Taktik Cinta

Taktik Cinta
Surat Kak Anas


__ADS_3

^^^19-Juli-2012^^^


^^^Smpn 91 Cahaya Negara^^^


Minggu lalu cuman aku yang gusar menunggu pelajaran selesai, syukurlah Nayra kini menemaniku.  Dia memang cuek tetapi aku bisa melihat ia menggigit telunjuknya sambil berbalik hati-hati untuk melihat jam dinding di belakang kelas.


"Jam berapa?" tanyaku berbisik, wajahku tetap menatap pada ibu yang menjelaskan, supaya dia tidak curiga pada gerak-gerik kami.


"Delapan, empat lima," Nayra menjawab sambil menulis angka yang terpajang di papan tulis. Hebat, dia masih sempat membagi waktunya. Tidak mau kalah aku turut mengikuti Nayra.


Ibu Bianca duduk dibangku guru, ia mengutak-atik handphone nya yang berdering membuat kami terganggu, untung temanku yang laki-laki memiliki sopan santun untuk tidak mengeluh secara gamblang.


Atensi kami beralih pada ibu yang memasukkan buku tebalnya ke dalam tas. Itu berarti....


"Baik, tadi ibu masuk lebih awal jadi ibu akan keluar juga lebih awal."


Keberuntungan berpihak untuk kelasku. Terutama aku dan Nayra yang sedari tadi berusaha melihat ibu dan jam secara adil. Karena alasan itulah seharusnya yang lebih bahagia atas keputusan ibu adalah kami, herannya yang bersorak dan tos ria adalah kaum lelaki.


"Eh, tapi...."


Semuanya sontak terdiam, ada yang berhenti tertawa, duduk gusar dan yang lebih banyak adalah menghela nafas kasar.


"Ibu absen dulu yah, tadi lupa," ibu Bianca berucap sambil menahan tawa. Lagi, kami itu tertawa seakan takut melepaskan kebahagiaan kami jika ditarik kembali.


👑


"Kamu aja yang masuk, Nay," ujarku ketakutan saat mendengar ada guru di dalam.


"Tunggu gurunya keluar," berbeda denganku, Nayra terlihat lebih tenang.


Kami berdiri di tembok pembatas kelas tujuh a dan tujuh b, berjaga-jaga agar bisa lari lebih cepat menuju kelas dan cuman tempat ini tidak ada jendela kacanya. Aku mencondongkan wajahku ke kiri tepat ada jendela kaca yang tembus pandang, untuk melihat siapa guru yang sedang mengajar sekaligus mencari tempat duduk Riang.


Mataku terbelalak saat sadar si guru melihat keberadaan ku, mungkin aku terlalu lama mengintip. Aku segera menarik Nayra agar jongkok.


"Gurunya tau aku ngintip," jawabku pada tanya yang tergambar di wajah Nayra.


"Siapa?" Nayra kini menyuarakan tanyanya.

__ADS_1


Dengan ragu dan penuh pertimbangan aku menjawab, "Pak Alim."


Nayra meringis, kini ia yang menarik tanganku. Kami berlari meninggalkan kelas Riang tanpa mendapatkan apa yang dicari.


Demi menghindar dari guru sangar, aku dan Nayra berjalan menuju kantin dengan rute yang lebih jauh. Padahal jika kami lewat depan kelas Riang, ruang uks, laboratorium biologi, kimia, komputer, ruang tu, kantor dan perpustakaan kami sudah sampai di kantin. Untuk ruangan penting itu memang sengaja dijadikan satu blok kecuali perpustakaan tidak tau kenapa, toh aku murid baru.


Sudah beberapa kelas kami lalui, baru saja kami ingin melanjutkan ke kantin tetapi ternyata, entah ini untungnya atau sialnya. Pak Alim sudah keluar tepat bel istirahat berbunyi.


Aku menepuk pundak Nayra dengan tenaga yang tersisa, mataku sudah ingin tertutup saking lelah nya, Kaki juga sudah keteteran tiada henti.


"Di...a udah per...gi," tanganku lunglai setelah menepuk Nayra.


"Hufft, iyayah."


Ia menarik tanganku lagi menuju kelas Riang, dia memang hebat. Aku yang lemah.


Tidak sengaja aku melihat lelaki yang hormat ke tiang bendera, peluh memenuhi kepala sampai kakinya menembus kain yang ia kenakan. Kenapa aku baru melihat dia di sana? Apakah karena terlalu semangat berlari? Jadi aku menghentakkan tangan gadis yang terus menyeret ku.


"Nay, dia kak Anas kan?" aku menatap Nayra, tiada niat memutuskan penglihatan ku padanya. Sejak Nayra murung karena pernyataan Riang mengenai kakaknya yang berteman dengan kak Anas, aku berpikir ia memiliki hubungan cinta antara kak Anas. Ia dulu juga pucat, jadi aku berspekulasi dia adalah orang ketiga.


"Iya, kenapa?" tanya Nayra balik, dengan raut wajah santai.


"Sudah dari tadi berdirinya? Kok aku nggak lihat yah?" Sengaja aku bertanya yang tidak penting, agar dia tidak curiga, eh bukannya malah tambah curiga yah?


Nayra terkekeh, "baru aja mungkin Ratu, aku juga nggak lihat tadi."


Malas melihat Nayra yang tidak menunjukkan sikap seperti waktu itu, aku berbalik menatap kak Anas lagi.


"Alhamdulillah," batin ku tanpa sadar bersyukur saat melihat kak Anas juga mengarahkan matanya padaku.


"Eh, celaka. Maksudnya itu," aku mengucap kepada diri sendiri melalui batin. Meralat ucapan tadi.


Kelabakan, itu yang sedang aku alami. Ditatap lelaki tampan adalah hal yang menakutkan, kita bisa tersihir tanpa mantra terucap. Aku tidak tau mau bertingkah bagaimana. Hatiku ingin terus melihatnya, melihat mata tajam itu, tetapi logika mendominasi bahwa ini tidak baik untuk orang di sekitar ku yang akan berpikir lain.


"Mau cari Riang? Ayok ayok," segera aku berjalan cepat mendahului Nayra.


Jantungku berdebar kencang sekali seakan ia akan meledak. Baru begitu aku sudah salah tingkah, iman ku kok menurun yah? Tetapi, matanya indah.

__ADS_1


"Istighfar, Ratu."


Aku menggeleng, niatnya mau menguji Nayra, eh malah aku yang terjebak. Tau begini, aku tidak menghentikan langkah ku tadi saat di seret Nayra.


"Masih kuat berdiri bang?!!! Mau sekalian aku bacakan surat cintamu yang dirobek ibu Rita?!!!" teriak lelaki di belakang ku.


Kuping ku membiarkan teriakan itu mencerna otakku. Aku sedang disadarkan bahwa berharap itu tidak baik.


"Patah hati ya? Sudah ku bilang kak Anas itu pacarnya kak Nanda," bisik Nayra dengan nada mengejek.


Aku mendelik ke arahnya, walaupun ia cuman bercanda, rasanya ingin sekali ku peluk kepalanya erat.


"Ada-ada aja si Anas, bikin surat cinta di kelas, nggak sekalian novel? Hehehe," pusat atensi kami tertuju pada lelaki yang berteriak tadi, ia menertawakan temannya sambil melangkah melalui kami.


Aku saling tatap dengan Nayra saat melihat perawakannya, kami seperti mengenal dia. Tubuh tinggi, badan agak berisi dan alis tipis....


"Kak Anas, yah?" ucap ku memberanikan diri. Lelaki itu menatapku dengan seksama, ia berusaha menahan tawa tetapi tidak berhasil. Aku heran kenapa dia begitu berbahagia? Setelah sadar aku langsung melotot memukul mulut ku.


"Maaf, maksud aku. Kakak ini kakaknya Riang?" benar-benar salah ucap yang tidak etis. Orang bilang salah ucap itu bisa terjadi karena kita memikirkan yang lain, dan saking memikirkannya kita sampai mengucapkan tanpa sadar. Kalau dia juga tau ucapan orang itu, berarti aku sedang dalam bahaya.


Mau ditaruh di mana wajah ku ini? Mulut yang bersalah, lalu rupa ku yang mendapatkan imbasnya. Kalau kak Anas tau mana berani aku ke sekolah lagi.


"Benar, ada apa? Adek saya punya utang? Berapa dek?"


Spontan aku menggeleng, ku sikut Nayra yang diam saja melihat kami bercengkrama, aku yakin dia kaget karena keberanian ku menyapa kakak Riang. Memberikan kode kepadanya untuk mengambil alih pembicaraan adalah ide cemerlang, aku tidak mau berbicara lagi takutnya menyebut seseorang yang tidak ada di sini, kecuali Riang tentunya.


"Riang di mana kak?" Nayra berucap langsung pada intinya. Kami harap-harap cemas ketika kakak Riang membuka mulutnya. Ini seperti slow motion yang tidak kami duga.


"Ada di rumah, nggak bisa ke sekolah. Kalian temannya 'kan? Kakak titip ini yah, surat izin Riang," ia merogoh saku bajunya lalu memberikan amplop kepada kami, dan Nayra yang menerimanya.


"Kalau boleh tau, kenapa tidak bisa ke sekolah?"


"Ada halangan."


Sumpah ingin sekali ku cucuk kepalanya ke pot bunga yang masih kosong.


"Nanti kalau Sma masuk jurusan bahasa ya, kamu cocok loh jadi wartawan," seusai berucap hal yang tak terduga, ia berbalik arah meninggalkan kami. Pasti cuman mau membawa surat itu ke kelas Riang, namun karena suratnya sudah ada pada kami jadi dia kembali ke kelasnya.

__ADS_1


Nayra menepuk pundak ku mencoba menenangkan aku yang menggertak gigi. Meski dia juga berusaha menahan tawa karena saran yang menghina dari lelaki itu.


__ADS_2