Taktik Cinta

Taktik Cinta
preman Sekolah Berulah


__ADS_3

^^^13-Juli-2012^^^


^^^Smp Negeri 91 Cahaya Negara^^^


👑"Aduh tiap hari sosweet aja. Bikin iri tau," ucap salah satu gadis sambil menyenggol teman disampingnya dan mengigit ujung kuku sedangkan mata mengarah satu titik.


"Iya. Aku aja yang liat ngak bosen-bosen," tambah temannya dan menatap mereka dengan tatapan memuja.


"Aku juga pengen hikss," lagi, gadis tadi berucap lalu memeluk teman sebelahnya dan dibalas pelukan pula sehingga mereka saling berpelukan di meja kantin.


Aku yang baru memasuki kantin dan mendengar celotehan mereka, langsung memutar badanku mencari objek yang sedari tadi menjadi topik perbincangan orang-orang.


Saat mataku terarah ke meja pojok kantin, ternyata mereka di sana. Saling berbicara dan sesekali gadis di depan lelaki itu tertawa dan memukul lengannya. Laki-laki yang di pukul tidak marah ataupun merasa risih di perlakukan seperti tadi bahkan ikut tertawa.


Lama menatap mereka aku tidak sadar sedang berdiri di depan pintu membuat orang yang ingin masuk mendorong tubuhku dengan kasar, aku yang tidak mengetahui akan terjadi seperti ini langsung jatuh tersungkur. Alay sih tapi yah memang itu yang terjadi. Tubuhku tak siap menerima dorongan.


"Aduh!" jeritku sambil memegang lututku yang terbentur dengan lantai.


"Hey, kamu!! jalan ini bukan tempat buat diem berdiri aja. Kita yang pengen masukkan merasa dihalangin," bentaknya yang diangguki teman-temannya di belakang. Aku rasa dia yang mendorongku. Baju pramuka yang seharusnya bagi laki laki di masukkan ke dalam, malah ia keluarkan dan ia biarkan kancing teratasnya terbuka. Rambut yang acak acakan serta celana bagian lutut yang sobek. Preman sekolah yang kemarin ditarik oleh guru BK. Aku segera tersadar dan menatapnya penuh amarah, aku merasa saat ini sedang dipermalukan apa lagi seluruh penghuni kantin menatap ke kami, termasuk kak Anas dan kak Nanda.


"Tapi ngak harus ngedorong aku juga kan? Bisa kek diusir secara halus," ucapku sambil berdiri dan membersihkan kotoran pada rokku yang menyentuh debu lantai.


Dia dan teman-temannya seketika tertawa keras dan saling memukul bahu satu sama lain. Aku bingung dengan keadaanku saat ini.


"Eh Neng, dari tadi atuh kita bilang 'minggir dong pengen lewat' tapi situnya tetep diem. Yaudah kita teh serobot aja 'kan. Hahahaha," jawab temannya yang memiliki mata agak sipit sambil tertawa lagi dan diikuti seluruh anggotanya.


Aku menatap mereka satu persatu dengan sinis dan mendorong tubuh mereka yang menutup akses pintu secara kasar dan emosi yang meluap-luap untuk meninggalkan kantin. Selera makanku sudah hilang. Bisa bisanya mereka mempermalukanku di depan banyak orang.


Aku rasa aku tidak sepenuhnya bersalah. Seharusnya mereka membangunkanku dari lamunan, atau memukul bahuku, atau mencubit lenganku atau entahlah.


Kebetulan ada kaleng minuman di depan kakiku jadi ku tendang dengan kencang. Dan suara benturan sempat terdengar tetapi aku tidak memperdulikannya aku terlalu fokus untuk tetap berjalan menuju kelas.


"Ratu!!! Ratu!!" Teriakan seseorang membuat ku menghentikkan langkahanku dan berbalik kearahnya dengan amarah yang masih menguasai setengah diriku.


"Apasih?" tanyaku sinis.

__ADS_1


Sepertinya ia sempat berlari karena saat ini dia menunduk dan memegang lututnya untuk mengatur nafas agar teratur.


"Tung...guin ak..ku!" teriaknya ngos-ngosan. Aku menuruti keinginannya. Merasa keadaanya sudah membaik. Ia kembali berlari ke arahku lalu memukul bahuku pelan.


Kamipun berjalan beriringan di koridor. Ada beberapa siswa dan siswi yang berjalanan berlawanan arah dengan kami.


"Kamu kenapa jalannya cepet banget sih?" Tanya Riang sambil memeluk bahuku. Aku menatap tangannya tidak suka. Riang yang mengerti langsung menurunkan tangannya.


Ku hentikkan kakiku untuk tidak berjalan.


"Aku emosi, aku marah, aku ngak suka dikaya gituin, aku malu, aku benciiiiiiii!!" Teriakku dan menatap wajah Riang dengan penuh emosi. Seakan ingin melampiaskan seluruh kekesalanku ke dia. Riang melongo.


"Ehh tenang. It's okey , santuy sist," ucap Riang menenangkan dengan kedua jari tangan terbuka lebar di depan dada untuk melindungi dirinya.


Ku hembuskan nafasku kasar. Bibirku condong kedepan dengan wajah yang cemberut. Aku sudah mulai tenang tetapi masih ada rasa kesal.


"AkuSebelTauTadiPasDiKantinAdaPreman sekolahPermaluinAkuDiDepanBanyak


OrangMentangMentangDiaPunyaBanyak


cerocosku tanpa henti dengan deru nafas yang memburu. Membuat Riang menatapku heran.


"Tenang dulu Sist. Jelasinnya pake spasi,titik,koma, kritis, tuuuttt mati," Kata Riang dengan menghitung satu persatu kata katanya.


Lelucon Riang berhasil membuatku tertawa, aku memang receh dalam urusan lawakan. Ku cubit pinggangnya dengan cubitan pedas. Wajah Riang tiba tiba memerah dan tidak mengeluarkan suara. Ku lepas tanganku dan menatapnya khawatir.


"Aushh aushh. Sakit woyy, nyubitnya pake apa sih? Obeng? Pedis bett Tuhan," adu Riang sambil mengelus pinggang yang menjadi sasaran penganiayaanku, niat hati pengen kasihan malah bikin kesal lagi.


"Pake kunci inggris," balasku dan memutar bola mata malas.


Secara tiba tiba moodku berubah saat aku mengingat teman baru ku di kelas. Ingin sekali aku mengenalkannya dengan Riang. Karena mereka memiliki sifat yang berbeda. Riang orangnya humoris sedangkan Nayra dia agak cuek. Kira kira bagaimana ya jika mereka bertemu?


"Ke kelasku yuk!" ku tarik tangan Riang penuh semangat.


Riang hanya mengikuti langkah kakiku. Berhubung semua kelas hanya berada di lantai bawah jadi tidak perlu bersusah payah menaiki tangga. Semakin dekat dengan kelas semakin menurun semangatku berlari.

__ADS_1


Ketika sampai, kebetulan pintu kelasku terbuka lebar sehingga dapat menunjukkan keadaan di dalam. Aku mencondongkan kepalaku di dekat pintu tetapi tanganku masih menggengam Riang.


"Ada apa sih Ratu? Kenapa nggak sekalian masuk aja? Ada yang ganti baju yah? Emang tadi kamu olahraga?"


Sekian banyak pertanyaan Riang, hanya mampu ku balas dalam ke-terdiam-an.


Tatkala ku dapati Nayra sedang menunduk membaca novel diatas pangkuannya yang ia bawa dari rumah. Sebelum kekantin aku memang sudah melihat ia memulai membaca novel jadinya aku hanya sendirian saja kekantin tidak ditemani oleh Nayra karena takut mengganggu. Aku menarik Riang lagi agar mengikutiku masuk ke kelasku.


"Khemm Nay," panggilku dengan suara rendah.


Nayra menghentikkan aktifitasnya untuk mengangkat kepala. Melihatku dia menaikkan alisnya seolah bertanya tanpa menggunakan suara. Dan ketika melihat ke sampingku ia mengerutkan dahinya. Aku paham.


Aku mendudukkan diriku di kursi depan meja Nayra lalu ku isyaratkan Riang duduk disebelahku dan menghadap ke Nayra.


"Kenalin ini teman pertama ku disini namanya Riang. Orangnya sama kayak namanya kok."


Ku tatap Riang. Ia seperti canggung kemudian berdehem sebentar. Yah Riang pasti akan memulai aksinya.


"Yap betul. Aku tuh orangnya Riang. Namaku juga Riang. Yah mungkin pas aku masih jadi janin ibuku sudah merasakan hawa-hawa riang dariku. Katanya perutnya setiap hari berguncang guncang padahalkan aku tuh di dalam rahim kalem kok."


Nayra menarik ujung bibirnya dan menggelengkan kepala melihat tingkah Riang. Aku juga turut tersenyum.


"Dan Riang. Ini Nayra temen aku di kelas."


Kini giliran aku memperkenalkan Nayra ke Riang. Riang mengangguk dan mengedipkan sebelah matanya pada Nayra. Aku jadi menyesal memperkenalkan mereka.


Baru saja kami ingin memulai pembicaraan suara nyaring bell terdengar pertanda waktu jam istirahat telah usai, aku belum makan tetapi waktuku habis hanya karena adu mulut dengan preman sekolah.


Sedangkan Penghuni kantin yang berisi siswa siswi sekolah membayar hasil belanjaan mereka yang telah masuk ke perut dan berlari keluar kantin terkecuali anggota geng nakal yang masih mengunyah makanan mereka disana. Guru yang berada di kantor mengambil buku buku paket serta alat yang akan mereka gunakan untuk mengajar. Semua teman kelasku segera berbondong bondong masuk dan Riang bergegas berdiri.


"Aku duluan yah, keburu Bu Rahmi masuk. Bye bye."


Aku dan Nayra hanya sekedar mengangguk dan aku mengangkat tangan menggerakan tanganku ke kanan dan ke kiri pada Riang seolah mengucapkan 'see you'. Kemudian Nayra kembali bersikap cuek mengambil bukunya di tas,menunggu kedatangan guru yang akan mengajar pada jamnya.


Aku segera kembali ke mejaku yang berada di sebelah Nayra karena pemilik bangku sudah berdiri di sampingku seolah memintaku untuk pindah walaupun tidak mengucapkan kata kata.

__ADS_1


__ADS_2