Taktik Cinta

Taktik Cinta
Perkelahian


__ADS_3

^^^24-Juli-2012^^^


^^^Smp Negeri 91 Cahaya Negara^^^


^^^Selasa^^^


Aku dan Riang menghimpit Nayra. Kami penasaran dengan isi surat yang berdiri berkat kedua tangan si cuek nan jutek.


Aku suka sama kamu.


Udah, gitu aja.


Riang menatapku dengan air wajah yang panik. "Wow kata-katanya metafora banget, aku seperti terinspirasi ingin membuat novel."


Aku langsung terkekeh mendengar celetuknya yang jauh dari kenyataan, tidak ingin kalah, aku turut mengompori Riang "Judulnya apa?"


"Kesingkatan."


"Padahal bisa loh, kesimpulan, rangkuman, glosarium," aku semakin menggebu . Gelengan kepala yang menjadi balasan ku untuknya.


Nayra menghela nafasnya, ia memilih diam daripada membahas kertas bertuliskan dua bait, sangat jelas jika aku dan Riang terlalu memusatkan atensi pada surat itu. Sorot matanya kosong, menampakan kehampaan yang ia rasakan. Mata itu pernah ku lihat di hari pertama aku mendengar isakannya lebih tepat sewaktu jam pelajaran selesai.


"Bentar lagi pasti curhat."


"Tidak mungkin, dia itu cuek," bisik Riang. Aku seketika terbelalak, perasaan tadi aku berbicara melalui hati atau tidak sadar jika melatinkannya.


Riang biasa-biasa saja ku tatap tajam bahkan dia memilih meminum lemon tea pesanannya, coba dia tau bahwa aku butuh kejelasan.


"Kamu lihat di bawah meja Dara," spontan ku tundukkan kepalaku untuk mengikuti intruksi Riang. "Di situ ada nenek-nenek lagi jongkok," ini mata ku yang rusak atau ada kelainan dalam diri Riang, tidak ada wanita berkeriput di sana. Hanya ada kaki Dara yang bersepatu hitam mengayung ke depan dan belakang.


Terlepas dari keabsurannya, aku mengiyakan jika Nayra tak akan mencurahkan isi hatinya. Sudah dari tadi kami menunggu bibir atas dan bawahnya saling terpisah, namun tak kunjung sesuai ekspektasi.


"Udah bel, yuk ke kelas."


Benar, sebaiknya ke kelas sebelum guru yang terlebih dahulu datang. Aku mengangguk kemudian berdiri. Tiba-tiba seorang pria yang tingginya melebih diriku mendekat ke arah Riang. Ia tampak panik.


Lemon tea yang tersisa di atas meja tanpa tau siapa pemiliknya telah habis karena orang ini. "Pulang Riang... sekarang!" Perintahnya sambil mengatur nafas lagi.


Aku membulatkan pupil saat Riang menggeledah sakunya dan menaruh uang di meja dengan tergesa-gesa.


"Baik kak," kini berganti Riang yang berlari, tetapi ia berbalik sebentar. "Izinin aku yah!" Teriaknya dan hilang.

__ADS_1


Bak patung, aku hanya mengangguk  dengan mulut yang menganga. Setelah lama memandangi kami, pria itu berlari lagi mengejar Riang.


Nayra terkekeh sambil menepuk pundak ku, "sadar."


Ku putar kepalaku menghadapnya, "aku kaget Nay, tadi itu mereka komp...."


Byuur


Aku merasakan wajah ku dingin bercampur aroma mint. Mata ku memejam sejenak, membiarkan air menetes agar pupil ku tidak merasakan perih saat terbuka.


Suara gaduh dari samping memaksa ku melihat sekitar.


Kak Anas dan Kak Yusran bertengkar mereka saling melilitkan kaki di lantai.


"Kalau mau pacaran jangan di sini!!!" teriak pria yang pakaiannya sudah berantakan meski pun tidak bergumul.


Kak Anas semakin berang, ia terus menendang wajah kak Yusran dengan keadaan berbaring  "Apa urusanmu? Hah!!!" Tiba-tiba hening, si berandal tak mampu menjawab cepat ia malah melihat sekeliling dan matanya tampak membulat saat mendapati ku. Ia membenturkan kepalanya dengan kepala kak Anas, "Kalian membuat kita risih!" Begitulah akhir dari keganasan kak Yusran, si biang kerok Sekolah.


Dia beranjak berdiri sambil memberi isyarat pada temannya untuk meninggalkan kantin.


Namun, sepertinya kak Anas masih ingin melanjutkan keributan, "cemburu bisa membuat orang gila ternyata," sindiran menohok berhasil membuat langkahan kaki kumpulan preman itu terhenti. Mereka berbalik secara bersamaan.


"Eh, urus saja kepala mu itu banci, kamu teh nggak ada kekuatan tapi mulutnya berotot,"


"Kepala kamu berdarah, kita ke uks yah."


Spontan aku dan Nayra mengarahkan kepala ke posisi Kak Nanda. Suaranya lembut menyapa indera pendengaran tetapi, hatiku seperti teriris belati saat melihat kedekatan mereka.


"Ke kelas!" ucap Nayra dengan tegas, dia mengenggam tangan ku begitu erat.


***


Sehabis membersihkan seragam basah ku karena ulah kak Anas yang kata Nayra sebenarnya ingin menyirami kak Yusran tetapi salah sasaran, aku langsung menggantinya dengan sweater coklat yang berada di dalam loker.


"Nay, beneran nggak mau dibales surat dari Zul?" Aku terus membujuknya. Sambil menyerahkan pulpen ku pada Nayra dan tanggapannya tetap sama, gelengan.


"Lumayan loh itu, ketua kelas," ku sikut Nayra untuk melihat Zul yang sedang duduk di barisan depan dengan lima temannya yang duduk di atas meja. Namun, Nayra lebih memilih membaca novelnya.


Geram karena dicuekin, aku menutup bukunya, "tulisan ini nggak bisa bikin kamu jatuh cinta."


Nayra menghela nafas, dia menatapku jengah. Tidak mau kalah, aku turut memusatkan mataku padanya. Kami saling bertatap dalam diam. Tiba-tiba Nayra sinis jadi aku segera melepaskan bukunya. Takut dia marah.

__ADS_1


Aku berbalik ke arah kiri, sambil tangan kanan ku menutup sebagian pipi ku agar tidak melihat Nayra.


"Dia cuman main-main," ucap Nayra lirih, aku mendengar suara risleting tas disebelah ku dan juga suara kelas yang seketika hening.


Saat menatap ke depan ternyata, guru sudah datang. Lantas ku buka tas ku untuk mencari buku. Sebab penasaran dengan ucapan Nayra, jadi aku menunda menutup ransel untuk lebih leluasa mendengar jawabannya, "tau dari mana?" bisik ku. Mumpung guru masih mempersiapkan alat mengajarnya.


Nayra menulis sesuatu di belakang buku dan menyodorkan kepada ku "naluri."


Aku menggeleng tak percaya lalu menarik pull tab resleting dengan pelan.


"Zul, tolong kumpulkan semua buku teman kamu ke sini," perintah bu Sarah, selaku guru Seni Budaya sambil mengenakan kacamatanya. Untung saja tadi malam aku masih sempat menulis catatan yang diberitahu oleh Nayra.


"Iya bu," ucap Zul, ia memulai mengambil buku dari barisan kanan lalu ke kiri. Dari tempat ku, bisa ku lihat dia tampak dingin walau pun setiap siswi memberikan buku sekaligus senyuman termanis mereka. Tak jarang ada yang sengaja menyentuh tangannya.


Hal yang ku tunggu sedari tadi, yaitu Zul berada di depan Nayra. Mereka saling terdiam dan mata yang bertemu tatap.


Nayra seketika menatap ke arah ku dengan wajah yang seperti tembok, sedangkan aku tersiksa menahan tawa.


Lama pria itu berdiri, aku segera menyodorkan buku ku dan Nayra agar dia sadar dari lamunan. Saat tersadar, dia tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya, "Aku tunggu," bisiknya pada Nayra.


Zul pun pergi ke meja lain beserta tumpukan buku milik kami.


"Maksudnya apa Nay?"


Nayra hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh. Padahal aku tau bahwa dia mengerti perkataan Zul, karena mereka sama-sama cuek dan irit dalam berbicara.


"Dia nungguin kamu? Tapi kok nggak ngasih tau tempatnya?"


"Diam Ratu."


Spontan mulut ku terkatup rapat.


Bu Sarah memeriksa catatan kami, beberapa ada yang disuruh maju karena menyingkatnya terlalu pendek dan tidak menulis intinya. Sedangkan, kami siswa yang tidak dipanggil bagaikan cacing yang kepanasan, terus menggeliat mencari posisi duduk yang nyaman sekaligus penghilang rasa bosan.


Semua posisi sudah teman ku peragakan, dari bertopang dagu, duduk bersila di atas kursi, mengangkat satu kaki bak makan di warteg, memeluk lutut, duduk selonjoran hingga hanya punggung yang menyentuh kursi dan terakhir jongkok.


Tiba-tiba Bu Sarah memukul pelan meja, "Baik anak-anak, pelajaran hari ini telah selesai. Silahkan ketua kelas membagikan bukunya," setelah sang guru pergi dan buku sudah ada di tangan kami. Aku pikir kami bisa bernafas lega. Tetapi, belum saatnya. Kini giliran Bu Rahmi yang mengajar.


Tepat setelah ia duduk, ia langsung mengerahkan kami mengumpul hasil tugas kelompok yang telah dikerjakan.


Nayra berjalan dengan santai. Inilah yang disebut takdir, Zul juga maju ke depan dan mereka saling berdampingan menyerahkan kertas karton masing-masing ke atas meja. Dengan canggung, Zul mengajak Nayra tersenyum saat tanpa sengaja Nayra berbalik untuk kembali ke tempatnya.

__ADS_1


Aku meringis saat melihat wajah datar Nayra. Jadi iba pada Zul.


__ADS_2