Taktik Cinta

Taktik Cinta
Menghindar


__ADS_3

^^^17-Juli-2012^^^


^^^Smpn 91 Cahaya Negara^^^


👑Sama seperti kemarin, Nayra seperti menjauh dariku, kemarin sehabis upacara Nayra menjadi lebih pendiam, setiap ku ajak berbicara dia hanya bungkam. Tetapi, hari ini tingkahnya semakin parah, bangkunya pun agak ia seret ke kiri. Aku masih berpikir positif, mungkin saja dia ingin lebih leluasa bergerak.


Namun, dia malah berjalan menuju kantin sendiri tanpa mengajakku, padahal jarang sekali dia pergi ke kantin jika bukan bersama aku dan Riang.


Riang juga tidak pernah bertandang ke kelasku. Jika mereka ingin memberikan kejutan, kejutan apa? Ulang tahunku masih lama.


"Ratu, ke kantin yuk!" Ajak teman kelasku yang memiliki badan agak gemuk. Ia duduk di sudut kiri kelas, sendirian. Tidak ada yang mau duduk dengannya.


Ada yang bilang ia memiliki bau aneh pada badannya, tetapi yang lebih aneh adalah, aku tidak mencium hal tersebut.


"Ayo!"


"Ayo!" Sahutku, aku merasa ada yang mengucapkan hal sama.


Aku berbalik dan menemukan, Aisyah. Gadis berkaca mata sekaligus pemilik dasi rapi, pertama kali aku melihatnya di hari perdana menjajaki sekolah ini.


Ia merupakan teman dekat Dea, nasibnya tidak jauh beda. Mereka dibully secara bersamaan di manapun mereka ditemukan.


"Kalian mau pesan apa?" tanyaku yang berada ditengah-tengah Aisyah dan Dea sambil menatap secara bergantian. Kami berjalan sekaligus mengobrol agar tidak berpatok dengan omongan mencibir dari samping.


"Aku mau makan batagor pak Aryo," jawab Aisyah, seraya menaikkan kaca mata yang melorot dari hidungnya.


"Hmmm, aku bingung...," Dea berujar sedih dengan memainkan kukunya.


Aku dan Aisyah saling bertatap, kami heran pada Dea. Kenapa dia harus bingung memilih makanan?


"Jangan bilang kamu mau diet De," Aisyah merubah tempatnya menuju samping kiri Dea yang kosong. Jadi sekarang Dea lah yang ditengah.

__ADS_1


"Rencananya gitu, aku takut kena penyakit obesitas...."


Ku tatap Dea dengan senduh, benar juga ucapannya, kalau dia jadi obesitas susah baginya untuk bergerak.


"Yang penting ngak nyakitin kamu, jangan dipaksain, pelan-pelan aja. Kayak lagu kotak," Aisyah mengacak rambut Dea, kami tertawa secara kompak.


"Pelan-pelan sajaaaaaa!!" Mereka bernyanyi sambil tertawa.


Aku memeluk Dea dari samping, jujur rasanya sangat nyaman.


"Kalau kamu kurus De, aku mana bisa rasain pelukan senyaman ini?" Ucapku dengan nada duka.


Nayra dan Riang hanya cocok diajak berbicara bukan diajak berpelukan. Maheer juga tidak segempal Dea.


"Gini aja Ratu, kamu peluk Ibu Bianca aja. Sama kok," lirih Dea agar tidak didengar orang lain karena menceritakan seorang guru.


"Hust! Ada yang denger kita bermasalah, lagi pun menghina itu nggak baik," tegur Aisyah. Ia menunduk memperbaiki dasinya.


Ku akui selain rajin memperapi penampilan, Aisyah ternyata bijaksana. Yah, memang wajar sih karena kerjanya hanya membaca buku. Apalagi yang bisa ia lakukan ketika angin membawa beribu omongan menghina dan singgah di telinganya.


"Kenapa Ratu?" tanya Dea ikut duduk  ketika aku menyeret bangku kantin tanpa berperikebendaan. Jika pakunya tidak tertanam dalam mungkin bangku itu sudah berserakan.


Semua pergerakan kulakukan dengan amarah, duduk pun sambil memaksa bokongku sehingga terdengar jelas, aku sengaja supaya Nayra mau melihat ke arahku. Tetapi, tidak berhasil.


"Lagi marahan?" Kini Aisyah yang bertanya, ia berdiri mencondongkan wajahnya ke arahku, itu karena aku tidak berhenti menatap pada tempat Nayra dengan wajah muram.


Pelan aku menggeleng, tidak memberikan pembenaran pada pertanyaannya, aku bingung apa yang terjadi. Apakah kita marahan atau tidak.


"Ratu pesan mie ayam," cetus gadis bulat yang tidak menampakan tulang pipi.


Aisyah mengangguk dan pergi meninggalkan kami. Aku tidak mengatakan ingin mie ayam, tetapi Dea sudah lebih dulu memesannya. Mulutku juga lelah mengoreksi.

__ADS_1


Aku mengutamakan mengingat kejadian kemarin, sekiranya aku menemukan alasan yang membuat Nayra mendiamkan ku.


"Masalah itu kalau dipikir terus bikin pusing, mending lupain aja dulu," saran temanku yang duduk diseberang meja.


"Kalau nggak dipikir gimana mau selesai?" tanyaku, menopang dagu lalu menggigit kelingkingku.


"Yaudah, cerita aja sama aku. Siapa tau aku bisa kasih solusi."


Kepalaku menggeleng, masalah ini tidak terlalu berat. Kenapa aku harus memikirkannya? Jika memang Nayra ingin sendiri dulu, lebih baik aku tidak mengganggunya.


"Seharusnya aku ngak usah galau, mungkin aja Nayra punya kesibukan yang nggak bisa diusik," ku ketuk meja secara berirama menggunakan jari-jariku.


Tiba-tiba Aisyah datang dan diikuti pelayan pria dibelakangnya. Usia pria itu lebih tua dariku. Seragam kami juga sama. ia memakai lambang kelas sembilan berwarna kuning di lengan kirinya. Beribu pertanyaan hinggap dibenakku dan menghasilkan kerutan di dahi.


Setelah meletakkan makanan di depan kami, dia pergi diiringi senyumnya.


"Lah, kok ada mangkok kosong? Buat apa?" tanyaku heran saat Aisyah membersihkan meja dengan tissue.


"Buat aku."


"Kamu mau makan mangkok? Dea kalau diet itu yang dikurangi makanan bukan makan benda."


Aku tidak habis pikir pada Dea, apakah dia begitu frustasi sebab omongan orang lain, aku pikir dia ini kebal mendengar cemoohan ternyata tidak juga. Tetapi dimana dia menemukan trik bunuh diri seperti ini?


Tanpa memperdulikan keheranan ku, Dea menuangkan sedikit kuah mie ayam pada mangkok kosong yang ku kira ingin dia makan. Lalu, mengambil tiga batagor Aisyah.


Aku diam tak berkutik, berbeda dengan Aisyah yang menahan tawa serta membersihkan garpu sebelum menggunakannya.


"Hehehe, aku mau diet."


"Diet, diet. Diet ndasmu, itu tuh hemat," kekeh Aisyah, menggeleng karena tingkah Dea.

__ADS_1


Jika Dea meminta kuah milik ku dengan alasan hemat, apakah Riani beralasan seperti itu juga ke Ian?  Bisa saja karena Riani sudah kurus buat apa dia diet.


Eh, mengapa aku memikirkan mereka seharusnya aku mengingat Genta yang begitu bijaksana.


__ADS_2