
"Aku gak nyangka kamu punya nyali yang besar," itulah kalimat pertama yang Riang ucapkan setelah kami keluar dari tempat kejadian peristiwa.
Riang sedari tadi berdecak kagum tanpa mengucapkan apa-apa. Bahkan dia seperti orang gila saat menirukan perlakuan ku pada laki-laki pembuat emosi itu.
"Aku juga nggak nyangka, amarah ku ngambil alih segalanya," ujarku enteng, tidak merasa bersalah.
Aku sudah lama membenci lelaki itu, dan ia malah menambah masalah pada ku yang sudah ditibang berapa kali.
"Asal kamu tau aja, semua orang nggak mau bermasalah sama dia, termasuk kak Anas," Riang memberikan informasi yang tidak ku duga sekaligus membuat ku kaget di tempat.
Berarti dia adalah orang yang paling ditakuti di sini, dan aku telah melukainya.
"Serius?"
Wajahnya yang bulat mengangguk bak anak kecil yang di ajak bermain roller coaster. Mengangguk ragu.
"Berdo'a sama tuhanmu, mau ku do'akan juga?" tawar Riang yang tidak ku pedulikan. Aku berpikir masalah apa yang akan menjumpai ku lagi setelah aku mengundangnya. Masih ku ingat lelaki itu memiliki banyak teman saat mendorongku di kantin.
"Bapa Yesus bantulah teman ku ini, dia tengah kesusahan, berikan keselamatan padanya amin," Riang menatap ku. Aku tidak mengerti.
"Berdo'a pada tuhan mu," saran Riang diikuti alisnya naik turun, meminta tangan ku menengadah.
"Yaa Allah, aku sedang berada dalam masalah, bantu aku, hasbunallah wani'mal wakil, aamiin," ku hirup dalam kedua telapak tangan ku.
Riang dan aku saling bertatap, aku menitihkan air mata tanpa sadar. Tiba-tiba Riang memeluk ku dan ku balas lebih erat.
"Jangan tinggalin aku yah," Riang menyembunyikan wajahnya di bahu ku. Aku mengangguk, tidak bisa berkata apapun pada kondisi begini. Jika aku bicara maka tangis ku akan semakin menjadi.
Bukannya melebih-lebihkan teapi baru kali ini aku merasakan berteman dengan nonmuslim, teman Sd ku semuanya Islam. Papa menyarankan sekolah di sini agar aku bisa bersosialisasi pada perbedaan.
__ADS_1
"Tuhan kita memang beda, tapi hati kita sama, mau kamu Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu kamu tetap teman aku," Riang melerai pelukan antara kami lalu, meletakkan kedua tangannya di pundak ku dan menatap ku lamat.
"Kita punya persepsi masing-masing dan aku tidak akan memaksa kamu untuk percaya pada persepsi ku, begitu pun kamu, walau berbeda tetapi aku akan menghargai," ujarku, penuh pemikiran sebelum mengutarakan nya, hal ini sangat sensitif, kalau di bahas terus biasanya merujuk pada hal yang tidak di duga.
"Siapa yang duluan sampai ke kelas masing-masing, dia yang menang," aku menghapus jejak air mataku menggunakan jilbab putih yang ku kenakan. Harusnya aku tidak membuat tantangan yang mengalahkan ku sendiri, malah seperti jebakan.
"Ayo!" Dengan sombong dia mengusap hidungnya.
"Satu, dua, ti...," kami berlari tanpa melanjutkan hitungan, Riang melewati koridor secara lurus, sedangkan aku memangkas waktu dengan membelah arah lain, yaitu lapangan. Kalau lewat jalur lapangan tanpa arah jalan yang pasti maka aku akan lebih cepat sampai ke kelas, tetapi mustahil jika Riang bisa kalah dari ku. Kelas tujuh A sangat dekat dengan kantor.
Semangat berlari, aku sudah berada sekitar sepuluh langkah lagi sebelum memasuki kelas.
Duk
Bentrokan antara dua tubuh berhasil membuat ku berhenti pada kegiatan ku.
"Maaf," setelah melihat bahwa yang ku tabrak adalah kak Anas, mata ku sedikit terbelalak. Karena takut bertingkah aneh, aku melanjutkan berlari lagi.
"Lain kali lomba nya siapa yang jatuh cinta duluan dia yang menang!" teriak Riang tanpa rasa bersalah memasuki kelasnya.
Aku mendengus dan memasuki kelas ku juga. Beruntung tidak ada guru yang mengajar, sebagian guru pergi menemani kelas sembilan yang sedang lomba. Mereka wali kelas yang harus mengikuti kemana muridnya pergi.
Di dalam kelas hening, semuanya fokus menyalin buku tebal yang ada di hadapannya ke buku catatan mereka.
"Nulis apa Nay?" Mendaratkan bokong ke bangku sebelah Nayra hal efektif yang membuat tubuh ku lebih rileks.
"Ini," tunjuk Nayra ke tulisan besar yang bertuliskan BAB pada buku paket Seni Budaya milik sekolah.
Lelah membersihkan di kantor, sekarang aku harus menyiksa tangan ku lagi.
__ADS_1
"Bisa di fotocopy?" Ungkapan ku setelah mengeluarkan banyak keringat serta kejadian di luar nalar terdengar seperti mengeluh padahal, memang iya.
Nayra diam sejenak lalu, mengangkat bahunya sambil menggeleng.
Mulut ku terbuka kemudian, tertutup lagi. Ragu ingin menceritakan tragedi tadi, dilihat dia sedang fokus menulis, mana bisa mendengar ku secara jelas, bisa jadi malah aku mengganggunya.
Aku beralih menatap teman kelas ku yang mengubah aktivitasnya dengan berbicara santai bersama pasangan sebangkunya. Rasanya ingin juga santai, tetapi saat mengingat aku telah berurusan dengan pria rusuh tersebut malah membuat ku semakin ketakutan.
"Darimana?" Nayra menutup buku catatan yang sempat menjadi pusat atensinya.
"Bersihin kantor sama Riang."
Ia tampak bingung.
"Terlambat, oh iya Riang udah ke sekolah," ujar ku lesuh sambil menyembunyikan wajah ke lipatan tangan yang berada di atas meja. Aku memang lemah, tubuh ku tidak bisa di ajak menderita belum lagi perasaan ku yang campur aduk.
Tidak ada sahutan dari samping ku. Jika seperti ini aku bingung sendiri. Mau tidur tapi tidak mengantuk, ingin mengobrol namun, aku sedang lelah. Bahkan berbicara pun rasanya bikin sesak.
"Tugasnya kapan dikumpulin?" Aku akhirnya berbicara setelah menarik nafas.
"Besok."
Aku memiring kan kepala saat mendengar suara Nayra bersamaan dengan getaran di meja. Ternyata dia juga merebahkan kepalanya sama seperti ku. Dia terlihat tenang dengan memejamkan matanya.
Syukurlah jika waktu pengumpulan besok berarti aku punya kesempatan untuk menulisnya di rumah. Apakah salah kalau aku mengubah tugas sekolah menjadi tugas rumah? Sekali ini saja. Hah, mengapa aku beradu argumen dengan diriku sendiri?!
Baru saja ingin berbalik arah, karena silau matahari melalui pintu kelas yang terbuka langsung tertuju ke mata ku harus tertunda. Aku melihat secara samar-samar dari jendela kaca dua orang lawan jenis sedang bercengkrama sambil berjalan.
Padahal, salah satu diantara mereka sempat ku temui di depan kelas tadi.
__ADS_1
"Seperti jin...."