
^^^23-Juli-2012^^^
^^^Smp Negeri 91 Cahaya Negara^^^
^^^Senin^^^
Mobil yang dibawa papa melaju dengan sedang, tidak peduli aku yang mendesak agar kecepatannya ditambah, bukan karena mau ngebut ugal-ugalan tetapi sekarang sudah jam tujuh lima belas menit. Itu pun aku masih ada dalam perjalanan, belum sampai di sekolah. Bisa jadi sekitar jam delapan aku baru menampakkan batang hidung di sana.
"Pa, ini udah jam berapa loh," pasrah, aku hanya bisa bersandar ke kursi lagi setelah memukul pelan tangan papa. Ia tidak meringis atau mengadu kesakitan, melainkan tertawa.
"Mau kita terdesak bagaimana pun, itu tidak menjadi alasan untuk kita bisa menghalalkan segala cara," papa mengemudi dengan serius, agar wajah cemberut ku bisa sedikit memudar. Kalau papa sudah serius, maka aku yang harus berjaga-jaga.
Aku lebih memilih melihat pohon dari samping kaca yang tertutup rapat, pohon itu perlahan hilang dan digantikan pohon lain, begitu seterusnya. Seakan ia yang berlalu lari dari kami padahal kami yang meninggalkannya, sedangkan pohon masih tetap berdiri di atas tanah dengan kokoh.
Aku mendapati perempatan jalan lain, semua mobil berhenti karena lampu lalu lintas memberikan kesempatan agar mobil di perempatan yang ku lewati lebih dulu melintas, fokus ku beralih pada anak yang memberikan seluruh koran pada pemilik mobil berwarna kuning, wajahnya berseri bahagia sambil mencium uang merah setelah mengeluarkan tangannya pada kaca jendela mobil itu.
Ingin sekali ku lihat lebih lama senyum haru anak kecil berbaju lusuh tersebut, tetapi mobil terus melaju. Berbeda dengan tadi, aku mau mobil ini berjalan dengan speed 1,75x seperti di aplikasi Youtube, sekarang malah aku menyesali nya, menyesali hal yang belum terjadi.
Tiba-tiba mobil berhenti, aku menatap papa lalu ke kaca depan mobil. Ternyata sudah sampai.
"Niat karena Allah, jauh lebih indah jalannya, daripada meniatkan yang lain, ingat!"
Kerudung ku yang rapi kini sudah tak beraturan, sebab ulah papa.
"Baik pa," ujarku, ku hirup lebih dalam punggung tangan papa sebelum keluar dari mobil .
"Assalamualaikum," papa memberikan lambaian padaku, kemudian membalikkan mobilnya.
"Waalaikumussalam," balas ku.
Papa sudah pergi meninggalkan pelataran depan gerbang. Kini aku harus berjuang menghadapi hukuman dari guru. Sebelum masuk, aku memperbaiki kerudung ku sambil batinku berdo'a keselamatan.
"Hormat gerak!"
"Mati aku!" Hanya itu yang bisa ku ucapkan saat mendengar suara lantang lelaki di lapangan. Pasti upacara sedang berlangsung.
Pelan-pelan aku memasuki sekolah diikuti berucap salam.
Saat aku mendongak melihat sekeliling ternyata pak Krisna sudah menunggu di parkiran siswa. Ia menatapku tajam serta memukul penggaris panjang ke bagian dalam tangannya. Pasti sakit. Aku meringis tidak sadar.
"Berdiri di situ!" tegas pak Krisna. Ia mendekatiku, menyeret penggaris nya di tanah sehingga menimbulkan suara aneh.
Sesuai perintah yang disuruh kan, aku berdiri seperti patung di bawah teriknya matahari, bersikap tidak peduli dengan pria tua yang mengelilingi ku.
"Kamu tau kenapa bapak tidak menghukum kamu di dalam?"
Aku menggeleng.
"Bersihkan lapangan parkiran ini, sapu daun yang berserakan dan bapak akan awasi di sini," dengan enteng ia menyerahkan sapu lidi yang sebelumnya berada di kakinya kini berada dalam genggamannya. Apakah hukuman itu diberikan karena aku tidak bisa menjawab?
__ADS_1
"Ambil ini!" perintah pak Krisna bagai sihir yang mengendalikan ku. Sepertinya niatku ke sekolah bukan karena Allah, oleh karena itu sanksi yang aku dapatkan dari hamba-Nya.
Tas berat yang bergelantungan di punggung ku telah berpindah tempat di atas jok motor murid lain. Ada banyak buku paket yang ku bawa sehingga berat tas melebihi dua kantong berisi beras, kalau di gendong terus, aku akan seperti nenek bungkuk menyapu halaman.
"Anak-anak kalau disuruh selalu ngeyel, menggerutu padahal yang buat salah dirinya sendiri, coba saja dia tidak melanggar peraturan, 'kan mana mau kita hukum dia."
Sembari sang guru bercerita, aku menyapu daun yang berada di celah-celah dua motor. Awalnya susah menggapai daun tersebut, tetapi berkat kegigihan ku, sapu lidi dapat menjangkaunya.
Tidak sampai situ, mengeluarkan benalu yang satu itu aku harus melewati motor-motor lain. Terkadang ada daun yang tertinggal.
Karena sangat kelelahan keringat ku mengucur melewati alis ku. Beruntung ada bulu mata yang menghalanginya, bisa perih mataku.
Mataku terbelalak, saat melihat keringat lain ku jatuh ke jok motor, namun seketika hilang tak menyisakan jejak. Otomatis ku buang sapu untuk meraba jok.
Aw
Tangan ku sebentar lagi mungkin akan melepuh, jok motor yang terkena paparan sinar matahari juga menampung panasnya. Itulah mengapa keringat ku langsung mengering. Ku tiup telapak tangan ku yang memerah seperti sudah menampar seseorang.
"Heh kalau guru sedang berbicara, harusnya kamu dengarkan, ini malah tiup-tiup tangan. Kurang etika, hukuman kamu saya tambah! Bersihkan kantor," pak Krisna berlalu setelah memarahi ku. Salah dia kenapa tidak bertanya apa yang ku lakukan, malah menganggap ku tidak sopan.
Aku mengambil sapu kembali lalu menyimpannya di dekat tembok parkiran. Tidak lupa tas ku yang ku titipkan di jok motor seseorang.
"Mungkin akan robek karena teriknya matahari," ujarku cemberut.
Bukannya aku malas membersihkan, tetapi tempat ini sudah rapi dan bersih, daun pun cuman ada hitungan jari. Bisa jadi pak Krisna lah yang membersihkannya.
"Ratu!" teriak seorang gadis dari belakang. Suara yang dirindukan terdengar selama beberapa hari.
Aku tidak sabar melihatnya. Segera ku balik badan ku pada sumber suara itu.
"Riang!" balas ku meneriakinya. Ia duduk di atas motor yang masih menyala.
"Kamu darimana sih?" ujarku geram, mencubit perutnya. Riang tertawa melepaskan jemari ku yang berbentuk capit kepiting. Ia lantas turun dari motornya dan merangkul ku.
"Tugas ku banyak banget di rumah, jadi tidak bisa ke sekolah, tapi surat izin ku ada kok," Riang membela diri.
Aku tertawa sejenak sebelum menjawabnya, "Kenapa harus buat surat izin terus? Padahal bisa tulis di situ, kalau hari ini sampai hari ini nggak bisa masuk sekolah dulu," saran ku, Riang turut tertawa.
Kami sudah berada di koridor semua murid menoleh pada ku dan Riang, rata-rata murid itu memakai baju lain. Membuat ku kebingungan mengikuti seorang lelaki yang berjalan ke arah parkiran dengan baju asing tersebut.
"Katanya kegiatan kelas sembilan akan dilaksanakan, itu baju persatuan mereka," Riang menjawab keheranan ku.
"Berarti tadi nggak upacara dong?" tanya ku memastikan.
Riang mengangguk mantap, "nah, itu kenapa aku terlambat," bisiknya sambil terkekeh.
Aku merenggut tidak suka, dia terlambat tapi tidak dihukum.
"Aku dapat hukuman dari pak Krisna, membersihkan kantor," aku menyuarakan ketidak berdayaan ku. Coba saja aku datang ke sekolah pada jam yang sama dengan Riang tidak terjadi begini. Eh, kok aku berandai.
__ADS_1
"Kita bersihin sama-sama, aku kan juga terlambat," usul Riang, aku mengangguk bahagia. Ada temanku bisa diajak berbicara saat di dalam kantor.
👑
"Terus bagaimana?"
Aku menghela nafas ku mengingat kejadian kemarin.
"Diwarnai, Dea sama Nayra maunya gitu," aku menyapu bagian bawah meja guru, jadi harus jongkok untuk melihat kotoran di sana.
Riang menggunakan kemoceng untuk membersihkan debu di jendela, ia membelakangi ku, terkadang juga berbalik untuk memastikan aku masih ada atau meninggalkannya.
"Kakak mu Riang, ngeselin!" Akhirnya yang ku pendam tersalurkan juga pada orang yang tepat.
"Kenapa?" tanya Riang, ia menahan tawa. Ku pastikan dia sudah hapal tabiat kakaknya, sungguh Riang sangat betah hidup serumah dengannya.
"Dia nyuruh aku masuk jurusan bahasa, katanya aku cocok jadi jurnalis. Secara nggk langsung dia nyinggung aku karena banyak tanya."
Aku mengambil skop sampah untuk memindah tempatkan debu dan kotoran yang telah ku sapu sampai terkumpul banyak.
"Betul, emang ngeselin sih, gara-gara dia aku ke sekolah naik motor sendiri. Dia nggak mau nebengin aku. Katanya, 'kamu itu jelek, malu kalau temanku tau kamu adek aku' tapi aku ngak mau kalah, nanti kalau dia lewat pasti aku teriaki," gerutu Riang yang lebih tertindas dariku.
Aku tersenyum puas atas keberaniannya, menantang kakak yang berotak miring.
Asik menyapu aku tidak sadar ada lelaki yang berdiri di belakang ku, lebih tepatnya di pintu masuk.
"Masuk kak," ucap Riang penuh penghormatan.
Aku berbalik, ternyata preman sekolah. Populasi tingkat tinggi lelaki menyebalkan mungkin dimenangkan sekolah ku.
Ia berjalan menuju meja yang telah ku bersihkan dengan Riang, sepatunya yang kotor berhasil membuatku mengurut kening.
Belum lagi ia menghentakkan kakinya, dia ini sengaja atau bagaimana?
"Aduh sepatu kotor lagi."
Nah, kan tau.
"Harus dibersihkan dulu," ujarnya sambil mengoleskan telapak kakinya ke sisi meja agar semua pasir jatuh ke lantai.
Aku hanya bisa melongo, mulut ku tertutup, berbeda pada mataku yang membulat.
"Aku udah capek bersihin, terus kamu kotorin lagi, dari pagi aku udah dapat banyak masalah, dan kamu dengan nggak tau dirinya mau nambahin! Gak mau tau bersihkan sendiri!" ku serang ia menggunakan ujung sapu dengan seluruh tenaga ku. Mulut ku tidak terkontrol, ia hanya mengucap saja, otakku tidak berfungsi atas kejadian ini.
"Woi! sakit! Iya, iya aku yang bersihin!" putusnya, ia mengambil sapu yang ku pakai tadi untuk terus memukulnya.
"Ayo Riang kita keluar!" ucap ku menggebu-gebu. Nafas ku belum beraturan.
Riang shock ditempatnya, tidak menduga aku akan senekat itu memukul seseorang.
__ADS_1