Taktik Cinta

Taktik Cinta
Riang (Teman Baru)


__ADS_3

^^^09-Juli-2012^^^


^^^Smp Negeri 91 Cahaya Negara^^^


👑Para pelajar yang sudah berada di sekolah segera ber-aktivitas dengan pekerjaan masing-masing. Semuanya tak luput dari padanganku, karena masih pagi jadi aku memutuskan ke kantin terlebih dahulu. Ketika telah berada di koridor depan kelas sembilan b ku putar kepalaku ke arah kanan, aku melihat seorang gadis ___tak memakai jilbab sekolah dan memperlihatkan rambut warna hitamnya___yang memakai kacamata membaca buku dengan seksama sambil bersandarkan di tembok. Ia mengenakan pakaian putih biru dengan rapi bahkan dasi yang ia gunakan mengikat kerah bajunya tampak indah dan menambah kesan kecupuan dalam dirinya, berbeda denganku. Saat ku tundukkan pandanganku. Ohh tuhan, aku hanya mengikatnya asal tadi pagi karena takut terlambat ke sekolah dihari pertama. Sudahlah aku tidak terlalu mempermasalahkannya.


Spontan ku arahkan mataku ke kiri meninggalkan gadis cupu tadi sambil berjalan agar lebih cepat sampai di ruangan khusus mengisi perut. Namun, mata ku terbelalak dengan sempurna, lihat saja bola mata cokelatku membesar. Kalian ingin tau apa yang ku lihat? Oke baiklah aku tau kalian adalah kaum yang haus penasaran. Di sana aku mendapati lelaki yang memakai baju urak-urakan terlihat santai walaupun telinganya dijepit oleh ibu dan telunjuk jari seorang guru yang memiliki jenggot panjang, bertugas menjadi guru bimbingan konseling(bk) di tempat yang sedang ku pijaki ini. Semua orang yang berada disekeliling bertingkah biasa saja seakan semuanya sudah biasa terjadi. Aneh.


Atensi ku kembali tertuju ke arah preman sekolah. Mulut Pria tua yang berada di sebelahnya terus berceloteh sambil berjalan dan menyeret lelaki tadi. Sedangkan balasan lelaki tersebut hanyalah memutar kedua bola matanya, malas.


Saking cengonya diriku. Aku sampai tidak sadar bahwa two boys yang berbeda generasi itu sudah berada di sampingku. Mereka tetap berjalan dan yah aku dapat mendengar sedikit gerutuan pria tua tadi.


"Sudah berapa kali bapak sampaikan. Bahwa merokok tidak diperbolehkan di sekolah ini, tetapi kamu selalu melanggar dan melanggar," Aku dapat mendengar hembusan nafas kasar dari arah kiri. Ku usap pipiku yang tersembur sedikit air ludah yang keluar dari mulut bapak berjenggot.


"Pak, nakal pas muda itu nggak papa, yang penting kalau tua harus taubat."


Seperti itulah balasannya. Karena mereka sudah menjauh, daun telingaku sudah tidak mendengar percakapan mereka lagi. Segera ku lanjutan perjalanan ku. Tepat berada di tengah kantin, aku mencari tempat yang cocok untuk ku duduki, tetapi lagi-lagi terhenti karena mendengar ucapan seseorang yang membuat rasa ingin tahu ku meningkat.


"Woyy kalian tau nggak? tadi Kak Anas nembak Kak Nanda di kelas 9A!!!" Teriak salah satu siswi sambil memukul meja kantin.


Aku di sini adalah murid baru. Bukan pindahan tetapi menjadi junior dari dua angkatan senior. Jadi wajarlah jika aku penasaran dengan nama yang disebut. Mungkin saja dia adalah pria pemilik sekolah ini atau salah satu kalangan most wanted yang selalu bergonta ganti pasangan. Karena rasa kepo, aku melangkahkan kakiku mendekati meja yang di tempati empat siswi dengan gaya yang mewah.


"Hmmm, Kak Nanda terima nggak?"


Ketika bokong ku sudah berhasil menduduki salah satu kursi dekat para gadis-gadis tadi. Aku seketika menaikkan alisku mendengar nada lusuh dari gadis berambut pirang. Wajahnya khas orang barat. Hampir tak ada yang kurang dalam dirinya. Hanya saja bentuk badannya bak gitar Spanyol tak cocok untuk siswi yang masih berSekolah Menengah Pertama.

__ADS_1


"Ya iyalah. Siapa sih yang bakal nolak kak Anas. Udah tajir melintir, ganteng, baik, terus nggak playboy. Coba aja dia nembak aku. Udah aku terima kali," Ketus siswi yang berteriak tadi. Mungkin tidak suka mendengar pertanyaan temannya yang tak perlu dijawab lagi.


Aku tersenyum mendengar ciri ciri lelaki yang disebut siswi, yang ber nametag Dara. Ia duduk menghadap padaku, jadi aku leluasa melihatnya.


"Kalau dia emang lelaki yang ganteng terus baik. Hmm, aku juga pasti bakal nerima dia kalau dia nembak aku. Cuman. Apa itu emang kenyataan yah karena jarang sekali ada lelaki yang tidak bergonta-ganti pasangan."


Aku tidak sadar ternyata sedari tadi tersenyum tak jelas sambil mengkhayal. Ketika ku buka mataku. Astaghfirullah


Bentuk wajah yang oval dengan warna kulit putih bak salju sudah berada satu jengkal di depan wajahku.


"Astaghfirullah al adzim," Aku mengelus dadaku pelan. Semoga saja jantungku di dalam sana baik-baik saja.


"Kamu ngapain senyum senyum kek orang gila gitu? Lagi... bayangin cowok ganteng... yah?" Godanya dan mencolek daguku.


Wajahku seketika merona, benar apa yang di katakannya, tetapi sangat malu untuk aku berkata jujur. Yah mana mungkin aku baru saja mengenal dia dan sudah ingin menceritakan aibku.


"Ha? Ti... ti...dak aku hanya lapar saja," tidak sepenuhnya berdusta, aku memang lapar tetapi aku tidak tersenyum karena kelaparan.


Ia mengangkat sebelah alisnya, bingung dengan pernyataanku.


"Oh yah. Kamu anak kelas mana?" Semoga saja beralih topik bisa membuat dia melupakan keheranannya. Dan benar dia langsung menyunggingkan bibirnya menatapku.


"Kelas tujuh A , kelas yang aku impikan sebelum masuk disini. Maklumlah...," dia Menghentikan sejenak pembicaraan untuk menyeruput es teh di depannya dengan antusias, bahkan ia sempat tersendat tetapi tetap melanjutkan ucapannya. Benar-benar lucu."... dari Tk sampai Sd aku gak pernah tuh masuk kelas unggulan. Selalu masuk dikelas rongsokan, masa bayar mahal-mahal eh malah jadi murid buangan," Ucapnya kesal sambil memanyukan bibirnya. Aku hanya membalas dengan tersenyum. Mengenal orang baru harus menbuatku tau bagaimana sifat luar dalamnya, agar nanti tidak membuatnya tersinggung.


"Oh iya nama kamu siapa?" Pertanyaan yang baru saja terlontar membuatku segera mengangkat kepalaku.

__ADS_1


"Ratu," Jawabku dengan senyuman yang masih terpatri.


"Kalau aku, permaisuri," Celetuknya sambil tertawa kencang yang diikuti denganku. Beruntung seluruh penghuni kantin sudah keluar semua menyisakan aku, gadis periang, dan pemilik kantin.


Merasa masa leluconnya sudah selesai. Kami pun menghentikkan tawa. Ia menatapku serius. Membuatku bersikap yang sama kepadanya.


"Nggak, bercanda kok. Nama aku tuh Riang."


Seketika tawaku kembali pecah. Lucu sekali dia. Selalu membuat lelucon yang menggelitik perut sehingga aku tidak bisa menahan untuk tidak tertawa. Tetapi aneh, mengapa dia menatapku dengan pandangan bertanya. Apa jangan jangan dia tidak bercanda. Oh yaa Allah aku sudah membuatnya merasa tersinggung.


"Maaf maaf, aku pikir kamu tadi ngelawak. Makanya aku ketawa. Maaf yah," Ujarku sambil memegang tangannya yang berada di atas meja.


"It's okay. Udah ngak usah lebay gitu deh. Geli tau."


Aku hanya membalas dengan anggukan kepala serta wajah yang masih merasa bersalah. Ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manis.


"Anak tujuh D nggak boleh cemberut. Yuk ke kelas."


Deg.


Badanku menegang secara tiba tiba. Mengapa Riang bisa tau apa isi hatiku, juga mengetahui semua tentang diriku. Bukan hal yang normalkan?


"Asal nebak aja," jawabnya saat melihat gerak-gerikku. Aku hanya mengangguk.


"Aku pesan makan dulu sebelum bel bunyi," ujarku, meminta izin pada Riang untuk ke stand penjual siomay.

__ADS_1


__ADS_2