Taktik Cinta

Taktik Cinta
Misi Belajar


__ADS_3

"Nay... jadikan sebentar?" Tanyaku sambil memasukan alat menulisku ke dalam tas.


Beberapa menit aku menunggu suara Nayra menyahut tapi tak kunjung juga ku dengar. Akhirnya fokusku tadi ke tas kini beralih pada Nayra yang masih sempat-sempatnya melamun di saat jam pulang sekolah telah tiba.


Ku putar bola mataku malas. Menghadapi Nayra saat ini benar benar butuh tenaga. Untung tadi aku memakan bakso yang porsinya melebihi satu orang di Kantin sehingga energiku terisi penuh kalau tidak, bisa pingsan aku.


"Kenapa lagi Nay?"


Nayra tersadar dan menggelengkan kepalanya, kemudian dia berdiri sambil menatap sekeliling. Batinku meneriakkan kesabaran tetapi aku sudah tidak tahan untuk mengomeli Nayra.


"Enak yah ngelamunnya?" Tanyaku dengan senyuman manis dan memiliki makna tersirat.


Seketika Nayra menatapku dengan tatapan bertanya.


"Sampe-sampe guru jelasin materi di depan kamu masih asik-asikan ngelamun. Sebenarnya kamu ngelamunin apa sih?" Ujarku sinis dan mata yang menajam.


Nayra menghembuskan nafasnya kasar. Kulihat bibirnya seakan ingin mengucapkan sesuatu tetapi tertahan. Yah aku mengerti Nayra pasti belum bisa mengeluarkan uneg-uneg nya saat ini. Wajarlah kami baru beberapa hari berkenalan.


"Yaudah. Bentar malem jangan lupa dateng ke rumahku," ucapku lembut sambil menyodorkan alamat rumah ku.


Nayra menatapku bingung.


"Ngapain?" Tanyanya.


Aku membulatkan mataku. Jadi sedari tadi aku dan Riang berbincang di hadapan Nayra mengenai mereka akan berkunjung di rumahku sama sekali tidak didengar oleh Nayra.


"Nonton Sabyan di youtube yang lagi bikin adonan kue pake semen campur air aki!!" jawabku spontan tanpa titik atau koma. Aku menarik nafasku sejenak karena berbicara dengan tempo cepat yang membuat nafasku hampir habis.


Reaksi Nayra hanyalah menyatukan alisnya dengan tatapan heran.


"Ya kerja tugas NAYRA!!" teriakku dengan menekankan namanya.


Reaksi Nayra tak kalah membuatku semakin emosi. Ia hanya merespon dengan membulatkan bibirnya.


"Udah hah males aku, pen pulang."

__ADS_1


Ku hentakkan tas ku ke punggung dan meninggalkan Nayra yang masih berproses untuk berpikir apa yang barusan aku ucapkan, sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Nayra, aku berbalik sebentar, hanya ingin mengetahui apa yang ia lakukan.


"Sabyan?" tanya Nayra dengan tangan memasukkan buku serta pulpennya.


"Sebenernya Nayra itu kesambet apa sih?"


Aku terus menggerutu sambil berjalan di koridor sekolah. Di sekitarku masih banyak kakak kelas yang berlalu lalang. Sebab akan ada acara sekolah yang menampilkan kelas sembilan,katanya mereka latihan terlebih dahulu, aku pun mengetahui itu dari Riang dan Riang diberitahu oleh kakaknya.


Soal saudara Riang. Ternyata ia lelaki yang berprawakan tinggi, hidung mancung, alis tipis, tetapi otak gesrek. Kenapa aku bilang gitu, karena pas lewat di depan kelasnya, tingkah bodohnya yang paling mencolok. Bisa-bisanya dia live streaming di atas meja guru sambil melukis alisnya dengan spidol permanent karena ingin memiliki alis tebal . Seabsruk-absruknya Riang ternyata kakaknya lebih.


Riang saja sebenarnya tidak ingin mengakui dia sebagai kakak tetapi sahabat-sahabatnya lumayan ganteng, itulah alasan dia berkoar-koar kalau dia punya kakak. Supaya bisa menggaet salah satu dari kawan kakaknya.


Sepertinya Riang mengetahui bahwa aku sedang memikirkannya, terlihat ia melambai ke arahku di depan perpustakaan dan berjalan mendekat.


"Jam delapan malem aku otw ke rumah kamu, jangan lupa...." Riang menghentikkan ucapannya dan tersenyum sok manis.


"Iya nanti aku beresin kok kamar aku, ngak usah khawatir kalau aku bakalan lupa."


Riang langsung panik dan menyilangkan tangannya "ehhh bukan itu, maksud aku jangan lupa, kue keringnya," ia tersenyum pura-pura malu.


"Iyain," lesuhku.


"Loh kok kamu gak semangat gitu sih? gak suka yah kalau aku mau dateng ke rumah kamu?" Riang memegang pundakku sambil menajamkan matanya lurus ke pandanganku.


"Ngak Riang, cuman aku lagi mikirin Nayra..." sebelum melanjutkan perkataanku. Aku berjalan menuju bangku yang tidak jauh dari tempat kami berdiri. Riang turut mengikutiku dari belakang. Tanpa mengajukan pertanyaan lagi, kami duduk secara bersamaan.


"Kok dia kelakuannya aneh yah, dari pagi dia udah lesuh, ditanya nggak jawab, makanan nggak dimakan dan dia sama sekali nggak denger pembicaraan kita tadi," gerutuku dan menendang botol plastik yang tepat berada di ujung sepatuku.


Riang hanya ber-O-ria.


"Kayaknya kita harus cari tau masalah dia deh," saranku sambil berbalik ke samping, meminta persetujuan Riang.


"Ngak usah, mending kita itu cari tau, kenapa bisa Damian punya wajah seganteng ituuuu, aku yah kalau cari suami yang kek dia aja deh," ucap Riang antusias dengan memegang kedua wajahnya sambil melamunkan suatu hal yang dia dan tuhan saja yang tau.


Aku memutar bola mataku malas sambil tertawa sinis.

__ADS_1


"Gimana kalau kita cari tau, bagaimana caranya masukin KAMU ke lemari Secret Riana, idaman juga 'kan?"


Riang langsung menurunkan tangannya lalu berbalik ke arahku, dengan mata membulat, ketakutan.


Aku tak ambil pusing, ku langkahkan kakiku menuju gerbang sekolah yang sedikit lagi ku capai.


Saat sampai, aku bersandar di pos satpam, menunggu mama atau papa datang. Semoga saja mereka segera hadir di depan gerbang, aku takut menunggu terlalu lama. Kemarin mereka terlambat karena mama mengira papa yang menjemputku setelah pulang dari kantor eh ternyata beliau lupa dan malah keterusan ke rumah.


Pip!


Pip!


"Ratu!! Aku duluan yah!" teriak Riang lalu melajukan motornya dengan kencang, mengobarkan rambutnya ke belakang karena hembusan beribu angin.


Aku hanya tersenyum, mempersilahkan dia pergi. Riang sepertinya buru-buru, terlihat diwajah cerianya berubah menjadi guratan emosi. Padahal tadi dia masih sempat membuatku kesal dan kini dia yang berada diposisi itu. Walaupun aku tidak tau apa masalahnya tetapi ku harap tak terjadi hal buruk kepadanya.


Aku melihat ada mobil silver yang berhenti di depanku. Aku berharap papa tetapi bukan, dari warna dan model mobilnya saja sudah jelas bahwa aku tidak memiliki kendaraan roda empat seperti ini.


Tap tap tap


Dari jauh ku lihat Nayra berlari menuju tempatku.


Tetapi saat melihatku dia terkejut. Langkahannya semakin pelan.


"Belum pulang?" tanyanya retoris.


"Belum nih, udah dijemput tuh," balasku, mempersilahkan Nayra masuk ke mobil tersebut. Ku lihat dari balik kaca kemudi ada seseorang yang terus menatap ke kami. Pasti itu sopir Nayra.


Wajah Nayra tampak pucat, dia tersenyum memaksa. Kemudian membuka pintu mobil bagian belakang.


Setelah masuk ke lamborgini, ia sama sekali tidak membuka kaca jendela sekedar memberikan salam perpisahan ataupun mengajakku pulang bersama meski hanya basa-basi.


"Astaghfirullah al adzim, ngak boleh suudzon. Mungkin dia lupa," ujarku dalam hati.


Tidak berapa lama, mungkin sekitar tujuh menit sejak kepergian Nayra, papa sudah datang menjemputku.

__ADS_1


__ADS_2