
Ting tong
Ting tong
Ting tong
Ting tong
Ting tong
Tanganku yang sedang mencari buku terhenti, mendengar suara bel di luar yang sudah lima kali berbunyi. Segera aku turun menuju lantai bawah untuk membuka pintu depan.
Saat pintu terbuka cukup lebar, aku melihat Nayra yang tersenyum tipis dengan tas yang disampir di pundak kanannya.
"Ayo Nay! Masuk," aku memberi akses Nayra agar leluasa memasuki rumahku.
Ku tutup pintu terlebih dahulu lalu berjalan di depan Nayra yang masih terdiam, dia mungkin segan. Jadi aku menuntun dia ke ruang tamu.
Ia duduk di sofa panjang dan menaruh tasnya di paha, sudah bersiap belajar.
"Riang belum ada nih, padahal dia yang rencanain," aku ikut duduk di sampingnya sambil menggerutu.
"Tunggu aja," Nayra menenangkanku, agar tidak cepat mengeluarkan tanduk.
"Yaudah, aku ke dapur dulu yah."
Tiba-tiba Nayra menggenggam tanganku ketika aku sudah berdiri. "ngak usah repot," ia menggeleng tidak mempersilahkanku pergi.
"Repot? Ya enggaklah, aku kan kuat," ku lepaskan pelan genggaman telapak tangannya sebelum meninggalkan dia.
__ADS_1
Rumahku sangat sunyi, mungkin mereka sudah tidur. Di sini kalau sudah jam sembilan mereka semua sudah terbawa ke alam mimpi. Kecuali, kalau ada hal yang penting seperti, papa masih ada urusan kantor, Rian yang tidak bisa tidur lalu mengikut sertakan mama, aku dan Maheer ada tugas atau kami harus menyetor hafalan.
Ketika ada di dapur, aku mengambil sirup di kulkas beserta air yang telah membeku, sehabis itu aku membawanya ke pantry. Ku tuangkan sirup pada dua gelas dan menambahkan es batu. Tidak lupa aku mengambil piring yang berisi kue getuk buatan mama.
Aku menyimpan minuman dan kue ke atas nampan, saat berbalik aku melihat snack di meja makan. Ku gabungkan mereka bertiga di satu tempat. Setelah semua selesai, aku mengangkat nampan dan berjalan menuju temanku.
"Di kamarku aja belajarnya, lebih seru," ajak ku ke Nayra karena takut ketika kami tertawa atau berbicara sangat keras, papa, mama dan Rian akan terbangun. Kalau di lantai dua tidak apa-apa karena hanya ada Maheer, kasihan si minoritas.
Aku berjalan lebih dulu menuju tangga. Nayra mengikut di belakangku tanpa bertanya. Coba saja Riang yang ada di posisinya pasti sudah dari tadi membuat aku emosi karena banyak bicara.
Tiba di depan kamarku, Nayra membuka pintu karena keadaanku yang tidak memungkinkan. Selepas aku masuk, dengan pengertiannya ia menutup pintu lagi.
"Itu remote, nyalain aja kalau mau nonton," saranku mengarahkan mata ke arah benda yang ku sebut berada di lemari televisi, namun sedetik kemudian aku segera menatap ke arah tanganku yang menyimpan sirup, kue, dan cemilan di depan Nayra yang duduk di ambal berbulu warna biru.
"Kamar kamu luas," pujinya dengan mata menatap sekeliling ruangan dan ku balas senyuman.
"Alhamdulillah," batinku.
"Enak."
"Makasih, buatan mamaku loh itu," setelah menelan satu kue getuk, ku beri informasi kecil padanya supaya tidak berpikir aku yang membuatnya.
Nayra membulatkan bibirnya serta mengangguk. Rasanya bosan jika berbicara bersama temanku yang satu ini, dia sangat cuek. Mana bisa aku terus yang memulai pembicaraan. Otakku juga sudah mentok ingin berucap apa.
Melihat alat pengendali mesin jarak jauh sedang berada di atas lemari tv, otomatis aku bergerak untuk meraihnya. Ku tekan tombol merah paling ujung ke hadapan benda elektronik berlayar kaca tersebut.
Tadinya berwarna hitam, kini objek persegi panjang yang kami pandangi telah menampilkan siaran dengan warna yang berupa. Melihat tayangan yang tidak menarik, aku terus menekan tombol berbentuk lingkaran kecil dengan abstrak.
"Mending kita nonton siaran ini deh. Kebetulan dia jelasin materi yang minggu lalu, aku belum paham sama penjelasan ibu waktu itu," pintaku ke gadis cuek yang dibalas anggukan.
__ADS_1
Padahal aku berharap dia berucap "iya aku juga," supaya aku bisa mengajaknya bicara lebih lanjut, karena sikap Nayra ini sangat me-risihkan bagiku. Tetapi aku berhenti menggerutu dalam hati, sebab ada yang lebih penting.
"Baik adik-adik kali ini kakak akan menjelaskan mengenai Aritmatika Sosial, sebelum mempelajari hal tersebut, alangkah baiknya kita mengetahui apa itu Aritmatika Sosial," terang sang pria yang bertugas pembawa acara.
"Aritmatika sosial merupakan suatu penerapan dari dasar-dasar perhitungan matematika yang ada di dalam kehidupan sosial sehari-hari."
Lirih Nayra dengan mata terus menatap lurus depan.
Memang tidak salah Nayra datang ke rumahku.
"Jika ku tau Nayra se-cerdas ini maka aku tidak mempersilahkan dia pulang ke rumahnya, melainkan langsung ke sini," tiba-tiba bisikan jahat dari hatiku membuat aku terperanjat kaget sendiri.
"Astaghfirullah al adzim, ngak boleh berniat jahat. Kalau Nayra tidak pamit pada orang tuanya, kan aku juga yang dapat dosa," terus ku usap dadaku agar tidak merencanakan yang buruk lagi.
Nayra menghela nafas kasar ketika pria yang berbeda tempat dengan kami sedang menulis contoh soal, eh. Berarti aku terlambat, segera aku berdiri cepat untuk mengambil buku yang ku cari tadi, alhamdulillah ketemu. Aku kembali ke tempatku semula.
"Kayaknya Riang ngak bakal datang deh, udah jam sebelas ini," ujarku. gadis di sampingku melihat jam dinding yang terpajang di atas televisi. Dia menyetujui apa yang ku katakan barusan.
Huft
"Mungkin dia ada hal penting," masih bisa dirinya berpikir positif, berbeda dengan aku yang sudah geram karena menunggu dia datang.
"Kamu masih bingung yah? Sini aku ajarin," tawarnya dan mendekat padaku.
"Nayra!!! Kok dicoret semua sih? Udah capek capek ku jawab lagi."
"Jawabanmu salah Ratu, harusnya itu tulis ini dulu,"
Nayra menuliskan rumusnya dan angka yang ku lupa tadi. Wow, bagus Ratu sekarang terlihat siapa yang bodoh dan tukang nyolot.
__ADS_1
"Maaf...."
"Ngak papa, sama-sama belajar."