Taktik Cinta

Taktik Cinta
Tanggung Jawab Orang Tua


__ADS_3

^^^15-Juli-2012^^^


^^^MyHouse^^^


^^^20.04^^^


Nayra menunggu penjemputnya datang dengan duduk di ruang tamu serta aku menemaninya. Tadi mama membujuk Nayra agar mau diantar pulang oleh papa dan aku. Tetapi dia tidak mau, katanya takut merepotkan padahal tidak sama sekali, malahan aku akan bahagia karena bisa berbincang sebelum dia sampai di rumahnya.


Saat suara klakson sudah terdengar dari luar, Nayra spontan berdiri, "makasih yah," ucapnya sambil tersenyum manis.


Aku pun membalasnya, kami berjalan mendekati pintu rumah. Saat ini Maheer sedang tidur sedangkan, papa berada di ruang pribadinya dan mama sedang memandikan Rian, jadi rumah sedikit sunyi. Bukan tidak sopan karena meninggalkan tamu, tetapi Nayra seperti masih canggung dengan mereka. Beruntung aku memiliki keluarga yang pengertian.


"Bye," tubuh Nayra sepenuhnya sudah berada dalam mobil dan kendaraan tersebut melaju pelan keluar dari halaman rumah ku.


***


Kami telah berada di meja persegi panjang yang telah berjejer berberapa makanan dan lauk pauk. Maheer mengambil tiga keledai fermentasi yang telah digoreng, tidak lupa menyendok sambel uleg lalu menaruh dipiringnya.


Tidak mau kalah, aku mengambil piring yang berisi semua tempe, tahu dan perkedel agar Maheer tidak bisa mengambil lagi.


"Jangan rakus, ingat yah makan seperlunya," tegur papa, aku jadi sadar dan membuang jauh niat jahatku.


Mama sibuk menyuapi bubur ke Rian yang ada di atas meja, ia memenuhi kebutuhan anaknya dulu sebelum dirinya sendiri. Aku jadi salut sama mama, apakah nanti aku bisa seperti dia.


"Mama adalah panutanku, tanpa mama sadari setiap gerak-geriknya ku hafal agar bisa kuterapkan nanti," gumamku, menatap takjub pada wanita yang selalu menegur kami dengan lembut, bahkan perlakuannya tidak membuat kami merasa ia pilih kasih, selalu ia memberikan kami cinta maupun barang yang sama rata.


"Makan dulu kak, terus setor hafalan. Jangan melamun," mama menepuk bahuku agar aku keluar dari lamunan mengenai dia.


"Iya, ma."


Setelah beberapa menit, aku membantu mama membereskan meja makan, mama membersihkan sisa makanan yang berantakan dari Rian sedangkan aku membawa piring dan gelas kotor ke wastafel untuk mencucinya. Papa membawa Maheer dan Rian ke ruang tamu.


Kemudian aku bergegas mengambil air wudhu di tempat yang telah papa sediakan, ia membuat tempat wudhu di samping kamar mandi. Sampai saat ini aku tidak tau alasannya.


Ku putar keran sehingga mengalirlah air agak deras.


...¤¤¤¤...


...بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ...


حٰمۤ ۚ



Ha Mim



تَنْزِيْلُ الْكِتٰبِ مِنَ اللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ



Kitab ini diturunkan dari Allah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.


__ADS_1


مَا خَلَقْنَا السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَآ اِلَّا بِالْحَقِّ وَاَجَلٍ مُّسَمًّىۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا عَمَّآ اُنْذِرُوْا مُعْرِضُوْنَ



Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Namun orang-orang yang kafir, berpaling dari peringatan yang diberikan kepada mereka.



قُلْ اَرَءَيْتُمْ مَّا تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَرُوْنِيْ مَاذَا خَلَقُوْا مِنَ الْاَرْضِ اَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِى السَّمٰوٰتِ ۖائْتُوْنِيْ بِكِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ هٰذَآ اَوْ اَثٰرَةٍ مِّنْ عِلْمٍ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ



Katakanlah (Muhammad), "Terangkanlah (kepadaku) tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepadaku apa yang telah mereka ciptakan dari bumi atau adakah peran serta mereka dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepadaku kitab yang sebelum (Al-Qur'an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu orang yang benar."



وَمَنْ اَضَلُّ مِمَّنْ يَّدْعُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَنْ لَّا يَسْتَجِيْبُ لَهٗٓ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَاۤىِٕهِمْ غٰفِلُوْنَ



Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang menyembah selain Allah (sembahan) yang tidak dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?



وَاِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوْا لَهُمْ اَعْدَاۤءً وَّكَانُوْا بِعِبَادَتِهِمْ كٰفِرِيْنَ



Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat), sesembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan yang mereka lakukan kepadanya.




Dan apabila mereka dibacakan ayat-ayat Kami yang jelas, orang-orang yang kafir berkata ketika kebenaran itu datang kepada mereka, "Ini adalah sihir yang nyata."



اَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرٰىهُ ۗ قُلْ اِنِ افْتَرَيْتُهٗ فَلَا تَمْلِكُوْنَ لِيْ مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا ۗهُوَ اَعْلَمُ بِمَا تُفِيْضُوْنَ فِيْهِۗ كَفٰى بِهٖ شَهِيْدًا ۢ بَيْنِيْ وَبَيْنَكُمْ ۗ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ



Bahkan mereka berkata, "Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (Al-Qur'an)." Katakanlah, "Jika aku mengada-adakannya, maka kamu tidak kuasa sedikit pun menghindarkan aku dari (azab) Allah. Dia lebih tahu apa yang kamu percakapkan tentang Al-Qur'an itu. Cukuplah Dia menjadi saksi antara aku dengan kamu. Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang."



Subhanakallahumma wa bihamdika laa ilaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik.


(Maha suci Engkau, ya Allah sambil memuji-Mu. Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu).


Aku menutup mushafku kemudian mengecupnya, ku harap dia bisa menolongku di alam kubur, membantuku mengenakan mahkota pada orang tuaku dan menjadi penerangku nanti.


Papa memegang kedua pundakku, membuatku mendongak menatap pada wajah seriusnya.


"Nak, papa dan mama adalah wali Allah. Maka apabila kami mengucapkan larangan maupun perintah kepada kakak maka jauhi dan turutilah, kami tidak ingin kakak tersesat di dunia, maka ikutilah petunjuk Allah, papa dan mama. Kami menyayangimu."

__ADS_1


Aku menangis tersedu-sedu sambil menunduk, tidak sanggup mataku menatap ke arah papa lagi. Sebenarnya aku sudah ingin menangis sejak membaca al qur'an namun tertahan, tetapi kini bendungan air mata telah mengalir deras. Papa menarik tubuhku yang bergetar ke dalam pelukannya.


Rasanya tenang saat ia mengusap punggung ku dengan jari jemarinya yang kasar nan besar.


"Ma...ma..maafkan Ratu, pa..." ucapku terbata-bata, seperti ada yang meremas hatiku sehingga terasa sangat pedih dan tangisku semakin menjadi-jadi.


"Sudah nak, tenang, tenang. Tarik nafas hmmm buang nafas fyuuh," saran papa, aku pun mengikutinya.


Rileks


Tok tok tok


"Assalamualaikum, Maheer mau murrotal juga," salam adikku dari luar, kami memang dibiasakan berlaku sopan santun saat berada di rumah dan di tempat lain. Seperti mengucap salam dan izin sebelum memasuki ruangan.


"Waalaikumussalam iya, masuk bang!"


Papa menghapus air mataku dan memasukkan rambut ke mukenaku yang keluar dijidat.


"Giliran abang yah, kak," ucap papa diikuti anggukanku.


Aku mundur untuk mempersilahkan Maheer duduk di depan papa, sama seperti aku tadi. Di belakang aku membuka mukena lalu menaruhnya di lemari.


Sehabis itu, aku mendekati papa mencium tangannya disusul dengan menggelitik perut Maheer sehingga ia menggelinjang.


Lumayan, mendapatkan hiburan melalui wajah merenggutnya sebelum keluar dari Mushola. Saat berada di luar, terlihat di ruang keluarga mama memberikan minyak wangi ke tubuh Rian serta mengajaknya bercanda. Mereka lesehan di lantai beralaskan karpet berbulu dengan keadaan layar kaca menampilkan kartun anak islami.


"Hmmmm, sekarang Rian udah harum..," ujar mama sambil mengangkat tubuh Rian dengan tinggi di atas kepalanya.


"Yah, ma...ma," balas Rian, mengusap mulutnya yang penuh air liur.


Segera aku duduk diantara mereka, tidak ingin melihat tingkah lucu adikku dari jauh saja.


"Cieee udah bisa manggil mama," colekku pada dagu berair dari balita tersebut.


"Bukan cie tapi alhamdulillah, kakak sayang," mama mengoreksi ucapanku, lalu menuntun tangan Rian untuk mengusap wajah tirusku.


Tampak di ruangan lain, Maheer tersenyum penuh kemenangan karena tidak ada yang salah pada hafalannya kali ini.


"Maheer kenapa tidak mau shalat jum'at lagi?" tanya papa dengan nada suara senduh.


Tidak ada jawaban. Ia malah menunduk menatap sajadah merah yang sedang ia duduki. Dipikirnya papanya telah melupakan hal tersebut ternyata baru sekarang dia ditegur, mungkin karena sang papa sibuk.


"Abang itu sudah besar, apa papa harus mencambuk abang?" tanya papa lagi, tetapi menggunakan nada lembut.


Maheer menggeleng kuat sambil mencengkram kuat lututnya yang tertekuk. Meski papanya masih berlaku baik tetapi Maheer merasa bersalah telah membuat papanya berdosa karena tidak bertanggung jawab. Seharusnya ia dicambuk agar dosa tersebut ada pada dia. Namun membayangkan hal itu sudah membuat badannya perih.


"Papa sangat sayang dengan Maheer, bahkan papa tidak bisa sesabar Nabi Ibrahim yang rela ingin menyembelih anaknya karena perintah Allah, maka dari itu jika papa tidak bisa sesabar ia maka kamu harus sepatuh Nabi Ismail."


Sudah lama menunduk, akhirnya Maheer mengangguk sambil berucap.


"In syaa Allah, pa."


Tepukan di bahunya sebagai tanda bahwa kegiatan hari ini telah selesai.


"Ayo keluar," ajak sang papa.

__ADS_1


__ADS_2