Takdir Yang Tak Terelakkan

Takdir Yang Tak Terelakkan
perhatian kecil


__ADS_3

Ellen tengah berjalan menuruni tangga, berniat pergi menemui Zeir, ia sampai lupa perjanjiannya dengan Zeir, akibat banyaknya kunjungan yang terus berdatangan , Ellen ingin memastikan sendiri bahwa Zeir benar-benar tinggal di kediaman nya.


Di tengah jalan, Ellen bertemu dengan beberapa pelayan, ia pun menanyakan keberadaan Pangeran Zeir.


"Izin menjawab tuan putri, Pangeran ke tiga, saat ini ada di dapur,"


Jawaban yang diberikan pelayan, membuat Ellen mengerutkan keningnya.


"Dimana arah dapurnya?,"


Masih dengan raut wajah bingungnya,  lalu para pelayan pun menunjukkan jalanannya pada Ellen.


Pagi-pagi seperti ini, sedang apa Pangeran Zeir di dapur ?,


Tanya Ellen dalam hati.


Sementara itu di dalam sebuah ruangan yang penuh dengan piring kotor, seorang pria bersurai Silver itu tengah sibuk membersihkan cucian piring.


Tangannya memerah akibat dinginnya batu es, yang sengaja dimasukan seseorang dalam tempat cucian piring.


"Apakah kalian pernah dengar, kisah seorang pangeran, yang dipandang lebih rendah dari seorang pelayan?,"


Ucap salah satu pelayan, yang sedang duduk-duduk di dalam ruangan tersebut.


"Tentu saja aku pernah dengar, bahkan aku sedang menyaksikan kisah itu,"


Jawab yang satunya, kemudian mereka pun tertawa terbahak-bahak.


Sedangkan orang yang dibicarakan hanya diam tanpa menyela sedikitpun.


"Hei!, cucilah yang bersih, setelah itu kau baru boleh makan,"


"Itupun kalau masih ada sisa,"


Lagi-lagi mereka tertawa terbahak-bahak.


Namun suara tawa itu tak bertahan lama, setelah sebuah pedang tiba-tiba melesat, dan hampir mengenai salah satu dari mereka, untungnya Pedang itu hanya tertancap di dinding, bukan di kepala.


"Hei siapa yang,"


Ucapnya terputus, setelah melihat siapa orang yang melemparkan pedang.


"Tu-tuan putri!,"


Gugupnya, melihat keberadaan Ellen yang berdiri di pintu, membuat mereka semua pun langsung bersimpuh sujud, karena takut.


Dua ucapan terakhir mereka yang Ellen dengar, membuatnya menjadi sangat kesal, padahal ia hanya ingin memastikan keberadaan Zeir di kediaman, tidak di sangka, malah menyaksikan perlakuan buruk para pelayan kepada Zeir.


"Apakah sejak pertama, pangeran Zeir masuk ke kediaman, kalian sudah memperlakukannya seperti ini?, Jawab!,"


Ellen meninggikan nada bicaranya pada kalimat terakhir, dengan raut wajah dinginnya.


"Maafkan kami tuan putri,"


Ucap mereka bersamaan, dengan suara gemetar ketakutan.


"Jika aku melihat kalian berbuat seperti ini lagi, maka aku akan memenggal kepala kalian satu persatu, cepat pergi dari sini!,"


Ancam Ellen, Mereka semua pun keluar dari dapur dengan raut wajah ketakutan.


Sedangkan Zeir, malah tidak peduli, Setelah selesai membersihkan cucian piring itu, Zeir mengambil mangkuk kemudian mengisinya dengan nasi sisa.


Ellen yang melihatnya, langsung mengambil makanan, yang dipegang oleh Zeir, lalu melemparkan nya ke lantai.


"Apa anda bodoh, kenapa masih memakannya!,"


Ujar Ellen.


Mengabaikan Ellen, Zeir malah mengambil mangkuk baru, dan kembali mengambil nasi sisa itu.

__ADS_1


Ellen yang kesal, akhirnya menumpahkan semua nasi itu ke lantai.


"Apa yang anda lakukan, saya sudah bersusah payah mendapatkan makanan pagi ini,"


Ucapnya.


Sejak Zeir datang ke kastil ini, tidak pernah ada pelayan yang datang, mengantarkan makanan ke ruangannya, karena itulah ia pergi ke dapur, dan meminta makanan, namun selalu mendapatkan perlakukan buruk dari para pelayan di kastil, yang tidak menyukainya.


Ellen menggenggam tangan dingin Zeir, menariknya keluar dari dapur, menyeretnya, menuju ke ruang istirahat miliknya.


"Duduk,"


Ucap Ellen, lalu memaksa Zeir untuk duduk di sebuah kursi, Kemudian ia juga ikut duduk di kursi depan Zeir.


Dihadapan mereka tersedia sebuah meja, yang dipenuhi dengan berbagai macam hidangan makanan, Ellen lalu mengambil mangkuk nasi dan meletakkannya di depan Zeir.


Zeir mengambil mangkuk nasi itu, kemudian menatap curiga pada Ellen, sembari berucap,


"Apa yang anda masukan disini?,"


Tanyanya.


Dengan perasaan jengkel, Ellen merebut kembali mangkuk nasi dari tangan Zeir, lalu menyuapkan nasi itu ke mulutnya sendiri, ia juga mengambil semua lauk pauk di atas meja, kemudian memakannya satu persatu.


"Puas?,"


Kesalnya, dengan mulut yang penuh makanan, kemudian ia meletakkan mangkuk nasi itu kembali di depan Zeir, dengan kasar.


"Mulai sekarang anda harus datang, dan makan di ruangan ini, tiga kali sehari,"


Ucap Ellen, setelahnya ia pun berdiri dari kursi, dan pergi, meninggalkan Zeir sendiri di ruangan itu.


Setelah Ellen pergi, Zeir pun mulai menyantap makanannya, sembari terus memikirkan, alasan di balik setiap perlakuan Ellen padannya.


Zeir bingung, diantara musuh, dan teman, dimanakah posisi Ellen di hidupnya.


"Bagaimana hasilnya?,"


Tanya seseorang itu, pada ajudannya.


"Izin menjawab tuan, sesuai dugaan, mereka semua dibunuh menggunakan pedang,"


Jawabnya.


"Zeir tidak bisa menggunakan pedang, apakah?, Perempuan itu yang melakukannya?,"


Tebaknya.


"Iya tuan, perempuan itu sangat mahir menggunakan pedang."


Mendengar ucapannya, Seseorang dibalik topeng itu pun terkekeh.


"Saat di aula, Yang Mulia Raja tidak ingin membahas masalah ini, bahkan sama sekali tidak melakukan penyelidikan, Dia benar-benar terlihat seolah tidak peduli, pada hal yang dialami Zeir, tapi itu hanya berdasarkan sudut pandang orang-orang bodoh,"


"Orang yang cerdas akan dengan mudah menyadari, maksud tersembunyi dari Yang Mulia Raja,"


Sambungnya.


"Maksud tuan?,"


Tanya, ajudannya.


"Coba pikirkan, sebelumnya, perempuan itu mengatakan bahwa Zeir melindungi dirinya, siapa yang tidak tahu, kalau Zeir tidak bisa berubah wujud menjadi serigala, dalam posisi itu, maka perempuan itu pasti akan membela diri, dengan mengatakan bahwa Zeir melindunginya, menggunakan sebuah pedang,"


"Karena selama ini Zeir tidak pernah menunjukkan keahlian berpedangnya , maka para penasihat istana, pasti akan meminta Zeir membuktikan kemampuannya, jika hal itu tidak terbukti, maka perempuan itu akan dihukum penggal, karena membohongi Yang Mulia Raja,"


"Dan Yang Mulia Raja tidak ingin hal itu terjadi,"


Jelas laki-laki bertopeng itu.

__ADS_1


"Kenapa Yang Mulia Raja tidak ingin hal itu terjadi tuan?, bukankah hal ini bisa menjadi kesempatan untuk memusnahkan seluruh klan manusia biasa, dengan alasan bahwa putri membohongi Yang Mulia Raja, dan membunuh para prajurit,"


Bingungnya.


"Alasannya cukup sederhana, Dia ingin menjadikan perempuan itu, sebagai alasan untuk memperhatikan putranya,"


Jelasnya lagi.


"Jadiii, kalau begitu apa rencana tuan yang selanjutnya?,"


Tanya sang ajudan.


"Mudah untuk menyingkirkan Zeir, Saat ini awasi saja pergerakan mereka, tidak perlu terburu-buru untuk menyingkirkan orang-orang lemah seperti mereka,"


Ucapnya penuh percaya diri.


"Baik, dimengerti tuan,"


Jawabnya.


Lalu kembali lagi pada Ellen, yang kini tengah diam-diam mengikuti Zeir dari belakang.


Zeir yang sadar sedang diikuti pun Menghentikan langkahnya, membuat Ellen panik, dan segera berlari mencari tempat persembunyian, namun terlambat karena Zeir sudah lebih dulu melihatnya.


"Hehehe,"


Tawa canggung itu berasal dari Ellen, karena sudah terlanjur ketahuan iapun mendekati Zeir.


"Kenapa kau terus mengikutiku?,"


Dengan nada suara datar, dan raut wajah dinginnya.


"Hanya ingin saja, tidak boleh yaa?,"


Jawaban yang diberikan Ellen, malah membuat Zeir menatapnya tajam.


"Baiklah-baiklah, akan kukatakan, jangan menatapku seperti itu, sebenarnya aku ingin mengajakmu ke suatu tempat bersamaku,"


Ucapnya, dengan tatapan penuh harap.


"Kemana?,kenapa mengajakku bersamamu?,"


Tanya Zeir.


"Sudahlah jangan banyak tanya, nanti juga tahu sendiri, "


Ucap Ellen, ia lalu menarik tangan Zeir, dan menyeretnya ke sebuah jalan.


"Eh?, Aku baru sadar, sejak kapan kita bicara tidak formal?,"


Gumam Ellen, dengan raut wajah bingungnya, masih menyeret Zeir untuk ikut bersamanya.


Mereka berdua pun terus berjalan menuruni tanjakan, dan juga melewati danau beku, tempat Ellen pernah tertimpa dahan pohon, selanjutnya mereka berjalan melewati bangunan aula utama istana, lalu sampailah di depan gerbang istana, yang dijaga dengan ketat.


"Kita sudah berjalan sangat jauh, sebenarnya kemana kau ingin mengajakku?,"


Tanya Zeir, kemudian menarik paksa tangannya dari Ellen.


"Tentu saja keluar istana, aku ingin pergi ke berjalan-jalan,"


Ucap Ellen dengan entengnya.


"Tapi kenapa kau harus mengajakku?,"


Ia sangat bingung dengan pola pikir Ellen, yang selalu berubah-ubah sikap, terkadang mengancamnya, lalu menyelamatkannya, kemudian mengancamnya lagi, lalu sekarang entah apa yang ingin dilakukan oleh Ellen.


"Karena mereka tidak akan mengizinkan, seorang sandera kerajaan keluar istana sendirian, mereka akan mengira, aku mau kabur nantinya, jadi aku mengajakmu, mengajak suami tercintaku untuk berjalan-jalan, mereka akan mengizinkannya bukan?,"


Ucap Ellen, dengan senyum manis diwajahnya, sembari menaik  turunkan alisnya, menatap Zeir.

__ADS_1


__ADS_2