
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, sudah masuk ke waktu, terjadinya fenomena supermoon.
Sementara itu seorang wanita cantik bersurai hitam, dengan iris mata berwarna violet, tengah berjuang untuk naik ke atas permukaan sungai.
Tidak, kenapa sungai ini sangat dalam!, Batinnya.
Tubuhnya mulai terasa lemas, namun dengan sekuat tenaga, ia terus mencoba meraih permukaan sungai, hingga sampai pada batas tubuhnya.
tangannya sudah tak sanggup lagi untuk digerakkan, begitu juga dengan seluruh tubuhnya.
Dia akhirnya menyerah, membiarkan dinginnya air sungai, membawa tubuhnya semakin dalam, penglihatannya mulai mengabur, seiring dengan kesadarannya yang mulai menghilang.
Tanpa ia sadari sesuatu di dalam tubuhnya, mulai mengeluarkan sihir berwarna hitam, meskipun di dalam sungai, warna sihir yang pekat itu cukup terlihat dengan jelas, karena sinar bulan yang memantul di air.
Lalu ia tak sengaja, kembali ke kehidupan sepuluh ribu tahun yang lalu, tanpa memiliki ingatan nya yang sekarang.
Saat itu alam Dewa masih berdiri seimbang, semua klan hidup berdampingan, dengan wilayahnya masing-masing, akan tetapi, beberapa dewa, yang memiliki tingkatan derajat lebih tinggi, akan tinggal di alam langit, untuk memimpin, dan menjaga klan yang lemah, dari serangan Dewa Iblis.
Sementara itu, di alam klan bunga, ada seorang putri yang sangat terkenal akan kecantikan, ia jarang keluar dari wilayahnya, namun sangat dikagumi, dan dihormati.
Meskipun klan bunga itu sendiri memiliki derajat yang rendah, karena tidak ada satupun dari anggota klan bunga yang berhasil naik tingkat, menjadi dewa di alam langit.
Kemudian di sebuah taman yang sangat luas, dipenuhi dengan berbagai macam jenis bunga, seorang gadis cantik, dengan gaun berwarna merah jambu, tengah berbaring, di bawah teduhnya sebuah pohon.
Angin yang berhembus lembut, menyapu rambut-rambut halus di sekitar wajahnya, sinar matahari sore yang hangat, membuatnya terlelap dalam mimpi, dengan begitu nyaman.
"Xiya,"
Teriak seorang laki-laki tua, dengan surainya yang masih berwarna hitam, meskipun usianya sudah menginjak ratusan tahun, dia adalah ayah Xiya.
Mendengar suara berisik disekitarnya, gadis cantik, bersurai putih itu pun terbangun dari tidur nyenyak nya.
Perlahan, iris mata berwarna violet itu mulai terbuka, ia mengerutkan dahinya, akibat silaunya sinar matahari yang masuk ke netra matanya.
"Ayah, Heley?,"
Gumamnya, dengan suara khas bangun tidur.
"Xiya, kau ini selalu saja bermalas-malasan di taman, sampai-sampai tertidur seperti ini, cepatlah bangun, kita harus segera bersiap untuk pergi,"
Ucap seorang laki-laki berparas tampan, dengan rupanya yang mirip dengan Xiya, Dia adalah Heley, kakak laki-laki Xiya.
"Pergi?, Kemana?,"
Tanyanya, masih enggan untuk bangun dari tempat nya.
" Xiya kau lupa lagi?, Kita harus pergi ke alam langit, untuk menghadiri acara perjamuan, ulang tahun Dewi Bulan,"
Jelas ayahnya.
"Aah~, aku ingat sekarang, kapan acaranya dimulai?,"
__ADS_1
Ia kemudian mengubah posisi tidurnya menjadi duduk.
"Sebentar lagi, karena itu, cepatlah bersiap, sebelum hari gelap,"
Omel Heley, ia lalu menarik tangan Xiya agar bediri dari duduknya.
"Baiklah-baiklah, aku akan bersiap sekarang,"
Finalnya, dengan wajah datarnya.
Malam hari pun tiba, sudah saatnya Xiya dan keluarganya, pergi ke alam langit.
Namun karena Xiya yang sangat lama bersiap, membuat kedatangan mereka akan sedikit terlambat.
Setelah sekian lama bersiap akhirnya, ia pun sudah siap untuk pergi bersama keluarganya.
Penampilan Xiya saat ini membuat keluarga, dan juga para pelayan di klan bunga, menatapnya dengan penuh kekaguman.
Ia mengenakan gaun berwarna putih, bercampur dengan warna merah jambu, ditambah motif bunga berwarna kuning, di ujung gaunnya.
Sedangkan surai putihnya disanggul, dengan perhiasan berbentuk bunga, yang melambangkan dirinya, yang berasal dari klan bunga, namun sebagian rambut kecilnya dibiarkan tergerai.
"Xiya, kau selalu menawan putriku,"
Puji seorang wanita, yang memiliki surai sama seperti Xiya, ia merupakan seorang ibu, sekaligus istri sah dari pemimpin klan bunga.
"Terimakasih ibu, mari kita pergi sekarang,"
Ajak Xiya, masih dengan raut wajah datarnya, ia memang jarang menampilkan raut wajah yang ekspresif.
"Wah lihatlah alam langit memang seperti yang dirumorkan,"
"Kau benar, Sangat indah, beruntung sekali jika aku bisa tinggal di sini,"
"Tingkat kan kekuatan sihir mu, baru kau bisa tinggal disini, atau kau bisa menikah dengan dewa di alam langit,"
"Jika orangnya dewa perang, baru aku mau menikah,"
"Mimpi saja, bahkan sepertinya dewa perang, tidak akan hadir di perjamuan ini,"
Para tamu itu sibuk membicarakan, keindahan alam langit, dan juga tidak lupa untuk membicarakan dewa paling di kagumi di seluruh alam.
Namun perhatian mereka langsung teralihkan, saat Xiya dan keluarganya mulai melangkah masuk ke dalam aula.
"Klan bunga memberi salam pada Dewi Bulan, dan mengucapkan selamat ulang tahun, kami mendoakan semoga Dewi bulan yang agung selalu berbahagia,"
Ucap sang kepala keluarga, sembari membungkuk hormat, diikuti oleh Xiya, Heley, dan juga Ibunya.
"Terimakasih atas kedatangan kalian,"
Ucap seorang wanita cantik, yang memiliki surai hitam, dengan netra mata berwarna abu-abu, ia mengenakan gaun berwarna biru, dan memakai mahkota, dengan hiasan berbentuk bulan ditengah-tengahnya.
__ADS_1
"Terimakasih kembali pada Dewi bulan yang telah mengundang kami, Saya mewakili dari klan bunga, membawa sebuah hadiah istimewa untuk Dewi bulan,"
Setelah mengucapkan itu, beberapa orang pun masuk, membawakan hadiah yang dimaksudkan.
Hadiah itu berupa sebuah pedang, yang berkilau seperti cahaya bulan, ditambah dengan gagangnya yang memiliki ukiran seperti bulan sabit.
"Hei bukankah itu seperti pedang bulan sabit merah, yang hancur karena perang dengan dewa iblis?,"
"Kau benar, bagaimana bisa pedang itu masih ada?,"
Bisik-bisik para tamu yang menghadiri perjamuan itu.
"pedang bulan sabit merah memang sudah hancur, dan pedang ini bukanlah pedang yang kalian kira, ini adalah pedang bulan sabit biru, yang dibuat khusus oleh ketua klan bunga, menggunakan energi spiritual kolam langit di klan kami, semoga Dewi menyukai hadiah dari kami,"
Jelas Heley, sembari menyerahkan pedang itu pada Dewi bulan.
"Pedang yang sangat bagus, terimakasih, saya tentu akan menghargainya,"
Jawab Dewi bulan, lalu menerima pedang itu.
Setelah itu, tamu dari klan bunga pun dipersilahkan untuk duduk, dan menikmati jamuan nya.
Semua tamu sibuk membicarakan Xiya, yang terlihat sangat cantik, sedangkan xiya yang diperhatikan pun merasa tidak nyaman.
Xiya akhirnya memutuskan untuk keluar sebentar dari aula, lalu melangkahkan kakinya tanpa tujuan, dan hanya sibuk melihat-lihat indahnya alam langit.
Pemandangan yang menyajikan indahnya awan dari alam langit, serta dekatnya bulan, dan bintang yang terlihat, membuat Xiya enggan untuk bergeming dari tempatnya.
Angin yang berhembus lembut, tak sengaja membawa suara indah dari kecapi, ke dalam indera pendengarannya.
Xiya akhirnya mengikuti alunan bunyi itu, melangkahkan kakinya menuju ke sumber suara.
Suara indah itu berasal dari salah satu ruangan, yang lumayan jauh dari aula perjamuan.
"Kediaman dewa perang,"
Gumam Xiya, saat membaca tulisan, yang ada di atas pintu masuk kediaman itu.
Xiya akhirnya menghentikan langkahnya, tepat di depan pintu masuk kediaman, ia tentu saja enggan, untuk masuk ke dalam kediaman orang sembarang, terutama di kediaman milik seorang Dewa perang.
Ia hanya bisa mendengar alunan suara itu dari kejauhan, sembari menatap pintu kediaman dengan rasa penasaran, ia bertanya-tanya dalam pikirannya, seperti apakah rupa Dewa perang yang sering dibicarakan itu?.
Sementara itu, seseorang yang saat ini tengah memainkan kecapinya, dengan serius, merasa sedikit terganggu, karena hembusan angin, yang membawa aroma bunga ke indera penciuman nya.
Tak lama Kemudian, ia pun mulai menyadari bahwa ada seseorang yang berdiri di luar kediamannya.
Laki-laki dengan surai Silver, dan netra mata berwarna biru itu pun, menghentikan permainan kecapinya,
Ia lalu berdiri, dan mulai melangkahkan kakinya perlahan, saat ini ia mengenakan pakaian serba putih.
Sedangkan Xiya yang menyadari bahwa ia ketahuan pun, segera pergi meninggalkan kediaman itu, lalu kembali ke aula perjamuan.
__ADS_1
Tepat saat ia pergi, laki-laki itu membuka pintu kediamannya.
Ia mengerutkan dahinya, karena tidak menemukan siapapun di luar, akan tetapi, dia masih bisa merasakan, sisa energi Xiya yang tertinggal, meskipun samar-samar, ditambah lagi, dengan wangi harum bunga, yang tertinggal, masih bisa ditangkap oleh indera penciuman nya.