Takdir Yang Tak Terelakkan

Takdir Yang Tak Terelakkan
Ketemu!


__ADS_3

Sinar senja matahari sore, membuat warna langit menjadi sangat indah, yang menandakan akan berakhirnya hari.


Seorang wanita cantik dengan gaun putih, dengan sebilah pedang ditangan, masih sibuk menganyunkannya.


Sementara itu tidak jauh dari tempatnya, seorang laki-laki bersurai Silver, sedang memainkan kecapinya, dengan irama yang sangat indah, dibawah sebuah pohon sakura.


Suara lantunan, nada kecapi itu, mengiringi Xiya, yang terlihat seolah sedang menari dengan pedangnya,


bahkan bunga-bunga di sekitarnya, ikut berterbangan, karena terbawa arus angin, yang berasal dari ayunan pedangnya.


Xiya tampak mulai kelelahan, ia pun menghentikan latihannya, lalu melangkahkan mendekati Dewa Perang yang masih duduk di bawah pohon.


"Xiya, duduklah,"


Ucap Dewa Perang, setelah menghentikan permainan kecapinya.


Menuruti permintaannya, Xiya pun duduk disamping Dewa Perang.


Lalu Dewa Perang mengulurkan tangan kanannya dihadapan Xiya, kemudian secara ajaib sebuah hiasan rambut berbentuk bunga teratai, muncul di telapak tangannya.


"Terimakasih telah memberikan air embun, saya tidak bisa terus berhutang budi,"


Ucap Dewa Perang, menatap Xiya, dengan tatapan lembut.


"Mendekatlah,"


Pintanya.


Tanpa ragu Xiya pun mendekatkan tubuhnya pada Dewa Perang.


Lalu Dewa Perang mengulurkan kedua tangannya, meraih kepala Xiya, kemudian memasangkan hiasan rambut itu di surai Xiya.


"Terimakasih yang mulia,"


Ucap Xiya, dengan wajah memerah.


Dewa Perang hanya tersenyum tipis, dan enggan mengalihkan tatapannya dari Xiya.


Namun kemesraan mereka tidak akan berlangsung lama, karena tiba-tiba saja dari atas langit, seorang wanita cantik yang terlihat sangat anggun, dan berkuasa, tengah mendekat menuju ke arah mereka, dengan membawa banyak pasukan alam langit di belakangnya.


"Leiys!,"


Ucap wanita itu.


Xiya, dan Dewa Perang, yang mendengar suara itu pun, mengalihkan pandangannya pada wanita itu.


Saat menyadari siapa yang memanggil nama Dewa Perang, Xiya segera menjauhkan tubuhnya dari Dewa Perang, kemudian berdiri, dan memberikan hormat.


"Salam yang mulia Dewi Bulan, semoga anda selalu bahagia,"


Ucap Xiya, penuh rasa hormat.


Sedangkan yang di beri ucapan, memberikan tatapan tidak sukanya pada Xiya.


"Alera?,"


Ucap Dewa Perang, menyebutkan nama asli Dewi Bulan.


Hal itu membuat Xiya berpikir bahwa Dewa Perang, dan Dewi Bulan terlihat sangat dekat.


"Apa yang sedang kalian lakukan berduaan di tempat seperti sini?,"

__ADS_1


Tanya Dewi Bulan, ia tidak bisa mengontrol raut wajahnya, yang terlihat sangat jengkel.


"Bukan sesuatu hal yang perlu kau khawatirkan Alera,"


Jawan Dewa Perang, dengan tegas, ia sangat tidak nyaman dengan sikap Dewi Bulan yang selalu mencampuri urusannya.


"Ada apa kau datang kemari,?"


Tanya Dewa Perang, dengan raut wajah datarnya.


"Kau tanya ada apa aku datang kemari?, yang benar saja, aku sudah mencarimu, dan mengkhawatirkan keadaanmu, bahkan memikirkan kemungkinan terburuknya, tapi kau, kau malah bersantai, dan bermesraan dengan mahluk rendahan di sini,"


Ucap Alera, menggebu-gebu, ia tidak bisa menahan amarahnya.


Mendengar kalimat rendahan, membuat Xiya menundukkan kepalanya, karena merasa sangat terhina, dengan sebutan yang di lontarkan kepadanya, ia mengepalkan tangan, menahan perasaan marahnya.


"Jaga ucapanmu Alera!,"


Tegas Dewa Perang, menatap dingin pada Dewi Bulan.


"Leiys, kau benar-benar,"


Sebelum Dewi Bulan melanjutkan kalimatnya, ucapan nya sudah dipotong oleh tangan kanannya, yang mengingatkannya tentang tujuan utama mereka mencari Dewa Perang.


Dewi Bulan pun menghela nafasnya, dan mengatur kembali emosi dihatinya.


"Maafkan saya menyela pembicaraan yang mulia, namun situasi saat ini sangat lah penting untuk disampaikan,"


Ucap seorang bawahan, sekaligus tangan kanan Dewi Bulan, yang selama ini membantunya mencari Dewa Perang.


"Katakan,"


Ucap Dewa Perang, memberikan izin pada laki-laki itu untuk melanjutkan kalimatnya.


Ucapnya, menjelaskan situasi yang ada.


"Baiklah aku mengerti,"


Ucap Dewa Perang, selama ini ia pikir pasukan iblis telah melemah, setelah mengalami peperangan yang lalu, ternyata dugaannya salah.


"Jika kau mengerti, sebaiknya sekarang kita pulang ke alam langit,"


Sela Dewi Bulan.


Dewa Perang hanya menanggapi dengan anggukan kepala saja, ia tidak ingin membalas ucapan Dewi Bulan, bisa-bisa mereka akan kembali berdebat.


"Xiya, saya harus pergi, tapi jangan khawatir, saya pasti akan menepati janji untuk melatihmu,"


Ucap Dewa Perang.


"Tunggulah, setelah semuanya selesai, saya akan kembali ke sini,"


Lanjutnya.


"Yang mulia tidak perlu memikirkan hal itu, saat ini sudah ada hal yang lebih penting, dari sekedar mengawasi kultivasi saya,"


Jawab Xiya, mencoba berpikir dengan bijak.


"Baiklah, sampaikan salamku pada pemimpin klan, teruslah berlatih Xiya, meskipun saya tidak bisa mengawasi latihanmu,"


Ucap Dewa Perang, memberikan senyum tipisnya.

__ADS_1


"Tentu yang mulia,"


Ucap Xiya.


Setelah itu, Dewa Perang bersama dengan Dewi Bulan, dan juga pasukan langit pun, segera bergegas kembali ke alam langit.


Lalu Setibanya di alam langit, Sang Dewa Perang pun langsung memanggil bantuan pasukan dari klan serigalanya.


Ia terjun langsung dalam memimpin pasukan, untuk menumpas pasukan klan iblis yang sudah berada di wilayah istana.


Dengan pedang sucinya, yang bertuliskan nama Leiys, ia membantai satu persatu para iblis itu, bahkan tak segan mengeluarkan energi sihirnya, untuk meledakan mereka sekaligus.


Sementara sang Dewa, dan Dewi lain, yang tengah sibuk bertempur bersama dengan Dewa Perang, Dewi Bulan yang terkenal sangat mulia itu, malah tidak membantu sama sekali, ia tetap bertahan di dalam istana, dengan dalih untuk menjaga keamanan di dalam istana.


Saat ini ia tengah duduk di dalam aula istana, dan sedang mendengarkan laporan dari salah satu bawahannya.


"Hanya itu saja yang saya dapatkan yang mulia,"


Ucapnya, setelah memberitahukan semua informasi yang ia dapatkan, pada Dewi Bulan.


"Itu saja sudah cukup untuknya, membayar semua kelancangan yang sudah dia lakukan, berani-beraninya klan rendahan seperti mereka, mengharapkan balas budi dari Leiys,"


Ucapnya, dengan tatapan mata penuh amarah, dan perasaan iri yang memupuk di hatinya.


Dewi Bulan, sengaja meninggalkan salah satu bawahannya di wilayah klan Bunga, untuk mencari informasi tentang Xiya, namun semua informasi yang ia dapatkan membuatnya sangat cemburu, dan membenci Xiya.


Dewi Bulan memang sudah lama menyukai Dewa Perang, sejak pertama kali bertemu dengannya, di  saat Dewa Perang resmi diangkat menjadi salah satu Dewa tertinggi, di alam langit, tepatnya ialah, waktu seratus ribu tahun yang lalu.


"Sekarang kumpulkan semua pasukan yang tersisa di istana!,"


Titahnya.


"Baik yang mulia,"


Ucap sang bawahan.


Tak lama kemudian, seluruh pasukan yang tersisa di dalam istana, sudah berkumpul di depan gerbang istana, menunggu titah selanjutnya dari Dewi Bulan.


Sementara itu, Dewi Bulan tengah berada di dalam kediamannya, ia tengah bersiap untuk pergi ke suatu tempat.


Saat ini Dewi Bulan tengah menatap tajam, pada pedang yang ada di tangannya, pedang itu memiliki lambang bulan sabit biru di gagangnya.


"Dewi Bulan, saya tahu apa yang anda pikirkan, namun sebaiknya jangan bertindak gegabah, kehadiran anda sebagai pertahan di dalam istana, sangat dibutuhkan, ditakutkan jika anda pergi dari istana, maka akan ada pasukan iblis yang berani menyusup ke dalam istana,"


Ucap seorang Dewa, dengan fisik yang tinggi, dan rambutnya yang berwarna biru.


dia adalah Dewa kebijaksanaan, tugasnya ialah menjaga keseimbangan yang ada di alam langit, dan seluruh wilayah klan, karena itulah ia tidak di bebankan untuk ikut dalam peperangan, demi menjaga keseimbangan, jaga-jaga jika seluruh dewa, dan dewi gugur dalam peperangan, maka Dewa Kebijaksanaan akan kembali memilih generasi selanjutnya, untuk meneruskan posisi dewa, dan dewi yang gugur.


"Leiys, selama seratus ribu tahun ini,  dia tidak pernah menatapku dengan senyum di wajahnya, tapi dia menatap wanita rendahan itu, dengan senyum lembut, bahkan menatapnya seolah-olah dia adalah dunianya, bukankah ini tidak adil?,"


Ucap Dewi Bulan, mengabaikan nasehat yang diberikan Dewa Kebijaksanaan.


"Dewi, tidak bisakah anda melupakan obsesi anda pada Dewa Perang,"


Pintanya, sembari menatap lurus punggung sang Dewi, yang berdiri tegak membelakanginya.


"Kau sendiri?, Apakah bisa melepaskan perasaanmu padaku,"


Ucapnya, sembari membalik tubuhnya, menatap dingin pada Dewa Kebijaksanaan.


"Maafkan saya,"

__ADS_1


Dewa Kebijaksanaan, mengalihkan pandangannya, enggan menatap sang Dewi.


Setelah mengucapkan kalimat itu, Dewi Bulan pun langsung menghilang, dari hadapan Dewa Kebijaksanaan, menggunakan sihirnya.


__ADS_2