
^^^14-Juli-2012^^^
^^^Smp Negeri 91 Cahaya Negara^^^
👑Derap langkahku yang berjalan sendirian di koridor sekolah sangat terdengar jelas. Sebab belum ada teman sebaya atau seniorku yang berlalu lalang.
Suasana yang ku rasakan saat ini benar-benar mirip film horror yang pernah ku tonton dilaptopku, entah apa judulnya tetapi yang ku ketahui adalah difilm itu menampakan tangan yang memegang bahunya si pemain tetapi aku harus bersyukur karena tanda-tanda itu belum ada. Dan seketika Aku merinding ketakutan saat merasakan hembusan angin yang lewat di lenganku.
Semakin ku peluk erat bukuku dan tak lupa berkomat kamit membaca do'a bukan mantra. Saat sampai di depan pintu kantor guru aku mendengar suara senyap senyap dan ingin mendengarnya lebih jelas.
Namun tepukan dipundak berhasil membuat salah satu auratku terumbar, yaitu teriakan.
"Haa!!!! Ampun ampun aku cuman pengen sekolah ngak ada niat gangguin kok... beneran!!!" teriakku sambil menutup mata dengan menggunakan buku paket yang ku genggam erat dan keadaan takut untuk berbalik.
"Hahahaahaa," tawa bahagia menggelegar memenuhi indra pendengaranku. Ini bukan suara setan tetapi manusia.
Walaupun aku agak ketakutan tetapi ku beranikan diriku untuk berbalik melihat dengan jelas wujud yang menertawaiku.
Emosi ku langsung meluap saat melihat Riang tertawa lepas kontrol dan Nayra yang terkekeh. Sebagai bentuk kemarahan, ku pukul keras kepala mereka satu persatu dan menambah cubitan ke Riang yang masih asik mengejek ku.
"Aduh sakit," ringis mereka sambil memegang kepala yang menjadi sasaran kekerasanku.
Aku hanya memberenggut lalu meninggalkanya menuju ke kelas.
*Tanpa sepengetahuan Ratu. Riang dan Nayra saling menatap dan mengangkat bahu secara bersamaan lalu mengikuti langkahnya*
"Ratu, kamu tau ngak," celetuk Riang sambil memiringkan kepalanya untuk menatapku.
Kami sudah jauh berjalan dan sudah beberapa ruangan laboratorium yang kami lewati dan semuanya masih sunyi.
"Ngak," jawabku singkat dengan posisi masih berjalan dan diikuti oleh dua curut.
"Ish dengerin dulu," Riang mengehentak hentakkan kaki seperti anak kecil yang merajuk. Untung saja ia mengikat rambut dengan kuncir satu andai kuncir dua maka kesan kekanakan sangat terlihat jelas. Bisa ku gambarkan saat ini Riang mengenakan rok span panjang berwarna cokelat dan baju berlengan pendek.
"Ceritain aja Riang. Siapa tau Ratu bakal tertarik dengernya," timpal Nayra yang sedari tadi diam disisi kananku, mungkin ia penasaran apa yang akan Riang katakan. Penampilan Nayra saat ini ialah mengurai rambutnya saja dan mengenakan rok yang sama dengan Riang.
__ADS_1
Aku? Tentu saja seperti yang ku jelaskan kemarin.
"Kak Anas............. ternyata temenan sama kakak ku!!!" Teriak Riang sambil melompat lompat kegirangan.
Aku menatap aneh kearahnya. Untung saja sekarang masih jam enam di mana masih kurang siswa yang berada di sekolah. Setelah menatap Riang aku mengarahkan kepalaku ke arah Nayra untuk mengetahui ekspresinya saat melihat Riang yang bertingkah bak orang gila.
Tetapi yang aku dapatkan adalah Nayra ada di belakangku tampak menegang dan pucat. Ku hampiri Nayra untuk menanyakan keadaanya.
"Kamu kenapa Nay?" Tanyaku dengan tangan kanan memegang bahunya sedangkan tangan kiri masih setia memeluk buku.
Nayra tersadar dari lamunannya dan menggeleng.
"Ngak papa," jawabnya dan tersenyum kikuk.
"Nayra kenapa? Aneh sekali," batinku.
"Woyy Ratu!! Aku ke kelas duluan yah," teriak Riang berjalan masuk ke kelasnya yang tepat ada di depanku. Aku menatap sekeliling ternyata Nayra sudah meninggalkanku dan berbelok ke kiri arah kelas kami yang tidak terlalu jauh dari kelas Riang, karena hanya dipisahkan dua kelas.
Riang memang begitu. Sangat sering berteriak. Membuat kupingku ingin meledak. Suaranya yang cempreng benar benar vocok menjadi penjual ikan di pasar.
"Nay," ku tepuk pundak Nayra yang berada di sebelahku. Nayra masih terdiam dan menatap ke depan. Sejak tadi Nayra selalu melamun tanpa alasan.
"Nay," ucapku lagi, tetapi tak ada pergerakan sama sekali. Apakah dia tau bahwa Aku sangat cemas dengan keadaanya.
"Rattuu und Nayrraa, das Essen ist Angekommen!!!" (Ratu dan Nayra, Makanan sudah datang) teriak Riang sambil berbahasa Jerman, aku bisa melihat mbak kantin di belakangnya yang menunduk saking kencangnya teriakan Riang. Sedikit informasi yah, Diantara keburukan yang aku ketahui tentang Riang ternyata ia mempunyai keahlian yaitu berbahasa Jerman dan Jepang. Karena keahliannya itulah, sering ia gunakan untuk berbicara denganku walaupun kadang membuatku bingung apa yang ia katakan.
"Hey kamu bisa diam?!!" ucapku sambil menekankan setiap kata tak lupa mata yang menajam pada Riang. Riang langsung terdiam dan bergerak cepat untuk duduk di hadapanku dengan meja yang membatasi kami diikuti dengan mbak kantin yang menyimpan makanan ke atas meja dan berlalu meninggalkan aku, Riang dan Nayra. Mungkin ia juga takut melihatku sekarang yang sangat menyeramkan. Ohh sorry Riang :( dan mbak kantin aku tidak bermaksud.
Lihatlah Nayra, apakah dia tidak terusik dengan keadaan sekarang yang sangat ribut dan ia masih betah melamun dengan bibir yang memucat.
"Nay. Kamu kenapa?" Tanyaku dan terus menepuk pundaknya
"Kamu ngak laper?"
"Atau haus gitu?"
__ADS_1
Riang mengerucutkan bibirnya dan bola mata berputar ke kanan seakan tidak suka melihat tingkahku yang seperti ibu ibu mengkhawatirkan anaknya. Saking tidak pedulinya ia memakan bakso pesanan tadi dengan begitu antusias. Sebegitu jahat kaa Riang?
"Du du du du," Riang berhenti mengunyah makanan dan melanjutkan dengan bersenandung. Aku berusaha tidak memperdulikan dirinya. Walaupun aku sangatlah geram.
Tampaknya Riang sudah mulai bosan karena tidak dianggap keberadaanya.
"Nyai kamu kenapa sih? Daritadi diem aja. Liat tuh muka Ratu udah kayak tahu yang dikulkas berbulan bulan," gerutu Riang dengan merubah nama Nayra dan berpindah duduk ke sisi kirinya sehingga sekarang Nayra berada di tengah tengah kami.
"Aku ngak gitu yah. Aku tuh cewek baik dan tidak sombong, ngak kayak kamu...," balasku tidak terima dengan pernyataan Riang tadi.
"Heyy... seharusnya kamu nyontohin aku dong. Aku tuh orangnya pendiam ngak bawel kayak kamu...."
"Pendiam?" Tanyaku dengan nada tidak suka dan tidak percaya.
"Iyaa... pendiam kalau lagi ditagih utang," balas Riang dengan cengiran khasnya. Refleks ku tepuk wajahku, sebenarnya apa alasan Tuhan mempertemukan aku dengan Riang ini.
Akhirnya setelah penantian panjang Nayra menegang dan kemudian menggeleng. Ada untungnya juga Riang menjadi bawel.
Aku menghela nafas sejenak, untuk mengontrol emosiku.
"Makan gih Nay daritadi kamu keasikan ngelamun tau," bujukku dan menyodorkan Mie ayam ke depan Nayra.
Nayra tampak malas melihat makanannya bahkan menyodorkan mangkuk ke kiri seakan memberikannya ke Riang. Bukannya dia sendiri yang memesan makanan itu?
"Kamu ngasih ini buat aku?" Tanya Riang dengan mata speechless.
"Unch makasihh yah" ujarnya dan memeluk Nayra dari samping.
Aku merebut Mie Ayam tersebut sebelum Riang memakannya. Riang cemberut melihatku dan kembali ke tempatnya tadi.
"Enak aja. Ini itu punya Nayra. Lagian kamu bukannya bujuk Nayra buat makan malah pengen makan sendiri," serbuku dan menatap Riang dengan tidak suka.
"Ya kalau Nayra gak mau makan buat apa coba dipaksain. Gini nih yang bikin orang bete, kita itu sebagai umat manusia tidak boleh memaksakan kehendak. Seharusnya kita bermusyawarah apakah keinginan kita ini disetujui oleh semua pihak atau tidak. Jangan mau menangnya sendiri," cerocos Riang sambil menggerakan tangan mengikuti arah bicaranya. Riang sangat mirip dengan tokoh tokoh perwakilan rakyat yang merasa tertindas oleh para tokoh tokoh masyarakat walaupun itu kebalik.
"Nah kan tau. Seharusnya kita ngak boleh menang sendiri. Tapi kok kamu pengennya makan sendiri?" Sindirku dan memutar balikkan kata katanya. Wajahku saat ini sangat menantang dengan alis yang naik turun dan tersenyum jahil.
__ADS_1
"Aishh Ratu ngak asik. Harusnya jangan balikin kata-katanya dong. Kan aku jadi pusing mau balesnya apa. Ishh Ratu," Ratu cemberut dan memukul mukul meja dengan kesal.