Taktik Cinta

Taktik Cinta
Ibadah


__ADS_3

Aku menatap jam dinding ku, sekedar melihat jam berapa. Ternyata sudah menunjukkan angka tiga di sana.


Pelan-pelan aku menuruni kasur dan menuju ke kamar mandi untuk cuci muka, lalu aku keluar ingin membangunkan Nayra.


"Nay! Nay! Bangun, udah jam tiga," ku tepuk pelan lengan Nayra yang tertidur menghadap ke kanan.


Ia sedikit menggelinjang dan membuka matanya secara perlahan, menyesuaikan cahaya lampu. Saat kedua matanya sudah terbuka secara sempurna, ia bangun dari tidurnya sambil menatap sekitar.


"Kalau jam tiga emang kenapa?" tanyanya dengan heran.


Aku tersenyum, wajar saja dia agak bingung karena shalat wajib shubuh dilaksanakan pada jam empat. Sedangkan, aku membangunkan dia lebih awal.


"Shalat tahajud," jawabku.


Nayra menyodorkan salah satu tangannya karena ingin dibantu berdiri dan aku menerimanya. Ia masih linglung saat berjalan ke arah kamar mandi, mungkin kesadarannya belum pulih secara penuh.


Beberapa menit kemudian, dia keluar dan memperlihatkan wajahnya yang basah. Saat telah berada di sampingku, kami menuju luar untuk shalat di mushola.


Temanku yang satu ini sangat cuek makanya tidak terlalu banyak pertanyaan ia utarakan, padahal aku siap saja menjawab jika dia bertanya "kenapa kita ke bawah?" Atau mungkin aku ingin seperti itu karena tidak terjadi, coba menjadi kenyataan aku bisa saja mengeluh.


Sebenarnya aku masih mengantuk, wajar saja karena kami belajar sampai pukul sebelas, ralat, aku sendiri yang belajar dan Nayra yang menjelaskan. Bahkan ia membuatkan soal untukku.


Semalam aku menemukan suatu hal yang ku suka dari dia, yaitu, tidak banyak mengeluh. Ketika jawaban yang ku kerjakan keliru dia senantiasa memperbaiki dengan raut wajah tenang. Bayangkan, kekeliruan itu tidak hanya pada satu angka, mungkin seluruh yang ku tulis. Namun gurat amarah atau jengkel tidak terlihat sama sekali.


Berbeda denganku, Nayra menjadi murung saja sudah membuatku membentaknya. Hmmm, jadi merasa bersalah.


Tidak terasa kami telah berada di depan mushola. Segera ku tarik Nayra yang ingin masuk, aku membawanya pada tempat wudhu terlebih dahulu.


"Maaf yah, lama melamun aku sampai lupa menunjukkan tempat berwudhu," ujarku sambil mengikat ulang rambutku agar lebih rapi.


"Tidak apa-apa."


Aku menyalakan keran lalu berwudhu. Sedangkan, Nayra terdiam di sampingku.


Setelah selesai, giliran Nayra yang melakukan hal sama. Padahal ada banyak keran.


👑👑👑


"Assalamualaikum warahmatullah."

__ADS_1


Aku berbalik ke kanan, kemudian ke kiri.


"Assalamualaikum warahmatullah."


Shalat tahajud telah ku dirikan, jadi aku harus berdzikir. Memuji nama Allah, merayunya, dan membujuknya agar mengabulkan do'aku.


Dulu aku pernah bertanya pada mama, kenapa ia menangis pada saat shalat, jawabannya.


"Resapi apa yang kamu ucapkan pada Allah, seperti


Subhanallah, yang artinya maha suci Allah. Kita ini pendosa nak, jadi kita meminta pengampunan dosa darinya yang maha suci


Subhanallahi wabihamdi, maha suci Allah dan segala pujian untuknya, manusia itu nggak patut mengharapkan pujian, tetapi yang seharusnya dipuji adalah pemberi kelebihan tersebut," mama berhenti sejenak berbicara, ia menarikku agar duduk di pangkuannya. Mama memang pengertian, sedari tadi aku mengelilingkan pandanganku mencari tempat duduk yang bersih tetapi, hanya sedikit terpal yang menutupi rumput itupun diduduki oleh mama.


"Kakak juara lomba story telling siapa yang bantu kakak mengucapkan kalimat Bahasa Inggris itu? Allah nak. Jadi kalau ada orang yang cantik, tampan, cerdas, soleh atau solehah kita bilang 'Masyaa Allah' sebab Allah yang berkehendak atas segalanya, kalau Allah mau kakak ini cerdas gampang banget buat Allah, lebih gampang daripada membalikkan telapak tangan, terus gimana caranya supaya Dia mencerdaskan kakak? yaitu berusaha dan merayunya."


Aku yang masih kecil berusaha memahami penuturan mama. Jujur saja kalimat itu terlalu tinggi maknanya, belum mampu diriku mengerti. Namun, seiring bertambahnya pengalaman dan usiaku, aku jadi paham maksud mama.


"Subhanallah, subhanallah, subhanallah...," Seraya bertasbih aku juga menghitungnya menggunakan jemari tangan kananku.


Sempat aku berpikir ingin membeli tasbih yang seperti kelereng, tetapi karena bantuan informasi internet aku tau bahwa lebih utama berdzikir menggunakan tangan karena ia akan dihisab nanti.


Aku akan sangat bahagia bila tangan ini akan menjawab bahwa ia ku gunakan dengan yang baik-baik. Walaupun aku tidak bisa menutup kemungkinan, kalau aku memiliki banyak dosa. Naudzubillahimindzalik.


Selesai berdzikir aku menengadahkan tanganku, berdo'a dengan tenang.


"Aamiin," ku usap wajahku, lalu berbalik melihat Nayra.


Ternyata ia juga telah selesai. Nayra tampak memangku mushaf berwarna hitam, ia membacanya dengan suara kecil.


Penasaran surah apa yang ia baca, aku segera mendekat dan duduk di sampingnya. Terdengar suara lirih Nayra yang tersendat-sendat.


Ia menarik nafas, kelelahan memperbaiki tilawahnya, tak tega aku mengelus pundaknya agar ia lebih semangat.


"Wamima raz... razakna hum yun... yun... fikun."


"Wamimma razakna hum yunfikun," ujarku memperbaiki bacaannya, aku pikir kalau aku bisa membantu kenapa tidak. Lagipula aku tau makanya ku koreksi.


"Di sini ada mim yang di tasyid, makanya dibaca wamimma karena didengungkan kira-kira 2-3 harakat," ku tunjuk huruf mim yang berdekatan huruf wau.

__ADS_1


"Makasih," Nayra memberi ku senyuman lalu melanjutkan bacaannya lagi.


"Assalamualaikum."


Suara papa menembus indra pendengaran ku, ia mengetuk pintu memberikan tanda bahwa ia ingin masuk.


"Rambut Nay," peringatku ke Nayra karena terlihat rambutnya di bawah dagu. Nayra langsung memperbaikinya.


"Waalaikumussalam, masuk pa."


Papa, mama dan Maheer memasuki ruangan yang sama dengan kami. Mereka tersenyum ke arah Nayra dan dibalas serupa.


Mama mengenakan baju syar'i berwarna hitam sekaligus akan ia pakai shalat sebab, sudah menutupi aurat.


Nayra memberikan akses yang lebih luas buat mama. Setelah itu mama duduk dan menepuk pelan punggung Nayra sebagai bentuk sayang.


"Baca surah apa, nak?" tanya mama.


Nayra menunduk dalam sehingga dagu dan dadanya bertemu. Lama menunggu jawaban jadi mama menepuk tempat di sebelahnya yang kosong, lebih tepatnya menyempurnakan shaf karena ada jarak antara mama dan Nayra. Aku menuruti perintah mama untuk duduk ditengah mereka.


"Kenapa Nayra tak menjawab pertanyaan mama? Oh mungkin dia tidak mendengarnya," ku tatap lamat Nayra yang bertingkah aneh.


"Surah al-Baqarah, ma."


Selesai shalat tahajud, papa dan Maheer keluar. Mereka akan melaksanakan shalat shubuh di Masjid.


Nayra kaget saat adik dan papaku meninggalkan mushola.


"Papa sama Maheer shalat tahajud di mushola terus kalau shalat shubuh ke Masjid. Sebenarnya bisa sih shalat tahajudnya di kamar tapi lebih afdol di mushola ini kata papa," jawabku atas keheranan kawanku. Nayra mengangguk paham.


Ketika aku berbalik ke mama, ia memberikan jempol padaku sambil tersenyum.


***


°tentang tajwid saya dapatkan di google.


°bila ada kesalahan mohon beri tau mana dan apa solusinya🦋


Cmiiw

__ADS_1


__ADS_2