Taktik Cinta

Taktik Cinta
Labil


__ADS_3

^^^18-Juli-2012^^^


^^^Smpn 91 Cahaya Negara^^^


👑Aku mengenakan sepatuku dengan acuh tak acuh, sebenarnya aku malas ke sekolah kalau ada musuh. Walaupun tidak tau apa yang terjadi antara aku dan gadis cuek itu, tetapi tingkahnya sudah menunjukkan bahwa dia tidak suka padaku.


Heran juga, aku tidak berbuat salah kepadanya lalu dijauhi. Bila ingat kejadian kemarin aku terasa sakit, malu dan tertohok.


Ibu Rahmi memberikan tugas menggambar peta Indonesia beserta nama tempat tersebut, lalu apa masalahnya? Ini dia, beliau membagi kelompok sesuai teman sebangku kami dan... Nayra menolak sekelompok denganku.


Terbayang wajah Nayra yang menatapku sinis saat ibu bertanya apa alasan dia tidak mau satu kelompok bersamaku.


"Ayo jawab ibu! Kenapa kamu tidak mau?" teriakan Ibu Rahmi terdengar sampai ke kelas sebelah, mungkin Allah sedang mengujiku karena ternyata tetangga kelas kami sedang jam kosong, mereka leluasa keluar kemana pun termasuk mengintip di jendela kelasku.


Tidak tau mau bereaksi seperti apa, aku hanya mampu menunduk menahan tangis. Baru kali ini ku lihat jelas jariku yang mungil.


"Ibu tidak akan memberi isin jika kamu tidak mempunyai alasan. Namun, bila alasannya karena kalian bermusuhan maka ibu tegaskan  masalah pribadi jangan sangkut pautkan pada pelajaran!"


Diam, tidak ada yang mampu menyela ucapan guru killer tersebut. Mulut ku memang tertutup rapat tidak menimbulkan suara, tetapi beda dengan jantungku yang terus berdebar kencang menembus bagian dalam tubuhku dan sampai ke telinga, bisa saja mereka juga mendengarnya.


Nayra masih setia berdiri, ku alihkan pandangan dari tanganku ke kaki Nayra. Ia bergetar seakan belum makan. Aku beruntung duduk dibangku, sedangkan Nayra berdiri sejak ia mengajukan komplain pada ibu.


Aku bertekad tidak menatap ke arah lain, Nayra sebentar lagi mungkin pingsan jadi aku harus siaga menjaganya. Tidak peduli ia akan marah.


"Sifat kekanakan kalian sewaktu Sd jangan bawa ke Smp, kalian sudah beranjak dewasa, mampu membedakan mana yang baik mana yang buruk, contohnya ibu kasih pertanyaan. Menjajah itu baik apa buruk?"


"Buruk!" teriak teman kelasku penuh semangat, suaranya semakin besar karena diikuti si pengitip.


"Bagus," Ibu Rahmi memberikan jempol pada kami. Kemudian dia keluar karena terusik murid lain yang ikut campur. Aku menghela nafas lega, leher ku yang kaku karena menunduk terlalu lama akhirnya bisa berbalik ke kanan dan kiri sehingga menimbulkan suara "krek" begitu pun Nayra punya kesempatan untuk duduk.


"Hei! Kenapa kalian disini? Mata pelajaran apa sekarang?"


"Bahasa Indonesia bu!" teriak mereka kompak.

__ADS_1


"Mana gurunya? Kenapa kalian dibebaskan keluyuran?" Ibu Rahmi berucap kesal.


"Pulang bu! Anaknya sakit."


Ibu Rahmi tampak berpikir sejenak, awalnya dia ingin marah tetapi mengerti juga posisi guru tersebut.


"Ya sudah, sebentar ada pelajaran Ips jadi kalian rangkum bab enam dan ibu akan beri kalian pertanyaan sesuai dengan apa yang kalian tulis."


Setelah mengucapkan itu, Ibu Rahmi masuk ke kelas. Namun suara mengeluh dan menyesal siswa siswi sebayaku dari luar di dengar oleh kami.


"Nyesel aku Din keluar, gara gara kau nih ngajak-ngajak aku," ia berjalan sambil menunjuk menyalahkan.


"Mana ada pula salah aku, kau lah ngapa mau di ajak!" kilah gadis berambut pendek tidak terima atas ucapan temannya, ia menyentak jari yang terarah di depan matanya.


"Siapa tadi yang bilang 'buruk'? Coba saja tidak bilang begitu pasti kita tidak ditegur," Lelaki berseragam sekolah yang bagian punggungnya basah karena keringat berjalan mundur untuk mengetahui siapa pelaku sekaligus menyembunyikan peluhnya.


"Nia, Reyhan, Ujan, Ajun, Qausar sama siapa lagi itu... kalau ngak salah Wandi," Jawab gadis lain dengan semangat.


"Eh, ibu bertanya ya aku jawab, aku itu bukan seperti kamu yang nggak beretika," merasa namanya disebut dan itu bukan hal baik. Ia segera menyela untuk menyudutkan gadis tersebut.


Ketika ibu Rahmi meminta Nayra berdiri seketika aku fokus pada situasiku saat ini. Seharusnya aku tidak perlu gugup, toh bukan masalahku, bukan aku yang dimarahi oleh ibu. Namun, ia berpikir kami sedang bermasalah, pasti aku dituduh adu mulut atau fisik dengan Nayra dan berujung permusuhan. Lebih menakutkan adalah ia juga termasuk guru tergarang yang ada di sini mana mampu aku mengelak pada sanksi yang akan ia berikan.


Jika guru sudah marah, pikiranku selalu tertuju pada hukuman dan hukuman yang paling famous bagi pelajar seperti kami adalah : membersihkan wc, lari memutari lapangan, hormat pada bendera di lapangan, berdiri memegang telinga, dan dikeluarkan dari kelas. Diantara itu semua tidak ada yang diinginkan oleh siswa yang memikirkan masa depannya. Ada yang bilang munafik jika kita tidak ingin keluar pada saat mata pelajaran berlangsung, namun sebenarnya yang rugi dirinya sendiri. Percuma datang di sekolah jika pulang tidak membawa ilmu.


Selesai menasehati, sang guru memberikan solusi agar Nayra mau sekelompok denganku, yaitu meminta Dea bergabung pada kami. Bukan hal yang buruk, sangat bukan. Lihatlah senyumku yang mengembang diantara pipi yang merona. Tidak ada yang rugi, itu pikirku.


"Mama aku sekolah dulu yah," pamit ku pada mama yang sedang menyuapi Rian. Papa sudah mengecup kening mama kini giliranku mencium telapak tangannya. Aku dan papa berlalu meninggalkan mereka demi keuntungan yang bukan bersifat personal.


👑


"Nay!" teriakku gemas pada Nayra yang menggambar pada kertas karton berwarna putih tanpa merasa terganggu.


Kami, ralat Nayra dan Dea memutuskan menyelesaikan tugas dari ibu Rahmi di perpustakaan jika istirahat. Aku ingin sekali menyela bahwa lebih baik kita makan saja dan mengerjakannya pada jam istirahat kedua. Lagi-lagi aku urungkan karena pasti Nayra tidak mau mendengarku.

__ADS_1


"Bicara dong Nayra," aku sudah pasrah, sedari tadi tugasku hanya membujuk Nayra sedangkan Dea dia menulis provinsi yang telah digambar Nayra.


Aku merasa membujuk Nayra tidak akan ada habisnya, jadi aku memilih mengambil alih kerjaan Dea. Ku lihat dia kesusahan menulis karena tubuhnya selalu menyerempet Nayra dan berimbas pada tangan Nayra yang tidak terkontrol menggambar garis lain.


"Bentuk K itu Sulawesi Ratu, bukan Kalimantan," Dea memberikan penghapus pensil berbentuk persegi sebesar ibu jari padaku. Menyadari kesalahan spontan ku tepuk kening ku.


Nayra terkekeh menggelengkan kepalanya.


"Kalau nggak bisa, nggak usah dipaksakan kasih aja ke Dea."


Ingin sekali rasanya membalas ucapan Nayra yang seperti meremehkan ku. Tetapi aku tersenyum bahagia karena dia sudah mau berbicara.


"Aku bisa kok, kebetulan aja ini," ucap ku tidak mau memberikan pensil ke Dea lagi, alasannya yah, mau membantu lah. Sedari tadi aku hanya menjadi pengganggu yang tidak punya kerjaan. Walaupun apa yang ku tulis tidak sesuai, tetapi itu hal yang membuat Nayra buka mulut padaku dan ini saat yang tepat untuk mengakui kesalahan yang tidak tau apa sebabnya.  "Nay aku minta...."


"Kamu lapar 'kan? Itu ada sandwich dibekal ku," Nayra memotong kata yang belum ku ucapkan dengan sempurna. 


Ini sudah jelas kalau Nayra tidak ingin membahas renggang nya hubungan pertemanan kami kemarin.


Padahal, aku cuman mau tau apa penyebab dia menghindar hingga tidak mau satu kelompok denganku. Jika memang ada alasannya aku siap mendengarkan, dikritik itu perlu agar kita bisa menjadi lebih baik.


Hmm, baiklah mungkin ini bukan saat yang tepat untuk membicarakannya, dilihat ekspresi Nayra seperti tidak terjadi apa-apa, takutnya jika membahas hal kemarin raut wajahnya akan berubah.


"Aku juga laper," Dea mendekatiku saat aku mengambil bekal Nayra.


"Iya, ambil aja."


Aku dan Dea saling menatap ketika kotak bekal terbuka, memperlihatkan hanya ada dua sayuran berbalut roti di sana.


"Kamu ngak mau?" tanyaku ke Nayra yang masih asik menggambar dengan telaten. Wajahnya menyipit ketika melihat buku peta kemudian beralih pada hasil karyanya, tampak mencari perbedaan antara kedua gambar tersebut.


"Bosen, aku cuman mau makan soto habis ini. Fyuuh," ia menghapus lekukan yang salah lalu meniup sisa-sisa penghapus yang tertinggal di atas karton.


Kami_kecuali Nayra tentunya_bersorak bahagia.

__ADS_1


Emosi kami labil, itulah wajar jika kami bermusuhan dan kembali damai. Daripada diam-diaman itu lebih buruk. Makanya, masa-masa begini lebih indah karena masih kurang gengsi diantara kami.


__ADS_2