Sihir teleportasi yang Xiya coba pun berhasil, akan tetapi kemunculannya di depan Dewa perang, sangat tidak tepat.


Saat ini Dewa Perang tengah berendam di sebuah kolam air panas, yang ada di atas bukit, kolam itu dikelilingi oleh banyak pohon, dan bunga indah yang bisa bersinar seperti sebuah lampu.


Xiya meneguk ludahnya, ia merasa gugup, saat tak sengaja, menatap setengah tubuh Sang Dewa Perang, yang sedang tak memakai pakaiannya, untung saja setengah tubuh lainnya sedang berada di dalam kolam.


Xiya pun memegang erat tempat minum keramik yang berisi air embun di tangannya, sekarang ia bingung harus bagaimana, Xiya takut jika Dewa Perang akan marah padanya, akibat muncul di saat yang tidak tepat.


Dewa Perang sedang memejamkan matanya, sembari menikmati hangatnya air panas, akan tetapi karena merasakan keberadaan seseorang di depannya, ia pun membuka matanya.


Ia pun mengerutkan keningnya, saat melihat Xiya tengah berdiri dengan kaku, di depannya, sambil memegang sebuah tempat minum.


"Xiya?,"


Ucap Sang Dewa Perang, sembari menatap Xiya, dengan tatapan penuh tanya.


Xiya pun mengalihkan pandangannya, dengan wajah yang memerah padam, saat matanya tak sengaja bertemu dengan iris mata milik Dewa Perang.


"Maafkan saya yang mulia, karena tiba-tiba muncul dihadapan anda, saya, saya,"


Entah kenapa dia merasa lidahnya sangat berat saat ini.


"Ada apa?,"


Tanya Sang Dewa Perang, sembari menahan senyum saat melihat wajah merah Xiya, yang bersinar di bawah terangnya cahaya bulan.


"Saya membawakan air embun ini untuk yang mulia,"


Ucap Xiya, masih mengalihkan pandangannya, sembari menutup kedua matanya dengan tangan kiri, kemudian dia meletakan tempat minum itu, di pinggir kolam.


"Terimakasih,"


Melihat Xiya yang masih salah tingkah, seketika membuat Dewa Perang tiba-tiba memikirkan ide jahil.


Setelah meletakan tempat minum itu, Xiya berniat untuk pamit dan pergi, namun belum sempat melakukan niatnya itu, secara tiba-tiba tubuhnya malah terjatuh ke dalam kolam, seolah-olah ada seseorang yang sengaja mendorongnya.


Akibatnya membuat Xiya pun menjadi basah kuyup, untung saja kolam itu tidak dalam.


"Maafkan saya yang mulia, saya, saya bukan sengaja untuk masuk ke kolam, saya benar-benar tidak sengaja,"


Ucap Xiya, dengan nafas yang terengah-engah, ia benar-benar takut jika sampai membuat sang Dewa Perang marah padanya.


Setelah sadar bahwa sang Dewa Perang di depannya, masih dengan keadaan yang sama, Xiya pun kembali menutup matanya, dengan tangan.


Sedangkan orang yang telah menjahilinya, tengah tertawa kecil, sudah lama sekali rasanya, ia tidak sebahagia ini, semenjak perang yang terus terjadi, ia sama sekali tidak memiliki waktu untuk beristirahat, dan bersantai, bahkan sekedar untuk bersenda gurau dengan teman-temannya di alam langit.


"Benarkah kau tidak sengaja?,"


Ucapnya, masih dengan senyum dibibirnya.


"Benar yang mulia, saya benar-benar tidak bermaksud untuk masuk ke kolam,"


Ucap Xiya, dengan degup jantung yang hampir terdengar keluar.


"Saya akan pergi sekarang juga, sekali lagi maafkan saya yang mulia,"


Kemudian Xiya pun mencoba untuk berteleportasi kembali ke kediamannya, ia melakukan gerakan sihir menggunakan kedua tangannya, dengan mata yang sengaja ia pejamkan erat-erat.

__ADS_1


Namun bukannya berpindah ke kediamannya, ia malah membuat jaraknya dengan Dewa Perang, menjadi semakin dekat, dari yang tadinya, ia berada di pinggir kolam, kini berpindah ke tengah kolam.


Tak putus asa, ia pun kembali mencobanya, namun hasilnya sama seperti sebelumnya, yang lagi-lagi membuat jaraknya dengan Dewa Perang semakin dekat.


Sedangkan Sang Dewa Perang, tidak dapat menahan senyumnya, dan sesekali ia tertawa kecil.


Di percobaan ketiga, membuat jarak Xiya dan Dewa Perang, benar-benar menjadi sangat dekat, hanya dipisahkan dengan jarak sejengkal tangan.


"Apa ini juga tidak disengaja?,"


Dalam keadaan seperti itu pun, ia masih saja menggoda Xiya, yang merasa sangat panik.


Padahal Xiya adalah seseorang dengan kepribadian yang tidak bisa menunjukan perasaannya, akan tetapi setiap kali ia bersama dengan


Sang Dewa Perang ia selalu saja berada dalam posisi yang membuatnya merasa sangat gugup.


"Saya benar-benar,"


Belum menyelesaikan kalimatnya, Dewa perang pun memotong ucapannya.


"Baiklah saya mengerti,"


Ucap Dewa Perang, sembari menatap lurus ke iris mata violet Xiya.


"Sekarang cobalah sekali lagi, dan jangan memikirkan saya, pikirkan tempat yang ingin kau tuju, mengerti?,"


Sembari mendorong dahi Xiya, dengan telunjuk tangannya.


Xiya pun menganggukkan kepalanya, ia lalu mundur selangkah, memberikan jarak diantara mereka, kemudian dengan penuh konsentrasi, Xiya mencoba sihir teleportasi sekaki lagi,  sembari memikirkan kediamannya, dan akhirnya Xiya pun berhasil kembali.


Setelah Xiya pergi, Dewa Perang pun menyelesaikan acara berendam nya, dan kembali memakai pakaian, lalu ia mengambil air embun yang tadi di berikan oleh Xiya, sembari terus mempertahankan senyumnya.


Gumamnya, sebelum ia kembali ke kediaman klan Bunga.


Setelah malam itu, di ke esokan harinya, Xiya pun kembali berlatih, bersama Dewa Perang.


"Sepertinya, kau sudah menguasai sihir teleportasi, jadi saya akan mengajarkan sebuah teknik pedang, yang bisa membuat seseorang yang menguasainya cepat berkultivasi,"


Jelasnya, lalu mengeluarkan sebilah pedang dengan sihirnya.


Pedang dengan warna putih itu, memiliki cahaya yang berwarna biru, sama seperti iris mata Dewa Perang.


"Leiys?,"


Gumam Xiya, saat membaca sebuah tulisan dengan warna merah, di gagang pedangnya.


"Itu nama pedang ini, "


Jawab Dewa Perang.


"Kenapa diberi nama Leiys?,"


Tanya Xiya, karena penasaran.


"Karena pedang ini hanya dibuat khusus untuk saya, jadi diberikan nama, sesuai dengan nama penggunaannya,"


Jelas Dewa Perang, lalu menggenggam gagang pedang itu.

__ADS_1


Xiya pun menganggukkan kepalanya, kini ia tahu nama asli dari Dewa Perang.


"perhatikan gerakan saya baik-baik,"


Ucapnya, kemudian ia pun mulai bergerak, dan menunjukan teknik pedangnya pada Xiya.


Bukannya fokus untuk memperhatikan gerakannya, Xiya malah sibuk menatap kagum pada wajah tampan Dewa Perang.


"Sekarang coba ulangi gerakannya,"


Ia pun memberikan pedang ditangannya pada Xiya.


suara Dewa Perang, membuyarkan lamunan Xiya, dengan penuh hati-hati dia pun mengambil pedang itu, lalu mulai melakukan gerakan pedang yang tadi dilakukan oleh Dewa Perang, tetapi karena sedari tadi ia tidak fokus, setelah jurus yang pertama, ia pun mulai lupa dengan gerakan selanjutnya.


Xiya pun berhenti mengayunkan pedangnya, lalu menatap ragu pada Dewa Perang.


"Kenapa berhenti?,"


Tanya Dewa Perang, menatap tajam pada Xiya.


"Maaf,"


Gumam Xiya, menundukan wajahnya.


Dewa Perang pun menghela nafasnya, kemudian ia melangkah mendekati Xiya, dan berdiri dibelakangnya.


"Fokus Xiya, dan ingat baik-baik,"


Ucapnya di dekat telinga Xiya.


Karena Dewa Perang yang berdiri dibelakangnya, membuat suara berat dan deru nafas, milik Dewa Perang, terdengar dengan jelas di dekat telinganya.


Dewa perang mulai meraih tangan Xiya yang memegang pedang, ia pun mengajari Xiya, dengan perlahan, agar Xiya mudah mengingatnya.


Langkah demi langkah dari teknik pedang itu mereka lakukan, dengan menyeimbangkan setiap gerakan kaki dan tangan, lalu gerakan berputar pun mereka lakukan, hingga nampak seperti sebuah tarian pedang yang dilakukan oleh sepasang insan.


Sementara itu di alam langit saat ini tengah terjadi kekacauan, pasukan iblis, menyerang istana alam langit, hingga menimbulkan peperangan antara kedua pasukan besar.


"Cepat temui Dewi Bulan, minta ia segera menemukan keberadaan Dewa Perang!, katakan bahwa kami sudah tidak sanggup lagi untuk menahan pasukan iblis, mencoba menerobos masuk ke dalam istana,"


Perintah Dewi Hujan, pada salah satu prajurit, untuk memberikan sebuah pesan pada Dewi Bulan.


"Baik yang mulia,"


Ia pun segera pergi menemui Dewi Bulan, yang sampai saat ini tak pernah berhenti menjelajahi setiap isi langit, dan wilayah setiap klan, untuk menemukan Dewa Perang.


Setelah beberapa waktu akhirnya pesan itu sampai kepada Dewi Bulan.


"Kalau begitu aku tidak punya pilihan lain,"


Ucap Dewi Bulan, setelah menerima pesan.


Saat ini ia tengah melayang di atas awan, mengamati setiap tempat di penjuru langit, sembari menunggu kabar dari prajurit yang ia bawa.


"Tidak yang mulia, saya tahu apa yang hendak yang mulia lakukan, cara itu memang sangat efektif, akan tetapi akan menghabiskan banyak energi  sihir,"


Jelas salah satu prajurit kepercayaannya.

__ADS_1


Tidak mendengarkan pendapat bawahannya, Dewi Bulan pun tetap melakukan niatnya, pada malam harinya.


Saat malam tiba ia pun mulai melakukan gerakan sihir dengan kedua tangannya, ia berniat untuk menyebarkan seluruh energi sihirnya lewat cahaya bulan, sehingga setiap energi dari sihirnya yang tersebar, melalui cahaya bulan, akan mulai melacak keberadaan Dewa Perang.


__ADS_2