
^^^12-Juli-2012^^^
^^^Smp Negeri 91 Cahaya Negara^^^
👑Seluruh pandangan terarah ke depan. Di mana papan tulis berwarna putih polos tadi telah penuh dengan coret coretan spidol berwarna hitam yang menunjukkan angka.
Salah satu dari murid itu adalah aku. Sesekali Aku hanya mengangguk saat mendengar guru menjelaskan kemudian kembali menulis di papan tulis. Dan sialnya Ketika ada pertanyaan yang inginku ajukan pasti selalu diambil alih oleh murid lain, sehingga tidak ada nilai tambahan buatku.
Sudah dua jam lebih guru menjelaskan di atas. Seakan tidak mengerti kondisi kami semua. Ku hembuskan nafasku kasar. Perutku sedari tadi sudah berbunyi nyaring, takut yang lain mendengar teriakan cacing-cacing di perutku, aku balikkan kepalaku ke kanan kiri. Untungnya tidak ada yang mendengar karena dilihat teman sebangkuku saja hanya diam sambil menulis setiap kata yang ia anggap penting seakan tidak terusik oleh rapper si kremi aneh.
Trriing
"Hufft," desahku sambil menutup mata. Syukurlah suara bel dapat membuat bu guru yang mengajar segera membereskan perlengkapan mengajarnya dan melangkahkan kaki jenjang miliknya keluar dari kelas.
Ku rapikan buku, pulpen, dan penggarisku. Lalu kubalikkan badanku kesamping untuk menyimpannya di dalam tas. Saat ingin berdiri, aku terhenti karena melihat teman sebangkuku masih diam ditempatnya tidak berniat untuk ke kantin. Karena penasaran aku mengumpulkan nyaliku untuk mengajak ia berbicara terlebih dahulu.
"Kenapa nggak ke kantin?" Tanyaku dengan senyuman yang terus terbingkai.
Ia menatapku lalu mengangkat alisnya. Setelah lama memasang wajah cuek akhirnya ia tersenyum. Aku yang sedari tadi diam menunggu ia menjawab sudah membuat jantungku berpacu dengan cepat, takut jika akan disembur dengan kalimat sinisan. Tetapi melihat ia tersenyum membuatku menghela nafas tenang.
"Duluan aja," Katanya.
Akhirnya aku mengangguk dan berjalan ke arah pintu. Namun aku merasa kasihan jika harus meninggalkan dia sendirian di dalam kelas. Jadinya aku berbalik kembali kearahnya. Disana dia menunduk dengan bahu yang bergetar.
Akupun membatalkan niatku untuk mengisi perut. Sisi kemanusiaanku tidak mengikhlaskan aku untuk bahagia jika ada orang yang tersakiti.
"Kamu kenapa? Heyy tenang ada aku kok," ku peluk tubuhnya yang agak lebih besar dariku.
Suara tangisannya sudah mulai reda. Jadi ku lepas rengkuhanku, dan duduk di sebelahnya. Aku terus mengelus punggungnya untuk menenangkan dia.
"Kamu kenapa?" tanyaku lembut.
Dia hanya menggeleng dan menatap kearah lain untuk menghapus air matanya. Sesudah itu ia mengarahkan kepalanya menghadap padaku. Sehingga aku dapat melihat mata sembabnya. Ku turunkan tanganku dari punggungnya, dan menatap dia juga.
"Ngak lapar?" Balik ia bertanya. Ingin sekali aku menjawab bahwa aku sangat lapar.
__ADS_1
"Ngak kok," jawabku.
"Bohong," celetuknya. Aku tersenyum malu. Ia membuka tasnya. Sedangkan aku hanya melihat saja. Tangannya menyimpan bekal berwarna merah di atas meja. Ia membuka kotak tersebut, Aku mengangguk ketika mengetahui isi dari kotak makannya.
"Makan bareng. Kebetulan bawa dua sandwich . Jadi satu buat kamu..,"
Ibu jari dan telunjuknya mengapit sandwich dan memberikannya untukku. Dengan senang hati aku menerimanya dan mengucapkan terima kasih.
".... satu lagi buat aku,"
Di makannya roti berisi sayuran itu. Tak tinggal diam aku membaca do'a dan ikut memakannya. Rasanya aneh mungkin karena aku tidak terbiasa dengan makanan barat.
Sesudah makan kami berbincang sedikit, menunggu jam istirahat berakhir. Namun, suara gaduh membuat kami menghentikan pembicaraan dan bergegas keluar. Di sana sudah terlihat kerumunan yang berbentuk lingkaran juga suara sorakan dari siswa maupun siswi.
"Ciee ciee,"
"Uhhuy, sosweet bet."
"Nanda kok pipi lo merah?"
"Lepas tangannya woyy kasihan jodoh ku nampung dosa!!"
Aku menatap gadis yang ku pegang tangannya. Ia juga menatapku. Setelahnya kami mengangkat bahu acuh. Tidak penting. Kamipun meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke kelas. Suasana kelas tetap kosong melompong karena semua penghuni sedang menonton recreate drama Korea secara langsung.
"Aku pikir ada apaan di luar," ucapku sambil berjalan menuju bangku yang ku duduki sebelumnya.
"Iya aku juga mikirnya gitu," timpalnya dan duduk dibangkunya pula.
Ku tatap sekeliling kelas. Sekarang suasananya sangat sepi. Aku jadi rindu teman SD ku. Percayalah andai aku masih kelas 6 SD semua temanku tak akan membiarkan kelas menjadi sunyi. Pasti ada saja tingkah mereka. Aku juga tidak menyukai suasana yang canggung. Dan dilihat sikap teman sebangkuku sepertinya tak akan ada obrolan jika bukan aku yang memulai.
"Nama kamu siapa?"
"Nayra."
Lucu juga yah awal perkenalan pasti terasa kaku dan awkward .
__ADS_1
"Ratu," jawabku singkat
Ia mengangguk dan menatapku dari bawah sampai atas. Apa ada yang salah dengan pakaianku? Aku pun ikut menatap kebawah.
"Kenapa ngak pake rok span?"
Ternyata itu yang membuat ia heran. Aku hanya tersenyum. Memang saat ini aku memakai rok bermodel plisket yang panjang . Jarang sekali perempuan teman sekelasku bahkan semua kelas disini memakainya mereka kebanyakan memakai rok bermodel span yang panjang. Wajarlah karena model seperti yang ku kenakan akan menambah kesan alim pada orang yang memakainya, rok ini sebagian besar hanya di pakai anak pesantren di kotaku. Tetapi sekolahku tidak melarang kok hanya saja kurang orang yang memakainya.
Pakaianku memang agak berbeda dengan yang lain. Jika kebanyakan siswi termasuk Riang dan Nayra mengurai rambutnya ke sekolah, aku memakai jilbab sampai menutupi dada. Jika hari senin dan selasa aku memakai jilbab berwarna putih, baju putih, dan rok abu abu. Kebetulan hari ini kamis aku memakai baju batik sekolah berwarna biru, jilbab putih, dan rok putih. Nah kalau hari jum'at dan sabtu in syaa Allah aku akan memakai jilbab berwarna coklat serta baju dan rok yang senada. Sepatu harus berwarna hitam. Kaus kaki harus panjang. Itulah ketentuan sekolahku.
"Lebih enakan pake rok gini. Lebih leluasa kalau mau jalan," jawabku.
Nayra hanya tersenyum.
"Kamu kenal Kak Anas?"
Nama itu. Sepertinya aku pernah mendengar nama yang diucapkan Nayra. Aku terus mencoba mengingat. Dan yah, dia lelaki yang di perbincangkan saat hari pertama sekolah oleh para gadis kaya.
"Aku cuman tau namanya. Kalau orangnya sih belum."
Bola mata Nayra membelalak dan lebih memajukan badannya kearahku. Spontan aku memundurkan badanku agar tidak dekat dengan Nayra. Mulut Nayra terbuka lebar dan matanya tidak berkedip sama sekali
"Ngak tau dia?" Tanya Nayra lagi dengan pandangan tidak percaya. Aku membalasnya dengan mengangguk dan pandangan polos.
Ia memundurkan badannya seperti keadaan semula akupun melakukan hal yang sama, memperbaiki duduk ku. Sempat ia menghembuskan nafas kasar.
"Jarang banget loh," ucapnya sambil menopang dagu dan menatap plafon kelas. Tampaknya ia sedang berfikir keras. Aku juga menatap ke atas plafon layaknya orang bodoh.
"Jadi dia itu orang terkenal? Wajar aja sih aku gatau kan baru beberapa hari sekolah disini. Tapi kok kamu bisa kenal sama dia?" Tanyaku.
Nayra tampak gelagapan dan melepas tangannya dari dagu. Matanya berputar kesana kemari seakan ingin menghindari pertanyaanku. Aku membalasnya dengan tatapan bingung.
"Oh....oh yah. Diakan kakak kelas," ucap Nayra sambil tertawa kaku. Akupun ikut tertawa mengiyakan. Kan betul juga seharusnya sebagai adik kelas kita lebih mengenal jauh Senior agar nanti sudah mengetahui mana yang bagus untuk didekati dan yang harus dihindari.
"Tadi yang di kerumunin itu kak Anas sama kak Nanda," ujar Nayra seketika memberikanku informasi. Aku hanya mengangguk.
__ADS_1
"Terus?" Tanyaku. Berniat ingin mengetahui selanjutnya.
Nayra hanya menggeleng mengisyaratkan 'tidak apa apa'.