Taktik Cinta

Taktik Cinta
Riang Belum Ada


__ADS_3

^^^20-Juli-2012^^^


^^^Smpn 91 Cahaya Negara^^^


"Riang udah ada?" tanyaku pada gadis berambut gelombang pirang, berlesung pipi yang dalam, dan bulu mata lentik.


Kami memutuskan membawa gadis itu ke kantin, supaya bisa mendapatkan informasi lebih leluasa. Di kelas Riang sedang heboh, entah apa masalah mereka. Semuanya saling tunjuk-menunjuk dengan emosi membuat aku dan Nayra bergidik ngeri. Untungnya salah satu diantara murid yang tidak ikut campur ada dia.


Gadis tersebut tampak berpikir sesuatu, sambil mata berotasi ke kanan sampai ke kiri.


"Belum, tadi saja kakaknya datang membawa surat izin, lagi," ia berucap dan diakhir kata mengecilkan volume suaranya.


Ekspresi ku seketika berubah saat mengingat wajah sok polos milik kakak Riang. Dia benar-benar menyebalkan, mampu membangkitkan emosi yang telah meredam.


"Surat izin bisa berlaku sampai tiga hari," Nayra yang melihat raut wajahku berubah, otomatis mengambil alih pembicaraan. Aku bersyukur sekaligus membenarkan ucapan temanku, tanpa ku sadari alis ku mengkerut heran.


"Tidak tau soal itu, guru ku juga heran." Guru di kelas ku dan Riang berbeda. Karena hanya kelas a,b, dan c yang memiliki guru yang sama. Begitu pun d,e, dan f.


Terlepas dari itu semua, aku semakin pusing dengan situasi ini, Riang mengirim surat izin terus-menerus padahal dia bisa menuliskan dikertas kalau tidak bisa ke sekolah selama beberapa hari. Kertas itu terbuat dari pohon, sedih rasanya mengingat sudah berapa pohon yang ditebang secara cuma-cuma.


"Namamu siapa?" Sedari tadi berbicara, kami lupa menanyakan identitasnya. Aku berpikir jika pembahasan ini tidak bisa berlanjut lama, aku akan menemuinya lagi. Jika dia tidak ada di kelasnya aku akan bertanya keberadaan dia ke teman yang lain bermodalkan nama.


"Kania," jawabnya. Ia memakan bakso dengan lahap begitupun Nayra.


Melihat mereka kelaparan, aku jadi tidak enak membahas lebih lanjut mengenai Riang. Jadi aku memutuskan akan memesan siomay, daripada sendirian tidak makan.

__ADS_1


"Aku beli siomay dulu yah," pamit ku kemudian di angguki mereka berdua, fokusnya tidak pernah beralih dari mangkok milik mereka. Jika bakso sudah habis mungkin mangkok juga sasarannya.


Aku menggerakan kaki kanan ku untuk berjalan terlebih dahulu. Tujuan ku adalah stand siomay langganan ku. Ya iyalah, cuman dia yang punya stand makanan tersebut, makanan favoritku. Selain itu, mereka juga ramah, tidak sinis seperti penjual lain dan kami dilayani dengan cepat tanpa ada yang terlupa pesanannya. Dulu aku pernah beli di tempat penjual batagor, dia melupakan membawa batagor ke tempat ku, di situ aku menahan lapar dan malu karena menunggu tanpa ada kepastian.


Tepat berada di antrean paling belakang, yaitu hanya ada empat murid. Aku mendengus tidak nyaman, seperti ada yang melihat ku dari jauh, aku berbalik mencari siapa pelaku itu, tetapi semuanya bertingkah secara normal. Sulit menemukannya.


Lama-kelamaan murid di depanku sudah menghilang karena pesanannya telah selesai, kini giliran ku yang mengutarakan keinginan.


"Siomay dua ribu," ujarku penuh semangat.


Bi Ratih yang melihatku terus tersenyum, turut memberikan garis melengkung di bibir padaku dengan tulus.


"Kamu dari tadi senyum ada apa?" tanyanya sambil memberikan saos tomat ke mika (tempat makan plastik) berisi siomay yang menggiurkan.


"Senyum karena lihat bi Ratih masih semangat, padahal sebelum aku kesini banyak banget pembelinya, bi Ratih apa rahasianya bisa sekuat ini?"


Benar-benar alergi yang menyebalkan, di Indonesia terkenal sebagai negara kepulauan, ada banyak laut yang di mana ikan-ikan bertumbuh kembang dan aku tidak bisa menikmatinya. Mendengar temanku yang mengatakan ikan laut segar, jika dibakar sangat memuaskan, apalagi ikan mujair yang digoreng lalu dipasangkan dengan sayur labu membuat kita ketagihan untuk terus makan. Apalah daya ku yang hanya bisa merespon anggukan untuknya.


Beruntung tidak ada efek samping jika aku memakan tempe dan tahu.


"Rahasianya ngak ada, saya emang suka bekerja, dulu itu anak saya selalu bilang 'mbok toh di rumah saja, jangan banyak bergerak, sudah tua' tapi yah saya ngeles kalau saya ngak bisa diam saja di rumah, bosan juga nonton televisi terus," Bi Ratih berucap dengan logat Jawanya, aku yang lahir di Makassar namun besar di Jakarta, sedikit bisa berbahasa Jawa, sekolah ku ini umum semua orang diberbagai daerah bisa ku temui.


"Wes toh bi, aku ambil pesanannya yah, sudah lapar, aku tidak sekuat bi Ratih," aku mengambil siomay yang disodorkan nya.


Tidak mengurangi rasa hormat aku membungkuk sebelum meninggalkannya.

__ADS_1


đź‘‘


Dea membaca novel milik Nayra dengan seksama. Tidak peduli perdebatan antara aku dan Nayra semakin panjang.


"Ini itu harus diwarnai," Nayra mengangkat kertas karton yang telah digambar dan ditulis. Aku tidak terima dengan pendapatnya, tetapi dia juga bersikeras untuk melawan ku.


"Siapa yang bilang?" tanyaku menantang, wajahku sudah kusut karena keringat, ac di perpustakaan rusak, kipas angin dipakai murid lain yang lebih dulu datang daripada kami.


Otakku panas sehingga menimbulkan kerutan di dahi dan membuat alis ku hampir menyatu.


"Ibu emang nggak bilang, tapi kita harus berkreasi sendiri," elak Nayra, aku benci berdebat dengannya, dia ini cerdas selalu membuatku diam berkutik.


Tidak tahan, aku langsung mengeluarkan uneg-uneg ku yang menjadi alasan aku tidak mau memberi corak pada hasil karya kami. "Kalau diwarnai nanti menor, nggak nyambung,"


"Itu kalau pemilihan warnanya nggak sesuai."


Kepalaku pening rasanya mau pecah, otakku sudah terlalu matang karena lelehan amarah. Dengan putus asa aku kembali merayu Nayra.


"Nay mikir loh, kalau udah terlanjur diwarnai susah hapus nya."


"Jangan dihapus," itu, aku pasrah, kamu memang menyebalkan untukku Nayra.


"Serah mu."


"Oke, jadi udah jelaskan? peta ini diwarnai," Dea menutup buku bersampul gambar gunung lalu, ikut menyahuti keputusan yang diawali aku dan Nayra, namun berujung aku yang mengalah. Sepertinya Dea juga setuju jika diwarnai, tetapi kalau dia menyatakannya maka perdebatan ini tidak akan berlangsung lama karena satu banding dua yah pastilah yang mayoritas menang. Aku juga marah padanya.

__ADS_1


Nayra mengangguk senang, ia otomatis mengambil pensil warna yang berada di dalam tasnya.


Sebenarnya ini hanyalah akal-akalan ku untuk berdebat, sudah jelas bahwa peta berwarna hijau dan biru. Akan tetapi, karena aku merasa ada yang melihat ku dari jauh, maka aku bermaksud mengetahui orang tersebut yang berada di belakang Nayra tanpa terciduk dengan berusaha menatap Nayra terus. Tetapi, hasilnya nihil. Pria itu tertutupi badan siswa lain.


__ADS_2